Selasa, Maret 27

Mana Lebih Baik? Bisnis Konvensional atau E-commerce?



ABSTRAK
Bisnis menurut Owen adalah suatu perusahaan yang berhubungan dengan distribusi dan produksi barang-barang yang nantinya dijual ke pasaran ataupun memberikan harga yang sesuai pada setiap jasanya.
Menurut Scarborough (2014) entrepreneur, adalah seseorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dengan segala risiko dan ketidakpastian untuk tujuan mendapatkan keuntungan dan pertumbuhan usaha yang teridentifikasi dari kemampuannya mendapatkan peluang yang baik dan kecakapan dalam memanfaatkan serta mengelola sumberdaya yang dimiliki.

KATA KUNCI : Bisnis, Konvensional, E-Commerce

LATAR BELAKANG
Bisnis Konvensional atau yang lebih sering dikenal dengan bisnis offline adalah kegiatan atautransaksi jual-beli yang dilakukan secara langsung, bertatap muka antara penjual dengan
pembeli. Umumnya bisnis konvensional memiliki tempat atau kios sendiri sehingga pembeli dapat mengunjungi kios dan dapat secara langsung bertemu dnengan penjual.
               Perdagangan elektronik, yang biasa disebut E-Commerce, adalah perdagangan produk atau layanan yang menggunakan jaringan komputer, seperti Internet. Electronic commerce mengacu pada teknologi seperti mobile commerce, transfer dana elektronik, manajemen rantai pasokan, pemasaran Internet, pemrosesan transaksi online, pertukaran data elektronik (electronic data interchange / EDI), sistem manajemen persediaan, dan sistem pengumpulan data otomatis. Perdagangan elektronik modern biasanya menggunakan World Wide Web (www) untuk setidaknya satu bagian dari siklus hidup transaksi, walaupun mungkin juga menggunakan teknologi lain seperti e-mail.

RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja kekurangan bisnis konvensional?
2. Apa saja kelebihan bisnis konvensional?
3. Apa saja kekurangan e-commerce?
4. Apa saja kelebihan e-commerce?
5. Apa saja contoh-contoh bisnis e-commerce?
6. Apa perbedaan antara e-commerce dengan bisnis konvensional?

PEMBAHASAN
Apa saja kekurangan bisnis konvensional ?
  •   Lingkup pemasarannya terbatas, jika ingin memperluas lingkup pemasaran, maka harus membuka cabang di berbagai daerah.
  •  Membutuhkan modal yang cukup besar karena biasanya bisnis konvensional memerlukan tempat untuk memasarkan produknya.  
  • Memerlukan banyak stok, ini juga berpengaruh terhadap modal yang dikeluarkan sehingga modal menjadi bertambah.
  • Apabila pembeli ingin membeli barang, maka harus pergi ke toko tempat dijualnya barang tersebut.
  • Persaingan Bisnis seperti halnya semua jenis usaha, persaingan selalu ada dan perlu dihadapi secara bijaksana. Persaingan bisnis konvensional biasanya berada di sekitar lokasi usaha. 
    
a  Apa saja kelebihan bisnis konvensional ?
  • Pembeli langsung dapat melihat produk yang akan dibeli sehingga pembeli tidak merasa ragu akan produk yang akan dibeli, pembeli juga dapat memilih produknya sendiri.
  • Umumnya bisnis konvensional memiliki tempat atau kios sendiri sehingga pembeli dapat mengunjungi kios dan dapat secara langsung bertemu dnengan penjual.
  • Memiliki banyak stok sehingga apabila sewaktu-waktu pembeli ingin membeli produk, mereka tidak perlu waktu yang lama untuk mendapatkan produk tersebut.
  •  Terjamin, karena selain dapat melihat barang secara langsung, pembeli juga dapat mengetahui penjual secara langsung  (face to face), sehingga tindakan penipuan minim terjadi.

Apa saja kekurangan e-commerce ?
1.      Isu security
2.      Pembajakan kartu kredit, stock exchange fraud, banking fraud, hak atas kekayaan intelektual, akses ilegal ke system informasi (hacking) perusakan web site sampai dengan pencurian data.
3.      Ketidaksesuaian jenis dan kualitas barang yang dijanjikan,
4.      Ketidaktepatan waktu pengiriman barang
5.      No cash payment.
6.      Indonesia belum memiliki perangkat hukum yang mengakomodasi perkembangan e-commerce.
7.      Masalah kultur, yaitu sebagian masyarakat kurang merasa puas bila tidak melihat langsung barang yang akan dibelinya.

Apa saja kelebihan e-commerce?
1.      Jangkauan lebih luas (dunia). Tanpa batas-batas wilayah dan waktu.
2.      Penghematan sumber daya ruang untuk toko (fisik) dan SDM
3.      Availabilitas : Buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tidak mengenal hari libur, dan hari besar
4.      Skalabilitas: Dapat diperluas atau diperbanyak item barang tanpa batasan.
5.      No Tax
6.      Konsumen memperoleh informasi yang beragam dan mendetail. Melalui internet konsumen dapat memperoleh aneka informasi barang dan jasa dari berbagai toko dalam berbagai variasi merek lengkap dengan spesifikasi harga, cara pembayaran, cara pengiriman.

Apa saja contoh-contoh bisnis e-commerce?

·         Access provider  (Penyedia akses)
Ø  Penyedia akses memastikan akses (teknis) ke Internet. Kita harus ingat, seseorang harus membayar penyedia akses sehingga kita bisa mendapatkan akses ke Internet. Siapa yang membayar? Kita atau orang lain Di banyak wilayah di dunia, ini adalah bisnis yang sepenuhnya diprivatisasi, meski terkadang di arena politik akses ke Internet dinyatakan sebagai hak asasi manusia modern. Tentunya ada kesamaan dengan jaringan telepon. Namun, itu (biasanya) bekerja dalam bentuk privatisasi ini.
Ø  Model bisnis tradisional, yang serupa dengan bisnis penyedia akses, adalah operator infrastruktur teknis, mis. jaringan telepon, jalan raya mobil, atau kereta api.
·         Search engine (Mesin pencari)
Ø  Mesin pencari adalah perangkat lunak yang paling banyak digunakan di Internet. ey adalah langkah awal untuk banyak aktivitas berbasis internet, tidak hanya tapi, tentu saja, juga jika seseorang mencari peluang bisnis. Sekali lagi kita harus bertanya: Siapa yang membayar? Siapa, siapa yang mau menemukan sesuatu atau seseorang? Atau siapa, siapa yang mau ditemukan?
Ø  Model bisnis tradisional dan serupa diberikan oleh apa yang disebut "halaman kuning", di mana rMS terdaftar dan dikelompokkan menurut cabang dan lokasi.
·         Online shop (Toko online)
Ø  Toko online adalah situs web, tempat Anda dapat membeli produk atau layanan, misalnya : buku atau perlengkapan.
Ø  Model bisnis tradisional dan sejenis adalah penjualan surat langsung (tidak ada fasilitas toko, barang melalui katalog cetak, pemesanan melalui surat atau panggilan telepon) dan factory outlet (produsen memiliki fasilitas toko sendiri, tidak menjual produknya melalui pedagang).
·         Content provider (Penyedia konten)
Ø  Penyedia konten konten, barang digital sepenuhnya, mis. informasi, berita, dokumen, musik Varian spesifik dari penyedia konten adalah broker informasi, yang merupakan pedagang informasi.
Ø  Sekali lagi pertanyaan berikut harus diajukan: Siapa yang membayar? Siapa yang ingin memiliki akses terhadap informasi? Siapa yang mau memberikan informasi?
Ø  Model bisnis tradisional di bidang ini adalah penerbit surat kabar, penerbit majalah, layanan penyiaran radio dan televisi atau perusahaan penerbitan.


Apa perbedaan bisnis konvensional dengan e-commerce?
E-commerce : 
  • Menggunakan media internet sebagai penghubung jual beli.
  • Transaksi dilakukan tidak secara langsung tatap muka dan harganya tidak bisa ditawar seperti halnya contoh : Lazada.co.id, Amazon.com, Rakuten.co.id etc. mereka hanya memiliki discount untuk beberapa barang dengan ketentuan tertentu yang berlaku.
  • Pembayarannya menggunakan atm ataupun kartu credit.
  • Tidak bisa langsung menyentuh ataupun merasakan kualitas brang secara langsung hanya saja biasanya dijelaskan untuk jenis bahan ataupun barang yang akan dibeli oleh konsumen.
  • Karena sistem pengiriman biasanya biaya yang dikeluarkan untuk barang yang akan dibeli belum termasuk pajak untuk proses pengiriman (biaya pengiriman) sesuai dengan dimana konsumen itu tinggal.
  • E-commerce pembelanjaannya lebih mudah karena tidak harus keluar rumah atau datang ke toko untuk membeli barangnya dan bisa dilakukan dimana saja selama ada koneksi internet.

Konvensional :
  • Secara langsung datang pada toko yang dituju sesuai dengan daerah masing-masing konsumen.
  • Transaksinya dapat berupa cash ataupun menggunakan kartu kredit maupun debit.
  • Barang yang dibeli terlihat langsung dengan kasat mata dan masih bisa mempertimbangkan kualitas barang yang akan dibeli.
  • Karena langsung untuk membeli barang yang besar ataupun banyak konsumen harus membawa kenderaan yang lebih besar ataupun minta diantar kerumah seperti contoh : Lemari pakaian, Kulkas, dll.
  • Bila retailnya adalah eceran kecil konsumen dapat menawarkan dengan harga yang lebih murah untuk pembelian dengan jumlah banyak. Namun apabila dengan retail besar seperti supermarket mereka sudah mencantumkan harga pas untuk barang tersebut dan tidak dapat ditawar.

CONTOH KASUS :  
Marak e-Commerce, Konsumen Mulai Beralih ke Belanja Online
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi RI kuartal I-2017 sebesar 5,01%. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama ini jika dilihat year on year, ditopang oleh beberapa sektor, salah satunya adalah informasi dan komunikasi yang tumbuh 9,01%.

Hal itu, didorong dari banyaknya pengguna internet, contohnya transaksi online, sehingga sektor informasi dan komunikasi tumbuh

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey, mengakui memang masyarakat tengah mengalami perubahan perilaku, khususnya dalam pola belanja. Saat ini masyarakat, banyak memilih bertransaksi online dibanding secara konvensional.


Bahkan Roy mengatakan, dari catatannya jumlah volume transaksi secara online telah meningkat 1,5% di atas transaksi konvensional.

"Kalau sekarang kami lihat sudah 1,5%-2% dari total penjualan ritel modern. Itu karena ada perubahan pola belanja konsumen, jadi yang biasa mereka stok barang, sekarang mereka membeli sesuai kebutuhan saja. Mereka lebih nyaman mereka simpan uangnya, kemudian di investasikan ketimbang belanja," kata Roy kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (5/5/2017).

"Bukan dalam jumlah value, tapi dalam jumlah volume atau transaksi. Mereka yang belanja adalah kebanyakan generasi Y atau generasi muda. Jadi generasi itulah yang meningkatkan penjualan online atau penjualan e-commerce. Tapi untuk yang di atas 50 tahun itu masih menggunakan offline store," sambung Roy.



Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta, mengatakan lebih tingginya minat masyarakat untuk berbelanja online dibandingkan konvensional menjadi salah satu penyebab transaksi di toko ritel yang ikut menurun.

"Itu pasti sedikit banyak mempengaruhi. Karena sekarang yang biasanya beli barang-barang tertentu mesti beli ke toko, sekarang enggak perlu lagi. Intinya itu bukan satu-satunya yang menyebabkan daya beli yang menurun, ada banyak faktor," tutur Roy.


KESIMPULAN
Seperti yang sudah dijelaskan dalam materi-materi diatas, antara e-commerce dengan bisnis konvensional memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua kembali kepada kita, ingin berwirausaha dengan jenis bisnis yang seperti apa, terlebih dahulu kita harus memastikan bahwa kita siap menerima semua resiko yang akan terjadi jika kita sudah memilih salah satu bentuk bisnis yang akan kita jalani. Menurut kami, semua bentuk bisnis sama saja, tinggal bagaimana kita sebagai wirausahawan kreatif dan inovatif dapat mengembangkan bisnis yang kita jalani.

DAFTAR PUSTAKA 
Budi. “Pengertian Bisnis Online dan Konvensional”. 24 Februari. Diambil dari https://www.budiwahono.com/pengertian-bisnis-online-dan-bisnis-konvensional/.

Choizes, Editor.Belajar E-Commerce, Inilah Perbedaan dengan Perdagangan Konvensional. 20 Februari 2018.  Diambil dari https://www.diedit.com/belajar-e-commerce-perbedaan-dengan-perdagangan-konvensional/.

Rachman, Fadhly Fauzi. “Marak e-Commerce, Konsumen Mulai Beralih ke Belanja Online”. 05 Mei 2017. Diambil dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3493664/marak-e-commerce-konsumen-mulai-beralih-ke-belanja-online.

Dipayanti, Mila. “Perbedaan E-commerce dengan Retail Konvensional”. 15 Juni 2015. Diambil dari http://miladipayanti.blogspot.co.id/2015/06/perbedaan-e-commerce-dengan-retail.html.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.