Kamis, Oktober 17

Pengembangan Produk Perangkat Lunak dengan Metode yang Kekinian

Oleh: Dwicandra Ekastrya (@P22-DWICANDRA)

Perkembangan dunia bisnis saat ini memang bisa dibilang sangat cepat sekali. Banyak sekali bisnis-bisnis baru yang bermunculan sebagai start-up yang meramaikan pasar baik di dalam maupun luar negeri. Sebagian besar dari start-up tersebut sudah mulai sadar akan peran teknologi informasi sehingga merasa perlu untuk membuat aplikasi mobile untuk menjangkau calon pelanggan lebih luas.
Sedangkan bisnis yang konvensional seperti F&B (Food and Beverages / Makanan dan Minuman) pun tidak lepas dari peran teknologi informasi, setidaknya perlahan mereka sudah mulai bergabung dengan fintech dan menerima uang elektronik sebagai metode pembayaran.

Tuntutan pengembang (developer) aplikasi berbasis Teknologi Informasi pun semakin besar. Mereka harus bisa memenuhi kebutuhan client yang berasal dari kalangan pebisnis, yang menginginkan aplikasi mobile yang sederhana namun fungsional, mudah digunakan, dan bisa secepatnya diluncurkan.

Menghadapi tuntutan tersebut, maka metode waterfall sebagai metode pengembangan perangkat lunak yang selama ini menjadi metode baku terasa sangat kaku sekali untuk digunakan. Hal ini karena metode waterfall sulit beradaptasi dengan perubahan requirement (kebutuhan) dari client, khususnya client yang berasal dari kalangan start-up.

Metode Waterfall


Maka di kalangan pengembang perangkat lunak akhir-ahkir ini mulai mengadopsi metode baru, yaitu Agile. Agile adalah metode pengembangan perangkat lunak yang mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan. Misalnya suatu start-up tiba-tiba ingin aplikasinya menggunakan kamera smartphone untuk dapat mengambil gambar dan membaginya ke sosial media. Agile mampu menambahkan fitur tersebut ke dalam scope (cakupan) project, sedangkan waterfall akan memakan waktu yang lama karena harus membongkar kembali dokumentasi perancangan perangkat lunak yang dikembangkan.

Salah satu jenis metode Agile yang banyak digunakan adalah SCRUM yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki catatan backlog yang berisi semua fitur / bagian-bagian fitur yang dapat dikerjakan.
  2. Memiliki siklus kerja 1-4 minggu, yang disebut sprint.
  3. Dalam satu siklus kerja dimulai dengan sprint planning, yaitu perencanaan semua hal yang bisa dikerjakan oleh anggota tim mengacu pada backlog yang ada.
  4. Stand-up harian, tiap anggota tim boleh mengutarakan kesulitan yang dihadapinya dan meminta bantuan dari anggota tim lain
  5. Siklus diakhiri dengan rapat retrospektif, yang membahas apa yang telah dikerjakan dan apa yang bisa dikerjakan pada siklus berikutnya.
Metode SCRUM

Penguasaan Agile mulai diajarkan di universitas dan akademi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan ber-Agile ini. Perusahaan pengembang perangkat lunak pun mulai mensyaratkan penguasaan Agile bagi calon pelamar kerja yang hendak di-interview.

Jadi jika Anda seorang mahasiswa Teknik Informatika, jangan lupa untuk menguasai juga metode Agile agar memiliki nilai tambah untuk menghadapi persaingan di industri pengembangan perangkat lunak.

Referensi: Different New Development Product Models (Stig Ottosson) Januari 2019 (https://www.researchgate.net/publication/326043032_Different_New_Product_Development_Models)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar