Maret 17, 2022

PENGEOPTIKALAN JIWA KEWIRAUSAHAAN/ ENTERPRENEURSHIP DI KALANGAN GENERASI MILLENIAL

PENGEOPTIKALAN JIWA KEWIRAUSAHAAN/ ENTERPRENEURSHIP DI KALANGAN GENERASI MILLENIAL

Oleh : Muhammad Yusuf (@U15-Yusuf)


Pendahuluan

Era digital telah memberikan dampak bagi perkembangan kehidupan, diantaranya adalah kehidupan dunia usaha (bisnis). Tanpa modal besar dan tempatpun orang bisa menjalankan usaha dengan memanfaatkan teknologi melalui media sosial. Market place akan terbentuk dengan mudah melalui pemanfaatan teknologi tersebut. Fenomena ini disikapi dengan maraknya orang berbisnis online, tidak terkecuali di kalangan generasi muda. Jika di rumah saja dengan berbisnis online mereka dapat menghasilkan income, maka ini akan menjadikan mereka tidak akan berpikir untuk berburu menjadi PNS maupun urban ke kota atau ke luar negeri untuk mengais rejeki. Tentu saja ini berdampak pada terangkatnya perekonomian. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji strategi menguatkan perekonomian melalui peran teknologi digital dalam menciptakan peluang bisnis bagi generasi muda untuk berwirausaha. Penelitian dilakukan di Jombang dengan subyek penelitian mahasiswa yang juga berwirausaha. Metode kajian menggunakan kualitatif fenomenologis.


Pendahuluan

Ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia yang tidak sebanding dengan banyaknya jumlah tenaga kerja menuntut setiap orang untuk keluar dari zona nyaman dan mulai berwirausaha. Dengan berwirausaha, lapangan pekerjaan akan terus bertumbuh dan berkembang dengan inovasi di berbagai sektor kehidupan. Namun, terbatasnya pengetahuan, pengalaman, keterampilan, serta motivasi masyarakat Indonesia menjadi suatu tantangan tersendiri dalam mewujudkan hal tersebut, terlebih lagi persaingan di era digital semakin ketat.

Perkembangan teknologi tak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi muda. Maka dari itu, generasi muda harus mampu memanfaatkan teknologi dengan baik agar dalam praktiknya para generasi muda berdaya guna dan berhasil guna dalam mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. Hal tersebut tentunya memerlukan edukasi dan pelatihan kompetensi sebagai pembekalan awal. Dengan ide yang kreatif dan inovatif, generasi muda pasti mampu meningkatkan daya saingnya dan mau bercipta dan berkarya demi kepentingan masyarakat luas. Hingga kini, pengangguran dan kemiskinan masih menjadi momok bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu penguasaan pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan harus mulai dikembangkan sejak dari bangku sekolah hingga perguruan tinggi agar para generasi muda memiliki skill dan kompetensi di bidang kewirausahaan. Dengan demikian, stabilitas ekonomi dapat tercapai dengan bertambahnya startup baru milik anak bangsa.

Kegagalan dalam membangun usaha di era digital dapat diminimalisir dengan cara memperbanyak literasi pembelajaran baik secara offline maupun online dan terus mengasah skill melalui praktik nyata. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi generasi muda yang mengurungkan keberaniannya untuk terjun dalam dunia digital entrepreneurship. Generasi muda juga dapat bergabung ke dalam komunitas digital entrepreneurship yang telah banyak terbentuk di lingkungan masyarakat. Pengembangan digital entrepreneurship juga tidak boleh dengan cepat berhenti, maka dari itu sangat diharapkan adanya dorongan pada diri generasi muda untuk menjadi role model yang mampu menginspirasi dan menggerakkan masyarakat luas untuk berwirausaha di dunia digital.


Pembahasan

Bayangkan jika bisnis Anda dapat menjangkau ribuan, jutaan, atau milyaran pelanggan potensial di mana saja di dunia, hampir setiap saat, dengan teknologi yang sangat murah. Bayangkan Anda dapat membuat produk dan layanan baru di perangkat pribadi, lalu mengirimkannya dengan jangkauan global secara cepat. Bayangkan kalau Anda dapat memilih berbagai cara untuk menghasilkan pendapatan bagi bisnis Anda dari iklan, langganan, penjualan, atau bahkan donasi dan crowdfunding.

Inilah dunia kewirausahaan digital (digital entrepreneurship), yakni kewirausahaan yang dipengaruhi oleh, atau memanfaatkan, transformasi digital dalam bisnis dan masyarakat. Prinsip-prinsip dasar kewirausahaan masih berlaku dan dapat diaplikasikan di dunia kewirausahaan digital ini, seperti: menumbuhkan pola pikir kewirausahaan, mengidentifikasi peluang yang baik, mengenal pelanggan Anda, memenuhi ketentuan legal, maupun berupaya untuk meningkatkan modal. Dalam kewirausahaan digital, perubahan mendasar terletak pada upaya untuk aktif dalam aktivitas bisnis dan terkoneksi dengan masyarakat yang telah melek digital.

 

 

Ada beberapa hal yang membuat kendala-kendala berwirausaha dapat diminimalisir dalam era digital ini, yakni dengan membuat upaya berwirausaha menjadi lebih cepat, lebih terjangkau, lebih mudah, bahkan menciptakan banyak kesempatan kolaborasi sehingga dapat membuat suatu usaha menjadi lebih efektif. Dunia digital menawarkan sumber daya baru yang sangat luas bagi para wirausahawan untuk memanfaatkan, mulai dari pengumpulan data terbuka, konten, kode, dan layanan yang tumbuh secara eksponensial hingga kontribusi online pengguna dan komunitas di seluruh dunia. Dunia digital juga menyediakan cara baru untuk menggabungkan sumber daya ini. Misalnya, bisnis kecil dapat memanfaatkan jaringan periklanan besar, chatbot berbasis Artificial Intelligence, freelancer global, atau penerjemahan bahasa hanya dengan beberapa klik atau beberapa baris kode.

Terdapat lima tipe dasar bisnis digital menurut Allen (2019), yakni: Content-Based Business, Community-Based Business, Online Store, Matchmaking Business, dan Promotion Business.

  1. Content-Based Business berupaya untuk memberikan nilai kepada pelanggan dengan menyediakan konten yang spesifik dalam format digital. Konten ini dapat meliputi resep, artikel, video, webinar, panduan, dan masih banyak lagi. Tantangan utama dalam tipe bisnis ini adalah bagaimana mencari topik yang tepat, dan perlu upaya untuk melakukan pemutakhiran konten secara konsisten.

  2. Community-Based Business menawarkan nilai dengan cara menyediakan forum diskusi dan konten spesifik yang sebagian besar merupakan kontribusi dari penggunanya.

  3. Online Store, seperti yang banyak kita jumpai saat ini, merupakan platform penjualan produk barang atau jasa. Anda dapat memulai bisnis ini dengan bekerjasama dengan pengusaha lain yang memiliki produk bagus namun belum memahami bagaimana cara menciptakan toko daring. Kemudian, secara bertahap Anda dapat mengumpulkan data untuk memperoleh pemahaman terkait preferensi konsumen, dan menemukan peluang untuk cross-selling maupun upselling, atau bahkan berlangganan (subscription).

  4. Matchmaking Business berupaya untuk mempertemukan sekelompok orang yang sebelumnya tidak terhubung. Tentu saja bisnis ini bukan hanya terbatas pada platform perjodohan, namun juga dapat berupa platform untuk mempertemukan siswa dan guru les, pengasuh anak dan konsumen orang tua yang memerlukan pengasuh, atau bahkan antara ahli potong rambut/ahli make up dengan konsumen yang memerlukan jasa tersebut. Umumnya bisnis ini memperoleh pendapatan dari biaya berlangganan atau biaya transaksi ketika berhasil mempertemukan kedua belah pihak yang saling memerlukan.

  5. Promotion Business bertujuan untuk menarik pelanggan baru ke suatu bisnis yang sudah ada (existing). Sebagian besar business yang sudah ada (existing) tertarik untuk mendapatkan pelanggan baru namun cara untuk memperoleh pelanggan baru di dunia digital ini bisa sangat memusingkan bagi pemilik usaha kecil menengah atau start-up business. Promotion Business dapat menarik pelanggan baru dan membuat mereka melakukan kontak dengan suatu institusi bisnis, mengunduh informasi, memberikan kupon atau penawaran spesial.



Sejarah Entrepreneurship

Entrepreneurship secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Di luar negeri, istilah entrepreneurship sendiri telah dikenal sejak abad ke-17, sedangkan di Indonesia istilah entrepreneurship baru dikenal pada akhir abad ke-20. Beberapa istilah entrepreneurship seperti di Belanda dikenal dengan ondernemer, dalam bahasa Prancis dikenal dengan istilah entreprendre, dalam bahasa jerman entrepreneur disebut dengan unternehmer, turunan dari kata unternehmen yang diartikan menjalankan, melakukan dan berusaha. Pendidikan entrepreneurship mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan entrepreneurship atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan entrepreneurship. DI Indonesia, entrepreneurship dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman entrepreneurship baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat entrepreneurship menjadi berkembang.



Inovasi Pada Digital Entrepreuner

Manfaat Kreativitas dan Inovasi untuk Bisnis Berkelanjutan

Apa itu inovasi? Inovasi sendiri merupakan sebuah keluaran dari organisasi yang memanfaatkan sumber daya input berupa pengetahuan, informasi, dan pengalaman yang dimiliki-diantaranya sebagian besar oleh karyawannya. Inovasi juga harus melibatkan kreativitas dan eksperimen yang menghasilkan produk baru, layanan baru, atau proses teknologi yang lebih baik.

Selain itu, inovasi bisa menghasilkan membuat produk yang mereka buat menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon pembeli mereka, inovasi produk merupakan suatu gagasan atau produk baru yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh pengguna atau konsumen. Dengan begitu produk yang mereka buat akan mudah diperjual belikan karena variasi produk yang mereka buat belum tentu dimiliki oleh seorang wirausahawan lainnya.

Namun ada beberapa hal yang membuat suatu inovasi menjadi hal yang tidak diminati calon pembeli yaitu tentang bagaimana cara produk itu dibuat, bahan yang digunakan sampai bentuk yang mungkin menyeramkan. Tidak hanya inovasi produk yang mereka pikirkan namun mereka juga harus membuat inovasi penjualan, bagaimana produk yang mereka jual dapat dilihat dari semua kalangan dan pada beberapa pelosok daerah, yaitu dengan cara memasarkan produk mereka melalui aplikasi berbasis penjualan online atau yang biasa kita sebut sebagai online shop.

Online shop adalah proses pembelian barang dan jasa melalui internet dimana penjual dan pembeli tidak berhubungan secara langsung atau tidak bertemu dan tidak melakukan kontak secara fisik, dan dimana barang yang diperjual belikan hanya ditawarkan melalui gambar yang ada dalam suatu website kemudian pembayaran dilakukan melalui transfer ke rekening bank yang bersangkutan. Setelah proses pembayaran diterima, kewajiban penjual adalah mengirim barang pesanan pembeli ke alamat tujuan. Dengan demikian hal tersebut secara tidak disadari sudah mempermudah seorang wirausaha.

 

Kesimpulan

Peran generasi muda pada Industri 5.0 sangat dibutuhkan selain dibidang teknologi, pada sector kewirausahaan juga harus bisa mendorong perubahan. Karena, Revolusi industri saat ini sedang memasuki fase keempat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang sangat cepat menyebabkan dampak yang cukup besar  terhadap kehidupan manusia. Melalui  dukungan teknologi digital akan muncul  lebih  banyak  inovasi  dan  kemudahan  yang  diperoleh.  Jangkauan  koneksi menjadi lebih luas, serta layanan menjadi lebih cepat dan efisien. Salah satu revolusi model bisnis yang saat ini paling banyak muncul adalah start up digital. Start up digital adalah perusahaan rintisan yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi  seperti  internet untuk  memberikan  pelayanan  untuk para  customernya. Untuk memanfaatkan peluang di revolusi digital ini, para pelaku usaha harus bisa mengetahui konsep bisnis start up, kesuksesan dan kegagalan  start up, serta kunci sukses start up. Hal ini diperlukan demi keberhasilan bisnis start up digital.

 

Referensi

Modul 2 Kewirausahaan 1

https://kesrasetda.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/29-pengembangan-jiwa-kewirausahaan-enterpreneurship-di-kalangan-generasi-muda

Wiwik Maryati Ida Masriani  Era digital, generasi muda, wirausaha, perekonomian Vol 4 No 2 (2019): Desember 2019

https://digitalbisa.id/artikel/mengenal-lebih-dekat-digital-entrepreneurship-Wpini

http://e-journal.uajy.ac.id/492/3/2MTS01575

Allen, J.A . 2019. Digital Entrepreneurship. New York: Routledge

https://binus.ac.id/malang/2020/12/kewirausahaan-digital-digital-entrepreneurship/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.