Selasa, April 21

DESIGN THINGKING


Kehidupan ini harus ada inovasi atau perubahan agar dinamis dan tidak stagnan. Entah ketika kita berada dalam bermasyarakat, berorganisasi, maupun ketika berada dalam dunia pekerjaan atau kewirausahaan. Salah satu alat inovasi yang lagi ngetrend saat ini adalah Design Thinking. Design Thinking merupakan proses dalam membuat ide baru dan inovatif yang dipakai untuk memecahkan masalah. (Puguh, 2019)

Ada lima tahapan Design Thinking, yaitu:

1. Emphatize
Tahapan pertama yang harus dilakukan adalah berempati. Anda harus memahami masalah yang akan dipecahkan. Dengan berempati maka kamu akan lebih mudah untuk memahami pikiran orang lain, emosinya, dan apa kebutuhan mereka. Ini merupakan cara yang paling ampuh. Anda harus berbicara dengan pelbagai macam pengguna aktual. Amati yang mereka lakukan, yang mereka rasakan dan inginkan, tanyakan pada diri sendiri seperti apa yang dapat menghambat pengguna.
Tujuan semua proses tersebut adalah agar Anda dapat benar-benar bisa berempati dengan penguna yang didasarkan pada cara pandang mereka. Bahkan pada tahap berempati tidak menutup kemungkinan untuk kamu memposisikan diri sebagai pelanggan. Sehingga kamu tahu apa saja keuntungan dan kerugian yang mereka dapatkan jika menggunakan produk kamu. Seperti refleksi diri.

Tahap design thinking yang satu ini juga dapat dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan. Kemudian melakukan wawancara langsung dengan audiens. Dengan melakukan pengamatan dan keterlibatan langsung dengan audiens, maka kamu akan mendapatkan data sesuai kenyataan yang ada. Selain itu kamu juga akan mendapat pemahaman pribadi yang lebih mendalam tentang permasalahan yang ingin kamu pecahkan deh.

Output : Output dari Tahap Emphatize ini adalah data, insight, user persona, etc yang membuat kita dapat membuat sebuah produk yang benar benar dibutuhkan dan menyelesaikan permasalahan user kita.

2. Define
Setelah kamu mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan dan dibutuhkan oleh user, maka kamu akan masuk ke tahap berikutnya, yaitu define. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis untuk pengembangan ide produk yang akan kamu buat nantinya. Pengembangan ide ini bertujuan untuk menyelesaikan permasalah yang kamu dapatkan dari user, baik secara langsung maupun tidak.
Hal ini dapat dilakukan dengan membuat daftar kebutuhan user. Kamu sudah harus menetapkan permasalah apa saja yang akan kamu pecahkan dan cari solusinya lewat rancangan produkmu. Daftar permasalahan yang sudah ditetapkan ini kemudian akan dilanjutkan pada tahap ideate yang akan kami bahas di poin berikutnya.

Output : Output dari tahap Define ini adalah problem statement, rumusan masalah. Dan akan sangat membantu untuk menyelesaikan masalah customer karena telah dilakukan penetapan masalah.

3. Ideate
Tahap ini merupakan tahap untuk menghasilkan ide. Semua ide-ide akan ditampung guna penyelesain masalah yang telah ditetapkan pada tahap define. Penting untuk mendapatkan ide sebanyak mungkin atau solusi masalah di awal fase ide. Ini adalah tahapan dimana anda menyaring sejumlah opsi gagasan yang ada untuk mendapatkan kemungkinan solusi untuk memecahkan masalah. Jadi Ideation adalah proses menghasilkan gagasan/ide yang luas tentang topik-topik tertentu, tanpa menilai, mengevaluasi atau membenarkan salah satu.

Menurut Aurora Harley, ada tiga pondasi dalam proses ideation, diantaranya adalah:

- Ide tidak di evaluasi
Setiap anggota tim bebas untuk mengemukakan gagasan kepada tim. Anggota tim yang lain mencoba memberikan ruang kepada rekannya untuk berpendapat, tidak memandang sebelah mata, dan terburu-buru dalam menilai atau mengevaluasi.

- Setiap ide didokumentasikan
Gagasan atau ide yang beredar dalam sesi diskusi/brainstorming harus didokumentasikan. Biasanya menggunakan kertas tempel dimana masing-masing anggota tim menuliskan ide-idenya ke dalam kertas kemudian di tempel. Lebih baik lagi semua proses tersebut kemudian di dokumentasikan dalam bentuk gambar atau video.

-  Kolaborasi memacu ide beragam
Anggota tim mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan ide-ide kreativ nya (semua ide adalah unik dan kreativ). Jika hal itu dilakukan secara kelompok, maka akan menghasilkan ide yang banyak dan beragam. Mengizinkan orang lain untuk membagikan ide di lingkungan yang terbuka memiliki manfaat salah satunya adalah dapat membangun tim dan memperkuat dukungan untuk desain akhir.

Output : Output dari tahap Ideate ini adalah sketsa, flow, diagram, mind-map, concept. Dan dapat Meningkatkan potensi inovasi dari solusi yang dibuat serta Menyatukan perspektif dan kekuatan anggota tim.

4. Prototype
Tahap design thinking yang berikutnya adalah pembuatan prototype. Ide yang sudah dievaluasi kemudian diimplementasikan ke dalam sebuah produk percobaan. Prototipe ini dapat dibagikan dan diuji dalam satu tim sendiri maupun pada sekelompok kecil orang di luar tim desain. Ini merupakan fase kamu untuk bereksperimen. Pada tahap ini akan dihasilkan sejumlah versi produk yang murah dan diperkecil, atau fitur khusus yang ditemukan dalam produk, sehingga dapat menyelidiki solusi masalah yang dihasilkan pada tahap sebelumnya. 

Ada dua tipe utama prototype, yakni Low-fidelity Prototyping dan High-fidelity prototyping.

- Low-fidelity prototyping
Prototyping tingkat pertama ini merupakan prototyping tingkat kesetiaan rendah. Misalnya jika produk berupa aplikasi prototyping, dibuat dengan model tidak lengkap, dibuat menggunakan bahan kayu, kertas, logam atau plastik dan bahan-bahan murah yang lain.

Low-fidelity prototyping menurut Nick Babich memiliki ciri:
- Desain Visual: Hanya berupa atribut visual dari produk akhir yang disajikan.
- Konten: Hanya elemen kunci dari konten yang disertakan.
- Interaktivitas: prototype disimulasikan oleh manusia nyata. Interaktivitas dapat dibuat menggunakan wireframes menggunakan PowerPoint, Keynote atau menggunakan applikasi khusus seperti Adobe XD.

Bentuk Low-fidelity prototyping, contohnya: Storyboarding, Sketching, card sorting, role playing. Anda bisa menggunakan model role playing dalam studi kasus pengembangan produk layanan sosial.

- High-fidelity prototyping
Prototyping hing-fidelity merupakan prototype yang dibuat semirip mungkin dengan produk aktual yang akan dibuat.

Karakter dasar dari jenis prototype jenis ini adalah:
- Visual Desain: Desain realistis dan terperinci. Semua elemen antar muka, dan grafik seperti aplikasi nyata.
- Konten: Desainer menggunakan konten yang nyata atau mirip dengan konten nyata.
- Interaktivitas: Prototipe sangat realistis dalam interaksinya.

Jika produk Anda adalah sebuah aplikasi, Anda memerlukan tools ini untuk membuat prototipe UI/UX: Photoshop, Adobe Illustartor, Adobe XD, Mockplus, Flinto, Framer JS, dan lain-lain.

Output : Prototype yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat dalam mengembangkan produk. Bisa jadi memvalidasi, ketergunaan produk, efisiensi, dan lainnya.

5. Test
Tahap yang terakhir adalah test. Dari produk prototipe yang sudah kamu buat, maka selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah membuat percobaan langsung dengan pengguna. Dilakukannya pengujian dan evaluasi terhadap produk kepada masyarakat dan hasilnya akan dilakukan perubahan dan penyempurnaan untuk menyingkirkan solusi masalah dan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang produk dan penggunanya.

Panduan Merencanakan Uji Coba :

- Beginners mind
Dengan memposisikan diri kita sebagai pemula, kita akan mempelajari banyak hal tanpa terhalangi rasa ego dan rasa “songong”. Terus mendengarkan masukan tanpa bersifat defensif ialah attitude yang wajib dimiliki orang yang ingin terus berkembang. Pada saat menjalani tahap testing, mungkin akan banyak insight baru yang baru kita tau kebenerannya. Mungkin juga akan berlawanan dengan pendapat kita, namun begitu lah adanya. Dan dari situ lah kita belajar mengenai calon user kita.

- Set objectives
Sebelum memulai testing, ada baiknya kita menentukan dulu apa yang ingin kita ketahui dari testing ini. Buat lah testing plan, insight apa saja yang ingin kamu dapatkan, bagian mana yang ingin kamu validasi. Seperti dijelaskan pada tahap prototype, prototype dibuat untuk menjawab pertanyaan yang masih menjadi perdebatan dengan tujuan untuk membuat produk menjadi lebih baik.

- Recruiting users
Selanjutnya ialah menentukan orang yang dijadikan calon user sebagai tester. Mungkin teman dan keluarga akan menjadi mangsa yang empuk. Namun penting untuk dipertimbangkan bahwa tester yang kalian rekrut sesuai dengan demografis atau user persona yang telah kita tentukan sebelumnya.
Apabila anda sudah memiliki data dari existing user, akan sangat bagus bila kita dapat merekrut tester yang berpotensi. Seperti user baru, user yang paling aktif, user yang mulai jarang aktif, dan lain sebagainya.

- Testing the prototype
Saat memulai testing, jangan tergesa-gesa untuk langsung menjelaskan semua hal. Biarkan user untuk mencoba memahami produk mu. Dengan begitu anda juga bisa sekaligus mengecek apakah rancangan yang anda buat sudah cukup intuitif. Sampaikan yang perlu disampaikan dan berusaha lah untuk menghargai waktu mereka. Saat melakukan testing, usahakan untuk merekam berjalannya testing dan alokasikan orang lain untuk mencatat dan mengamati proses testing. Hal ini ditujukan agar kita dapat lebih leluasa memandu tester dalam proses testing.

Output : Produk dan layanan bisa menghasilkan solusi dengan tiga kriteria, Desirability, Feasibility, dan Viability. 
- Desirability berkaitan dengan fokus pada pengguna. Solusi yang dibuat harus memenuhi kebtuhan, emosi dan perilaku pengguna.

- Feasibility atau kelayakan berkaitan dengan teknologi atau metodologi. Solusi desain harus praktis, dapat diterapkan dan efisien.

- Viability, solusi desain Anda layak secara bisnis (jika komersial), memberi dampak sosial, dan menciptakan kelangsungan hidup, baik bagi pribadi, masyarakat maupun organisasi.

DAFTAR PUSTAKA :

Mahfunda, Ravi. 2019. Apa itu Design Thinking. https://medium.com/design-jam-indonesia/apa-itu-design-thinking-63c8416c9dd0 (Diakses pada tanggal 21 April 2020)

Parawansa, Arez. 2019. Kenali Design Thingking. https://www.arezparawansa.com/2019/04/kenali-design-thinking-sebelum-bikin.html?m=1 (Diakses pada tanggal 21 April 2020)

Sudarminto, Puguh. 2019. Lima Tahapan Dalam Proses Design Tingking. https://medium.com/idea-room/lima-tahapan-dalam-proses-design-thinking-c2a98ab898c1 (Diakses pada tanggal 21 April 2020)

Andina, Yurista. 2020. Tahap Design Thingking. https://kreativv.com/seni-rupa-dan-desain/tahap-design-thinking/ (Diakses pada tanggal 21 April 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar