Desember 04, 2022

ANALISIS BRAND IDENTITY TERHADAP KEBERHASILAN PENJUALANAN PRODUK

 

Oleh: Seisha Milanisti (@V32-Seisha)

ABSTRAK

Seiring perkembangan dunia bisnis, sudah banyak sekali bisnis-bisnis baru yang muncul. Banyaknya bisnis yang muncul sangat berpengaruh terhadap ekonomi Negara dan juga hal tersebut menjadi penanda bahwa banyaknya masyarakat yang memanfaatkan kreativitasnya dalam berwirausaha. Namun, dikarenakan banyaknya bisnis baru yang muncul, suatu perusahaan harus membuat pembeda antara brand sendiri dengan brand competitor. Hal tersebut termasuk ke dalam brand identity. Brand merupakan hal yang penting dalam sebuah bisnis. Karena dengan menggunakan brand identity, perusahaan dapat membentuk persepsi orang-orang terhadap bisnis yang dibangun. Brand identity atau identitas merek merupakan segala bagian yang membentuk persepsi orang terhadap suatu brand. Ada berbagai elemen dalam brand identity yang digunakan untuk menyampaikan karakter, komitmen, dan nilai dari produk agar lebih dikenal oleh konsumen. Elemen-elemen tersebut antara lain: Nama Brand, Logo, Slogan/Tagline, dan Kisah Merek.

Kata kunci: Brand, Identity, Penjualanan, Perusahaan

 

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia ekonomi dan bisnis telah mengalami pergeseran paradigma, yaitu dari berbasis sumber daya ke paradigma berbasis ide dan kreatifitas.Dalam paradigmaini tidak menuntut banyaknya modal yang ditanamkan untuk sebuah usaha. Bermodalkan kreativitas dan juga semangat anak-anak muda bangsa akan berpengaruh kepada perekonomian Indonesia. Paradigma ini terbukti dengan adanya brand-brand lokal yang sudah besar dan sudah berhasil mengekspor hasil kreativitas bangsa ini ke berbagai negara.

Dalam konsep marketing brand memiliki nilai yang sangat besar dan melebihi functional benefit yang ditawarkan brand kepada konsumennya. Jadi di dalam sebuah brand terdapat value-value tertentu yang bisa membuat orang loyal terhadap brand tersebut.Value-value itu timbul dan dipahami konsumen karena ada pergerakan yang dilakukan oleh setiap brand di mana pergerakan tersebut berdampak positif bagi banyak orang. Merek memegang peranan yang sangat penting, salah satunya adalah menghubungkan harapan konsumen pada saat perusahaan menjanjikan sesuatu kepada konsumen (Durianto dkk, 2001:1).. Kepuasan adalah suatu reaksi afektif yang positif terhadap hasil dari pengalaman sebelumnya dan menurut (Keller,1993;) merek adalah tanda kepercayaan untuk segala sesuatu yang tidak terlihat, aktifitas sehari-hari dan ketidaksadaran sentuhan manusia yang dapat menjadi simbol kualitas dan jaminan dalam membangun kepercayaan sehingga Pentingnya sebuah kepuasan konsumen pada pengalaman atas sebuah merek produk sebelumnya mencerminkan kualitas dan jaminan atas merek produk itu sendiri.

 

PEMBAHASAN

Brand identity membutuhkan keputusan lebih lanjut mengenai nama,logo,warna,tagline, dan simbol sebuah merek (Kotler,2003). Aaker dan Joachimsthaler dalam Ghodeswar (2008) menyatakan identitas merek merepresentasikan bagaimana sebuah organisasi ingin menunjukkan merek mereka kepada konsumen. Gelder (2005) menyebutkan brand identity adalah suatu kumpulan dari aspek-aspek yang bertujuan untuk menyampaikan merek: latar belakang merek, prinsip-prinsip merek, tujuan dari ambisi merek itu sendiri. Elemen brand adalah upaya visual bahkan kadangkala fisik yang bertindak mengidentifikasi dan mendeferensiasi suatu produk atau jasa perusahaan. Elemen brand formal di antaranya nama,jenis logo, dan slogan bersatu membentuk identitas visual suatu brand atau perusahaan (Kotler & Pfoertsch,2008). Beberapa elemen brand identity adalah sebagai berikut:

1)      Nama Brand

2)      Logo

3)      Slogan/Tagline

4)      Kisah Merek

Menurut Keller (2008) terdapat enam kriteria utama dalam memilih brand identity:

a. Memorability: bentuk elemen merek harus dengan mudah dikenali dan dapat dengan mudah diingat kembali.

b. Meaningfulness: dapat dijabarkan dengan jelas arti dari elemen merek tersebut secara dekriptif dan juga secara persuasif tentang hubungannya terhadap sebuah produk.

c. Likable: bentuk,warna atau nama harus dirumuskan secara menarik agar dapat mendapatkan perhatian konsumen dan juga memiliki nilai estetika yang baik.

d. Transferable: sebuah elemen merek sebaiknya bisa digunakan untuk kepentingan bisnis yang lebih besar lagi. Sebuah elemen merek juga harus dapat digunakan lintas geografi.

e. Adaptability: kriteria kelima untuk elemen merek adalah memiliki lintas waktu yang fleksibel, atau dapat dengan mudah dilakukan pembaruan atau update.

f. Protectability: hasil pilihan merek tersebut harus dilindungi secara hukum maupun citra kompetitif secara internasional.

Di samping ke enam kriteria tersebut, brand identity memiliki empat dimensi seperti yang dikemukakan oleh Kotler et al. (1998) yaitu sebagai berikut:

a. Dimensi produk, yaitu hubungannya dengan atribut dan karakteristik yang diperlukan untuk kategori produk, situasi konsumsi produk itu sendiri,segmen pasar,dan daerah asal produk tersebut.

b. Dimensi organisasional, yaitu hubungannya dengan ide, merepresentasikan produsen dan penjual mengenai suatu produk.

c. Dimensi kepribadian, yaitu hubungannya dengan brand personality dan ikatan emosional antara merek dan konsumen.

d. Dimensi simbolis, yaitu nama merek,logo,slogan (tagline), dan metafora.

 

KESIMPULAN

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa identitas merek yang kuat yang dipahami dengan baik dan dialami oleh pelanggan membantu membentuk kepercayaan dan kemampuan untuk membedakan suatu merek dari competitor. Sehingga pelanggan akan melakukan pembelian berulang yang akan berpengaruh terhadap penjualanan produk di perusahaan. Hal yang harus diperhatikan adalah brand identity perusahaan. Perusahaan harus mempunyai brand identity yang setidaknya memiliki elemen-elemen, seperti nama produk, logo, slogan/tagline, dan kisah merek. Selain itu, hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan brand identity adalah kriteria utama dan dimensi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Durianto, Darmadi, Sugiarto, L. J. Budiman. 2011. Brand Equity Ten Strategi Memimpin Pasar Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ghodeswar, B.M. 2008, Building brand identity in competitive markets: a conceptual model, Journal of Product & Brand Management, Volume 17, Number 1, p 4.

Kotler. 2003, Dasar-dasar Pemasaran, Jilid 1, Edisi Kesembilan, Penerbit PT. Indeks Gramedia, Jakarta.

Kotler, P., & Pfoertsch, W. (2008). Dalam B2B brand management. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.

Keller, K. L. 1993. Conceptualizing, Measuring, and Managing Customer-Based Brand Equity. Dalam Journal of Marketing.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.