Jumat, Juni 24

Kisah Pengusaha Muda yang Inspiratif

Theresia Deka Putri
Saat remaja seusianya disibukan dengan tren busana terkini atau artis idola, Theresia Deka Putri tengah menyusuri jalan-jalan di Jawa Timur. Kala itu, di tahun 2002, Putri yang baru berusia sekitar 16 tahun telah bergabung dalam sebuah tim pemasaran dalam satu perusahaan kuliner. Ia berkeliling dari satu warung kopi, pasar dan berbagai tempat lain untuk memasarkan beragam produk kopi dan teh produksi perusahaan tersebut.Masa lalu yang penuh kerja keras di usia muda ini, ternyata berbuah manis. Kini di usianya yang ke-29 ini, Putri, begitu ia biasa dipanggil, memegang tongkat komando dari perusahaan kopi luwaknya yang beromzet miliaran rupiah, yakni CV Karya Semesta. Bahkan ketiga komoditasnya, yakni Kopi Luwak Lanang, Lanang Landep dan Gajah Hitam, berhasil menembus pasar Taiwan, Cina, Korea, Malaysia, Jepang, hingga Polandia.“Sejak SMP saya memang sudah mulai berbisnis untuk tambahan jajan,” ujar perempuan yang besar di Gresik ini ketika diwawancarai dalam sebuah talkshow di televisi swasta. Sepatu atau snack yang dibelinya, ia jual kembali ke tetangga dan teman-temannya. “Modalnya dari tabungan saya sejak TK,” katanya.Bisnis kecil-kecilannya ini berlanjut hingga SMA, yang kemudian mengantarkannya pada posisi sebagai tenaga marketing di perusahaan kuliner saat usianya masih belasan. Berkat pengalaman keluar masuk pasar dan warung yang rutin ia jalani ditambah dengan kejelian melihat kondisi pasar, Putri berhasil melihat satu peluang usaha yang prospektif, yakni bisnis kopi.“Saya melihat bahwa kopi memiliki peluang yang sangat baik. Di sepanjang jalan misalnya, dengan mudah kita bisa menemukan warung kopi,” ujarnya.Berbekal keuntungan dari hasil penjualan sebelumnya dan relasinya dengan para pemilik warung, sekitar tahun 2007, Putri kemudian memberanikan diri untuk menjual kopi komoditasnya sendiri. Bermodal Rp 200 juta, ia memulai usahanya. Ia ‘meminjam’ biji kopi yang akan dibayar belakangan, menyangrai biji kopi tersebut dengan wajan kayu dan tanah liat, menggilingnya, kemudian ia edarkan ke warung-warung kopi. “Awalnya produk yang dijual polosan tanpa merk,” ujarnya.Namun setelah usahanya mulai berkembang, ia mulai membuat merk sendiri, yang bahkan memiliki identitas berbeda dengan kopi sejenis yang berbeda di pasaran. Kopi luwak yang dipasarkannya, khusus berasal dari hewan jantan, karena itu dinamakan Luwak Lanang. Luwak jantan dipilih karena menurutnya jenis ini memliki enzim yang lebih kuat sehingga menghasilkan rasa dan aroma yang khas. Tak hanya satu, ia juga melakukan diversifikasi produk dengan meluncurkan kopi Lanang Landep yang berasal dari biji kopi berkeping tunggal (peaberry coffee), dan Gajah hitam dari bjii kopi berukuran besar.Usahanya itu kini telah beromzet miliaran, ia juga telah memiliki sebidang perkebunan kopi sendiri. Perusahaannya bisa menghasilkan hingga 1,6 ton kopi Luwak Lanang tiap tahun, dan angka ini belum termasuk produknya yang lain, yang bila digabungkan bisa mencapai puluhan ton. Ia, terus memperluas bisnisnya dengan memproduksi teh dengan merk Gambung Tea. Sejumlah penghargaan, juga telah diterimanya, termasuk penghargaan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Nicholas Kurniawan
Nicholas Kurniawan adalah sosok pekerja keras dan tak kenal lelah sejak masih kecil. Ia bahkan sudah mulai berjualan sejak usia 8 tahun, sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tak hanya sekali dua kali ia mengalami kegagalan dalam menjalankan sebuah usaha. Namun ia tidak pernah sekalipun mempunyai pikiran untuk berhenti dari berbisnis.
Meskipun masih di bangku Sekolah Dasar, namun Nicholas Kurniawan sudah banyak mencoba memulai bisnis meskipun saat itu masih dalam skala yang kecil. Ia pernah berjualan makanan dan minuman, namun tidak berlangsung lama dan bisa dikatakan gagal.
Ia kemudian memulai lagi namun berganti produk, kali ini ia menjual pakaian namun sama saja, ia mengalami kegagalan juga di bisnis ini. Meskipun sering mengalami kegagalan, namun Nicho tidak mau disebut gagal, ia lebih suka menyebutnya belum menemukan cara yang tepat untuk mencapai kesuksesan.
Dari berbagai bidang usaha yang telah ia jalani dan menemui jalan kegagalan, baru pada usia 17 tahun ia menemukan #peluang usaha yang sangat besar. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas 2 di SMA Kolese Kanisius. Ini berawal dari seorang temannya yang memberikan sepaket ikan Garra Rufa yang biasanya digunakan untuk berbagai terapi. Nah, karena ia merasa ikan tersebut tidak terlalu berguna baginya, ia pun iseng mencoba menjualnya di Forum Jual-Beli di Kaskus.
Tanpa ia kira sebelumnya, ternyata peminat ikan Garra Rufa yang ia post di Kaskus sangat banyak sekali. Hanya dalam hitungan jam, ikan yang ia tawarkan berhasil terjual dan masih banyak orang yang menawarnya. Melihat dari respon luar biasa dari pembeli, ia kemudian mempelajari lebih dalam tentang ikan ini. Kemudian ia tidak lupa bertanya pada temannya dari mana ia mendapatkan ikan tersebut. Dari situ ia mendapatkan supplier untuk ikan Garra Rufa yang ia jual kembali secara online melalui #Kaskus.
Dari mengelola bisnis jual beli ikan Garra Rufa, Nicho mampu menghasilkan 2-3 juta rupiah perbulan. Kemudian bisnisnya semakin berkembang tidak hanya fokus pada satu jenis ikan saja, namun merambah pada segala jenis ikan hias.
Berbekal ilmu yang ia dapat dari pekuliahan, ia kemudian mengembangkan bisnisnya dan membangun sebuah brand dengan nama Venus Aquatics. Dari brand yang ia bangun ini, ia mampu memperoleh pemasukan ratusan juta rupiah tiap bulannya. Dan ia mampu menjual ikan hias ke berbagai daerah di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri.
Meskipun dari aktivitas bisnis melalui brand yang ia kembangkan sudah berhasil mendapatkan pemasukan yang besar, namun Nicho tidak ingin berhenti sampai di situ saja. Bersama dengan teman kampusnya, ia ingin menularkan virus kesuksesan dalam berbisnis pada adik-adik SMA nya melalui Synergy Entrepreneur Academy. Synergy Entrepreneur Academy adalah suatu konsep inisiasi untuk memberikan workshop #startup bisnis bagi para siswa SMA. Dari sini Nicho Kurniawan berharap mampu mencetak 5 juta pengusaha baru.

Hamzah Izzulhaq
Dari latar belakang keluarga menengah, ayahnya yang seorang dosen dan ibunya sebagai guru SMP, sebenarnya secara ekonomi Hamzah bukanlah anak yang kekurangan. Namun memang gelora jiwanya untuk berbisnis tidak bisa dihentikan.
Dulu ketika masih SD ia berjualan pada teman-teman sebayanya sekedar untuk menambah uang saku atau uang untuk jajan. Hamzah sendiri mengaku mulai serius menjalankan sebuah bisnis yaitu ketika ia duduk di bangku SMA waktu itu masih kelas 1.
Saat itu ia mencoba peruntungan dengan menjadi penjual pulsa dan pasar targetnya tetap teman-teman di sekolahnya. Selain menjual pulsa, Hamzah juga menjual buku. Kebetulan pamannnya adalah seorang karyawan di sebuah toko buku besar. Ia kemudian melobi pamannya untuk menjadi distributornya dengan memberikan diskon sebesar 30%. Saat itu Hamzah mampu mendapatkan pemasukan sebesar Rp. 950.000 per semester, penghasilan yang lumayan untuk anak SMA kala itu.
Setelah beberapa kegagalan dalam bisnisnya Hamzah sedikit merenung dan melakukan interspeksi diri. Tak mau berlama-lama dalam penyesalan, ia pun kemudian mencoba berbisnis makanan. Ia pun mulai menjual snack, kue atau pizza di sekolahnya.
Keuntungan yang dapat ia peroleh saat itu adalah 5 juta rupiah. Pada pertengahan kelas 2 SMA, ia mendapatkan peluang bisnis yang lebih besar dan lebih menjanjikan saat ia mengikuti seminar dan komunitas bisnis pelajar dengan judul Community of Motivator and Entrepreneur (COME).
Di situ ia bertemu dengan mitra bisnis yang menawarkan franchise bisnis bimbel bernama Bintang Solusi Mandiri. Kebetulan ada salah satu cabang bimbel yang akan di take over dengan harga jual Rp. 175 juta.
Tentu saja angka yang cukup besar bagi seorang Hamzah Izzulhaq, namun tidak kurang akal, ia kemudian memberanikan diri meminjam uang sebesar 70 juta pada Ayahnya. Dengan modalnya sendiri 5 juta ditambah uang dari ayahnya 70 juta ia bisa mengakuisisi bimbel tersebut dengan kesepakatan kekurangan 100 juta akan ia cicil setiap semester nantinya.
Alhasil bisnis bimbelnya berkembang dengan pesat dan mampu menghasilkan nett provit 180 juta per semesternya. Ia lalu melebarkan sayap bisnisnya dibidang furnitur dengan fokus di bidang sofa bed. Ia pun melegalkan bisnis nya sejak tahun 2011 di bawah bendera CV Hamasa Indonesia dan ia sendiri sebagai direktur utamanya. Perusahaannya pada tahun 2013 mampu meraup omzet 100 juta perbulan dari keseluruhan bisnisnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar