Kamis, Mei 9

Model Bisnis


                                              

Perubahan yang luar biasa dalam persaingan, produksi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia antar manusia dengan perusahaan dengan pelanggan dan perusahaan dengan perusahaan lain,
menyebabkan pengukuran kinerjaperusahaan menjadi hal yang penting bagi manajemen untukmelakukan evaluasi terhadap performa perusahaan dan perencanaantujuan di masa mendatang.
 Selain digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan, pemgukuran kinerja juga dapat digunakan sebagai dasar untukmenentukan system imbalan dalam perusahaan. Diperlukan suatustandar pengukuran kinerja yang tepat sebagai tolak ukur perusahaandalam mencapai tujuannya.
Bisnis adalah usaha menjual barang atau jasa yang dilakukan oleh perorangan, sekelompok orang atau organisasi kepada konsumen (masyarakat) dengan tujuan utamanya adalah memperoleh keuntungan/laba (profit).

Model-model bisnis :
             1. e-Commerce
Model bisnis yang ini terlihat sangat old-school. Polanya sudah diterapkan sejak era internet memasuki kehidupan manusia. Penjual akan langsung mendapatkan keuntungan dari produk yang mereka jual di situs mereka kepada masyarakat. Namun, model ini tetap dilakukan oleh sejumlah startup meski tergolong berat. Terutama dilakukan oleh sejumlah startup dengan modal yang terbatas, atau oleh produsen yang ingin meluaskan pasar mereka dengan cara yang tidak membutuhkan banyak biaya.
Kelebihan E-Commerce
Ada tiga aspek kelebihannya, yaitu:
1. Kelebihan bagi organisasi
a. Dapat memperluas pasar hingga pada taraf global/International
b. Mengurangi biaya pembuatan, pendistribusian, pengambilan dan pengelolaan
c. Meningkatkan Brand perusahaan
d. Dapat menyediakan pelayanan kepada pelanggan yang lebih baik
e. Mempercepat dan efesiensi proses bisnis
2. Kelebihan bagi pelanggan
a. Dapat memberikan layanan tanpa ada batasan waktu 1 x 24 jam
b. Mampu memberikan pilihan serta kecepatan dalam pengiriman
c. Dengan banyaknya pilihan pelanggan dapat membandingkan harga satu dengan lainnya
d. Dapat melakukan review komentar terkait produk
e. Dapat memberikan informasi lebih cepat
3. Kelebihan bagi masyarakat

a. Tidak perlunya perjalanan dalam kegiatan jual beli
b. Dapat mengurangi biaya produk, sehingga harga seharusnya dapat lebih terjangkau
c. Dapat membantu pemerintah dalam pemberian pelayanan publik
Kekurangan E-Commerce
Sementara kekurangannya dalam dua aspek, yakni:
1. Kekurangan dari segi teknis
a. Jika emplementasi buruk maka dapat terjadi kelemahan keamanan, keandalan dan standar sistem yang ada
b. Perubahan/perkembangan industri perangkat lunak sangatlah cepat
c. Jika terjadi kendala pada bandwidth, maka dapat terjadi kegagalan TI
d. Kesulitan dalam integrasi sistem
e. Terjadi masalah pada kompatibilitas sistem
2. Kekurangan dari segi non-teknis
a. Mahalnya biaya pembuatan/pembangunan sebuah sistem E-Commerce
b. Tingkat kepercayaan pelanggan yang kurang terhadap situs E-Commerce
c. Sulitnya untuk memastikan keamana dan privasi dalam setiap transaksi secara online
d. Kurangnya perasaan dalam kegiatan jual beli
e. Aplikasi ini terus berkembang dengan sangat cepat
f. Masih belum murah dan amannya akses Internet pada suatu negara tertentu.

           2. Bisnis waralaba adalah salah satu model bisnis yang banyak dilirik oleh para pengusaha saat ini, baik itu pebisnis baru/ pemula ataupun pebisnis yang sudah berpengalaman.
Keuntungan berbisnis waralaba :
1. Manajemen bisnis telah terbangun
2. Brand sudah dikenal masyarakat
3. Kemudahan dalam manajemen finansial
4.  Kerjasama usaha telah terbangun
5.  Dukungan dan keamanan yang lebih kuat
Kekurangan berbisnis waralaba
1.  Mitra waralaba kurang memiliki kendali
2.   Mitra waralaba terkait dengan pemasok
3. Terpengaruhi pada reputasi waralaba lain
4. Adanya biaya waralaba
5. Pemotongan keuntungan
        3. Bisnis Konvensional Bisnis
                   Konvensional atau yang lebih sering dikenal dengan bisnis offline adalah kegiatan atau transaksi jual-beli yang dilakukan secara langsung, bertatap muka antara penjual dengan pembeli. Kelebihan dalam bisnis konvensional : Pembeli langsung dapat melihat produk yang akan dibeli sehingga pembeli tidak merasa rahgu akan produk yang akan dibeli, pembeli juga dapat memilih produknya sendiri. Umumnya bisnis konvensional memiliki tempat atau kios sendiri sehingga pembeli dapat mengunjungi kios dan dapat secara langsung bertemu dnengan penjual.
                 Memiliki banyak stok sehingga apabila sewaktu-waktu pembeli ingin membeli produk, mereka tidak perlu waktu yang lama untuk mendapatkan produk tersebut. Terjamin, karena selain dapat melihat barang secara langsung, pembeli juga dapat mengetahui penjual secara langsung  (face to face), sehingga tindakan penipuan minim terjadi.
Kekurangan dalam bisnis konvensional :
  1. Lingkup pemasarannya terbatas, jika ingin memperluas lingkup pemasaran, maka harus membuka cabang di berbagai daerah.
  2. Membutuhkan modal yang cukup besar karena biasanya bisnis konvensional memerlukan tempat untuk memasarkan produknya.
  3. Memerlukan banyak stok, ini juga berpengaruh terhadap modal yang dikeluarkan sehingga modal menjadi bertambah.
  4. Apabila pembeli ingin membeli barang, maka harus pergi ke toko tempat dijualnya barang tersebut.
         4. Freemium
Model bisnis untuk startup ini menggabungkan dua kata: free dan premium. Model bisnis ini cukup digemari oleh para pelaku startup beberapa tahun belakangan. Sistemnya yang cukup simpel menjadi daya tarik tersendiri dari model bisnis freemium. Sistem kerja dari model bisnis ini adalah memberikan secara gratis sejumlah layanan dasar dari usaha mereka. Ketika ada konsumen yang ingin mendapatkan layanan yang lebih baik, maka barulah muncul skema biaya atau tarif kepada mereka. Contoh startup yang menerapkan model ini adalah Urbanhire. Berlangganan
Model bisnis ini biasanya digunakan oleh mereka yang menyediakan konten-konten menarik. Seperti e-book, majalah digital, musik streaming, dan film. Konsumen akan dikenakan tarif bulanan hingga tahunan untuk bisa menikmati layanan ini.
Contoh startup di model ini adalah Scoop. Startup ini menyediakan majalah digital yang hanya bisa diakses jika konsumen membayar biaya berlangganan. Tarifnya relatif lebih murah jika dibandingkan dengan membeli produk cetak dari majalah yang diinginkan. Untuk musik streaming ada Spotify yang juga menerapkan biaya berlangganan per bulan bagi konsumen. Ada diskon bagi konsumen yang membayar penuh selama satu tahun.
         5.  On-Demand
Model bisnis untuk startup yang satu ini tengah menjadi primadona di tanah air, juga dunia. Pasalnya, mereka memang menyediakan jasa yang bisa memenuhi kebutuhan pasar. Sehingga dapat dipastikan, jasa yang diberikan akan laris manis digunakan masyarakat. Dari mulai layanan transportasi online seperti Uber, Gojek, atau Grab yang sangat dibutuhkan masyarakat di perkotaan. Hingga layanan on-demand yang menyediakan  keperluan rumah tangga seperti Ahlijasa, Seekmi, atau Beres.
Model bisnis ini cukup sustainable karena kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Biaya pun bisa lebih ditekan, karena infrastruktur sudah tersedia. Startup hanya butuh mencari cara untuk mengembangkan produk saja.
6. Penjualan Langsung
Dalam bisnis online ini Anda hanya bertugas membuat dan memproduksi hal-hal yang diminati pasar. Untuk penjualan dan pemasaran akan menggunakan jasa orang lain dengan imbalan komisi dari hasil penjualan. Kondisinya memang mirip dengan reseller atau dropshiper. Produsen akan terbantu dalam memasarkan produk mereka karena dibantu oleh para pekerja lepas ini. Dengan sistem kerja yang tidak terikat, para pekerja lepas ini umumnya bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
7.  Barang Customized
Kreativitas menjadi poin yang “dijual” oleh pelaku startup yang satu ini. Mereka menyediakan produk dasar yang kemudian bisa dikustomasi oleh konsumen. Kemudian pihak startup akan menyediakan variasi dari produk dasar tersebut yang tentu saja punya harga yang berbeda. Benda-benda yang biasanya dikustomasi antara lain bingkai dan album foto, kalender, atau produk-produk cetakan lainnya. Bahkan sekarang sedang marak bisnis kaos dengan sentuhan personal. Tanpa harus membeli banyak, konsumen bisa mendapatkan desain yang eksklusif dengan harga yang relatif terjangkau.
8. Marketplace
Marketplace menjadi model bisnis untuk startup yang termasuk favorit. Anda cukup menyediakan tempat untuk mempertemukan penjual dan pembeli. Bisa dibilang, Anda adalah perantara alias makelar dalam model bisnis ini.
Pada umumnya, model bisnis ini terbagi dalam dua kategori. Yaitu marketplace Business-to-Business (B2B) yang menyasar sesama pengusaha dan menjual produk dalam skala besar. Lalu ada marketplace Business-to-Consumer (C2C) atau Business-to-Consumer(B2C) yang memberi kesempatan kepada produsen atau penjual untuk bertemu langsung dengan pembeli. Contohnya adalah Tokopedia dan Bukalapak.
9. Lelang Balik
Jika Anda sudah mengenal situs lelang eBay, maka model bisnis ini punya sistem kerja yang terbalik dari situs yang sudah dikenal di dunia tersebut. Pihak pembeli justru berperan laiknya penjual yang ada di situs eBay. Pihak yang mematok harga untuk dilelang bukan penjual, tapi justru pembeli. Ketika penjual sepakat dengan harga yang diajukan, maka pihak pembeli harus mengikuti syarat dan ketentuan yang sudah diberitahukan di awal. Salah satu startup yang sukses di model ini adalah Priceline.
10. Periklanan
Dalam model bisnis ini Anda akan menyediakan jasa penempatan iklan pada situs atau aplikasi yang diinginkan. Tentu saja yang sesuai dengan target market dari produk yang diiklankan. Mendapatkan uang dari iklan adalah satu hal yang mudah dan simpel. Meskipun hitungan satu klik iklan hanya beberapa rupiah saja, tapi jika dikalikan ribuan klik dan puluhan iklan yang dipasang maka nilainya akan tetap besar juga.
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar