Selasa, Maret 27

MEMANFAATKAN PELUANG BISNIS

MEMANFAATKAN PELUANG BISNIS
Lutfiah Mawar Tina, Shella Sarahthifa
@J11, @J25
@Proyek-J04


Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan macam-macam model bisnis agar mahasiswa/i dapat memahami segala bentuk bisnis yang ada serta dapat mengetahui perbedaannya.
Kata kunci : Konvensional, Waralaba, e-commerce dan macam-macam bisnis

A.   Pendahuluan
1.   Latar belakang
Keadaan perekonomian Indonesia saat ini mendorong setiap individu atau masyarakat untuk terus menciptakan peluang usaha yang banyak dan kreatif. Setiap usaha yang dibangun dengan jalan individu atau bersama memberikan dampak yang baik secara pribadi maupun terhadap orang lain. Masyarakat bukan saja harus memenuhi kebutuhan primer sebagai kebutuhan pokok, namun juga dituntut untuk memenuhi kebutuhan sekunder, bahkan kebutuhan tersier juga diperlukan agar tidak tertinggal dengan perkembangan zaman.
 Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, telah menciptakan jenis-jenis dan peluang-peluang bisnis yang baru di mana transaksi-transaksi bisnis makin banyak dilakukan secara elektronika. Sehubungan dengan perkembangan teknologi informasi tersebut memungkinkan setiap orang dengan mudah melakukan perbuatan hukum seperti misalnya melakukan jual-beli. Perkembangan internet memang cepat dan memberi pengaruh signifikan dalam segala aspek kehidupan kita. Internet membantu kita sehingga dapat berinteraksi, berkomunikasi, bahkan melakukan perdagangan dengan orang dari segala penjuru dunia dengan murah, cepat dan mudah. beberapa tahun terakhir ini dengan begitu merebaknya media internet menyebabkan banyaknya perusahaan yang mulai mencoba menawarkan berbagai macam produknya dengan menggunakan media ini. Dan salah satu manfaat dari keberadaan internet adalah sebagai media promosi suatu produk. Suatu produk yang dionlinekan melalui internet dapat membawa keuntungan besar bagi pengusaha karena produknya di kenal di seluruh dunia.

2.   Kajian teori
a.     Pengertian Bisnis
·         Bisnis adalah usaha yang dijalankan yang tujuan utamanya adalah keuntungan.
       Kasmir dan Jakfar (2012,p7).
·   Bisnis adalah organisasi yang menyediakan barang atau jasa dengan maksud   
 mendapatkan laba. Grififin dan Ebert (2007,p4).

b.    Pengertian Globalisasi
Globalisasi menciptakan kondisi perubahan yang cepat, semua jalan perubahan dari revolusi cyber hingga liberalisasi perdagangan, homogenisasi barang-barang konsumsi dan jasa di seluruh dunia dan ekspor berorientasi pertumbuhan, semua merupakan komponen dari fenomena globalisasi (Hucysnki et al., 2002).

c.     Pengertian Sukses
§  Sukses adalah target bergerak. Saya tidak berpikir kita pernah mencapai hal itu, paling tidak dalam pikiran kita sendiri. Tapi aku tahu ini, jika Anda berpikir Anda telah mencapai keberhasilan terbesar Anda, Anda jelas akan memutuskan untuk berhenti memotivasi diri sendiri"  - Mike Michalowicz

Waralaba
Istilah waralaba atau dalam bahasa asing disebut dengan franchise asal katanya berasal dari Perancis Kuno yang memiliki arti ”bebas”. Sekitar abad pertengahan, pemerintah atau bangsawan di Inggris menggunakan istilah franchise untuk memberikan hak khusus seperti untuk mengoperasikan kapal feri atau berburu di tanah milik pemerintah atau bangsawan tersebut.
Franchise di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan waralaba. Kata waralaba sendiri berasal dari dua kata yaitu wara dan laba. Wara memiliki arti istimewa dan laba berarti keuntungan. Kata waralaba pertama kali diperkenalkan oleh LPPM (Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Manajemen) sebagai padanan kata franchise.
Pengertian waralaba di Indonesia pun beragam, waralaba dapat dirumuskan sebagai suatu bentuk sinergi usaha yang ditawarkan oleh suatu perusahaan yang telah unggul dalam kinerja karena sumber daya berbasisi ilmu pengetahuan dan orientasi kewirausahaan yang cukup tinggi dengan tata kelola yang baik dan dapat dimanfaatkan oleh pihak lain dengan melakukan hubungan kontraktual untuk menjalankan bisnis di bawah format bisnisnya dengan imbalan yang telah disepakati (Bambang N Rahmadi, 2007:7).


Jenis-jenis Waralaba
Menurut Turf D. Brown dalam buku Handbook of Retailing yang terdapat dalam buku yang berjudul Franchise Pola Bisnis Spektakuler dalam Perspektif Hukum dan Ekonomi (Lindaty P Sewu, 2004:16) bisnis usaha waralaba terbagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:
a.     Waralaba Pekerjaan
Pada bentuk ini Penerima Waralaba (Franchisee) menjalankan usaha waralaba pekerjaan sebenarnya membeli dukungan untuk usahanya sendiri. Bentuk ini tidak memerlukan modal yang besar karena tidak menggunakan tempat dan perlengkapan. Dalam hal ini usaha yang ditawarkan adalah usaha di bidang jasa
b.    Waralaba Usaha                                                                                                                 
     Bentuk usaha waralaba ini adalah berupa toko eceran yang menyediakan barang dan jasa, atau restoran fast food. Waralaba ini memerlukan modal yang besar karena memerlukan tempat dan perlengkapan.
c.     Waralaba Investasi                                                                                            
   Pembeda waralaba investasi dengan yang lain adalah besarnya usaha, khususnya besarnya investasi yang dibutuhkan. Bentuk seperti ini biasanya adalah waralaba yang bergerak di bidang perhotelan.
Bisnis Konvensional
            Bisnis Konvensional atau yang lebih sering dikenak dengan bisnis offline adalah kegiatan atau transaksi jual-beli yang dilakukan secara langsung, bertatap muka antara penjual dengan pembeli.

Kelebihan dalam bisnis konvensional :
1.    Pembeli langsung dapat melihat produk yang akan dibeli sehingga pembeli tidak merasa rahgu akan produk yang akan dibeli, pembeli juga dapat memilih produknya sendiri.
2.  Umumnya bisnis konvensional memiliki tempat atau kios sendiri sehingga pembeli dapat mengunjungi kios dan dapat secara langsung bertemu dnengan penjual.
3.     Memiliki banyak stok sehingga apabila sewaktu-waktu pembeli ingin membeli produk, mereka tidak perlu waktu yang lama untuk mendapatkan produk tersebut
4.     Terjamin, karena selain dapat melihat barang secara langsung, pembeli juga dapat mengetahui penjual secara langsung (face to face), sehingga tindakan penipuan minim terjadi.
Kekurangan dalam bisnis konvensional :
1.   Lingkup pemasarannya terbatas, jika ingin memperluas lingkup pemasaran, maka harus membuka cabang di berbagai daerah.
2.   Membutuhkan modal yang cukup besar karena biasanya bisnis konvensional memerlukan tempat untuk memasarkan produknya.
3.   Memerlukan banyak stok, ini juga berpengaruh terhadap modal yang dikeluarkan sehingga modal menjadi bertambah.
4.   Apabila pembeli ingin membeli barang, maka harus pergi ke toko tempat dijualnya barang tersebut.
E-Commerce
Gedung Putih pada bulan Juli tahun 1997 mendeklarasikan telah terjadinya sebuah revolusi industri baru yang akan berdampak pada stabilitas ekonomi global, yaitu sejalan dengan fenomena maraknya bisnis secara elektronik/digital dengan menggunakan internet sebagai medium bertransaksi. Metode bertransaksi ini kemudian lebih dikenal sebagai istilah “E-Commerce”. Definisi dari “E-Commerce” sendiri sangat beragam, tergantung dari perspektif atau kacamata yang memanfaatkannya. Association for Electronic Commerce secara sederhana mendifinisikan E-Commerce sebagai “mekanisme bisnis secara elektronis”. CommerceNet, sebuah konsorsium industri, memberikan definisi yang lebih lengkap, yaitu “penggunaan jejaring komputer (komputer yang saling terhubung) sebagai sarana penciptaan relasi bisnis”. Tidak puas dengan definisi tersebut, CommerceNet menambahkan bahwa di dalam ECommerce terjadi “proses pembelian dan penjualan jasa atau produk antara dua belah pihak melalui internet atau pertukaran dan distribusi informasi antar dua pihak di dalam satu perusahaan dengan menggunakan intranet”. Sementara Amir Hartman dalam bukunya “Net-Ready” (Hartman, 2000) secara lebih terperinci lagi mendefinisikan E-Commerce sebagai “suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronis yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah institusi (B-to-B) maupun antar institusi dan konsumen langsung (B-to-C)”. Beberapa kalangan akademisi pun sepakat mendefinisikan E-Commerce sebagai “salah satu cara memperbaiki kinerja dan mekanisme pertukaran barang, jasa, informasi, dan pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi berbasis jaringan peralatan digital”.

Jenis – jenis E-Commerce
1.   Business-to-Consumer (B2C) – Electronic storefronts/mall
2.   Business-to-Business (B2B) – Google/Amazon
3.   Consumer Consumer-to-Consumer (C2C) Consumer (C2C) – Eceran / Lelang
4.   Business-to-Employee (B2E) – Employee juga sebagai customer/supplier
5.   E-Government – Layanan online pemerintah
6.   M-Commerce

Karakteristik E-Commerce
·                Terjadinya transaksi antara dua belah pihak; 
·                Adanya pertukaran barang, jasa, atau informasi; dan
·                Internet merupakan medium utama dalam proses atau mekanisme perdagangan tersebut.
         Dari karakteristik di atas terlihat jelas, bahwa pada dasarnya E-Commerce merupakan dampak dari berkembangnya teknologi informasi dan telekomunikasi, sehingga secara signifikan merubah cara manusia melakukan interaksi dengan lingkungannya, yang dalam hal ini adalah terkait dengan mekanisme dagang.

Keuntungan Bagi Pebisnis dalam Penggunaan e-Commerce
Menurut Fingar (2000), ada beberapa keuntungan bagi pebisnis dalam penggunaan e-Commerce yaitu :
1. Jangkauan pasar luas, tanpa batas-batas wilayah. Bagi pebisnis ini kesempatan untuk
    dapat memperluas bisnis dengan menjangkau pelanggan diseluruh dunia tanpa batas   
    sehingga dapat meningkatkan keuntungan.
2. e-Commerce menghemat biaya-biaya; antara lain: Penghematan biaya pemasaran dengan   
    kemudahan dan teknologi yang canggih dalam menyampaikan informasi tentang barang   
    dan jasa langsung ke konsumen dimana saja berada, menghemat biaya operasional   
    seperti barang-barang yang akan dijual atau tidak perlu dipajang serta dapat memangkas
    biaya penyimpanan dan pemeliharaan barang karena pebisnis dapat mengirimkan  
    langsung barang yang dijual setelah ada permintaan dari konsumennya. Menghemat biaya  
    fisik dari toko karena para pebisnis hanya butuh mendigitalisasikan informasi-informasi  
    tentang barang atau jasa yang akan dijual.
3. Ketersediaan, dapat berbisnis selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tidak mengenal hari
    libur, dan hari besar. Pesanan dari konsumen dapat diterima setiap saat walaupun pada  
    kenyataannya memang tidak 24 jam untuk salalu membuka internet tetapi ada fasilitas  
    internet yang dapat menyimpan pesanan konsumen.
4. Skalabilitas dalam artian dapat diperluas atau diperbanyak item barang tanpa batasan
    karena tidak butuh biaya besar untuk menambah produk yang akan ditawarkan karena  
    pebisnis hanya perlu mendigitalisasi produk dalam bentuk gambar dan diberikan infomasi
    rinci saja.
Keunggulan E-Commerce dibandingkan bisnis konvensional
1. Faktor Modal                                                                                                                         
     Modal yang dibutuhkan untuk membangun  sebuah toko online relatif lebih kecil dibandingkan dengan bisnis konvensional. Untuk membangun suatu usaha / bisnis konvensional, kita harus mempunyai modal yang besar untuk pembelian / penyewaan tempat, renovasi, furnitur, dan lain-lain. Dan apabila Anda ingin membangun cabang di tempat lain, maka biaya yang dibutuhkan  juga akan lipat ganda.  Sedangkan untuk E-Commerce, Anda cukup membayar jasa untuk membangun website yang terhitung sangat murah jika dibandingkan dengan modal awal yang harus dikeluarkan untuk membuka sebuah toko.  Khususnya, jika Anda menyewa jasa kami, Limpingen Soft Comp, maka hanya dengan harga minimal Rp.1.250.000,- Anda sudah dapat memiliki sebuah toko online.
2. Faktor Waktu Usaha                                                                                                              
      Dengan menggunakan website, toko Anda dapat buka non-stop 365 x 24 jam! Promosi  produk dan jasa Anda pun bisa ditayangkan terus menerus. Anda tidak perlu membayar biaya iklan yang mahal yang biayanya dihitung per detik tayangan. Proses pemesanan pun dapat dilakukan setiap saat baik hari kerja, hari Sabtu / Minggu, maupun hari besar. Tidak ada kata libur, cuti atau  izin sakit bagi toko online. Sekalipun Anda sedang tertidur lelap, toko online Anda tetap setia bekerja untuk Anda.
3. Faktor Jangkauan Bisnis                                                                                                        
     Bisnis konvensional sangat dibatasi oleh faktor ruang. Pasaran Anda pun hanya dapat bersifat lokal, bahkan dalam jarak / jangkauan yang sangat terbatas di daerah tertentu saja. Sedangkan dengan E-Commerce, bisnis Anda tidak hanya mempunyai pasaran regional, bahkan dapat menjangkau seluruh tanah air dan membuka peluang menjadi bisnis internasional.
4. Faktor Biaya Operasi                                                                                                
      Pengeluaran rutin yang harus dikeluarkan oleh suatu bisnis konvensional tentulah tidak kecil. Baik untuk biaya penyewaan tempat, gaji karyawan (terlebih-lebih jika jumlah karyawan Anda banyak), biaya listrik dan air, biaya untuk alat tulis kantor ( ATK ), dan lain-lain. Sedangkan untuk mempertahankan suatu toko online, Anda cukup membayar biaya tahunan yang terhitung sangat teramat murah! Bahkan, untuk tahun pertama, Anda dibebaskan dari biaya penyewaan domain dan hosting oleh perusahaan kami.                                              Kita dapat coba menghitung-hitung. Andaikata pengeluaran Anda untuk penyewaan sebuah ruko kecil adalah Rp.1.5000.000,-/bulan, gaji 1 karyawan  Rp.750.000,-/ bulan, biaya listrik dan air Rp.250.000,-/bulan. Maka total pengeluaran minimun Anda sebulan adalah Rp.2.500.000! Sedangkan jika yang Anda miliki adalah sebuah toko online, Anda bisa menggunakan Rp.2.500.000,- tersebut untuk membiayai website Anda selama minimal 10 tahun.
5. Faktor Media interaktif                                                                                                         
     Desain grafis, teks, image, suara, dan video di website mampu menampilkan informasi produk dan jasa dengan sangat lengkap dan menarik, tanpa memerlukan ongkos / biaya cetak brosur, atau melalui berbagai media massa lainnya. Sebagai contoh, untuk pengiklanan di radio, surat kabar atau televisi, semakin banyak informasi yang Anda masukkan pada media tersebut, semakin besar pula biaya yang harus Anda keluarkan. Sedangkan untuk website, jumlah informasi yang dapat Anda masukkan sangat banyak, bahkan tidak terbatas ( tergantung kapasitas hosting Anda ). Informasi yang Anda masukkan tersebut juga dapat diubah kapanpun sesuai dengan kebutuhan Anda, misalnya ketika ada peluncuran produk baru atau perubahan harga, dan lain sebagainya. Sehingga, website bersifat jauh lebih aktual dan interaktif, selain membantu Anda menghemat biaya Anda.


Kisah pengusaha sukses

                                            sumber: https://goo.gl/images/kt6zjF

Kebab Baba Rafi didirikan sejak tahun 2007 dan berpusat di Jakarta, dengan jumlah outlet yang semula hanya 2 kini telah berkembang mencapai 1.200 outlet di seluruh dunia.
Hendy Setiono, pria asal Surabaya tersebut memperoleh ide kuliner ala timur tengah ini saat tengah berkunjung ke Qatar. Dia melihat banyaknya kedai kebab disana, dan berpikir bahwa kuliner tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang di Indonesia.
Untuk merealisasikannya, dia bekerja sama dengan Hasan Baraja untuk mengembangkan usaha kuliner itu dengan modal awal sebesar Rp4.000.000 saja. 
Setelah berjalan selama 14 tahun, kini Baba Rafi sudah mengembangkan sayapnya hingga ke luar negeri, seperti Malaysia, Filipina, China, dan Sri Lanka. Hendy mengungkapkan bahwa dia masih ingin memperluas usahanya ke berbagai negara lainnya di seluruh dunia.
Perkembangan Kebab Baba Rafi tidak berhenti sampai disitu, terbukti dari terbentuknya perluasan bisnis Hendy Setiono, yaitu Babarafi-online.com.
Babarafi-online.com merupakan bagian dari PT Baba Rafi Indonesia yang bergumul dalam bisnis Kebab Turki Baba Rafi.
Dengan perluasan ini, kini muncul peluang bisnis waralaba Baba Rafi yang terbuka bagi para calon pebisnis yang ingin memulai usahanya.
Dengan demikian, Hendy Setiono sudah menjadi salah satu pelopor waralaba asal Indonesia yang sukses mendunia.


Kesimpulan
Dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, sebelum kita memulai berwirausaha sebaiknya kita menentukan terlebih dahulu bentuk usaha apakah yang akan dipilih. Apakah bisnis konvensional, Waralaba atau E-Commerce. Dengan begitu kita akan memanfaatkan peluang dengan sebaik mungkin, dikarenakan kita sudah mempunyai strategi dalam memantapkan diri kita untuk berwirausaha.







Daftar Pustaka



Tidak ada komentar:

Posting Komentar