Maret 24, 2022

Mengasah Kreativitas dan Inovasi

Mengasah Kreativitas dan Inovasi 

Oleh : Hendri Noviansyah Hadi (@U03-HENDRI)

Hal-Hal yang Dapat Dikembangkan dalam Berinovasi 

Pertanyaan yang mendasar dalam mengembangkan inovasi adalah, modal mental. Mental yang paling inti agar kita menjadi orang yang efektif dalam menghadapi perubahan (personal effectiveness) atau winner. 

Satu, pengendalian diri (self control). Modal mental pertama adalah kemampuan menggunakan (mengontrol) berbagai ledakan emosi (self-control). Orang yang rendah kemampuannya di sini akan reaktif dan terus reaktif (terbawa hanyut ke dalam situasi yang sulit). Sedangkan orang yang tinggi kemampuannya di sini akan cepat proaktif/punya kesadaran untuk memilih yang positif. 

Dua, kepercayaan diri. Modal mental kedua adalah kepercayaan-diri (pede). Seperti yang sudah kita bahas di sini, pede adalah sejauhmana kita punya keyakinan atas kemampuan yang kita miliki berdasarkan alasan, bukti, atau semangat yang positif untuk mewujudkan tujuan atau untuk mengatasi masalah. Orang yang pede-nya rendah akan terus menuding faktor eksternal dengan tujuan hanya untuk menuding. Sebaliknya, orang yang pede-nya tinggi akan cepat act on decision (memutuskan langkah perbaikan sebagai panggilan tanggung jawab). 

Kalau saat ini kita merasa belum pede (rendah), kita bisa meningkatkannya dengan cara-cara berikut ini. Pertama, lakukan hal-hal yang sanggup kita lakukan sampai bisa melihat bukti (hasil) bahwa ternyata kita mampu. Ini bisa kita pilih dari apa yang sudah kita bahas di Bagian Kedua. Semakin banyak bukti yang sanggup kita kumpulkan, bahwa ternyata kita sanggup mewujudkan rencana dan sanggup mengatasi masalah, maka semakin kuatlah pede kita. 

Kedua, melihat orang lain yang sudah berhasil dan sangat mungkin bisa kita ikuti langkahlangkahnya (learn from others). Kalau mental kita sedang down, jangan mencari orang lain yang sedang down juga. Nanti bisa malah tambah down. Temukan orang lain yang bisa meng-inspirasi. 

Ketiga, menambah pengetahuan dengan berbagai cara, entah membaca buku, artikel, mendengarkan ceramah, dan lain-lain. Intinya, kita perlu mengganti atau mengisi pikiran ini dengan masukan-masukan positif. 

Keempat, memperkuat keimanan pada Tuhan. Misalnya saja: kalau kita masih dikasih hidup, pasti tidak ada masalah apapun yang bisa membuat kita mati. Misalnya lagi, sesulit apapun masalah yang kita hadapi, pasti masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan.

Tiga, kemampuan berpikir. Modal mental ketiga adalah kemampuan berpikir. Ini sebetulnya sudah kita bahas di Bagian Pertama. Intinya, kemampuan berpikir ini terkait dengan sejauhmana kita bisa membuat target, sasaran, atau arah pengembangan dan perbaikan yang akurat (bisa kita capai dari keadaan kita), sejauhmana kita bisa membedakan masalah eksternal dan internal, persepsi dan fakta (analitis), dan sejauhmana kita bisa melihat berbagai kemungkinan yang bisa kita tempuh (kreatif). 

Nah, apa yang sudah kita bahs di atas, tentang hal-hal yang bisa kita lakukan, dari yang paling tidak ideal sampai ke yang paling ideal, itu semua adalah cara-cara untuk melatih kemampuan berpikir. Yang perlu kita jauhi adalah, jangan sampai kita mempertahankan diri hanya karena untuk kepentingan egoisme-kebenaran-sendiri sehingga langkah kita terjepit karena salah berpikir. Atau juga terobsesi mendapatkan hasil besar dengan cara cepat tanpa dibekali pengetahuan yang akurat tentang diri. 

"Satu-satunya yang membuat seseorang lari dari masalah adalah kepercayaan-diri yang rendah". (Mohammad Ali, petinju) 

Merangsang dan Memelihara Kreativitas dan Inovasi 

Ada tiga variabel yang ternyata mampu merangsang kreativitas dan inovasi seseorang, antara lain, pertama, struktur organik. Karena jenis organisasi itu rendah formalisasi, sentralisasi, dan spesialisasi kerjanya,struktur organic memudahkan fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, dan pemupukan silang yang dibutuhkan untuk memunculkan inovasi. 

Kedua, sumber daya melimpah. Melimpahnya sumber daya berarti manajemen mampu membeli inovasi, mampu membayar biaya melembagakan inovasi dan mampu menyerap kegagalan. 

Ketiga, komunikasi. Tim lintas fungsi,satuan tugas,dan desain organisasi semacam itu mampu memperlancar interaksi dan komunikasi antar individu. 

Keempat, manajemen tekanan waktu. Organisasi yang inovatif mencoba meminimalkan tekanan waktu yang ekstrem pada kegiatan kreatif dengan mengesampingkan permintaan lingkungan. 

Meski kreativitas dan Inovasi terus didengungkan, sebuah survey menemukan bahwa 75% populasi orang bekerja, tidak mengedepankan kreativitas dalam pola pikir dan pola bekerjanya. Artinya: di tempat kerja, tuntutan dan tekanan masih mengarah pada produktivitas, yang tidak dikaitkan dengan kreativitas. Sebanyak 55% dari populasi sampel memang menyatakan pentingnya kreativitas dan mengungkapkan keinginan untuk kreatif, namun kebanyakan mereka tetap beranggapan itu bukan harapan terpenting dirinya. 

Padahal era saat ini adalah era kompetesi, di mana setiap orang harus mampu menunjukkan karya-karya terbaiknya di masa sekarang, sulit sekali kita bisa bertahan di mana pun kita bekerja bila masih menerapkan cara berpikir ‘abad lalu’. Segala sesuatu akan mengalami perubahan, suatu saat akan terlindas oleh hal-hal inovatif yang tidak terpikirkan sebelumnya. 

Saat ini DNA kreativitas menjadi tuntutan utama dalam darah setiap pekerja, bukan hanya ditumpukan pada segelintir golongan elit yang dianggap spesial. Permasalahannya, adakah kita masih salah kaprah mendefinisikan kreativitas itu? 

Berpikir kreatif adalah kemampuan mempersepsikan sesuatu yang unik dalam gejala di sekitar kita, kemudian memperbaharui dan menemukan jalan keluar baru. Dan, jalan keluar baru itu adalah sesuatu yang dicari secara konstan, tidak ditemukan secara tiba-tiba. Jadi, bersikap dan berpikir kreatif justru perlu dianggap sebagai way of life dan way of thinking kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.