Rabu, Oktober 20

EVALUASI DAN PERANCANGAN MODEL BISNIS BERDASARKAN BUSINESS MODEL CANVAS

 OLEH PUTRI AULIYA (@S18-PUTRI)

I.  PENDAHULUAN

Industri di bidang makanan dan minuman adalah salah satu bentuk industri yang potensial. Di Indonesia sendiri, industri makanan dan minuman saat ini sedang menunjukan partumbuhan dan peningkatan yang signifikan.

Di provinsi Kalimantan Selatan khususnya di kota Banjarmasin sendiri, tingkat konsumsinya terus meningkat setiap tahun seperti yang ditunjukan pada Tabel 1.1 Dalam Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa dari tahun 2008 hingga tahun 2012 terus terjadi peningkatan terhadap rata-rata konsumsi di sektor makanan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa potensi industri makanan di kota Banjarmasin tergolong tinggi dilihat dari tingginya kebutuhan masyarakat kota Banjarmasin akan makanan seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang ada di tengah masyarakat. Hal ini memicu munculnya usaha-usaha baru di industri makanan, baik usaha dalam skala kecil maupun skala besar.

Dengan bertambahnya jumlah unit usaha pada sektor ini menyebabkan tingkat persaingan yang ada menjadi lebih ketat. Untuk menghadapi persaingan ini perusahaan senantiasa dituntut untuk menjalankan aktivitas bisnis dengan baik serta memperhatikan model bisnis yang dijalankannya.


Salah satu perusahaan yang mengalami permasalahan dalam model bisnisnya adalah Sulis Cake. Sulis Cake ini adalah perusahaan di kota Banjarmasin yang bergerak di bidang industri makanan berupa penjualan roti dan kue. Perusahaan ini telah berdiri selama 24 tahun sejak tahun 1990. Namun hingga saat ini, Sulis Cake belum memiliki gerai/toko sendiri. Selain itu, bentuk upaya pemasaran yang dilakukan Sulis Cake juga masih mengandalkan word of mouth. Padahal Sulis Cake telah memiliki pengalaman selama puluhan tahun dalam berbisnis di bidang bakery. Berdasarkan fenomena yang ditemukan dalam perusahaan Sulis Cake ini, penulis tertarik untuk melakukan evaluasi atas model bisnis yang sedang dijalankan serta merancangkan model bisnis yang tepat dengan menggunakan pendekatan sembilan elemen pada Business Model Canvas (BMC) di perusahaan tersebut. Dalam penelitian ini penulis akan mengidentifikasi dan mengevaluasi model bisnis yang diterapkan Sulis Cake dan merancangkan model bisnis baru berdasarkan pendekatan BMC dari Osterwalder dan Pigneur (2010). Sembilan elemen BMC terbagi atas customer segments, value propositions, channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partnerships, cost structure.


Setelah mengidentifikasi sembilan elemen BMC, berikutnya peneliti melakukan analisa SWOT. Analisis SWOT merupakan sebuah metode yang membandingkan antara kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dapat membantu untuk memformulasikan strategi (Bateman & Snell, 2009, p.149). Kaitan analisis SWOT dengan Business Model Canvas (BMC) dalam penelitian ini adalah SWOT membantu untuk mengidentifikasi apa saja kekuatan dan kelemahan, serta peluang, dan ancaman dari maing-masing sembilan elemen BMC yang telah diidentifikasi sebelumnya. Dengan mengkombinasikan SWOT analysis dan BMC memungkinkan penilaian yang terfokus dan evaluasi terhadap model bisnis perusahaan dan elemen-elemennya (Osterwalder dan Pigneur, 2010). Evaluasi atas hasil analisa SWOT dilakukan dengan merumuskan proposisi nilai dan model bisnis serta menggali segmen pelanggan yang baru. BMC melengkapi Blue Ocean dengan memberikan “gambaran besar” secara visual yang membantu kita memahami bagaimana perubahan suatu bagian pada model bisnis akan dapat mempengaruhi komponen lainnya. Dari sinilah kemudian akan muncul future business model canvas.

II.  METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini penulis juga akan melakukan perancangan model bisnis masa depan dengan pendekatan Business Model Canvas bagi perusahaan.

Subjek Penelitian

Subjek di dalam penelitian ini adalah pemilik, pegawai tetap Sulis Cake serta pelanggan dan pemasok Sulis Cake.

Objek Penelitian Objek

dalam penelitian ini adalah evaluasi model bisnis saat ini dan perancangan model bisnis masa depan pada Sulis Cake dengan menggunakan pendekatan 9 elemen pada Business Model Canvas.

Jenis Data

Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif.

Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah data primer.

Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Jenis wawancara yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur.

Teknik Penentuan Informan

Teknik penentuan narasumber dalam penelitian ini menggunakan metode snowball sampling. Narasumber dalam penelitian ini adalah Ibu Sulistiawanty Darmawan selaku pemilik Sulis Cake dan beberapa karyawan tetap. Selain itu, peneliti juga akan melakukan wawancara dengan supplier dan konsumen dari Sulis Cake.

Uji Validitas Data

Metode yang digunakan untuk menguji validitas/keakuratan data adalah dengan menggunakan metode triangulasi. Dalam penelitian ini jenis triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber. Data yang diperoleh akan dikatakan valid apabila data/informasi yang diperoleh dari tiga informan memiliki ke samaan.

Teknik Analisa Data

Analisa data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah analisis template. Pada dasarnya analisis template adalah daftar kode atau kategori yang mewakili tema yang terungkap dari data yang telah dikumpulkan. Analisis template menawarkan rute yang lebih fleksibel untuk melakukan analisis yang memungkinkan peneliti untuk mengubah penggunaannya sesuai dengan kebutuhan dan proyek penelitian. (dalam Saunders, King, 2007). Setelah melakukan analisis template berikutnya adalah mengidentifikasi Sembilan elemen BMC pada Sulis Cake. Hasil identifikasi akan dianalisi menggunakan SWOT dan dievaluasi menggunakan Blue Ocean. Setelah dianalisis dan dievaluasi, berikutnya akan dihasilkan future BMC bagi Sulis Cake.

III.  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini akan disajikan hasil dari identifikasi sembilan elemen business model canvas pada Sulis Cake.

A. Identifikasi Sembilan Elemen Business Model Canvas

1. Customer Segments

Elemen customer segment berfokus untuk mengidentifikasi kelompok konsumen yang dituju oleh perusahaan sebagai target penjualan. Pelanggan Sulis Cake berasal dari kalangan menengah ke atas dari dalam dan luar kota dari berbagai usia. Pelanggan Sulis Cake termasuk ke dalam tipe segmented. Bagi Ibu Sulis semua pelanggan baik yang berasal dari kalangan menengah, hingga kalangan atas semua adalah sama dan tidak ada pembedaan. Kelompok pelanggan yang belum dijangkau oleh Sulis Cake adalah segmen pelanggan dalam lingkup pemerintahan seperti pegawai negeri dan birokrat pemerintahan.

2. Value Propositions

Value propositions yang diteliti difokuskan pada mengidentifikasi kebutuhan pelanggan perusahaan, mengetahui kemampuan perusahaan menerapkan nilai dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, kemudian bagaimana perusahaan mampu meningkatkan kinerja dan menciptakan brand images yang baik bagi perusahaan serta dalam hal penetapan harga. Secara spesifik diketahui bahwa pelanggan menginginkan agar produk yang dipesan dapat selesai tepat waktu, dan mendapatkan pelayanan yang baik dari pihak Sulis Cake. Sedangkan keinginan pelanggan dalam hal lainnya adalah kue yang mereka pesan dapat diolah oleh seseorang yang memang memiliki keahlian dibidang pembuatan kue yaitu Ibu Sulis sendiri agar hasil yang diterima baik dan sesuai dengan yang diinginkan. Untuk memenuhi keinginan pelanggan agar dibuat oleh orang yang dianggapnya ahli, Ibu Sulis biasanya akan tetap memberikan tugas pembuatan kue tersebut pada pegawai sesuai keahliannya masing-masing. Namun semua proses dan pengerjaannya tetap berada dibawah pengawasan Ibu Sulis sendiri. Adapun nilai-nilai yang terdapat dalam elemen ini terkait dengan value propositions adalah sebagai berikut:

1.       Newness

Sulis Cake bersedia memenuhi kebutuhan pelanggan yang belum pernah diterima sebelumnya Sulis Cake sangat berhatihati dan memastikan apa yang diinginkan pelanggan.

2.       Performance

Sulis Cake menyelesaikan pesanan dengan tepat waktu bahkan sebelum waktu yang dijanjikan. Sulis Cake juga meminta masukan berupa kritik dan saran kepada para pelanggan sebagai upaya perbaikan untuk ke depannya.

3.       Customization

Dalam hal ini Sulis Cake juga menyesuaikan produk yang dibuat dengan value yang menjadi keinginan konsumen.

4.       Getting the job done

Sulis Cake menjadi partner bagi pelanggan dengan cara membantu dalam hal menyediakan konsumsi berupa kue, roti untuk berbagai acara seperti acara bulanan, arisan, ulang tahun dan masih banyak lagi.

5.       Brand

Brand/status Sulis Cake dimata para pelanggannya adalah suatu usaha rumahan/home industry yang memproduksi aneka kue dan roti dengan kualitas yang baik. Jika dilihat dari logo yang digunakan sebagai identitas usaha, Sulis Cake belum konsisten dalam menggunakan merk atau logonya.

6.       Price

Value proposition perusahaan dalam menerapkan harga produknya disesuaikan dengan biaya produksi kue yang dipesan. Harga yang ditetapkan atas pertimbangan Ibu Sulis sendiri, apabila terdapat potongan atas harga kue (hasil tawar menawar yang dilakukan pembeli) yang dipesan maka kualitas yang diberikan akan tetap sama dan tidak akan dibedakan.

7.       Cost Reduction

Sulis Cake membantu pelanggan mengurangi biaya yang dikeluarkan dengan membeli kue di Sulis Cake, karena dalam hal penetapan harga ada beberapa produk Sulis Cake yang ternyata lebih murah daripada pesaing lain jika dibandingkan dengan pesaing yang sudah dalam bentuk toko kue atau bakery.

8.       Risk Reduction

Dengan memesan di Sulis Cake maka dapat mengurangi biaya akibat kegagalan yang mungkin bisa terjadi apabila pelanggan membuat kuenya sendiri.

9.       Accessibility

Sulis Cake menyediakan sistem delivery untuk kue atau roti yang dipesan dengan ditambah ongkos kirim sebesar Rp 30.000 (bagi lokasi yang jauh dari tempat Sulis Cake).

10.   Design

Sulis Cake memberikan kebebasan bagi pelanggannya dalam menentukan desain kue yang diinginkan. Pelanggan dapat berkonsultasi mengenai penentuan desain yang cocok sesuai dengan tema yang diinginkan.

 

3. Channel

Channel difokuskan pada metode dan jenis proses untuk menjangkau pelanggan dilihat dari saluran distribusi yang ditetapkan oleh Sulis Cake. Kemampuan perusahaan dalam meningkatkan kesadaran/awareness atas produk dan jasa yang diberikan Sulis Cake, metode pembelian produk, bagaimana cara perusahaan menyampaikan value proposition, bagaimana menunjang pelanggan setelah melakukan penjualan (after sales). Dalam membangkitkan dan meningkatkan kesadaran/ awareness pelanggan mengenai Sulis Cake ini upaya yang dilakukan adalah melalui logo, cap stempel, kartu nama dan aktif dalam kegiatan komunitas atau sebagai sponsor di gereja yang biasanya akan menampilkan siapa saja sponsor yang terlibat. Sedangkan sistem promosi yang dilakukan adalah bersifat word of mouth atau media pemasaran yang mengandalkan komentar dari satu orang ke orang lain mengenai produk dan jasa yang diberikan oleh Sulis Cake. Hingga saat ini Sulis Cake hanya memiliki satu saluran utama. Apabila pembeli ingin mendapatkan kue yang telah dipesan sebelumnya maka pembeli dapat langsung mendatangi lokasi usaha Sulis Cake di Jalan Banjar Indah Permai. Sulis Cake juga menerapkan tindakan after sales yang berbicara tentang bagaimana perusahaan menunjang konsumen setelah melaku-kan pembelian. Dalam hal ini tindakan after sales yang dilakukan memiliki syarat dan ketentuan tertentu sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.


4. Customer Relationship

Customer relationship dalam penelitian ini berfokus pada pola hubungan perusahaan dengan pelanggan, cara perusahaan dalam menciptakan hubungan yang baik dengan pelanggannya. Hubungan dapat bervariasi mulai dari yang bersifat pribadi sampai otomatis. Dalam hal ini hubungan pelanggan yang terjalin ternasuk ke dalam personel assistance. Dalam membangun hubungan dengan pelanggan hal terpenting bagi Sulis Cake adalah kemampuan dalam menyelesaikan pesanan tepat waktu sesuai yang telah dijanjikan, menjaga kualitas dari proses pembuatan produk dan memberikan pelayanan dengan baik. Cara lain yang dilakukan Sulis Cake untuk menjaga agar pelanggan tetap loyal dan setia adalah dengan memberikan perhatian seperti mengingat tanggal ulang tahun pelanggannya. Kemudian Sulis Cake akan mengirimkan kue tart kecil bagi pelanggan yang berulang tahun. Hal ini diakui oleh pegawai dari Sulis Cake sendiri bahwa pelanggan yang mendapatkan perhatian seperti itu adalah pelanggan yang sudah sering melakukan pembelian, dan memang mengenal Ibu Sulis selaku pemilik Sulis Cake.


5. Revenue Streams

Revenue streams yang diteliti difokuskan pada sumber pendapatan perusahaan yang juga dilihat dari jenis pendapatannya, cara pembayaran oleh pelanggan dan perbandingan pendapatan yang diterima dengan manfaat yang diberikan perusahaan bagi pelanggan. Hasil wawancara dengan pemilik Sulis Cake dan dua pegawainya diketahui bahwa sumber pendapatan Sulis Cake berasal dari penjualan kue yang dipesan oleh pembeli. Jika dilihat dari jenis pendapatannya maka tergolong ke dalam jenis pendapatan bersifat transaksi dan berulang. Dalam melakukan pembayaran pelanggan diberikan dua pilihan yakni membayar tunai atau membayar transfer ke rekening Ibu Sulis. Berdasarkan hasil dari wawancara dengan pemilik dan dua pegawai di Sulis Cake diketahui pula bahwa terjadi peningkatan atas pendapatan yang diterima oleh Sulis Cake pada tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.. Pendapatan yang diperoleh oleh Sulis Cake juga dipengaruhi penetapan harga yang diberlakukan perusahaan (pricing mechanisms). Mekanisme penetapan harga yang diterapkan Sulis Cake termasuk ke dalam tipe dynamic pricing yaitu penetapan harga berdasarkan kondisi pasar.


6. Key Resources

Selama masa bekerja di Sulis Cake semua pegawai dilaih untuk membuat kue, proses pengajaran yang dilakukan bisa dengan cara pendampingan oelh Ibu Sulis sendiri. Pada saat memiliki waktu senggang Ibu Sulis biasanya mengadakan pelatihan bagi pegawainya dalam hal membuat kue, kemudian hasil dari praktek yang dilakukan akan dikonsumsi bersamasama. Key Resources dalam hal sumber daya intelektual Sulis Cake ini menyangkut tentang merek dan logo dari Sulis Cake sendiri, sejauh ini Sulis Cake tidak memiliki logo yang tetap, pembuatan logo diserahkan kepada jasa percetakan sticker, sehingga setiap membuat sticker, logo Sulis Cake selalu berubah-ubah. Selain itu soft skill terkait dengan kemampuan membuat kue yang dimiliki oleh sumber daya manusia di dalam Sulis Cake. Dalam hal intelektual pemilik Sulis Cake yakni Ibu Sulis selalu mengembangkan kemampuannya dalam membuat kue dengan cara mengikuti short course tentang teknik-teknik terbaru dalam membuat kue, jenis-jenis kue yang sedang trend akhir-akhir ini. Selain itu, resep-resep serta pengalaman yang dimiliki oleh Ibu Sulis dalam membuat kue selama puluhan tahun juga termasuk ke dalam kekayaan intelektual sebagai sumber daya perusahaan.


7. Key Activities

Dalam penelitian ini Key Activities yang diteliti difokuskan pada gambaran aktivitas perusahaan dan efektifitas dari aktivitas yang dijalankan. Dilihat dari kategorinya Sulis Cake termasuk ke dalam kategori production karena aktivitas yang dilakukan berhubungan dengan desain, membuat dan menyampaikan produk yang dibuat dalam jumlah tertentu dan kualitas yang baik. Gambaran aktivitas yang dijalankan oleh Sulis Cake sehari-harinya dimulai dengan menerima dan melihat orderan yang ada setiap harinya. Dalam menjalankan aktivitas produksi, pertama-tama adalah menyiapkan bahan baku untuk segera diolah, kemudian setelah disiapkan, bahan baku tersebut akan diolah sesuai dengan pesanan pembeli. Setelah tahap pengolahan (baking) selesai maka selanjutnya akan dilanjutkan pada tahap penyelesaian (finishing) seperti dekorasi (decorating), kemudian setelah itu kue yang telah jadi akan dikemas (packaging) dan siap diambil oleh pembeli. Agar proses produksi dapat efektif dan efisien adalah dengan mematikan penggunaan mesin atau alat-alat yang tidak digunakan, memproduksi kue pesanan yang diterima secara bersamaan sehingga pada saat pengadonan dan pemanggangan akan lebih efisien karena biaya yang dikeluarkan lebih sedikit dan pengerjaan pun tidak berulang-ulang.


8. Key Partnership

Penelitian ini difokuskan pada mitra usaha perusahaan dan peranannya dalam memberikan sumber daya yang dibutuhkan. Dalam hal ini partner Sulis Cake adalah pemasok bahan baku membuat kue. Hubungan pembeli pemasok di Sulis Cake dibentuk untuk mengoptimalkan alokasi dari sumber daya dan aktifitas yang terjadi, dan untuk mengurangi resiko dan ketidakpastian yang dalam hal ini adalah ketersediaan bahan baku, mengingat Sulis Cake membeli bahan baku 2-3 hari sebelumnya. Selama ini Sulis Cake tidak memiliki pemasok tetap, pembelian bahan baku dilakukan secara acak di beberapa toko kue di Banjarmasin seperti Toko 38, Depo Lestari, Jelsi, dan Bread Mart. Diakui sendiri oleh Ibu Sulis bahwa terkadang bahan baku juga dibeli di supermarket umum jika sedang ada promo. Pertimbangan Ibu Sulis pada saat melakukan pembelian bahan baku pada umunya didasarkan pada penghematan biaya dalam memperolehnya, misalnya ketika Ibu Sulis menjemput anaknya pulang sekolah dan kebetulan di dekat lokasi sekolah anaknya terdapat toko bahan kue maka Ibu Sulis akan melakukan pembelianm disana. Khusus bahan baku berupa telur biasanya Sulis Cake mendapatkannya dari Toko 38 karena Ibu Sulis telah lama mengenal pemilik dari Toko 38 sehingga Sulis Cake dapat meminta agar barang yang dipesan dapat diantarkan ke lokasi Sulis Cake.


9. Cost Structure

Dalam penelitian ini cost structure yang diteliti difokuskan pada jenis-jenis dan sumber biaya perusahaan. Sulis Cake termasuk ke dalam kelas value driven yakni perusahaan tidak begitu mementingkan besar biaya yang akan muncul dalam mendesain bisnis model, dan lebih berfokus terhadap penciptaan sebuah nilai untuk pasar. Jika dilihat dari karakteristiknya maka cost structure Sulis Cake memiliki karakteristik fixed cost/biaya tetap dan variable cost serta economies of scale. Fixed cost adalah biaya yang akan tetap dikeluarkan Sulis Cake dan tidak berpengaruh dari jumlah produk yang dihasilkan. Biaya variabel Sulis Cake tergantung pada besarnya jumlah produk yang dihasilkan, misalnya semakin banyak pesanan yang diterima maka semakin besar pula bahan baku yang dibutuhkan untuk diolah. Apabila dilihat dari karakteristik economies of scale, Sulis Cake telah mengalaminya dalam hal produksi. Jika pemesanan yang diterima lebih banyak maka biaya produksi per unit produk bisa lebih murah jika dikerjakan bersamaan dibandingkan pada saat mengerjakan jumlah pesanan yang lebih sedikit. Karakteristik lainnya adalah adanya keunggulan biaya yang akan lebih murah dilihat dari banyaknya jenis atau tipe produk yang dapat dihasilkan (economic of scope). Misalnya dalam hal ini penggunaan oven dapat digunakan untuk menghasilkan jenis kue kering, kue basah dengan banyak tipe.

IV.  KESIMPULAN

Berdasarkan identifikasi model bisnis yang dijalankan Sulis Cake saat ini diketahui bahwa Sulis Cake belum memperhatikan setiap elemen yang ada di dalam Business Model Canvas. Dari identifikasi yang dilakukan pada elemen customer segments, pasar Sulis Cake adalah pasar terbuka yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Sedangkan dari proposisi nilai (value propositions) Sulis Cake sangat mengutamakan kepuasan pelanggan. Saluran distribusi (channel) yang diterapkan Sulis Cake adalah saluran distribusi langsung hanya bersifat satu saluran. Dalam menjalankan hubungan dengan pelanggan, Sulis Cake telah mampu mempertahankan dan membangun hubungan yang baik dengan memberikan hadiah. Elemen key resources dan key activities dalam identifikasi yang dilakukan menunjukan bahwa sumber daya dan aktivitas utama adalah bahan baku dan produksi. Hingga saat ini Sulis Cake tidak memiliki pemasok tetap, pembelian bahan baku dilakukan diberbagai pemasok. Mengenai pengeluaran biaya dan pendapatan yang diterima Sulis Cake, saat ini pendapatan yang diterima bersumber dari penjualan produk saja, sedangkan biaya yang dikeluarkan berhubungan erat dengan biaya pengeluaran untuk menjalankan aktivitas perusahaan. Analisa SWOT dan evaluasi Blue Ocean digunakan dengan memberikan hasil potret dari model bisnis yang dijalankan saat ini. Hasil evaluasi ini dijadikan masukan untuk menciptakan future BMC. Adapun hasil analisa dan evaluasi yang dilakukan, secara umum menunjukan bahwa elemen customer segments menunjukan tingkat peluang atau opportunity yang tinggi, dalam artian bahwa Sulis Cake masih dapat melakukan segmentasi kebutuhannya dengan lebih baik lagi serta menetapkan target pelanggan perusahaan. Sedangkan pada elemen value propositions menunjukan tingkat strength dan opportunity yang sama besarnya. Maka dalam elemen value propositions Sulis Cake masih memiliki peluang untuk meningkatkan nilai perusahaan untuk memebuhi kebutuhan pelanggan dan menciptakan nilai baru bagi perusahaan. Elemen channel dalam analisa dan evaluasi yang dilakukan menunjukan bahwa elemen channel memiliki potensi ancaman yang tinggi, maka Sulis Cake harus mampu meningkatkan saluran distribusinya dengan menciptakan saluran lain seperti cabang baru dan konsinyiasi. Pada elemen customer relationships analisa dan evaluasi yang dilakukan menunjukan kekuatan dan peluang yang tinggi sedangkan ancaman yang ada sangat rendah. Hal ini membuktikan bahwa Sulis Cake mampu membangun dan menjalin hubungan pelanggan dengan baik. Dalam elemen revenue streams perusahaan masih memiliki peluang unuk meningkatkan arus pendapatannya dengan melakukan konsinyiasi atau menerima penitipan dari pihak eksternal atau membuka jasa kursus kue. Pada elemen key resources dan cost structure menunjukan tingkat strength yang sama tinggi, sedangkan elemen key activities memiliki peluang yang tinggi untuk menstandarkan aktivitasnya dan menghindari potensi ancaman. Elemen key partnership menunjukan bahwa tingkat strength yang ada adalah tinggi, hal ini dikarenakan perusahaan tidak memiliki ketergantungan terhadap pemasok.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bateman, T.S., Snell, S.A. (2009). Management. New York: McGraw Hill.


Indonesia. Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan. Konsumsi dan pengeluaran. Retrieved September 7, 2014 from http://kalsel.bps.go.id/?set=querySbs&pa - ge=1&flag_hasil=1&flag_template3=1&id_sektor=7


Osterwalder, A. , Pigneur, Y. (2014). Business model generation. (Natalia Ruth Sih -andrini). Jakarta: Elex Media Komputindo.


http://publication.petra.ac.id/index.php/manajemen-bisnis/article/view/2708/2422


Saunders, M., Lewis, P., dan Thornhill, A. (2007). Research methods for business students. Harlow: Pearson Education Limited.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.