Minggu, September 26

MINAT YANG MANA ? Entrepreneurship, Technopreneurship, dan Sociopreneurship

        OLEH : ANGGA RAMADHAN
      ( @S16_ANGGA )

Abstrak

Istilah Entrepreneurshi, technopreneurship, dan socioprenuership sudah tidak asing lagi ditelinga semua orang, karena dalam suatu bisnis kita selalu membayangkan bahwa semua pelaku bisnis disebut dengan istilah Entrepreneur. Tidak salah namun juga tidak 100% benar. Sebenarnya Entrepreneur merupakan seseorang yang menjalankan usaha sendiri dengan ide sendiri, manajemen pengelolaan sendiri, memiliki kebebasan dalam peraturan, tidak terkait waktu dan segala resiko akan ditanggung oleh seseorang itu sendiri.

Namun sebelum lebih lanjut membahas mengenai istilah ketiga tersebut, akan lebih baiknya jika anda memahami tentang pelaku ke-3 kegiatan tersebut. Jika mengacu pada kegiatan diatas merupakan sebuah usaha, proses, dan kegiatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok.

..Pembahasan

Definisi entrepreneurship, technopreneurship, dan sociopreneurship

Entrepreneurship :

    Menurut Prijosaksono dan Bawono ( 2005 ) Entrepreneurship ( wirausaha) dapat diartikan melalui 3 kata berikut : destiny,courage,action. Ketiga kata tersebut merupakan kata- kata yang penting dalam membangun sikap dan perilaku wirausaha dalam diri seseorang. Desniny berarti takdir, yang sebenarnya lebih merupakan tujuan hidup kita, bukan nasib. Tujuan dan misi hidup kita adalah fondasi awal untuk menjadi seoarang wirausahawan yang sukses. Dengan memiliki tujuan hidup ( life purpose ) yang jelas, kita dapat memiliki semangat ( spirit ) dan sikap mental ( attitude ) yang diperlukan dalam membangun sebuah usaha yang dapat memberi nilai tambah dalam kehidupan kita. Keberanian (courage) untuk memulai dan menghadapi tantangan adalah sikap awal yang kita perlukan. Dalam kewirausahaan, keberanian untuk mulai dan mengambil resiko adalah syarat mutlak. Impian dan cita-cita yang besar, kemudian ditambah dengan kreativitas yang diwujudkan dengan keberanian untuk mencoba dan melakukan (Action) langkah pertama adalah awal kesuksesan seorang wirausahawan sejati.

 Technopreneurship

    Adapun pengertian technopreneurship menurut para ahli seperti dijelaskan menurut Tata Sutabri dikutip Sustyo (2010) menyatakan technopreneurship merupakan proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya, dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi nasional. Perbedaannya dengan entrepreneurship adalah technopreneurship itu identik dilibatkan dalam mengirimkan satu produk teknologi tinggi inovatif (contohnya; Intel) atau membuat penggunaan teknologi tinggi dalam satu cara inovatif untuk mengirim produknya kepada konsumen (contohnya; eBay), atau keduanya (contohnya: sebagian besar perusahaan obat-obatan). Konsep technoprenerurship sebagaimana diungkapkan di atas pada dasarnya mengintegrasikan antara teknologi dengan keterampilan kewirausahaan (entrepreneurship skills). Dalam konsep technopreneurship ini basis pengembangan kewirausahaan bertitik tolak dari adanya invensi dan inovasi dalam bidang teknologi. Teknologi yang dipahami dalam konteks ini tidak sekedar teknologi berupa high tech, tetapi tentu saja tidak selalu harus teknis. Teknologi hanya didefinisikan sebagai aplikasi pengetahuan pada kerja orang (human work). Dengan begitu akuntansi, ekonomi order quantity, pemasaran secara lisan, dan mentoring dirumuskan dengan baik pada dasarnya teknologi juga. Belakangan ini technopreneurship menggunakan peningkatan teknologi komputer, terutama internet, untuk melakukan usaha/bisnis, mempromosikan bisnis atau bisa juga disebut ber-wirausaha. Bidang tersebut juga dikenal dengan cyberpreneurship dan bervariasi dari setiap pengusaha. Dalam hal ini para entrepreneur melakukan promosi menggunakan brosur electronik yang dikenal sebagai homepage pada internet. Penjualan produk dan layanan juga menggunakan elektronik mail di internet.

 Sociopreneurship

Sociopreneurship adalah proses terbentuknya badan usaha baru berdasarkan misi sosial dan lebih mengutamakan misi sosial tersebut dibandingkan memperoleh keuntungan pribadi dari pembuka usaha. Pelaku dari sociopreneurship disebut sociopreneur. Karena keuntungan badan usaha tersebut akan digunakan sebagai dana misi sosial atau bahkan sebagian besar diberikan pada sang karyawan sebagai bagian dari misi sosial tersebut.

Perbedaan entrepreneurship, technopreneurship, dan sociopreneurship

Entreprenuership :

v              Pada  motivasi bisnis entreprenuership:  pelaku dituntut untuk selalu mampu memperbaiki motivasi baik diri mereka sendiri ataupun tim. Salah satu cara untuk mendapatkan kesuksesan dibidang entrepreneurship adalah dengan mengembangkan ide serta konsep agar mampu bersaing dengan kompetitor. Selain itu, entrepreneur juga harus mampu mengeksploitasi berbagai kesempatan demi mengalahkan pesaing. Tolak ukur kesuksesan entrepreneurship adalah akumulasi kekayaan dari usahanya.

v          Pada gaya hidup entrepreneurship : gaya manajemen usaha tergantung dari pengalaman serta profesionalitas seseorang entrepreneurship, para pelaku meiliki pengalaman yang terbatas namun tetap fleksibel tergatung dari perkembangan teknologi itu sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh target strategi pasar yang sifatnya global dengan inovasi produk yang berkelanjutan.

v          Pada kepemimpinan entrepreneur : memiliki otoritas tinggi pada entrepeneur atau pelaku usaha. Hal ini karena yang paling mempengaruhi dibidang entrepreneurship adalah kemampuan individu dalam melakukan penawaran dan lobi sehingga mampu menarik perhatian konsumen. Selian itu pada entrepreneurship, terdapat imbalan yang akan diperoleh setiap individu yang berhasil mendapatkan capaian tertentu dibidang bisnis.

v          Pada potensi pertumbuhan usaha entreprenuership : potensi pertumbuhan usaha dalam skala nasional sangat cepat namun lambat untuk skala global. Karena entrepreneurship secara tidak langsung memiliki tujuan pertumbuhan ekonomi yang terstruktur,yakni penguasaan daerah atau wilayah, skala nasional dan akhirnya skala golabl. Salah satu hambatan pada potensi pertumbuhan usaha dalam skala global adalah karena entrepreneur akan dipertemukan dengan kompetitor dari berbagai negara dengan inovasi, gagasan, konsep, serta tingkat kreativitas yang berbeda pula.

Technopreneurship :

v              Pada motivasi bisnis technopreneurship pelaku usaha dituntut memiliki pola pikir yang revolusioner mengingat perkembangan bisnis berbasis teknologi sangat pesat. Disamping itu,pada bidang technopreneurship sangat sarat akan kompetisi dan risiko bisnis sehingga salah satu cara untuk mendapatkan kesuksesan adalah mengekploitasi teknologi baru. Seorang technopreneur yang sukses akan memperoleh dua hal yakni finansial dan nama yang terkanal.

v          Pada gaya usaha technopreneurship para pelaku memiliki pengalaman yang terbatas namun tetap fleksibel tergantung dari perkembangan teknologi itu sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh target strategi pasar yang sifatnya global dengan inovasi produk yang berkelanjutan.

v          Pada kepemimpinan usaha technopreneurship merupakan perjuangan kolektif banyak orang karena sifat usahanya yang bersifat lebih global. Disamping itu, terdapat pembagian kemajuan bisnis yang dipengaruhi oleh rasa saling mengahargai terhadap kontribusi serta pencapaian yang dilakukan oleh technopeneur.

v          Pada potensi pertumbuhan usaha technopreneurship yang sifat usahanya bergantung pda teknologi, tertentu saja potensi pertumbuhan usaha melihat dari cepat atau tidaknya dominasi teknologi baru yang dapat dimanfaatkan dan dijual. Namun jika ternyata perusahaan dibidang technopreneurship berada pada kondisi stuck hingga mengalami kebangkrutan, biasanya akan muncul sebuah aliansi global dan pelaku bisnis serupa demi mempertahankan pertumbuhan bisnis.

 Sociopreneurship

    Sociopreneurship, sebagai penggerak ekonomi, memberikan peluang usaha, pendangan usaha dan aspek praktikal dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi tersebut. Tapi pencetusnya dapat tetap meraup keuntunganIts a win-win situation. Selain perbaikan ekonomi makro, sociopreneur adalah solusi untuk meningkatkan perekonomian nasional. Secara statistik seperti ini. Indonesia adalah negeri terpadat keempat Dunia, pada tahun 2012 lalu terhitung 7,244,569 Juta penduduk berpendidikan adalah pengangguran, 29,88 juta penduduk terbelit kemiskinan bahkan di catatan Bank Dunia tercatat 102,85 juta!.

    Salah satu pengentas kemiskinan dan pengangguran efektif dunia adalah dunia wirausaha (entrepreneurship). Negara seperti Korea Selatan misalnya, yang padadekade ini melejit perekonomiannya, memiliki persentase 5% dari total penduduk mereka adalah entrepreneur. Dan Negara maju seperti Norwegia, USA dan Prancis memiliki persentase lebih dari 7%. Di Indonesia sendiri, hanya 1,26% penduduk yang berprofesisebagai wirausahawan atau entrepreneur. Hal tersebut sangat disayangkan, karena faktanya, kewirausahaan mampu mereduksi jumlah kemiskinan dan membuka lapangan kerja. Disinilah, alasan mengapa sociopreneurship mampu menjadi solusi, Karena selain bersifat sustainable pada perekonomian, sociopreneurship mampu memberikan solusi efektif dan taktis terhadap permasalahan perekonomian Indonesia.

 Contoh – contoh wirausaha sukses dan bisnis yang dilakukan :

Entrepreneur :

·         Chairil Tanjung

 

 

Chairil Tanjung memberi nama perusahaannya Para Group CT mengembangkan bisnisnya ke segala bidang, dibidang keuangan mengambil alih Bank Mega, dan membawahi beberapa bisnis lainnya , diantaranya : Para Global Investindo ( bisnis keuangan ) , Para Inti Investindo ( media dan investasi ), Para Inti Propertindo ( properti ). Sedangkan di bidang penyiaran dan hiburan memiliki Trans TV, Trans 7, Trans Studio dan lainya sebagainya.

·         Handy Setiono

Pemilik kebab Turki Hendry Setiono memulai bisnisnya dengan membaut inovasi kebab yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Berkat kerja kerasnya mampu mengembangkan jaringan bisnisnya keseluruh Indonesia dan Hendry dinobatkan sebagai perusahaan sukses se Asia Under 25 oleh majalah Business Wekk Internasional pada tahun 2006.

Sumber contoh entrepreneurship : http://sarungpreneur.com/7-wirausahawan-sukses-di-indonesia/#

b.    Sociopreneur

·         Nadiem Makarim

 

Nadime Makarim meruapakan seorang lulusan Harvard dan juga pendiri Gojek. Gojek dapat dimasukkan kedalam sociopreneurship karena gojek menyelesaikan permasalahan utama dari ojek yaitu ketidakpastian dari tarif, gojrk berhasil menyisipkan banyak nilai tambah dari ojek seperti go-send, go-food, go-mart, dan lain sebagainya, serta gojek juga mengangkat citra profesi pengemudi ojek.

c.    Technopreneur :

·         Achmad Zaky :


Achmad Zaky merupakan pendiri dari Bukalapak.com yang mampu memanfaatkan kebutuhan masyarakat dengan baik yaitu menyediakan akses belanja yang mudah dan cepat dengan konsep e-commerce. Bukalapak tercatat sebagai salah satu perusahaan e-commerce terkemuka di Asia Tenggara dengan nilai transaksi mencapai USD 80 Juta pada tahun 2014.

  ·         Ferry Unardi


Ferry Unardi merupakan CQ-Founder dan CEO Traveloka. Platform pemesanan e-ticketing yang berkembang pesat di Indonesia. Di traveloka dapat memesan tiket pesawa, kereta, dan hotel. Keberadaan Traveloka mampu megalihkan 90% penumpang untutk memesan tiket secara online karena mudah dan praktis.

Sumber contoh technopreneur : https://www.uang.com/uang/ini-tiga-techopreneur muda -indonesia-berpengaruh-di-asia-tenggara.html

 Daftar Pustaka

https://www.academia.edu/34646977/Macam_Macam_Entrepreneurship_Beserta_Contoh

https://www.farizyusufa.com/2021/08/perbedaan-sociopreneurship-dan.html

http://iskandarx.com/2018/02/pengertian-sociopreneurship-dan-technopreneurship.html

https://carainvestasibisnis.com/4-perbedaan-technopreneurship-dan-entrepreneurship-mendasar-yang-harus-anda-pahami/

https://mizanrohman12.blogspot.com/2017/10/pengertian-dan-perbedaan.html

Sekian materi yang saya dapat sampaikan. 

wassalamuailaikum 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.