November 03, 2022

PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN SDM KEWIRAUSAHAAN UNTUK MENGHADAPI PERUBAHAN GLOBAL

 

Oleh: Laykha Fitriani Az Zahra (@V12-LAYKHA)

ABSTRAK

Perubahan telah memunculkan aturan baru dan setiap organisasi dituntut untuk melakukan perubahan dengan cepat dan tepat serta fleksibel, karena jika tidak demikian maka organisasi akan sulit untuk bersaingan secara global di masa yang akan datang. Implikasi dari perubahan lingkungan global menuntut organisasi untuk merubah strategi organisasi yang semula local oriented menjadi global oriented, untuk itu organisasi kedepannya harus selalu bersahabat dengan perubahan agar kedepan organisasi dapat menjadi pemimpin perubahan dimasa yang akan datang. Dibutuh pemimpin yang berjiwa entrepreneur untuk menghadapi tantangan perubahan global tersebut sehingga organisasi dapat beradaptasi serta tetap eksis dikancah persaingan global.

Kata Kunci: Kepemimpinan, Global, Wirausaha

PENDAHULUAN

Era persaingan global yang tanpa batas yang ditandai dengan cepatnya perubahan dalam lingkunganbisnis, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, serta teknologi lainnya menjadi kenyataan yang harusdisikapi dengan bijak dan cermat agar organisasi dapat tetap eksis dalam kancah persaingan global. Dalam kondisi di atas, maka diperlukan kehadiran seorang leader yang memiliki visi jauh ke depan, kepemimpinan yang memiliki sense of change yang tinggi, pemimpin yang sadar akan posisinya di tengah-tengah lingkungan yang terus berubah, pemimpin yang memiliki jiwa dan semangat entrepreneurship. Pemimpin yang dapat berkomunikasi, mempunyai semangat dan berani mengambil risiko (McKinney Rogers Consultant, 2007).

Dalam menghadapi realita ini, dibutuhkan pemimpin yang dapat menjawab tantangan dan peluang tersebut. Bukan pemimpin yang merasa nyaman dengan keadaan sekarang atau comfort zone dan tidak mau berpindah dari keadaan ini. Bukan pemimpin yang hanya wait and see atau melakukan transformasi konvensional namun pemimpin yang bisa melihat celah dan kesempatan serta dapat mengadaptasi perubahan secara radikal, membongkar comfort zone di dalam maupun di luar. Pemimpin seperti ini biasa disebut crackers (Suyatno, 2014).

Pemimpin tersebut juga harus merubah paradigma berfikir menghadapi perubahan lingkungan bisnis yang sangat cepat, dari budaya birokrasi menjadi corporate culture, membenahi tata kelola organisasi yang transparan dan bebas korupsi. Serta mendayagunakan dan menyelaraskan seluruh organ dari seluruh organisasi dengan strategi utama sehingga organisasi memiliki daya saing serta menerapkan budaya pembelajaran. Untuk itu, perlu dikembangkan sistem pembentukan karakter bagi sumber daya manusia di Indonesia yang memiliki sifat entrepreneurial leadership sehingga mampu menjawab tantangan seperti terungkap pada paragraf sebelumnya.

 

PEMBAHASAN

Pengertian Kepermimpinan dan Entepreneurship (Wirausaha)

Kepemimpinan menurut Bass adalah interaksi antara dua atau lebih anggota kelompok yang sering terlibat untuk penyusunan penataan kembali situasi dari persepsi dan harapan para anggota. Kepemimpinan telah dipahami sebagai fokus proses kelompok, sebagai atribut kepribadian, sebagai seni merangsang kepatuhan, sebagai latihan pengaruh, sebagai jenis tertentu kegiatan, sebagai bentuk persuasi, sebagai relasi kekuasaan, sebagai instrumen dalam pencapaian tujuan, sebagai akibat dari interaksi, sebagai peran yang berbeda, dan sebagai inisiasi struktur.

Wirausaha menurut Choo dan Bontis (Choo dan Bontis, 2002) didefinisikan sebagai proses menemukan, mengenali, dan memanfaatkan peluang-peluang baru. Sedangkan menurut Baron dan Shane, wirausaha sebagai bidang bisnis, berusaha untuk memahami bagaimana peluang untuk menciptakan sesuatu yang baru (misalnya, produk atau jasa baru, pasar baru, proses produksi baru atau bahan baku, cara-cara baru pengorganisasian teknologi yang sudah ada) muncul dan ditemukan atau diciptakan oleh individu tertentu, yang kemudian menggunakan berbagai carauntuk mengeksploitasi atau mengembangkan mereka,sehingga menghasilkan berbagai dampak.

Pengertian Kepemimpinan Wirausaha (Entrepreneurial Leadership)

Menurut Greenberg et al. (Greenberg et al, 2011) kepemimpinan wirausaha melibatkan model baru pemikiran dan tindakan, yang dimulai dengan pandangan dunia yang berbeda secara fundamental dari bisnis dan menerapkan pengambilan keputusan yang tidak logis.

Sedangkan menurut Afiff (Afiff, 2012), Perusahaan berbasis kewirausahaan memiliki kelebihan dimana kinerja kepemimpinan memiliki ruang gerak yang lebih leluasa. Berbeda dengan perspektif organisasi secara umum dimana aspek kepemimpinan lebih dibatasi oleh pengaturan organisasi, maka beberapa aspek perusahaan berbasis kewirausahaan lebih memungkinkan memfasilitasi kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi perubahan dan kinerja. Ternyata ukuran perusahaan merupakan faktor penting dalam melaksanakan kebijakan manajerial.

Pengembangan Kepemimpinan

Pengembangan SDM berjiwa Kepemimpinan Wirausaha di Indonesia dapat ditempuh dengan 2 pendekatan yaitu pendekatan Makro dan Mikro. Pada tahap makro ini merupakan ranah pemerintah dalam mengembangkan SDM secara global melalui perencanaan program pendidikan dan pelatihan dalam skala nasional. Pada tahap mikro ini merupakan ralan perusahaan organisasi seperti perusahaan dimana setiap dership dan sehingga melakukan pendidikan dan pelatihan

Entrepreneurship kepada karyawan perusahaan nantinya akan dapat mencetak karyawan dengan jiwa Kepemimpinan Wirausaha yang berguna bagi perusahaan kelak dikemudian hari, sekaligus menjawab tantangan bagi perusahaan untuk bersaing secara global. Dalam pengembangan SDM berjiwa kepemimpinan wirausaha dapat di lihat dari 3 prinsip kepemimpinan wirausaha (Greenberg et al., 2011) yaitu:

1.      Cognitive Ambidexterity, Kepemimpinan wirausaha melibatkan kedua logika prediksi dan logika kreasi dalam pendekatan pengambilan keputusan mereka.

2.      SEER (Social, Environmental, and Economic Responsibility and Sustainability), Tanggung jawab dan berkesinambungan, Kepemimpinan wirausaha harus tahu bagaimana untuk mengarahkan penciptaan nilai sosial, lingkungan, dan ekonomi dan ketegangan yang melekat dan potensi sinergi di dalamnya. Selain itu mereka harus belajar untuk terlibat penciptaan nilai sosial, lingkungan, dan ekonomi secara simultan daripada secara berurutan. Diluar SEER, kepemimpinan wirausaha juga memanfaatkan pemahaman mereka tentang diri mereka sendiri dalam konteks sosial untuk memandu tindakan yang efektif.

3.      SSA (Self and Social Awareness), Melalui pemahaman otentik dan mendalam dari kesadaran akan tujuan dan identitas mereka sendiri dan bagaimana mereka dipengaruhi oleh konteks sekitar mereka, para pemimpin wirausaha membuat keputusan yang lebih efektif dalam keadaan tidak pasti dan tidak pasti dan tidak diketahui.

Dampak Positif dari Entrepreneurial Leadership

Dampak positif dari prinsip-prinsip kepemimpinan kewirausahaan menurut Roebuck seperti yang dikutip oleh Zwilling (Zwilling, 2014) yang dimuat oleh Majalah Forbes adalah :

a)      Fokus total terhadap pelayanan kepada pelanggan.

Setiap anggota tim diaktifkan dekat ke garis depan pelanggan, sehingga mereka melihat bagaimana setiap fungsi berjalan atau tidak dalam memberikan nilai tambah layanan yang mereka berikan kepada pelanggan. Orang-orang pada organisasi yang lebih besar malah menjauh dari hari ke hari melakukan kontak dengan konsumen, dan akhirnya fokus perusahaan menjadi internal dan terisolasi.

b)      Mengoptimalkan tidak meminimalkannya.

Resiko yang diperhitungkan harus diambil untuk memungkinkan perubahan, untuk memperbaiki, dan memenuhi kebutuhan pelanggan baru. Meminimalkan risiko pada akhirnya akan menyebabkan setiap perusahaan menjadi gagal. Kesalahan akan terjadi, sehingga tujuan tidak harus untuk menghilangkan semua kesalahan, tetapi untuk menangkap mereka sebelum mereka menciptakan bencana, dan menjadi berulang.

c)      Terus-menerus menjadi kreatif dan inovatif untuk mendapatkan yang lebih baik.

Organisasi matang lupa bahwa perubahan adalah kesempatan, bukan ancaman. Namun tidak ada yang masih menyadari. Perubahan memungkinkan setiap orang untuk mendorong batas-batas dalam menanggapi, untuk meningkatkan peluang mereka untuk pertumbuhan diri, meningkatkan posisi kompetitif perusahaan dan peluang untuk sukses jangka panjang.

d)      Mengambil tanggung jawab pribadi untuk hasilorganisasi.

Sikap yang menjangkiti di dalam perusahaan-perusahaan besar adalah bahwa individu karyawan tidak memiliki bertanggung jawab hasil di luar tujuan mereka sendiri. Hal ini menyebabkan seluruh perusahaan inefisiensi, komunikasi yang buruk, dan tidak selaras, dan juga cenderung mengurangi efektivitas setiap pemimpin individu.

e)      Memahami gambaran yang lebih luas.

Untuk mendapatkan kinerja individu dan tim ke level tertinggi, setiap orang harus berkomitmen untuk visi, nilai-nilai, dan strategi organisasi, seperti halnya tujuan pribadi mereka. Sikap tidak bertanggung jawab di luar tujuan individu hampir selalu merugikan perusahaan.

f)       Menjaga hal-hal sederhana.

Seiring waktu, orang-orang dalam organisasi besar cenderung membuat hal-hal yang lebih rumit dari yang mereka butuhkan untuk memulai. mungkin Ini untuk mengesankan orang lain dengan keahlian mereka.


KESIMPULAN

Lingkungan bisnis yang cepat berubah dan persaingan global yang semakin ketat membutuhkan pemimpin yang kreatif, inovatif serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menjawab tantangan tersebut. Selain itu diperlukan juga pemimpin yang visioner dan berani mengambil risiko dari tindaka yang diambil. Seperti diungkapkan oleh Fernald et al. (Fernald et al. 2005) baik pemimpin dan pengusaha yang sukses adalah: Kepemimpinan strategis (visi dan tujuan jangka panjang); Kemampuan pemecahan masalah; Tepat waktu dalam pengambilan keputusan; Kesediaan untuk menerima risiko; dan kemampuan negosiasi yang baik. Pengembangan kepemimpinan wirausaha baik tingkat makro maupun mikro mutlak diperlukan dan terus diupayakan pelaksanaannya serta di evaluasi agar program pengembangan tersebut dapat berjalan dengan semestinya dan siap menghadapi tantangan global yang ada di depan mata.


DAFTAR PUSTAKA

Hasibuan, A., Novita, D., Tarigan, N. M. R., Yusrita, Y., & Riana, Z. (2021). Kewirausahaan. Yayasan Kita Menulis.

Modul Mata Kuliah Kewirausahaan 3. Universitas Mercu Buana. Jakarta.

Purhantara, W. (2010). Kepemimpinan bisnis Indonesia di era pasar bebas. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan7(1).

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.