Maret 16, 2022

BAGAIMANA MENGATASI TANTANGAN WIRAUSAHA DI ERA EKONOMI DIGITAL?

Oleh: Resa Alif  Kurniawan (@U45-Resa) 


Abtrak

Pertumbuhan ekonomi digital semakin hari semakin melejit. Keadaan ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dengan menggunakan aplikasi serba canggih, yaitu menggunakan bantuan media internet. Dengan demikian, menjadi tantangan bagi para wirausahawan mau tidak mau, suka tidak suka harus mengikuti dan menyelaraskan dengan lopatan-lompatan kemajuan di bidang digital.

Pendahuluan

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dari segi digital ekonomi sebab indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup besar serta didukung pesatnya pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi yang mana separuh penduduk indonesia menggunakan internet sebagai media informasi dan komunikasi. Temasek, dan Bain & Company memperkirakan ekonomi digital Indonesia memiliki total nilai penjualan (gross merchandise value/GMV) sebesar US$ 70 miliar. Nilai tersebut memiliki tingkat pertumbuhan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 49% dibandingkan tahun sebelumnya. Ekonomi digital Indonesia pun diperkirakan akan meningkat menjadi sebesar US$ 146 miliar pada 2025. Kendati demikian, CAGR pada empat tahun mendatang tidak setinggi tahun ini, yaitu hanya 20%. Jika dilihat sektornya, E-commerce menjadi pendorong utama ekonomi digital Indonesia pada 2021. Nilai GMV-nya mencapai US$ 53 miliar dengan CAGR 52%.

Istilah ekonomi digital (digital economy) diperkenalkan oleh Don Tapscott di tahun 1995 lewat bukunya yang berjudul The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence. Ekonomi digital adalah kegiatan ekonomi yang didasarkan pada teknologi digital internet. Ekonomy Digital disebut juga dengan sebutan Internet Economy, Web Economy, digital-based economy, new economy knowledge, atau new economy.

Era digital economy atau era new economy muncul sewaktu organisasi mulai mengawinkan produktivitas TI dari sumber daya aktiva dengan knowledge dari sumber daya manusia untuk menjangkau transaksi global lintas batas dalam bentuk connected economy. Di new economy, organisasi memanfaatkan TI sebagai enabler dan strategic weapon. Di era ini pertanyaannya tidak lagi what is your business tetapi lebih ke how is your digital business model.

Pembahasan

Wirausaha di Era Digital

Kegiatan   wirausaha    sebenarnya    sudah    ada    semenjak    abad    18,    yaitu    semenjak ditemukannya alat   mesin bertenaga uap oleh seorang bernama James Watt. Tujuan utama kegiatan wirausaha  pada  saat  itu  bukan  semata-mata  mencari  keuntungan,  tetapi  lebih  ditekankan  pada pertumbuhan   dan   perluasan   sebuah   organisasi.   Ada   dua   belas   karakteristik   penting   yang diperkenalkan dalam ekonomi  digital  yang  harus  dipahami  oleh  para  wirausahawan.  Duabelas karakteristik  tersebut  adalah: (1) knowledge; (2) digitazion; (3)virtualization; (4) molecularization; (5) internetworking; (6) disintermediation; (7) convergence; (8) innovation; (9) presumption; (10) immediacy; (11) globalization; (12) discordance.(Tapscott,1998).

1.      Knowledge

Pengetahuan(Knowledge) merupakan faktor utama yang  akan  menetukan  sukses  tidaknya  suatu  bisnis. Pengetahuan  merupakan bangunan  atribut  yang  melekat  di  dalam  otak  manusia.  Oleh  karena  itu  faktor  intelegensi  dari sumber  daya  manusia  merupakan  penentu  berhasil  tidaknya  dalam  membangun  suatu  usaha. Agar pengetahuan memiliki manfaat yang tinggi, maka perlu elaborasi dengan pihak-pihak lain dalam   bentuk   kerjasama.

2.      Digitization

Transaksi bisnis dapat dilakukan dengan digital technology dan digital information. dimana pelanggan-pelanggan sebagai digital customers menggunakan digital devices untuk melakukan transaksi dengan perusahaan-perusahaan penjual barang dan jasa sebagai digital enterprises. Dengan memahami bagaimana transaksi bisnis bekerja di dunia digital maka wirausahawan dapat menentukan ide atau model bisnis yang cocok untuk digunakan yang mana ide atau model bisnis tersebut dapat memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyaman dalam bertransaksi.

3.      Virtualization

Di era  digital  bisnis  atau  usaha  dapat  dijalankan  dengan  menggunakan  perangkat  sederhana seperti  hand  phone  atau  gatged  dengan  mengunduh  aplikasi  tertentu. Bisnis  melalui  dunia  maya  dikenal  dengan  istilah  virtualisasi yang  memungkinkan  seseorang  untuk  memulai  usahanya  dengan  perangkat  sederrhana  yang dapat  menjangkau  konsumen  maupun  calon  konsumen  ke  seluruh  dunia. Di  dunia  maya pelanggan  cukup  berhadapan  dengan  situs  internet  sebagai  perusahaan  (business  to  consumer). Demikian  juga  relasi  antar  pengusaha  yang  mengingikan  untuk melakukan  kerjasama. Selain itu, Di ekonomi digital juga dimungkinkan untuk merubah barang fisik menjadi barang virtual sehingga modal intelektual dapat dikonversikan menjadi modal digital.

4.      Molecularization

Bagi perusahaan, organisasi dikelola  dengan  menggunakan  konsep  struktur  herarkis  atau  metrik  sangat  rentan  dalam menghadapi  perubahan  lingkungan  bisnis  yang  terus  terjadi,  sehingga  akan  memperlambat gerak  usaha  yang  akan  mempersempit,  bahkan  bisa  menghilangkan  pangsa  pasarnya.  Bisnis melalui  dunia  maya  artinya  berhadapan head  to  head dengan  pelaku  usaha  di  seluruh  penjuru dunia. Struktur   pasar   maupun   industri   akan   sangat   dipengaruhi   perilaku   mereka   yang merupakan manifestasi dari persaingan bebas. Bentuk strategi memenangkan persaingan dengan tujuan menguasai pasar yang lebih luas, sehingga efisiensi dan efektifitas mampu untuk dicapai. Di ekonomi digital, heavy organization di organisasi tradisional berubah menjadi light organization yang fleksibel, M-form organization (organisasi multidivisional) bergeser menjadi E-form organization atau ecosystem form organization yang mudah beradaptasi dengan lingkungan.

5.      Internetworking

Agar bisnis melalui dunia maya dapat membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan, maka jalinan  kerjasama  dengan  pihak-pihak  terkait  harus  direncanakan  dan  dilakukan  melalui  suatu ikatan  kerjasama  yang  terstruktur. Dengan menggunakan jaringan internet maka dapat membantu elaksanaan  proses-proses  penunjang,  semisal jalinan kerjasama  dengan vendor  teknologi, content partners, merchant pemasok dan sebagainya. Hal ini akan menyebabkan interkoneksi membentuk jaringan ekonomi.

6.      Disintermediation

Dalam  berbisnis  di  era  ekonomi  digital  mediator  (broker)  yang  merupakan  perantara terjadinya transaksi   antara   pemasok   dengan   pelanggan   semakin   tidak   diperlukan.   Bisnis   dengan menggunakan  media  internet  sudah  tidak  lagi  membutuhkan  mediator  seperti: wholesaler, retailers,  broadcasters,  record   companiesdan  sebagainya sehingga hal ini akan meringankan biaya operasional bisnis dan meningkatkan kenyamanan costumer.

7.      Convergence

Sukses dalam berbisnis di dunia maya jika pelaku bisnis mampu mengintegrasikan (convergence) tiga hal, yaitu: computing, communications,dan content.

8.      Innovation

Imaginasi dan kreativitas manusia merupakan sumber-sumber nilai utama membentuk innovation economy.

9.      Prosumption

Di ekonomi lama aspek kunci adalah mass production, sedang di ekonomi digital adalah mass customization. Perbedaan antara produser dan kustomer menjadi kabur, setiap kustomer di information highway dapat juga menjadi produser.

10.  Immediacy

Perbedaan waktu saat memesan barang dengan saat diproduksi dan dikirim menyusut secara drastis disebabkan kecepatan proses digital technology

11.  Globalization

Bisnis  di  dunia  maya  sudah  tidak  mengenal  batas  ruang  dan  waktu.  Pengetahuan  (knowledge) merupakan  sumber  daya  utama  dalam  menjalankan  usaha,  tidak  dikenal  apa  yang  dinamakan batas  secara  geografi,  Menurut Peter Drucker "knowledge knows no boundaries". Tidak ada batas untuk transaksi global. 

12.  Discordance

Akan muncul jurang pemisah antara yang memahami teknologi dengan yang tidak memahami teknologi. Supaya survive, semua pemain di ekonomi digital harus technologically literate yaitu mampu mengikuti technological shifts menuju interaksi dan integrasi dalam bentuk internetworked economy.

13. Cocreation

Disamping  dua  belas  karakteristik  tersebut  di  atas  yang  harus  dikuasai  pelaku  bisnis  satu  lagi karakteristik  yang  kiranya  mampu  meningkatkan  daya  saing  adalah cocreation.  Kolaborasi  saja tidaklah  cukup  untuk  menghadapi  tantangan  perubahan  yang  menghentak,  namun  harus diusahakan berlanjut menjadi kokreasi. Produk-produk dan jasa yang sudah dihasilkan melalui kolaborasi  perlu  dimodifikasi  dengan  melakukan  kokreasi  sehingga  mampu  memunculkan produk  baru  terbarukan  baik  dari  segi  bentuk,  warna,  kualitas,  hantaran,  ketepatan.  Sebagai contoh  kolaborasi  jasa  transportasi  dengan  jasa  yang  lain  memunculkan  kokreasi  jasa:  gojek, gofood,  gosend,  gotik,  goclean  dan  kedepan  barangkali  akan  terus  bermunculan  jasa  go  yang lainnya.  Perusahaan-perusahaan  yang  semula  sudah  mapan  dan  memimpin  pasar  bahkan perusahaan    monopoli   sekalipun   sudah    mulai   berbenah    untuk   melakukan    kolaborasi, komunikasi  dan  kokreasi  agar  tetap  eksis  menghadapi  persaingan  yang  terus  berubah.  Bisnis yang ingin menang sendiri semakin lama akan semakin  tenggelam dalam persaingan jika tidak mau  melakukan  kolaborasi,  komunikasi,  dan  kokreasi. 

Simpulan

Ekonomi digital adalah segala bentuk aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Terjadinya fenomena Ekonomi Digital Memicu wirausahawan untuk lebih observatif terhadap lingkungan kewirausahaan serta meningkatkan kemampuan berinovasi dan kreativitas untuk menciptakan atau mengembangkan ide atau model bisnis yang memiliki peluang usaha yang baik. Untuk dapat bersaing di dunia digital maka wirausahawan perlu menguasai dan memahami tiga belas karakteristik dalam berbinis di dunia digital, yaitu: knowledge, digitalization, virtualization, molecularization, internetworking, disintermediation, convergence, innovation, immediacy, globalization, prosumption, discordance dan cocreation.


  

Referensi

Modul 2 Kewirausahan 1

Jayani. D.H. (2021). Potensi Ekonomi Digital Indonesia US$ 70 Miliar pada 2021. Diakses pada 16 Maret 2022, dari 

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/11/10/potensi-ekonomi-digital-indonesia-us-70-miliar-pada-2021

Wijoyo. H, Cahyono. Y, Ariyanto. A, & Wongso. F. (2020). Digital Ekonomi dan Pemasaran Era New Normal. Sumatra Barat: Insan Cendekia Mandiri.

Kasidi. (2020). Tantangan Kewirausahaan di Era Ekonomi Digital. Journal of Economic Education and Entrepreneurship, 1(1), 17-23.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.