Maret 14, 2022

Penerapan Total Quality Management Terhadap Dampak Kinerja Manajerial pada UMKM

Penerapan Total Quality Management Terhadap Dampak Kinerja Manajerial pada UMKM

 

Oleh : Sandy Faizal Harist

(@T10-Sandy)



1.    Pendahuluan

Lingkungan bisnis mengalami perubahan yang sangat pesat dan secara terus menerus. Perubahan ini akan terus dihadapi oleh pelaku bisnis sampai beberapa waktu ke depan. Salah satu pelaku bisnis adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Persaingan bisnis antar UMKM juga semakin ketat dan menuntut UMKM untuk berusaha memaksimalkan kemampuan yang dimiliki untuk bersaing dengan pelaku bisnis lainnya.

Penerapan TQM yang efektif pada UMKM akan memiliki pengaruh terhadap kualitas kinerja manajerial UMKM yang dapat meningkatkan produktivitas, daya saing dan laba penjualan. Wibowo (2011) menyatakan bahwa kinerja manajerial yaitu sarana untuk mendapatkan hasil lebih baik dari organisasi, tim dan individu dengan cara memahami dan mengelolah kinerja dalam suatu kerangka tujuan, standar, dan persyaratan – persyaratan atribut yang disepakati. Secara umum, kelemahan utama UMKM terletak pada lemahnya kemampuan manajerial, baik dalam perencanaan, pengorganisasian, pemasaran maupun akuntansi. Kelemahan itu dapat dicegah dengan adanya perbaikan berkesinambungan dan dapat dilihat perkembangan atau perubahan besar yang telah dicapai oleh tim maupun individu dengan komando seorang manajer. Keberhasilan ini juga berdampak pada kinerja manajerial karena pencapaian tujuan perusahaan dan pemenuhan tanggung jawab telah dapat dilakukan khususnya bagi manajer.

Kualitas kinerja perusahaan dapat tercipta dengan memunculkan budaya kualitas dalam perusahaan tersebut. Upaya peningkatan kualitas kinerja menuntut karyawan dan emasok untuk memberikan kehandalan dalam pelayanan yang sesuai dengan harapan pelanggan dan mampu meninggalkan kesan yang positif. Sejalan dengan upaya peningkatan kualitas, Total Quality Management merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mendongkrak keunggulan perusahaan melalui pemenuhan kebutuhan pelanggan dan peningkatan kualitas melalui perbaikan secara berkelanjutan.

Kualitas kinerja perusahaan dapat tercipta dengan memunculkan budaya kualitas dalam perusahaan tersebut. Upaya peningkatan kualitas kinerja menuntut karyawan dan pemasok untuk memberikan kehandalan dalam pelayanan yang sesuai dengan harapan pelanggan dan mampu meninggalkan kesan yang positif. Sejalan dengan upaya peningkatan kualitas, TQM adalah salah satu pendekatan yang direkomendasikan. TQM merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mendongkrak keunggulan perusahaan melalui pemenuhan kebutuhan pelanggan dan peningkatan kualitas melalui perbaikan secara berkelanjutan. Di Indonesia perkembangan UMKM yang meningkat dari segi kuantitas (unit usaha) belum diimbangi oleh meratanya peningkatan kualitas UMKM. Permasalahan klasik yang dihadapi yaitu rendahnya produktivitas. Keadaan ini disebabkan oleh masalah internal yang dihadapi UMKM yaitu: rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) UMKM dalam manajemen, organisasi, penguasaan teknologi, dan pemasaran, lemahnya kewirausahaan dari para pelaku UMKM, dan terbatasnya akses UMKM terhadap permodalan, informasi, teknologi dan pasar, serta faktor produksi lainnya.



   2.    Pembahasan

PERAN UMKM sangat penting dalam perekonomian. Persaingan pasar yang semakin ketat, kualitas produk atau jasa yang diberikan menjadi fokus perhatian yang penting bagi pelaku UMKM ini. Peningkatan kualitas UMKM dapat dilakukan melalui implementasi Manajemen Kualitas Terpadu (Total Quality Management). Kapabilitas pelaku pada orientasi kewirausahaan dan pasar merupakan modal penting bagi UMKM agar dapat memiliki keunggulan bersaing dengan kinerja manajerial atau usaha besar lainnya.

 

Keberadaan usaha kecil dalam menciptakan stabilitas ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pemerataan pendapatan, namun karena tingkat produktivitasnya yang rendah menyebabkan nilai tambah bagi kegiatan ekonomi menjadi rendah. Produktivitas dan nilai tambah usaha kecil yang rendah dikarenakan faktor ketidakstabilan pertumbuhan market pada bidang yang digelutinya hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman, informasi pasar yang disediakan oleh pemerintah ataupun lainnya tentang sektor-sektor mana yang memiliki potensial market yang tinggi, diwilayah mana,dan kapan sektor tersebut memiliki potensial market yang tinggi dan berapa lama titik jenuh atau live cycle dari sektor atau produk tersebut dan kapan inovasi itu harus dilakukan dan pada instrument apa inovasi tersebut harus ditekankan. Semakin banyak berdirinya UMKM, maka persaingan usaha antar UMKM semakin meningkat, industri maupun UMKM semakin lama semakin banyak, dimana UMKM berusaha mencapai tujuannya, baik UMKM yang sudah berkembang maupun UMKM pendatang baru, mereka menggunakan beragam strategi dalam menciptakan kinerja yang optimal, salah satu cara meningkatkan kinerja ialah dengan menerapkan aplikasi TQM.

Penerapan Total Quality Management dalam suatu UMKM dapat memberikan manfaat yang besar sehingga dapat meningkatkan daya saing UMKM tersebut. Melalui usaha perbaikan kualitas secara terus menerus maka UMKM dapat meningkatkan kinerjanya. Secara empiris, bahwa penerapan TQM berpengaruh terhadap kinerja UMKM telah banyak dilakukan penelitian sebelumnya. Penerapan total quality management (TQM) yang baik diyakini dapat berdampak pada peningkatan kinerja UMKM secara menyeluruh khususnya untuk peningkatan kinerja secara fungsional seperti kinerja operasional UMKM. Beberapa literatur mendukung keyakinan ini. Kemampuan bersaing dengan biaya yang lebih rendah akan menghasilkan dua manfaat, yaitu pemanfaatan kapasitas yang lebih tinggi dan margin yang lebih tinggi. Sedangkan peningkatan pangsa pasar akan mendorong pertumbuhan penjualan. Pada saat yang sama, semua efek tersebut akan meningkatkan keuntungan UMKM. Atas dasar teori tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa fungsi dari penerapan TQM yaitu keberlangsungan UMKM terutama keberlanjutan ekonomi.

 

 

Manajemen mutu memiliki fungsi sebagai sebuah acuan atau tolak ukur dalam mengelola kualitas yang diberikan oleh suatu UMKM, organisasi maupun badan usaha. Hal ini akan sangat mempengaruhi kualitas dan kinerja seluruh anggota UMKM dalam menjalankan tugasnya masing-masing guna mencapai tujuan dan visi dari UMKM tersebut.

Fleksibilitas kebutuhan dan keinginan konsumen menuntut pelaku usaha untuk selalu mengikuti perubahan yang ada. Persaingan bukan hanya mengenai seberapa tinggi produktivitas UMKM dan rendahnya tingkat harga produk maupun jasa. Namun lebih pada kualitas produk atau jasa, kenyamanan, kemudahan, serta ketepatan dan kecepatan waktu dalam pencapaiannya.

Dalam situasi persaingan ekonomi yang demikian tajam seperti ini, pendekatan TQM semakin banyak digunakan dengan filosofi mencapai keunggulan berbagai aspek operasi usaha untuk mencapai keunggulan atau daya saing usaha secara total. TQM memberikan jawaban pada organisasi atau UMKM terhadap tatangan global yang semakin sulit, komplek dan cepat perubahannya.

TQM mengarahkan UMKM pada continous improvement yang dapat mewujudkan kepuasan konsumen secara total dan terus menerus. Proses yang berorientasi pada konsumen ini menggabungkan praktik manajemen dasar dengan usaha-usaha perbaikan yang sering dipakai serta peralatan-peralatan dan teknik yang handal.

 

Namun, sayangnya belum sepenuhnya UMKM menerapkan TQM. Perkembangan UMKM di Indonesia yang meningkat dari segi kuantitas (unit usaha) belum diimbangi oleh meratanya peningkatan kualitas UMKM. Permasalahan klasik yang dihadapi yaitu rendahnya produktivitas.

Keadaan ini disebabkan oleh masalah internal yang dihadapi UMKM yaitu rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) UMKM dalam manajemen, organisasi, penguasaan teknologi, dan pemasaran, lemahnya kewirausahaan dari para pelaku UMKM, dan terbatasnya akses UMKM terhadap permodalan, informasi, teknologi dan pasar, serta faktor produksi lainnya. UMKM di Indonesia pada umumnya masih memiliki keterbatasan modal dan sistem manajemen, sehingga seringkali dihadapkan pada berbagai bentuk ancaman baik internal maupun eksternal. Maka, UMKM harus mulai menerapkan manajemen kualitas. Namun terkadang walaupun sudah menerapkan manajemen kualitas, hal tersebut tidak menjamin bahwa produk yang dihasilkan berkualitas baik. Untuk itu diperlukan penerapan manajemen kualitas yang terencana dan terorganisir dengan baik.

Kinerja suatu UMKM, baik itu operasional maupun organisasi tidak dapat dipisahkan dari kegiatan atau proses kualitas yang dilakukan sebelumnya. Untuk menghasilkan output yang berkualitas tentunya UMKM haru melakukan tindakan-tindakan kualitas atau yang sering disebut dengan manajemen kualitas. UMKM yang siap bersaing pada era globalisasi ekonomi membutuhkan keterlibatan total dan kerjasama dari setiap unsur organisasi. Hal ini bisa dimulai dari sistem kepemimpinannya.

Kualitas kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang sesuai dengan keinginan dan harapan pelanggan dalam mencapai tujuan organisasi. Salah satu cara agar penjualan jasa satu UMKM lebih unggul dibandingkan para pesaingnya adalah dengan memberikan pelayanan yang berkualitas dan bermutu, yang memenuhi tingkat kepentingan konsumen. Kualitas kinerja UMKM sangat terkait dengan kemampuan organisasi dalam kemampuannya bersaing secara kompetitif di pasar global.

Daniel (2011), menyatakan hasil kinerja manajerial tidak cukup hanya melihat kinerja manajerial berdasarkan data-data dan informasi yang lalu, akan tetapi diperlukan bagaimana pelaksanaan proses manajerial dalam menjalankan aktivitas-aktivitas manajemen, dan komitmen pimpinan puncak dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen akan berinteraksi kepada perilaku pengambilan keputusan yang dilaksanakan semua personel UMKM. Dengan demikian, penilaian kinerja manajer dilihat berdasarkan aktivitas manajerial pada fungsi-fungsi manajemen yang diukur berdasarkan: perencanaan, penyelidikan atau investigasi, mengkoordinir, mengevaluasi, mengawasi, susunan kepegawaian, negosiasi, dan representasi.

Pada UMKM dalam menghadapi era globalisasi ekonomi perlu keterlibatan totoal, pendekatan ini dimulai dengan kepemimpinan manajemen senior yang aktif dan mencakup usaha yang memanfaatkan bakat semua karyawan dalam suatu organisasi untuk mencapai suatu keunggulan kompetitif (competitive advantage) di pasar yang dimasuki. Karyawan pada semua tingkatan diberi wewenang/kuasa untuk memperbaiki output melalui kerjasama dalam struktur kerja baru yang luwes (fleksibel) untuk memecahkan persoalan, memperbaiki proses dan memuaskan pelanggan. Pemasok juga dilibatkan dan dari waktu ke waktu menjadi mitra melalui kerjasama dengan para karyawan yang telah diberi wewenang/kuasa yang dapat menguntungkan organisasi/UMKM. Pada waktu yang sama keterlibatan pimpinan bekerjasama dengan karyawan yang telah diberi kuasa tersebut.

Pendekatan Total Quality Management dilakukan berdasarkan enam konsep dasar, yaitu :

1)     Suatu manajemen yang mempunyai komitmen dan terlibat penuh untuk memberi dukungan organisasi dari atas kebawah,

2)     Suatu focus terus-menerus kepada konsumen internal dan eksternal,

3)     Melibatkan dan memberdayakan seluruh SDM organisasi secara efektif,

4)     Perbaikan terus menerus dari seluruh proses bisnis dan proses produksi,

5)     Melibatkan para pemasok (supplier) sebagai mitra kerja,

6)     Menentukan sistem pengukuran untuk semua proses. 

Pelaku usaha UMKM dituntut untuk memiliki beberapa kemampuan. Kemampuan ini dapat berkembang dengan proses belajar selama praktek usahanya. Proses belajar ini dilakukan dalam praktek usaha agar semakin hari semakin piawai, sejalan dengan berkembangnya usaha. Kemampuan yang harus dimiliki oleh pelaku usaha UMKM antara lain sebagai berikut.

1.     Kemampuan teknis

Kemampuan teknis meliputi kemampuan memimpin, kemampuan manajemen bisnis dan organisasi, kemampuan monitoring lingkungan dan teknologi, serta kemampuan menulis. Dalam mengembangkan usahanya, pelaku usaha memerlukan orang lain, baik untuk menjadi pegawainya atau untuk membangun relasi. Hal tersebut memerlukan kemampuan memimpin dan kemampuan manajemen bisnis serta organisasi yang baik. Kemampuan tersebut didukung oleh kemampuan lisan, kemampuan mendengarkan, serta gaya manajemen yang tepat.

2.     Kemampuan dalam manajemen bisnis

Pelaku usaha sebaiknya memiliki kemampuan perencanaan dan penentuan sasaran yang baik, salah satunya menyusun rencana usaha. Ia dituntut untuk mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat , melakukan pengendalian, negosiasi sekaligus mengelola pertumbuhan.

3.     Kemampuan pribadi dalam entrepreneurship

Pelaku usaha harus mampu mengendalikan diri, berdisiplin, tidak gentar mengambil resiko yang telah diperhitungkan, inovatif dan kreatif, berorientasi pada perubahan, ulet, serta memiliki visi dalam menjalankan usahanya.

Posisi seorang manajerial diharapkan mampu menghasilkan suatu kinerja manajerial, berbeda dengan kinerja karyawan yang pada umumnya bersifat kongkrit, kinerja manajerial bersifat abstrak dan komplek. Manajer menghasilkan kinerja dengan mengarahkan bakat dan kemampuan, serta usaha beberapa orang lain yang berada di dalam daerah wewenangnya. Perbaikan kualitas dianggap penting dalam memenuhi kebutuhan pelanggan karena produk atau jasa yang berkualitas akan memperbaiki posisi persaingan di pasar yang kompetitif. Hal ini didukung oleh penelitian Kaynak (2003) yang menunjukan bahwa secara filosofi Total Quality Management yang diimplementasikan sangat berkolerasi positif dengan persepsi kinerja keuangan jika dimediasi oleh kualitas kinerja.

Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari proses jika diterapkan di dalam sebuah UMKM. Antara lain :

1)     Memberikan kepuasan kepada para pelanggan sehingga menjaga kepercayaan terhadap UMKM.

2)     Menumbuhkan rasa motivasi di dalam diri karyawan

3)     Meningkatkan standar kerja di dalam UMKM

4)     Meningkatkan dan menjaga nama baik UMKM

Variabel Total Quality Management diukur dengan memasukan elemen-elemen utama manajemen kualitas yaitu orientasi proses, elemen manusia, budaya kualitas, masing-masing item kuesioner ditulis secara khusus untuk industri hotel (disebut sebagai 12 prinsip manajemen Yaitu : Kepemimpinan, fokus pada customer, pemberdayaaan karyawan, perbaikan berkelanjutan, fakta dasar dalam pengambilan keputusan, pelatihan dan pengembangan, penghargaan (reward) dan pengakuan, fleksibelitas, peralatan dan teknik penggunaaanya, perencanaan strategi, tim kerja, keterlibatan pemasok.

Kinerja manajerial diukur dengan menggunakan instrumen self rating yang dikembangkan Mahoney (1963) dalam Nur Indriantoro (1993. Kinerja manajerial yang diukur meliputi delapan dimensi : perencanaan, investigasi, koordinasi, evaluasi, supervisi, negosiasi dan representasi serta satu dimensi pengukuran kinerja secara keseluruhan. UMKM dalam menghadapi era globalisasi harus dapat meningkatkan kinerjanya yang profesioanalisme sehingga hal akan mendorong UMKM merubah prilaku yang bersifat tradisonal akan menjadi menjadi modern.

Dalam hal ini, untuk mencapai tujuan bersama, UMKM telah melakukan evaluasi dengan tindak lanjut memperbaik secara terus menerus dengan menjaga kepuasan pelanggan,membina loyalitas pemasok, dan lain-lain. Untuk merealisasikannya, perlu didukung oleh manajemen yang kuat. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Narsa & Yuniawati (2003). Namun jika dalam pelaksanaannya Total Quality Management dilakukan oleh manajemen yang tidak tepat dengan kata lain pengambilan keputusan tidak sepenuhnya dilakukan oleh orang tepat, maka kinerja dari karyawan juga perlu dikaji ulang.

Total Quality Management (TQM) dapat berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Manajerial. Tetapi tidak semua UMKM dapat menerapkan Total Quality Management yang dapat meningkatkan kualitasnya karena beberapa keterbatasan dalam UMKM salah satunya adalah sumber daya manusia.

    3.    Kesimpulan

Penerapan Total Quality Management berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Interaksi Total Quality Management dan sistem reward berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Total Quality Management dan sistem pengukuran kinerja tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Untuk pengembangan UMKM di Indonesia diperlukan pemasaran yang digital dengan melalui Medsos, sehingga UMKM dapat berkembang dalam menyongsong era globalisasi ekonomi. Tetapi, tidak semua UMKM dapat menerapkan TQM yang dapat meningkatkan kualitasnya karena beberapa keterbatasan dalam UMKM salah satunya adalah sumber daya manusia.

Penerapan Total Quality Management dalam suatu UMKM dapat memberikan manfaat yang besar sehingga dapat meningkatkan daya saing UMKM tersebut. Melalui usaha perbaikan kualitas secara terus menerus maka UMKM dapat meningkatkan kinerjanya. Secara empiris, bahwa penerapan TQM berpengaruh terhadap kinerja UMKM telah banyak dilakukan penelitian sebelumnya. Penerapan total quality management (TQM) yang baik diyakini dapat berdampak pada peningkatan kinerja UMKM secara menyeluruh khususnya untuk peningkatan kinerja secara fungsional seperti kinerja operasional UMKM. Beberapa literatur mendukung keyakinan ini. Kemampuan bersaing dengan biaya yang lebih rendah akan menghasilkan dua manfaat, yaitu pemanfaatan kapasitas yang lebih tinggi dan margin yang lebih tinggi. Sedangkan peningkatan pangsa pasar akan mendorong pertumbuhan penjualan. Pada saat yang sama, semua efek tersebut akan meningkatkan keuntungan UMKM. Atas dasar teori tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa fungsi dari penerapan TQM yaitu keberlangsungan UMKM terutama keberlanjutan ekonomi.

 

    4.    Daftar Pustaka

 

·        Modul 2 Kewirausahaan 2

·        https://suarabanyumas.com/meningkatkan-kinerja-umkm-dengan-manajemen-kualitas-total/

·        Helmina, U. & Aji, A.W. (2019). Penerapan Total Quality Management Terhadap Dampak Kinerja Manajerial dan Laba Perusahaan pada UMKM Yogyakarta, 7(1), 1-5.

·        Sil, M. & Kassiavera, S. (2018). ANALISIS TOTAL QUALITY MANAGEMENT TERHADAP KINERJA MANAJERIAL PADA USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DALAM ERA GLOBALISASI, 1(1), 208-220.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.