Maret 17, 2022

SEJARAH KONSEPSI PEMIKIRAN KEWIRAUSAHAAN

 

SEJARAH KONSEPSI PEMIKIRAN KEWIRAUSAHAAN

 

Oleh : Billy Shultan Al Hadiy @U24-BILLY

 

PENDAHULUAN

Pada  periode  yang  sangat  panjang  yakni  sejak  runtuhnya  Roma  sekitar  tahun  476  SM  hingga  abad  kedelapan  belas  (Th  1799),  tidak  terjadi  kenaikan  kekayaan   percapita   di   dunia   barat.   Munculnya   kewirausahaan   pada   generasi   selanjutnya  berdampak  pada  pendapatan  dan  kekayaan  percapita  di  dunia  barat  sejumlah  20%  (  pada  tahun  1700an),  200%  (pada  tahun  1800an)  dan  740%  (pada  tahun 1900an) (Drayton, 2004). Pemikiran   tentang   kewirausahaan   dimaknai   secara   bergantian   akibat   adanya  perubahan  yang  tidak  dapat  di  duga  (seperti  perdagangan  internasional,  permintaan,  persaingan  sebagai  mekanisme  temuan,  dan  peluang).  Perubahan  ini  memberikan pemikiran konseptual baru tentang kewirausahaan. Beberapa pandangan tentang kewirausahaan dikemukakan oleh para pakar seperti : 1.Venkataraman   (1997),   mendefinisikan   kewirausahaan   sebagai   penemuan,   evaluasi dan pemanfaatan barang dan jasa untuk keperluan masa depan.  2.Definisi  ini  masih  bersifat  umum  dan  banyak  kalangan  yang  belum  bisa  menerima definisi ini terutama golongan akademis. 3.Shane  dan  Venkataranam  (2000),  menjelaskan  tentang  bidang  kewirausahaan  pada  berbagai  pandangan  teori  dan  kerangka  kerja.  Pada  masa  ini  makna kewirausahaan    menjadi    hal    yang    membingunkan    karena    Shane    dan    Venkataranam  menjelaskan  makna  kewirausahaan  tidak  didasari  pada  kajian  falsafah. 4.Curran  dan  Blackburn  (2001)  menyikapi  perkembangan  kewirausahaan  yang  memiliki  paradigma  yang  tidak  jelas,  terlalu  banyak  kepentingan  dari  para  stakeholder  5.Landstrom   et.al   (2001),   memberikan   informasi   bahwa   penelitian   tentang   kewirausahaan sangat langka. 6.Bygrave  dan  Hofer  (1991),  Gartner  (2001),  Low  dan  MacMilan  (1998),  mengkomentari  tentang  makna  kewirausahaan  bahwa  belum  ditemukannya  suatu  keseimbangan  antara  munculnya  pemahanan  kewirausahaan  dan  dasar  paradigmanya 7.Formaini  (2006),  menjelaskan  bahwa  kewirausahaan  kebanyakan  ditinjau  dari  sudut  keberhasilan  para  pengusaha,  perubahan  kerangka  kerja  ekonomi  dan  kapitalisme.  Berbagai pandangan tentang makna kewirausahaan diatas menjadikan para akademisi,  praktisi  dan  orang  awam  menjadi  kebingungan  menyikapi  makna  kewirausahaan (entrepreneurship). Tujuan  penulisan  jurnal  ini,  yakni  ingin  mengiterpretasikan  dan  menjelaskan  tentang perubahan pemikiran kewirausahaan dengan menggunakan aplikasi sejarah dan  menyatukan  konsep  yang  meliputi  banyak  pemikiran  kewirausahaan  menurut  periode  jamannya,  dengan  demikian  mudah  untuk  menginterpretasikan  makna  kewirausahaan   sesuai   jaman   kekinian.   Penulis   hanya   sebagai   peneliti   yang   kebetulan   saja   melacak   perkembangan   konsepsi   melalui   sejarah   di   bidang   kewirausahaan dari berbagai macam pandangan hingga sekarang.

 

PEMBAHASAN

·         Logika konsepsi 

      Perkembangan  ilmu  pengetahuan terjadi  dalam  bentuk  teori-teori  tentatif  (bersifat  sementara)  yang  terus  berubah  saat  berhadapan  dengan  teori-teori  lain,    oleh karenanya diperlukan uji empiris dan observasi yang dapat berfungsi sebagai pembuktian.    Penelitian    epistemologi    memanfaatkan    logika    formal    untuk    menjelaskan validitas terhadap keterbatasan ilmu pengetahuan sebelumnya (Miller, 1975;   Proper,   1976.

·         Pemikiran kewirausahaan sebagai sejarah.

        Secara  garis  besar,  pemikiran  tentang  kewirausahaan  dapat  dimulai  dari masa  pra  sejarah,  kemudian  masuk  pada  masa  dimana  pemikiran  kewirausahaan  dipengaruhi  oleh  ekonomi  (pada  masa  gerakan  klasik,  neoklasik  dan  proses  pasar  Austria / Austrian Market Process (AMP)) hingga masa pemikiran kewirausahaan berdasar pada multidispliner. Unsur-unsur konsepsi ditempatkan secara kronologis dan  digolongkan  menurut  3  kategori  basis  yakni  basis  pra  sejarah,  basis  ekonomi  dan basis multidisipliner.  Mengingat sejarah bersifat kronologis, unsur-unsur konsepsi lebih diutamakan dari pada temporal, hasilnya adalah pengertian tentang bagaimana teori masa lalu dapat memberikan informasi pada teori selanjutnya.

 

·         Pemikiran kewirausahaan berbasis pada aktivitas ekonomi 

Masa  Klasik.  (  Sekitar  tahun  1700  hingga  tahun  1800an).    Cantillon  (1755)  memperkenalkan konsep kewirausahaan dalam literatur perdagangan, ekonomi dan bisnis.  Hasil  karyanya  (Cantillon,  1755)  yakni  mendefinisikan  ketidaksesuaian  antara persediaan dan permintaan, melegalkan untuk membeli barang dengan harga murah  dan  menjual  dengan  harga  yang  tidak  pasti  serta  mengalokasikan  barang  pada  sistem  pasar.    Pergerakan  ekonomi  klasik  mengikuti  pemikiran  Cantillon,  yakni  adanya  penawaran,  permintaan  dan  ekuilibrium.  Para  pelaku  ekonomi  /  wirausaha  yang  melakukan  arbitrase  (penjualan  aktiva  dinilai  tinggi  dan  pembeli  aktiva dinilai rendah ) mengalami masalah ketidakpastian dan risiko.  Inovasi  dan  koordinasi  menjadi  penting  pada  aktivitas  kewirausahaan,  misalnya  aktivitas  kewirausahaan  yang  dilakukan  oleh  kebanyakan  para  petani  melakukan  ikatan kontrak dengan para tuan tanah untuk mengolah lahan mereka.       

Masa  Neoklasik.  Masa  ini  dimulai  pada  akhir  tahun  1800an.  Ditandai  dengan  adanya   munculnya   konsep   diminishing   marginal   utility   untuk   menjelaskan   kegiatan ekonomi dan membuka cara pandang berbeda dalam menyikapi hubungan antar individu (Menger, 1971). Hasilnya fenomena pasar dipengaruhi oleh kondisi sosial,  politik  dan  budaya.  Aktivitas  kewirausahaan  menjadi  unik  dan  dipandang  sebagai   masa   transisi/   perubahan   ilmu   pengetahuan,   yang   mana   aktivitas   kewirausahaan   berusaha   mengubah/mentransformasi   sumberdaya   dari   produk   menuju layanan/jasa. Hal ini sulit untuk diprediksi karena kondisi ketidakpastian. Pemikiran  ekonomi  semakin  canggih  selama  pergerakan  neoklasik.  Pada  masa  ini  para  pengusaha  lebih  cenderung  pada  alokasi  sumberdaya  dari  pada  mengakumulasi modal (Schumpeter, 1934). Dari kecenderungan ini maka aktivitas kewirausahaan  akan  memperkenalkan  produk  baru,  model  produksi,  penciptaan  pasar  serta  bentuk  organisasi  baru.  Kewirausahaan  melibatkan  inovasi  untuk  mendorong  kreasi  dan  menemukan  sesuatu  yang  baru.  Schumpeter  menjelaskan  aspek inovasi yang dilakukan oleh para pengusaha sebagai hal pengrusakan kreatif, namun   hal   ini   dapat   dipulihkan   oleh   pelaku   pasar   lain   yang   mencoba   menyeimbangkan sistem pasar.

Masa proses pasar Austria (AMP/Austia Market Process). Dari pemikiran pada masa neoklasik   bahwa   untuk   mengetahui   fenomena   ekonomi   (dalam   rangka   mencari  peluang)  tidak  perlu  mencari  semua  informasi  yang  berkaitan  dengan  sistem ekonomi. Namun, jika ini dilakukan maka merupakan pekerjaan yang tidak praktis.   Tentunya   dibutuhkan   pengetahuan   khusus   pengusaha   untuk   mencari   peluang  dan  membuat  keputusan  dengan  tepat.  Jika  pengusaha  tahu  bagaimana  cara  untuk  menciptakan  barang  atau  layanan  melaui  inovasi  atau  mengetahui  cara  yang  lebih  tepat  untuk  melakukannya,  maka  keuntungan  bisa  didapatkan  melalui  pengetahuan ini. Lebih baik, pengusaha didorong untuk menggunakan pengetahuan untuk memperoleh nilai. Pada masa AMP ini para pengusaha berkonsentrasi untuk mencari  informasi  dengan  segala  pengetahuan  yang  mereka  miliki  untuk  mencari  dan menjalankan peluang  serta mengambil keputusan dengan tepat. Berdasar pada ide-ide  neoklasik  (Scumpeter,  1934),  AMP  menjadi  bagian  kewirausahaan  yang  menggerakan sistem berbasis pada pasar.

 

KESIMPULAN

Kepentingan  di  bidang  kewirausahaan  semakin  meningkat  dalam  kajian  akademis   dan   praktis. Pandangan historis   tentang   perkembangan   pemikiran   konsepsi  tentang  kewirausahaan  dapat  memberikan  pandangan/lensa  bagi  para  sarjana dan praktisi untuk menginterpretasikan aktivitas kewirausahaan sendiri dan merumuskan pernyataan baru.

Definisi/pernyataan  tentang  tentang  kewirausahaan  boleh  bersifat  ilmiah  atau   praktis,   hal   ini   dapat   ditinjau   melalui   pendekatan   tinjauan   proses   dan   pembelajaran serta pembuktian yang mendekati inti makna kewirausahaan. 

Pada awal penelusuran menunjukkan bahwa pandangan philosofi menjelaskan tentang  kewirausahaan  dapat  dimaknai  “kegiatan  mengumpulkan  kekayaan”  baik  oleh  individu  maupun  kelompok.  Kondisi  terus  berkembang  dari  jaman  menujujaman  yang  selalu  berubah  mengikuti perkembangan peradaban manusia ditandai dengan adanya   gejala   seperti   permintaan, penawaran, perdagangan, proses produksi,  manajemen, teknologi, inovasi, komunikasi hingga   jaman modern kapitalis maupun sosialis. Secara implisit pemaknaan kewirausaan  dapat    didefinisikan dengan mengikuti jaman yang berlaku. Definisi kewirausahaan masa klasik  berbeda  dengan  makna  definisi  pada  masa  neo  klasik  maupun  masa  AMP.  Namun  secara  filosofi  pemaknaan  kewirausahaan  tidak  boleh  lepas  dari  makna  “kegiatan  mengumpulkan  kekayaan”.  Hasil  penelusuran  ditemukan  seorang  pakar  bidang  kewirausahaan  memaknai  kewirausahaan  adalah orang yang mempuyai kemampuan untuk melihat dan menilai peluang bisnis, mengumpulkan sumberdaya yang  diperlukan  untuk  memperoleh  manfaat  dari  peluang  tersebut  dan  memulai  kegiatan yang sesuai untuk meraih keberhasilan ( Idrus, 1999).

 

DAFTAR PUSTAKA

Agassi,  J.  (1963),  Towards  an  Historiography  of  Science,  History  and  Theory, 

Wesleyan University Press, Middletown, CT.

 

Baumol,  W.  (1968),  “Entrepreneurship ineconomic  theory”,  American  Economic 

Review, May issue, pp. 64-71.

 

Bull, I. and Willard, G.E. (1993), “Towards a theory of entrepreneurship”, Journal

of Business Venturing, Vol. 8, pp. 183-95.

 

Bygrave,   W.D.   and   Hofer,   C.   (1991),   “Theorizing   about   entrepreneurship”,  

Entrepreneurship Theory & Practice, Vol. 16 No. 2, pp. 13-22.

 

Cantillon,  R.  (1755),  Essai  sur  la  Nature  du  Commerce  in  Ge ́ne ́ral,  Institut 

national d’e ́tudes de ́mographiques, Paris

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.