Maret 31, 2022

Mencari Keunggulan Diri dan Preferensi

 Oleh : Nur Aziz Taufikurohman (@U14-Aziz)

    Socrates dari Yunani mengatakan. Kenalilah diri sendiri (lihat Koentjoro, 1989). Pengenalan diri merupakan kemampuan seseorang untuk melihat kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sehingga dapat melakukan respon yang tepat terhadap tuntutan yang muncul dari dalam maupun dari luar. Pengenalan diri ini dikatakan Noesjirwan (lihat Koentjoro, 1989) merupakan langkah yang diperlukan orang untuk dapat menjalankan kehidupan inl secara efektif. Kekuatan-kekuatan yang ada pada diri merupakan aset dalam kehidupan sehari-harL namun demikian apabila kekuatan-kekuatan ini tidak disadari maka kesempatan untuk mengaktualisasikan diri akan hHang. Demikian halnya dengan kelemahan-kelemahan yang ada diri seseorang.

    Preferensi, sebuah konsep, yang digunakan pada ilmu sosial, khususnya ekonomi. Ini mengasumsikan pilihan realitas atau imajiner antara alternatif-alternatif dan kemungkinan dari pemeringkatan alternatif tersebut, berdasarkan kesenangan, kepuasan, gratifikasi, pemenuhan, dan kegunaan yang ada. Lebih luas lagi, bisa dilihat sebagai sumber dari motivasi. Di ilmu kognitif, preferensi individual memungkinkan pemilihan tujuan/goal.

Juga, konsumsi lebih dari barang biasa biasanya digolongkan (tetapi tidak selalu) diasumsikan menjadi lebih tidak konsumtif.


    Strategi dalam mencari keunggulan diri pun tidak hanya sekedar mau melakukan hal yang ia mau usahakan tetapi bagaimana untuk mempertahankan lalu mencari tau atau mau belajar mengenai hal yang di khususkan dalam pencarian keunggulan diri. Tetapi dalam hal yang pertama adalah yakin mengenai keunggulan bidangnya. Seorang wirausahawan pastinya memiliki keunggulan masing-masing baik teknologi ataupun marketing. 
    Dibalik keunggulan itu semua, seorang wirausaha juga harus mengetahui kelemahannya. Mereka tidak akan memaksakan untuk melakukan hal yang diluar keunggulan mereka sehingga benar-benar fokus mencapai tujuannya tersebut. Tanpa harus memaksakan apa yang kurang dari mereka. 

Daftar Pustaka
Helmi, A. F. (1995). Konsep dan teknik pengenalan diri. Buletin Psikologi, 3(2), 13-17.
Brehm, J.W. (1956). Post-decision changes in desirability of choice alternatives. Journal of Abnormal and Social Psychology, 52, 384-389.
Coppin, G., Delplanque, S., Cayeux, I., Porcherot, C., & Sander, D. (2010). I’m no longer torn after choice: How explicit choices can implicitly shape preferences for odors. Psychological Science, 21, 489-493.
Lichtenstein, S., & Slovic, P. (2006). The construction of preference. New York: Cambridge University Press.
Scherer, K.R. (2005). What are emotions? And how can they be measured? Social Science Information, 44, 695-729.
Sharot, T., De Martino, B., & Dolan, R.J. (2009). How choice reveals and shapes expected hedonic outcome. Journal of Neuroscience, 29, 3760-3765.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.