Maret 24, 2022

EFEKTIVITAS PENGEMBANGAN POTENSI DIRI DAN ORIENTASI WIRAUSAHA DALAM MENINGKATKAN SIKAP WIRAUSAHA

 

EFEKTIVITAS PENGEMBANGAN POTENSI DIRI DAN ORIENTASI WIRAUSAHA DALAM MENINGKATKAN SIKAP WIRAUSAHA

Oleh : Susandy Sidanan Habib @U36-SUSANDY

PENDAHULUAN

Kewirausahaan merupakan salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Perannya begitu sentral bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Salah satu upaya pemerintah untuk menumbuhkembangkan jumlah pewirausaha, dilakukan sejak bangku sekolah. Penyempurnaan kurikulum pendidikan dengan dikeluarkannya Kurikulum 2013, yaitu dengan adanya Pendidikan Prakarya dan Kewirausahaan yang diwajibkan sebagai penerapan kurikulum baru tersebut di level setingkat SMA, membawa misi bahwa seyogyanya generasi muda Indonesia memiliki keterampilan dan mampu untuk mandiri dengan jiwa wirausaha.

Mata pelajaran kewirausahaan bukanlah hal yang baru bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK didirikan sebagai lembaga pendidikan yang bertanggung jawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan keahlian dalam bidang tertentu. Berdasarkan keahlian tersebut, lulusan diharapkan dapat menempati pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja. Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2013), jumlah lulusan SMK yang berwirausaha hanya sekitar 3% dari jumlah keseluruhan lulusannya. Sebagian besar (72%) memutuskan untuk berkecimpung di dunia industri. Data ini tentu saja bukanlah data yang menggembirakan karena tidak sesuai dengan tujuan semula dalam mencetak wirausahawan muda.

Siswa SMK berada pada tahap perkembangan remaja. Salah satu tugas perkembangan remaja adalah menyiapkan karir dan masa depannya (Hurlock, 2002). Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Super dan Crites (1965), siswa SMK Kelas XII berada pada tahap eksplorasi periode kristalisasi. Pada masa ini remaja mulai mengidentifikasikan kesempatan dan tingkat pekerjaan yang sesuai serta mengimplementasikan pilihan karir dengan memilih pendidikan dan pelatihan yang sesuai, untuk akhirnya memilih pekerjaan yang sesuai dengan pilihannya. Pada tahap ini juga, individu berupaya untuk mencari kejelasan atau melakukan klarifikasi tentang apa yang ingin kerjakan. Belajar tentang peluang jenis pekerjaan dan belajar keterampilan yang diperlukan untuk masuk ke pekerjaan yang diminati. Selain itu, mereka mulai merealisasikan kemampuannya, minat-minat dan nilai yang dimilikinya termasuk salah satunya pada kegiatan berwirausaha.


PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini secara keseluruhan memberikan gambaran bahwa pada dasarnya siswa memiliki sikap yang positif terhadap wirausaha. Hal ini dapat dilihat bahwa skor rata-rata yang diperoleh siswa berada pada kategori tinggi (72%). Sikap ini dipengaruhi oleh faktor personal dan lingkungan. Pada sisi personal, empat dimensi pembangun sikap terhadap wirausaha memiliki peranan mutlak dalam membentuk sikap tersebut. Dimensi pembangun sikap terhadap wirausaha yang terdiri atas achievement, innovation, personal control, dan self esteem secara bersama-sama membentuk sikap terhadap wirausaha (Robinson dkk, 1991). Bila dilihat secara parsial, maka diketahui bahwa aspek achievement merupakan faktor yang paling besar membentuk sikap terhadap wirausaha (0.324). Selain paling besar, jumlahnya juga lebih dominan dibandingkan dimensi lain (67.22%) meski terpaut tipis dengan aspek innovation sebesar 67.11%.

Berdasarkan analisis dimensi-dimensi pembangun Sikap terhadap Wirausaha, meski berada dalam kategori tinggi namun yang cukup memiliki perbedaan adalah derajat Self Esteem yang dimiliki oleh siswa yang cenderung lebih rendah daripada dimensi-dimensi pembangun Sikap terhadap Wirausaha lainnya. Rasa percaya diri ini adalah sumber dari rasa yakin terhadap kemampuan diri, kemampuan membangun optimisme, dan kemampuan untuk memacu diri untuk segera bangkit dari kegagalan. Hal ini juga yang menjadi fokus dari bahasan akan materi pelatihan Pengenalan Potensi Diri dan Orientasi Kewirausahaan yang menjadi intervensi dari asesmen yang dilakukan.

Tujuan pendidikan sekolah menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Berdasar hal tersebut dapat diketahui bahwa lulusan SMK selain mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan industri, lulusan SMK juga mampu bekerja secara mandiri, dalam hal ini berwirausaha. Namun saat ini, pendidikan kejuruan masih sangat berorientasi pada penyiapan keahlian untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja pada sektor formal, padahal lapangan kerja yang terbuka luas pada sektor informal memiliki potensi yang lebih besar untuk menyerap lulusan SMK. Mata pelajaran Kewirausahaan bertujuan agar peserta didik dapat mengaktualisasikan diri dalam perilaku wirausaha. Isi mata pelajaran Kewirausahaan difokuskan pada perilaku wirausaha sebagai fenomena empiris yang terjadi di lingkungan peserta didik. Berkaitan dengan hal tersebut, peserta didik dituntut lebih aktif untuk mempelajari peristiwaperistiwa ekonomi yang terjadi di lingkungannya. Pembelajaran kewirausahaan dapat menghasilkan perilaku wirausaha dan jiwa kepemim-pinan, yang sangat terkait dengan cara mengelola usaha untuk membekali peserta didik agar dapat berusaha secara mandiri. Akan tetapi, pada kenyataannya, matapelajaran kewirausahaan lebih banyak memberkan pengetahuan wirausaha bukan pada bagaimana menumbuhkan keingin-an dan kemampuan wirausaha siswa. Pada pelaksanaannya matapelajaran kewirausahaan lebih banyak teori dan melakukan prakarya bukan melakukan kewirausahaan itu sendiri. Pengujian statistik membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan dari jenis jurusan sekolah yang berbeda dengan sikap siswa terhadap wirausaha. Pelatihan Pengembangan Potensi Diri dan Peningkatan Potensi Kewirausahaan dilakukan agar dapat menumbuhkan intensi siswa untuk berwirausaha, sehingga ketika lulus dari SMK siswa mau dan mampu untuk berwirausaha.

Kewirausahaan dapat pula didorong oleh seseorang yang menjalankan wirausaha, karena telah memberikan inspirasi dan minat untuk berwirausaha. Dorongan atau pemicu lainnya datang dari teman sepergaulan, lingkungan keluarga, sahabat, dan teman yang selalu yang mendiskusikan gagasan, atau karena adanya pengalaman bisnis kecil-kecilan yang berhasil sehingga termotivasi untuk membesarkannya. Hasil penelitian deskriptif, menunjukkan bahwa latar belakang keluarga yang juga memiliki profesi sebagai pewirausaha memiliki hubungan yang positif terhadap sikap siswa terhadap kewirausahaan. Siswa dengan keluarga yang berprofesi sebagai wirausahawan memiliki sikap positif yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak memiliki orang tua yang berprofesi sebagai wirausahawan. Namun tidak demikian dengan pengaruh jurusan yang berbeda dalam SMK. Meski siswa terdiri dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, dan Teknik Kom-puter dan Jaringan namun tidak terdapat perbedaan sikap terhadap kewirausahaan. Artinya seluruh jurusan sudah memiliki kesetaraan dalam menempatkan mata pelajaran kewirausahaan. Seluruh jurusan memiliki komposisi sikap terhadap kewirausahaan yang relatif sama. Selain itu, tidak ada pengaruh dari jenis kelamin yang berbeda ataupun usia yang berbeda dengan sikap terhadap wirausaha yang ditampilkan. Artinya, tidak ada pengertian bahwa laki-laki lebih memiliki sikap yang positif terhadap kewirausahaan ataupun yang lebih tua usianya memiliki sikap yang lebih positif. Kondisi lingkungan tempat profesi orangtualah yang lebih memberikan pengaruh terhadap sikap pada wirausaha. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kewirausahaan bukanlah suatu hal yang dilahirkan, melainkan dibangun. Siswa SMK memang memiliki potensi untuk menjadi seorang wirausahawan, namun pada kenyataannya, siswa SMK hanya dipersiapkan untuk menjadi karyawan di sektor industri, pariwisata, atau perkantoran. Pelatihan Pengembangan Potensi Diri dan Orientasi Kewirausahaan terbukti memiliki pengaruh terhadap sikap kewirausahaan siswa. Hasil pascates siswa memiliki skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil prates. Dengan z output sebesar -2.224 yang lebih besar daripada z tabel, maka Ho ditolak. Hal ini memberikan kesim-pulan bahwa pelatihan memberikan efek yang nyata dalam meningkatkan pema-haman siswa terhadap potensi diri dan mengembangkan orientasi wirausahanya. Pelatihan terbukti menambah pengeta-huan, sikap dan keterampilan yang dijiwai oleh semangat wirausaha mandiri. Hal ini juga meningkatkan motivasi otonom untuk menambah pengetahuan dan menambah pengalaman untuk dapat terus belajar dan membuka orientasi masa depan siswa untuk dapat berwirausaha.

 

KESIMPULAN

Pertama: Siswa memiliki sikap positif terhadap wirausaha (entrepreneu-rial attitude orientation). Sikap terhadap wirausaha ini tergolong tinggi dan dimiliki oleh sebagian besar (72%) siswa kelas XII SMK.

Kedua: Dimensi achievement memiliki sumbangan paling besar dalam membentuk sikap terhadap wirausaha (0,324), diikuti oleh personal Control (0,283), innovation (0,280), lalu self esteem (0,227).

Ketiga: Pelatihan Pengembangan Potensi Diri dan Orientasi Wirausaha berpengaruh pada Sikap terhadap Wirausaha pada siswa Kelas XII SMK.Pelatihan memberikan efek yang nyata dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap potensi diri dan mengembangkan orientasi wirausahanya. Pelatihan yang dilakukan dapat menambah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dijiwai oleh semangat wirausaha mandiri.

Keempat: Terdapat perbedaan yang signifikan pada sikap terhadap berwirausaha pada siswa yang mendapatkan pelatihan maupun siswa yang tidak mendapatkan pelatihan Pengembangan Potensi Diri dan Orientasi Wirausaha. Siswa yang mendapatkan pelatihan memiliki sikap terhadap wirausaha yang lebih positif dibandingkan dengan siswa yang tidak mendapatkan pelatihan.

Kelima: Pelatihan yang diberikan memiliki rata-rata penilaian evaluasi sebesar 83.295% menunjukkan bahwa secara umum penilaian efektivitas pelatihan yang dirasakan oleh peserta berada dalam kategori baik. Materi pelatihan bermanfaat bagi peserta, dengan metode, fasilitator, waktu, sarana pendukung, dan aktivitas yang dilakukan memadai dalam menstimulasi siswa untuk meningkatkan pemahaman akan potensi diri dan mengembangkan orientasi kewirausahaannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. (2013). Data Badan Pusat Statistik 2013. http://bps.go.id

Brown, D. (2002). Career Choice and Development Fourth Edition. San Francisco: John Wiley & Sons, Inc.

Dit PSMK. (2006). Penyelenggaraan Sekolah Menengah Kejuruan Bertaraf Internasional.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan : http://referensi.data.kemdikbud.go.id

Drucker, P.F. (1996). Konsep Kewirausahaan Era Globalisasi. Jakarta: Erlangga

Krathwohl, D.R., Bloom, B.S., & Masia, B.B. (1964).Taxonomy of educational objectives: The classificationof educational goals. Handbook II: The affectivedomain. New York: David McKay.

Kirkpatrick, D.L. (2007). Evaluating Training Program : The Four Level. 3 rd edition. San Fransisco : BerrettKoehler Publishers, Inc

Pfeiffer, W. & Jones, J. E. (1975). A Handbook of Structured Experiences for Human Relations Training. Vols. 1-5. La Jolla, CA : University Associates

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.