November 27, 2022

Legalitas Sebagai Bentuk Payung Perlindungan Bisnis


 

Oleh : Ellyza Tri Septianingrum (@V23-Ellyza)

ABSTRAK

Pelegalan berarti tindakan untuk memvalidasi keberadaan suatu perbuatan atau benda. Pelegalan dalam sebuah usaha adalah salah satu bentuk upaya dalam melindungi usaha yang didirikan sehingga usaha tersebut memiliki payung hukum yang sah dalam Negara. Pelagalan sebuah usaha memiliki banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh para wirausahawan, diantaranya ialah mendapat perlindungan hokum dan mempermudah sarana promosi. Bentuk – bentuk legalitas dalam usaha memiliki beberapa jenis seperti nama, ,merek,dan juga izin usaha.

Keyword : Pelegalan, usaha, legalitas, perusahaan

Abstract

Legalization means an action to validate the existence of an act or thing. Legalization in a business is a form of effort to protect established businesses so that these businesses have a legal umbrella in the country. The implementation of a business has many benefits that can be felt by entrepreneurs, including getting legal protection and facilitating promotion facilities. Forms of legality in business have several types such as names, brands, and also business licenses.

Keywords: Legalization, business, legality, company

PENDAHULUAN

            Pernahkah kita bermimpi atau berencana mendirikan sebuah usaha hingga sebuah perusahaan ?. Pernahkah terfikir komponen apa saja yang harus disiapkan untuk mendirikan perusahaan ?. Artikel kali ini akan membahas tentang legalitas dalam sebuah perusahaan. Legalitas dapat dikatakan menjadi ujung tombak berdirinya sebuah perusahaan, karena dengan adanya legalitas, perusahaan kita dapat diakui secara sah oleh hokum.

            Mendirikan sebuah perusahaan nyatanya memerlukan cukup banyak komponen yang harus dipersiapkan, salah satunya ialah pelegalan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Legalitas mempunyai arti perihal keadaan sah atau keabsahan. Berarti legalitas adalah berbicara mengenai suatu perbuatan atau benda yang diakui keberadaannya selama tidak ada ketentuan yang mengatur.  Sehingga kata pelegalan berarti tindakan untuk memvalidasi keberadaan suatu perbuatan atau benda. Pelegalan dalam sebuah usaha adalah salah satu bentuk upaya dalam melindungi usaha yang didirikan sehingga usaha tersebut memiliki payung hukum yang sah dalam Negara. Bisnis kerap kali akan mengalami kegagalan karena terbentur akan berbagai permasalahan hukum atau tidak memperoleh izin dari Pemerintah setempat. Oleh karena itu, sebelum pemikiran tentang bisnis dilaksanakan analisis secara mendalam terhadap aspek hukum harus dilakukan agar dikemudian hari bisnis yang dilaksanakan tidak akan gagal karena terbentur permasalahan hukum dan perizinan.

Dalam suatu usaha faktor legalitas ini berwujud pada kepemilikan izin usaha yang dimiliki. Dengan mempunyai izin tersebut maka perusahan atau badan usaha tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan untuk dapat memiliki berbagai macam legalitas perusahaan, sebuah perusahaan harus melakukan sejumlah prosedur yang telah ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan peraturan yang berlaku saat itu. Legalitas itu akan mendatangkan sejumlah manfaat bagi perusahaan. Begitu pentingnya legalitas perusahaan bagi setiap kegiatan usaha maka sebaiknya harus segera dipenuhi.

PERMASALAHAN

1.      Jelaskan mengenai macam – macam bentuk hokum perusahaan

2.      Apa saja manfaat dari legalitas ?

3.      Apa saja bentuk – bentuk legalitas perusahaan ?

PEMBAHASAN

1.      Macam – macam bentuk hokum perusahaan

1.  Usaha Pribadi

Usaha pribadi adalah bentuk bisnis yang dimiliki dan di operasikan oleh hanya satu orang. Orang ini bertanggung jawab atas keseluruhan harta kekayaan perusahaan tersebut dan mempunyai hak atas keseluruhan untung dari hasil usaha. Namun orang tersebut juga mempunyai kewajiban tidak terbatas akan utang yang di tanggung oleh perusahaan apabila

2.  Persekutuan

Persekutuan (firma dan komanditer) merupakan bentuk organisasi bisnis dimana dua orang atau lebih bertindak sebagai pemilik dari perusahaan sehingga bertanggung jawab dan hak yang ada akan ditanggung oleh mereka. Firma adalah perseroan yang didirikan untuk menjalankan suatu perusahaan dibawah satu nama bersama dimana peserta-pesertanya langsung dan sendiri-sendiri bertanggung jawab sepenuhnya pada pihak ke tiga. Sedangkan Persekutuan Komanditer (CV) adalah perseroan yang didirikan untuk menjalankan suatu perusahaan yang dibentuk oleh satu orang atau lebih sebagai pihak yang bertanggung jawab renteng dan satu orang atau lebih sebagai pihak lain yang mempercayakan uangnya.

 

3.  Perseroan Terbatas

Perseroan Terbatas (PT) merupakan badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang serta peraturan pelaksanaannya. Biasanya izin pendirian PT akan diberikan sepanjang PT tersebut tidak bertentangan dengan undang-undang ketertiban umum dan kesusilaan yang ada.

 

2.      Manfaat legalitas

Ø  Bukti Kepatuhan terhadap Hukum

Dengan memiliki unsur legalitas tersebut menandakan bahwa pengusaha telah mematuhi aturan hukum yang berlaku, secara tidak langsung ia telah menegakkan budaya disiplin pada dirinya.

Ø  Sarana Perlindungan Hukum

Seorang pengusaha yang telah melegalkan perusahaannya akan terhidar dari tindakan pembongkaran atau penertiban dari pihak berwajib, sehingga memberikan rasa amandan nyaman akan keberlangsungan usahanya.

Ø  Sarana Promosi

Dengan mengurus dokumen-dokumen legalitas tersebut, secara tidak langsung pengusaha telah melakukan serangkaian promosi.

Ø  Mempermudah Pengembangan Usaha

Untuk pengembangan usaha pasti diperlukan dana yang cukup besar untuk merealisasikannya. Dana yang dibutuhkan bisa diperoleh dengan proses peminjaman kepada pihak bank, dan dokumen-dokumen legalitas ini akan menjadi salah satu persyaratan yang diajukan pihak bank (Rini, 2017)

Ø  Mempermudah Mendapatkan Suatu Proyek

Dalam suatu tender, selalu mensyaratkan bahwa perusahaan harus memiliki dokumen-dokumen hukum yang menyatakan pelegalan perusahaan tersebut. Sehingga hal ini sangat penting nantinya untuk sarana pengembangan usaha.

 

3.      Bentuk – bentuk legalitas perusahaan

A.    Nama Perusahaan

Setiap nama perusahaan harus disahkan, pengesahan dimulai sejak dibuatnya akta pendirian di depan notaris, diumumkan di Berita Negara dan didaftarkan dalam daftar perusahaan. Apabila tidak ada pihak lain yang keberatan atau menyangkal atau pemakaian nama perusahaan tersebut, itu berarti sudah ada pengakuan dan nama tersebut menjadi legal atau sah untuk dipergunakan oleh perusahaan yang mendaftarkannya. Sebaliknya bila ada pihak yang menyangkal, membantah atau tidak mengakui nama perusahaan yang didaftarkan atau tidak mengakui nama perusahaan yang didaftarkan, pihak tersebut dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Menteri Perdagangan mengenai nama yang didaftarkan dengan menyebutkan alasannya.

 

B.     Merek

Syarat dan Tata Cara Permohonan Menurut Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001:

a.      Permohonan diajukan tertulis dalam bahasa Indonesia, untuk merek bahasa asing atau di dalamnya terdapat huruf selain huruf Latin wajib disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

b.      Permohonan ditandatangani pemohon atau kuasanya dengan dilampiri bukti pembayaran biaya.

c.      Permohonan untuk dua kelas barang atau lebih dan/atau jasa dapat diajukan dalam satu permohonan yang diatur dengan peraturan pemerintah. Dalam surat permohonan harus dicantumkan:

a)     Tanggal, bulan, dan tahun;

b)     Nama lengkap, kewarganegaraan, dan alamat pemohon;

c)     Nama lengkap dan alamat kuasa apabila permohonan mengajukan merek melalui kuasa;

d)     Warna-warna apabila merek yang dimohonkan pendaftarannya menggunakna unsur- unsur warna;

e)     Nama negara dan tanggal permintaan merek yang pertama kali dalam hal permohonan diajukan dengan Hak Prioritas.

 

C.     Surat Izin Usaha Perdagangan

Tata Cara dan Prosedur Mengajukan SIUP Pemilik/penanggung jawab perusahaan harus mengisi dan menandatangani SPI dan melampirinya dengan dokumendokumen sebagai berikut:

a.    Salinan/copy Surat Pendirian Perusahaan/ Akte Notaris dan pengesahan dari Departemen Kehakiman atau instansi yang berwenang bagi perusahaan berbadan hukum.

b.    Salinan/copy Surat Pendirian Perusahaan/Akte Notaris yang terdaftar pada Pengadilan Negeri bagi perusahaan yang berbentuk persekutuan.

c.    Salinan/copy Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemerintah Daerah bila diwajibkan oleh UU Gangguan/Hinder Ordonnantie (HO) dan bagi yang tidak disyaratkan cukup dengan Surat Keterangan Tempat Usaha dari pejabat setempat. Copy KTP pemilik pemilik/penanggung jawab perusahaan.

d.     Pas foto dua lembar ukuran 3x4 dari pemilik/pengurus perusahaan.

e.     Copy bukti pembayaran Uang Jaminan dan Biaya Administrasi.

 

KESIMPULAN

            Seorang pengusaha dalam menjalankan sebuah bisnis tentunya mengharapkan bisnis tersebut dapat berjalan lancar tanpa hambatan seperti tidak memiliki izin usaha. Disinilah peran dari sebuah legalitas untuk perusahaan. Legalitas menjadikan sebuah bisnis memiliki perlindungan hokum yang sah dalam sebuah Negara. Selain itu legalitas juga memiliki manfaat lain seperti saran promosi, mempermudah pengembangan usaha, dan sebagainya. Bentuk dari sebuah legalitas hokum ialah berupa nama perusahaan, merek, dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Oleh karena itu, seorang wirausaha dianjurkan untuk memiliki legalitas karena manfaat di dalamnya cukup banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Kadek Medina Puspita Devi, A.A. Ngurah Wirasila, 2018. Legalitas Perusahaan (Badan Usaha) Persero Terbatas Dalam Kegiatan Bisnis. Dalam : file:///C:/Users/X441B/Downloads/38586-1033-77366-1-10-20180403.pdf

Wulansari, Budiastuti, 2022. Legal & Tax. Dalam : https://umb-post.mercubuana.ac.id/mod/resource/view.php?id=453881

Bisnis Internasional Sebagai Upaya Pengembangan Usaha

 

Oleh : Ellyza Tri Septianingrum (@V23-Ellyza)

Pendahuluan

Kata “bisnis” berasal dari bahasa Inggris yaitu “business”, yang diambil dari kata “busy”, yang berarti sibuk. Jadi bila melihat pola bahasanya, kata “business” bisa diartikan sebagai kesibukan. Pengertian tersebut mungkin kurang relevan bila digunakan sekarang ini karena “bisnis” diasosiasikan sebagai aktivitas ekonomi. Sedangkan kata internasional yang diambil dari bahasa Inggris “international” artinya tentang bangsa atau negara di seluruh dunia; antar bangsa. Jadi bisnis internasional secara bahasa adalah aktivitas ekonomi yang dilakukan antar bangsa.

Donald A Ball (2004) mendefinisikan bisnis internasional sebagai bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati batas-batas negara. Definisi ini tidak hanya termasuk perdagangan internasional dan perusahaan manufaktur di luar negeri tetapi juga industri jasa yang berkembang di bidang-bidang seperti transportasi, pariwisata, periklanan, konstruksi, perdagangan eceran, perdagangan besar dan komunikasi massa. Beberapa definisi lain yang terkait dengan bisnis internasional antara lain: “Bisnis luar negeri berarti operasi-operasi domestik di dalam sebuah negara asing”. Perusahaan multidomestik (multidomestic company-MDC) adalah sebuah organisasi dengan cabang-cabang di banyak negara, yang masing-masing cabang merumuskan strategi bisnisnya sendiri berdasarkan perbedaan-perbedaan pasar yang dipahami. Perusahaan global (global company-GC) adalah organisasi yang berupaya untuk melakukan dan memadukan operasi-operasi di seluruh dunia dalam bidang fungsional. Perusahaan internasional (international company-IC) merujuk pada perusahaan-perusahaan global maupun multidomestik.

Permasalahan

Ø  Apa itu pengertian bisnis internasional?

Ø  Apa tujuan dan manfaat dari bisnis internasional?

Ø  Apa saja tahapaan dalam memasuki bisnis internasional?

Ø  Apa saja hambatan dalam memasuki bisnis internasional?

Pembahasan

Pengertian Bisnis Internasional

Bisnis Internasioanl adalah bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati batas-batas negara. Definisi ini tidak hanya termasuk perdagangan internasional dan pemanufakturan di luar negeri, tetapi juga industri jasa yang berkembang di bidang- bidang seperti transportasi, pariwisata, perbankan, periklanan, konstruksi, perdagangan eceran, perdagangan besar dan komunikasi massa.

Sedangkan menurut Hadi (2010) bisnis internasional adalah suatu studi tentang transaksi ekonomi yang meliputi perdagangan internasional (ekspor dan impor) dan foreign investment (direct maupun indirect) yang dilakukan oleh individu dan perusahaan atau organisasi dengan tujuan mendapatkan keuntungan dan manfaat tertentu

 

Tujuan dan Manfaat Dari Bisnis Internasional

Perdagangan merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan perekonomian suatu negara, termasuk di dalamnya adalah bisnis internasional. Seiring majunya teknologi, perdagangan internasional juga semakin pesat dilakukan karena semakin mudahnya proses produksi dan transaksi. Adapun tujuan adanya perdagangan internasional sendiri adalah untuk memenuhi segala kebutuhan dalam negeri, yang mana di dalam negeri itu sendiri kebutuhan tersebut belum bisa terpenuhi karena adanya keterbatasan.

Selain itu, beragam manfaat juga bisa didapat dengan adanya bisnis internasional, baik bagi perusahaan sendiri maupun bagi negara secara luas. Manfaat bagi Perusahaan Bagi perusahaan, pengembangan menjadi bisnis internasional biasanya bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Bisnis internasional dapat bermanfaat untuk meluaskan pasar bagi suatu perusahaan. Hal ini membuat produksi barang bisa dilakukan secara lebih efisien, tanpa takut lagi jumlah hasil produksinya melebihi batas. Selain itu, dengan adanya perdagangan internasional, perusahaan juga dapat menjalankan beberapa mesin produksinya secara maksimal. Dengan begitu, meningkatnya produktivitas tentu mampu meningkatkan pendapatan dan menghasilkan keuntungan lebih banyak.

Tahapan Dalam Memasuki Bisnis Internasional

Perusahaan yang memasuki bisnis internasional pada umumnya terlibat atau melibatkan diri secara bertahap dari tahap yang paling sederhana yang tidak mengandung resiko sampai dengan tahap yang paling kompleks dan mengandung risiko bisnis yang sangat tinggi. Adapun tahap tersebut secara kronologis adalah sebagai berikut :

– Ekspor Insidentil

Dalam rangka untuk masuk ke dalam dunia bisnis Internasional suatu perusahaan pada umumnya dimulai dari suatu keterlibatan yang paling awal yaitu dengan melakukan ekspor insidentil. Dalam tahap awal ini pada umumnya terjadi pada saat adanya kedatangan orang asing di negeri kita kemudian ada yang membeli barang-barang kemudian kita harus mengirimkannya ke negeri asing itu.

– Ekspor Aktif

Tahap terdahulu itu kemudian dapat berkembang terus dan kemudian terjalinlah hubungan bisnis yang rutin dan kontinyu dan bahkan transaksi tersebut makin lama akan semakin aktif. Keaktifan hubungan transaksi bisnis tersebut ditandai pada umumnya dengan semakin berkembangnya jumlah maupun jenis komoditi perdagangan Internasional tersebut. Dalam tahap aktif ini perusahaan negeri sendiri mulai aktif untuk melaksanakan manajemen atas transaksi itu. Tidak seperti tahap awal di mana pengusaha hanya bertindak pasif. Oleh karena itu dalam tahap ini sering pula disebut sebagai tahap “ekspor aktif”, sedangkan tahap pertama tadi disebut tahap pembelian atau “Purchasing”.

– Penjualan Lisensi

Tahap berikutnya adalah tahap penjualan Iisensi. Dalam tahap ini Negara pendatang menjual lisensi atau merek dari produknya kepada negara penerima. Dalam tahap yang dijual adalah hanya merek atau lisensinya saja, sehingga negara penerima dapat melakukan manajemen yang cukup luas terhadap pemasaran maupun proses produksinya termasuk bahan baku serta peralatannya. Untuk keperluan pemakaian lisensi tersebut maka perusahaan dan negara penerima harus membayar fee atas lisensi itu kepada perusahaan asing tersebut.

– Franchising

Tahap berikutnya merupakan tahap yang lebih aktif lagi yaitu perusahaan di suatu negara menjual tidak hanya lisensi atau merek dagangnya saja akan tetapi lengkap dengan segala atributnya termasuk peralatan, proses produksi, resep-resep campuran proses produksinya, pengendalian mutunya, pengawasan mutu bahan baku maupun barang jadinya, serta bentuk pelayanannya. Cara ini sering dikenal sebagai bentuk “Franchising”. Dalam hal bentuk Franchise ini maka perusahaan yang menerima disebut sebagai “Franchisee” sedangkan perusahaan pemberi disebut sebagai “Franchisor”. Bentuk ini pada umumnya berhasil bagi jenis usaha tertentu misalnya makanan, restoran, supermarket, fitness centre dan sebagainya.

– Pemasaran di Luar Negeri

Tahap berikutnya adalah bentuk Pemasaran di Luar negeri. Bentuk ini akan memerlukan intensitas manajemen serta keterlibatan yang lebih tinggi karena perusahaan pendatang (Host Country) harus aktif dan mandiri untuk melakukan manajemen pemasaran bagi produknya itu di negeri asing (HomeCountry). Pengusaha pendatang yang merupakan orang asing harus mampu untuk mengetahui perilaku (segmentasi) di negeri penerima itu sehingga dapat dilakukan program-program pemasaran yang efektif.

– Produksi dan Pemasaran di Luar Negeri

Tahap yang terakhir adalah tahap yang paling intensif dalam melibatkan diri pada bisnis internasional yaitu tahap “Produksi dan Pemasaran di Luar Negeri”. Tahap ini juga disebut sebagai “Total International Business”. Bentuk inilah yang menimbulkan MNC (Multy National Corporation) yaitu Perusahaan Multi Nasional. Dalam tahap ini perusahaan asing datang dan mendirikan perusahaan di negeri asing dengan segala modalnya, kemudian memproduksi di negeri itu, lalu menjuaI hasil produksinya itu di negeri itu juga. Bentuk ini memiliki unsur positif bagi negara yang sedang berkembang karena dalam bentuk ini negara penerima tidak perlu menyediakan modal yang sangat banyak untuk mendirikan pabrik tersebut.

Hambatan Dalam Memasuki Bisnis Internasional

Melaksanakan bisnis internasional tentu saja akan lebih banyak memiliki hambatan ketimbang di pasar domestik. Negara lain tentu saja akan memiliki berbagai kepentingan yang sering kali menghambat terlaksananya transaksi bisnis internasional. Disamping itu kebiasaan atau budaya negara lain tentu saja akan berbeda dengan negeri sendiri. Oleh karena itu maka terdapat beberapa hambatan dalam bisnis internasional yaitu :

 

1.      Batasan perdagangan dan tarif bea masuk : Tarif bea masuk adalah pajak yang dikenakan terhadap barang yang diperdagangkan baik barang impor maupun ekspor.

2.      Perbedaan bahasa, sosial budaya/cultural : Perbedaan dalam hal bahasa seringkali merupakan hambatan bagi kelancaran bisnis Internasional , hal ini disebabkan karena bahasa adalah merupakan alat komunikasi yang vital baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.

3.      Kondisi politik dan hokum/perundang-undangan : Hubungan politik yang kurang baik antara satu negara dengan negara yang lain juga akan mengakibatkan terbatasnya hubungan bisnis dari kedua negara tersebut.Ketentuan hukum ataupun perundang-undang yang berlaku di suatu negara kadang juga membatasi berlangsungnya bisnis internasional.

4.      Hambatan operasional : Hambatan perdagangan atau bisnis internasional yang lain adalah berupa masalah operasional yakni transportasi atau pengangkutan barang yang diperdagangkan tersebut dari negara yang satu ke negara yang lain.

            a). Peraturan atau kebijkan Negara lain, dalam bentuk proteksi yaitu: usaha melindungi      industry-industri di dalam negri

            b). Perbedaan tingkat upah

Kesimpulan

Bisnis Internasioanl adalah bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati batas-batas negara. Definisi ini tidak hanya termasuk perdagangan internasional dan pemanufakturan di luar negeri, tetapi juga industri jasa yang berkembang di bidang- bidang seperti transportasi, pariwisata, perbankan, periklanan, konstruksi, perdagangan eceran, perdagangan besar dan komunikasi massa. Bisnis internasional memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negri yang tidak bisa di produksi sendiri. Bisnis internasional juga memiliki manfaat yaitu dapat meluaskan pasar dari produk perusahaan tersebut. Bisnis beberapa tahapan dalam memulai bisnis internasioanl diantaranya adalah expor insidential, expor aktif, franchising, dll. Bisnis internasiaonal juga memiliki beberapa hambatan seperti perbedaan bahasa, tarif bea masuk, regulasi hukum, dll.

Daftar Pustaka

Ø  Hidayat, Atep Afia. 2022. Strategies For Going Global and Barrier to International Trade. Dalam : https://umb-post.mercubuana.ac.id/mod/resource/view.php?id=410630

Ø  Maharani, Estu. 2018. Pendahuluan, Pengertian Dan Ruang Lingkup Bisnis Internasional. Dalam : http://repository.upi-yai.ac.id/582/3/DIKTAT%20BHN%20AJAR%20BI_BKD%20Estu%20Agustus%202020.pdf

 

Marketing 4.0: Meningkatkan Keterlibatan Merek Konsumen Melalui Analisis Big Data



Oleh : Ilham Alif Rahman H (@V01-Ilham)

PENGANTAR

Perusahaan baik di sektor publik maupun swasta terus mengeksplorasi tidak hanya cara-cara baru untuk mempengaruhi keputusan konsumen individu, tetapi juga untuk mencari hati dan pikiran konsumen. Sepuluh tahun yang lalu, konteks baru menjadi jelas, di mana tren sosial dan ekonomi yang muncul semakin terlihat menyoroti kebutuhan akan bentuk kehidupan, penciptaan, dan konsumsi alternatif yang lebih berkelanjutan. Dalam dekade terakhir ini kebutuhan ini menjadi lebih dikenal secara luas, dan teknologi di layanan konsumen membuatnya semakin mungkin.

Konsumen baru menunjukkan perilaku pembelian dan konsumsi yang bertanggung jawab secara sosial. Karena ini adalah konsumen yang menuntut dan berpengetahuan, ia memiliki kekuatan lebih terhadap perusahaan, terkadang dapat berpartisipasi secara aktif dalam pengembangan proses bisnis tertentu. Dalam konteks ini, perusahaan harus mempertimbangkan kembali bagaimana mereka menarik bagi klien mereka. Mengembangkan formula baru untuk mencapai partisipasi total dan aktif mereka, serta keterlibatan emosional mereka, yang penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Kuncinya mungkin dalam pendekatan Pemasaran baru: Pemasaran 4.0. Pergeseran ini sangat penting bagi perusahaan ritel, yang setelah mereka pindah online, telah meningkatkan pemahaman konsumen mereka (Corstjens dan Lal, 2012). Pengecer online tidak hanya dapat melacak apa yang dibeli pelanggan, tetapi juga apa lagi yang mereka lihat; bagaimana mereka menavigasi melalui situs; seberapa besar mereka dipengaruhi oleh promosi, ulasan, dan tata letak halaman; dan kesamaan antar individu dan kelompok (McAfee et al., 2012). Semua arus informasi ini meningkatkan kekuatan perusahaan, jika memiliki alat yang tepat dan juga tahu cara menggunakannya.

Sejalan dengan perubahan ini, bab ini berusaha menawarkan bukti mengenai cara yang digunakan perusahaan untuk meningkatkan hubungan mereka dengan konsumen, menggunakan pemasaran data besar sebagai cara untuk mengukur, mengetahui, dan memahami kebutuhan dan perilaku konsumen baru. Dengan pemikiran ini, kami merevisi evolusi konsep pemasaran dari Marketing 1.0 ke Marketing 3.0. Kemudian, kami akan menghadirkan konsep Marketing 4.0, sebagai evolusi dari Marketing 3.0 ketika digunakan secara intensif dengan teknologi. Terakhir, setelah didefinisikan sebagai Pemasaran 4.0: pemasaran data besar, kami menganalisis filosofi dan perubahan strategis yang ditunjukkan oleh perusahaan ritel untuk melayani konsumen mereka dengan lebih baik. Bab ini diakhiri dengan beberapa kesimpulan kunci dan rekomendasi manajerial untuk perusahaan ritel. Sebagai contoh, perusahaan harus tahu bagaimana penggunaan pemasaran data besar memiliki potensi untuk mengubah bisnis tradisional dan juga ritel, menawarkan mereka peluang yang lebih besar untuk keunggulan kompetitif. Manajer dapat mengukur dan karenanya mengelola lebih tepat daripada sebelumnya. Selain itu, mereka dapat membuat prediksi yang lebih baik dan keputusan yang lebih cerdas, serta menargetkan intervensi yang lebih efektif, di area yang sejauh ini didominasi oleh intuisi dan intuisi daripada data dan ketelitian. Tetapi seperti halnya perubahan besar lainnya dalam bisnis, tantangan untuk menjadi organisasi yang mendukung data besar bisa sangat besar dan membutuhkan desain dan kepemimpinan yang benar. mereka dapat membuat prediksi yang lebih baik dan keputusan yang lebih cerdas, serta menargetkan intervensi yang lebih efektif, di area yang sejauh ini didominasi oleh intuisi dan intuisi daripada oleh data dan ketelitian. Tetapi seperti halnya perubahan besar lainnya dalam bisnis, tantangan untuk menjadi organisasi yang mendukung data besar bisa sangat besar dan membutuhkan desain dan kepemimpinan yang benar. mereka dapat membuat prediksi yang lebih baik dan keputusan yang lebih cerdas, serta menargetkan intervensi yang lebih efektif, di area yang sejauh ini didominasi oleh intuisi dan intuisi daripada oleh data dan ketelitian. Tetapi seperti halnya perubahan besar lainnya dalam bisnis, tantangan untuk menjadi organisasi yang mendukung data besar bisa sangat besar dan membutuhkan desain dan kepemimpinan yang benar.

 

LATAR BELAKANG: KONSUMEN ETIS DAN pendekatan pemasaran BARU

 

Selama satu dekade terakhir, dunia telah melalui periode turbulensi yang cepat dan tidak terduga. Krisis keuangan telah meningkatkan tingkat kemiskinan dan pengangguran, sehingga mengurangi tingkat pertumbuhan negara-negara maju. Sementara itu, kekuatan ekonomi telah bergeser ke negara-negara di Timur, yang mengalami tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Selain itu, perubahan iklim dan meningkatnya polusi memaksa negara-negara untuk membatasi emisi karbon dioksida ke atmosfer, yang juga membebani bisnis dengan beban yang lebih tinggi. Perubahan ini memiliki dampak besar pada konteks ekonomi dan sosial. Tetapi efeknya telah ditingkatkan oleh dua faktor lain yaitu: perkembangan teknologi baru dan proses globalisasi.

Kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar pada konsumen, pasar dan masyarakat pada umumnya. Sejak akhir abad terakhir, banyak teknologi informasi baru telah diperkenalkan ke dalam pemasaran dan dikembangkan lebih lanjut menjadi apa yang dianggap sebagai gelombang baru teknologi pemasaran.

 

Teknologi

Seiring berkembangnya teknologi, konsumen dan terutama bisnis dan organisasi lain mengadopsinya untuk meningkatkan aktivitas mereka. Awalnya penerapan teknologi untuk kegiatan komersial dalam jaringan ini dikenal sebagai pemasaran elektronik atau e-marketing, berdasarkan penggunaan TIK di bidang pemasaran. Tetapi penggunaan ini telah melampaui sekadar pemasaran, merevolusi cara informasi diperoleh dan digunakan selama proses pengambilan keputusan bisnis.

Secara tradisional, perusahaan menanamkan aplikasi teknologi yang kompleks, yang mengumpulkan, menganalisis, menyimpan, dan mendistribusikan informasi, yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan: sistem, yang pada akhirnya merupakan jantung dari sistem intelijen organisasi (Barry et al., 2016). Tetapi sumber dan ukuran data yang tersedia berubah, Semakin banyak perusahaan yang dapat menganalisis dengan cepat sejumlah besar dan beragam data yang mereka dan konsumen mereka hasilkan. Sebagai contoh, perhatikan bahwa pada tahun 2012, sekitar 2,5 exabyte data dibuat setiap hari, dan jumlah itu berlipat ganda setiap 40 bulan atau lebih. Lebih banyak data berjalan di Internet setiap detik daripada yang disimpan di seluruh Internet hanya 20 tahun yang lalu. Ini memberi perusahaan peluang untuk bekerja dengan banyak petaby data dalam satu kumpulan data—dan bukan hanya dari Internet.

Sebagian besar perubahan ini disebabkan oleh konektivitas, interaktivitas, dan kapasitas pemrosesan informasi, sehingga memungkinkan penggunaan teknologi. Dua karakteristik pertama lebih khas Teknologi Informasi dan komunikasi, dan khususnya Internet, dan yang ketiga lebih cocok untuk jenis perangkat lunak tertentu yang dirancang untuk pengumpulan, pemrosesan, dan analisis data.

Konektivitas dan Interaktivitas: pertumbuhan Web 2.0 dan media sosial

Orang dan organisasi lebih saling terhubung dari sebelumnya. Hal ini memungkinkan mereka untuk berbagi ruang virtual dengan jangkauan global untuk memperoleh informasi, untuk berkomunikasi, berinteraksi dan bertukar informasi, pengetahuan atau produk lainnya, sehingga mengatasi hambatan ruang dan waktu (Fortis, 2015; Tuban et al., 2015). Di sisi lain, tingkat interaktivitas yang tinggi yang dimungkinkan melalui komunikasi dengan teknologi ini memungkinkan berbagai aktor yang terlibat dalam proses penciptaan nilai - khususnya konsumen - untuk mengembangkan peran yang lebih aktif dalam hubungan mereka dengan perusahaan ( McAfee, 2009). Sejalan dengan itu, Copeland dan Malik (2005) menunjukkan bahwa teknologi baru memungkinkan konektivitas dan interaktivitas individu dan kelompok, serta memfasilitasi penyebaran pertukaran informasi dari mulut ke mulut.

Teknologi gelombang baru memungkinkan orang untuk berubah dari konsumen menjadi prosumer. Teknologi, khususnya web 2.0 dan media sosial telah menjadi alat yang memungkinkan individu untuk mengekspresikan diri dan berkolaborasi dengan orang lain. Dalam situasi ini, orang dapat menciptakan ide-ide baru, menghibur diri sendiri dan mengkonsumsinya. Pada titik ini, kami menganggap perlu untuk mempertimbangkan perbedaan antara dua istilah utama yang digunakan untuk menggambarkan teknologi gelombang baru ini: media sosial dan web 2.0. Media sosial adalah istilah yang luas dan mencakup banyak platform komunikasi sosial online yang berbeda. Platform komunikasi media sosial termasuk situs jejaring sosial (mis. Myspace, Facebook, LinkedIn, dll.), Wiki (mis. Wikipedia), situs berbagi Multimedia (mis. YouTube dan Flickr), situs Bookmarking (mis. Del.icio.us dan Digg), Virtual dunia (misalnya, Second Life), dan Peringkat situs (misalnya Yelp) (Kaplan dan Haenlein, 2010). Platform media sosial terkenal yang digunakan untuk menghasilkan, berbagi, dan menyempurnakan informasi ini secara kolektif diberi label sebagai Web 2.0 (McAfee, 2006).

Media sosial dan Web 2.0 sering digunakan secara bergantian. Faktanya, media sosial dan web 2.0 adalah dua istilah dan konsep yang berbeda. Web 2.0 terkait dengan aplikasi perangkat lunak online; itu adalah teknologi berbasis Internet yang memungkinkan pengguna non-teknis di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam pembuatan dan penyebaran informasi. Sedangkan media sosial mengacu pada aspek sosial dari penggunaan aplikasi web 2.0. Kegunaan sosial tersebut adalah partisipasi, keterbukaan, interaksi, percakapan, komunitas dan keterhubungan (SpannerWorks, 2007). Aspek sosial ini didasarkan pada empat “prinsip keterbukaan (standar dan keterlibatan eksternal), produksi rekan, berbagi, dan bertindak secara global”. (Tapscott dan Williams, 2007). Alat media sosial menyediakan platform umum bagi orang-orang di seluruh negara dan budaya untuk menghasilkan dan berbagi pengetahuan, informasi, media, ide, pengalaman, pendapat, dan sebagainya. Karakteristik unik media sosial yang membedakannya dari media tradisional dan online adalah: (1) Media sosial dibuat oleh pengguna dan mereka memiliki kontrol lebih besar atas pembuatan dan pemanfaatan kontennya. Alat media sosial tidak hanya memungkinkan pengguna untuk menghasilkan, mempublikasikan, dan berbagi konten, tetapi juga memungkinkan mereka untuk mengkritik dan memberi peringkat pada konten online (Dickey dan Lewis, 2011). Selain itu, media sosial ada di mana-mana. Ini memberikan kesempatan kepada banyak orang di seluruh dunia dan lintas budaya untuk berinteraksi satu sama lain dan membentuk komunitas global berdasarkan pengalaman dan minat bersama (Edwards, 2011). (1) Media sosial dihasilkan oleh pengguna dan mereka memiliki kontrol lebih besar atas pembuatan dan pemanfaatan kontennya. Alat media sosial tidak hanya memungkinkan pengguna untuk menghasilkan, mempublikasikan, dan berbagi konten, tetapi juga memungkinkan mereka untuk mengkritik dan memberi peringkat pada konten online (Dickey dan Lewis, 2011). Selain itu, media sosial ada di mana-mana. Ini memberikan kesempatan kepada banyak orang di seluruh dunia dan lintas budaya untuk berinteraksi satu sama lain dan membentuk komunitas global berdasarkan pengalaman dan minat bersama (Edwards, 2011). (1) Media sosial dihasilkan oleh pengguna dan mereka memiliki kontrol lebih besar atas pembuatan dan pemanfaatan kontennya. Alat media sosial tidak hanya memungkinkan pengguna untuk menghasilkan, mempublikasikan, dan berbagi konten, tetapi juga memungkinkan mereka untuk mengkritik dan memberi peringkat pada konten online (Dickey dan Lewis, 2011). Selain itu, media sosial ada di mana-mana. Ini memberikan kesempatan kepada banyak orang di seluruh dunia dan lintas budaya untuk berinteraksi satu sama lain dan membentuk komunitas global berdasarkan pengalaman dan minat bersama (Edwards, 2011).

 

Mengakses informasi: langkah pertama menuju data besar

Teknologi memungkinkan organisasi untuk mengakses dan mengelola dengan cepat sejumlah besar informasi yang merupakan kunci untuk proses pengambilan keputusan mereka (McAfee, 2006). Dalam hal ini, banyak perusahaan yang telah memasang sistem informasi untuk menangkap pesanan, memproses dan mengkomunikasikan informasi secara efektif dan efisien. Beberapa sistem, seperti CRM, memungkinkan perusahaan untuk memantau dan mengukur kontak dengan pelanggan mereka. Sistem CRM menyimpan data pelanggan dan dengan demikian mengotomatiskan koneksi, sesuai dengan informasi yang dimilikinya. Nilai ini ditambahkan ke penawaran yang dibuat oleh perusahaan, untuk membedakan merek dari pesaingnya dan meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan kepada pelanggan.

Sistem lain seperti ERP (Enterprise Resource Planning) memberikan informasi integral, memfasilitasi aliran informasi antar departemen atau aktivitas perusahaan. ERP didefinisikan sebagai perangkat lunak manajemen bisnis, rangkaian aplikasi terintegrasi, yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan menafsirkan data dari berbagai aktivitas bisnis. Ini termasuk: perencanaan produk, dan pembelian bahan; manufaktur atau pengiriman layanan; pemasaran dan penjualan; manajemen persediaan; dan pengiriman dan pembayaran. Sistem ini memberikan pandangan terintegrasi dari proses bisnis inti, seringkali secara real-time, menggunakan database umum yang dikelola oleh sistem manajemen database. Aplikasi yang membentuk sistem berbagi data di berbagai departemen (manufaktur, pembelian, penjualan, akuntansi, dll.) yang menyediakan data. ERP memfasilitasi aliran informasi antara semua fungsi bisnis, dan mengelola koneksi ke pemangku kepentingan luar. Namun, seperti yang kita lihat di bagian selanjutnya, untuk perusahaan online kemajuan teknologi utama di bidang pemasaran, adalah munculnya perangkat lunak yang secara real-time memungkinkan penangkapan dan analisis informasi yang dihasilkan oleh perilaku konsumen online (Shankar et al. ., 2016).

Singkatnya, kita dapat melihat bahwa teknologi memungkinkan untuk berhubungan langsung dengan klien, serta pemasok dan mitra. Perusahaan bahkan dapat menggunakan teknologi untuk membangun hubungan klien langsung dan kolaboratif. Tapi, seperti yang akan kita lihat, teknologi juga menyiratkan hilangnya kekuatan perusahaan sehubungan dengan konsumen. Dengan demikian, peran konsumen berubah karena penggunaan teknologi baru secara intensif. Konsumen tidak lagi individu yang terisolasi: melainkan, mereka terhubung satu sama lain. Dalam mengambil keputusan, mereka tidak lagi tidak sadar tetapi terinformasi. Mereka tidak lagi pasif tetapi aktif dalam memberikan umpan balik yang bermanfaat bagi perusahaan (Prahalad dan Ramaswamy, 2004).

 

Proses globalisasi

Globalisasi adalah elemen kedua yang mendorong era sosial dan ekonomi baru. Kemajuan dalam transportasi, dan telekomunikasi merupakan faktor utama dalam mendorong globalisasi. Tetapi juga, infrastruktur, seperti Internet, dan telepon seluler, telah menjadi penting dalam globalisasi, menghasilkan saling ketergantungan lebih lanjut dari kegiatan ekonomi dan budaya. Perubahan ini mendorong integrasi internasional yang timbul dari pertukaran pandangan dunia, produk, ide, dan aspek budaya lainnya. Dengan demikian, tanpa ragu kita dapat mengatakan bahwa globalisasi sangat dipengaruhi oleh teknologi, karena teknologi informasi memungkinkan pertukaran informasi antar negara, perusahaan, dan individu di seluruh dunia (Beck, 2015).

Seperti teknologi, globalisasi menjangkau semua orang di seluruh dunia dan menciptakan ekonomi yang saling terkait. Tapi tidak seperti teknologi, globalisasi adalah kekuatan yang merangsang ketidakseimbangan ekonomi dan sosial dan menciptakan paradoks yang berdampak langsung pada perilaku perusahaan dan individu. Globalisasi telah membuat dunia menjadi tempat yang berbeda. Hal ini penting untuk diketahui oleh pemasar saat ini karena mereka menghadapi kebutuhan untuk merancang strategi yang efektif yang akan mempromosikan produk dan layanan mereka di pasar luar negeri, selain di negara asal mereka. Penting untuk memahami kebutuhan konsumen di negara-negara target untuk menciptakan bauran pemasaran global di mana produk, harga, tempat dan promosi diarahkan untuk kebutuhan negara tertentu.

Globalisasi juga telah meningkatkan persaingan pasar. Perusahaan harus menyadari bahwa ada pesaing baru yang muncul setiap saat - beberapa di antaranya mungkin internasional. Salah satu manfaat dari globalisasi ini adalah peningkatan variasi produk bagi konsumen. Internet telah membuka peluang baru untuk browsing dari rumah, kantor atau kereta api, dengan produk yang tersedia di seluruh dunia (Dunn, 2015). Saat ini, konsumen memiliki lebih banyak pilihan pembelian daripada sebelumnya karena globalisasi. Hambatan alami waktu telah berkurang, dan biaya pemindahan informasi, orang, barang dan modal di seluruh dunia telah berkurang secara dramatis. Pasar sekarang memiliki cakupan global dan mencakup berbagai macam barang dan jasa. Konsumen menggunakan teknologi untuk menjangkau dunia melalui Internet dengan mengumpulkan dan mengirim informasi, serta membeli barang dan jasa.

Globalisasi juga telah sangat mengubah cara orang berpikir, dan perusahaan harus mempertimbangkan hal ini. Dengan demikian, orang mencari rasa kesinambungan dalam hidup mereka, alih-alih menjadi cemas dan membawa nilai-nilai yang saling bertentangan dan saling terkait dalam pikiran mereka. Orang-orang mencari hubungan dengan orang lain dan mulai berbaur dengan komunitas dan masyarakat lokal mereka. Namun rasa arah juga penting di saat paradoks ketika orang mulai bersatu untuk mendukung tujuan sosial atau mulai memiliki kesadaran dan kepedulian yang lebih besar tentang kemiskinan, ketidakadilan, kelestarian lingkungan, tanggung jawab masyarakat dan tujuan sosial. Terakhir, efek globalisasi lainnya adalah bahwa perusahaan kini bersaing untuk dilihat sebagai penyedia kontinuitas, koneksi, dan arah. Menurut Holt (2004), perusahaan, dan terutama merek mereka, berusaha untuk mengatasi masalah sosial,

 

Profil konsumen baru: mengapa perusahaan membutuhkan konsep pemasaran baru

Selama dekade terakhir, perubahan-perubahan yang disebutkan di atas, khususnya terlihat di masyarakat Barat, telah mendukung perubahan dalam tren pembelian dan konsumsi individu. Di negara-negara seperti Cina, India, dan Brasil, tingkat pertumbuhan PDB yang tinggi memungkinkan berkembangnya kelas menengah yang kuat, yang ditandai dengan perilaku konsumen yang nyata, sementara di Eropa dan AS model konsumsi ini sangat dipertanyakan (Majfud, 2009). Konsumerisme melibatkan akumulasi, pembelian atau konsumsi barang dan jasa yang dianggap tidak penting. Hal yang sama dianggap sebagai konsekuensi langsung dari model sosial dan ekonomi yang mempromosikan perolehan kekayaan sebagai tanda status sosial dan prestise. Dalam beberapa tahun terakhir, konsumerisme telah dilihat sebagai salah satu penyebab krisis ekonomi, sosial dan lingkungan yang kita alami.

Sebagai tanggapan, muncul tren sosial dan budaya baru yang mendukung pembangunan berkelanjutan, serta konsumsi lingkungan dan bertanggung jawab. Di pasar, dampaknya dibuktikan dengan (a) pengembangan model bisnis baru di perusahaan; (b) kepedulian yang kuat terhadap masyarakat mengenai tanggung jawab organisasi sebagai agen sosial, dan (c) munculnya model konsumen baru.

Konsumen baru, juga disebut konsumen etis atau konsumen hijau, dicirikan oleh tanggung jawab: artinya, mereka peduli untuk mengkonsumsi apa yang mereka butuhkan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab (Boztepe, 2016). Untuk konsumen seperti itu, pembelian juga melibatkan berbagai proses ekonomi, sosial dan lingkungan. Ini adalah tipe individu yang, pada saat membeli, mempertanyakan apa yang bisa dihabiskan dan apa yang tidak sambil menilai kemampuan finansial mereka sendiri untuk membeli (Polonsky et al., 2016). Selain itu, dalam kaitannya dengan produk atau layanan, konsumen ini mengambil keputusan untuk membeli tidak hanya berdasarkan harga atau kualitas (Bostman, 2010), mereka juga berusaha untuk melindungi dan menghormati lingkungan dan peduli dengan fakta bahwa perusahaan manufaktur atau penyedia layanan menghormati hak asasi manusia dan prinsip keadilan sosial. Sebagai contoh, Biwas dan Roy (2015) menunjukkan bahwa konsumen ramah lingkungan akan mencoba melindungi lingkungan dengan berbagai cara (misalnya mendaur ulang, memeriksa apakah kemasan terbuat dari bahan daur ulang, membeli produk ramah lingkungan, menghemat energi, dll.). Menurut Laroche et al., (2001), perilaku semacam ini diharapkan pada konsumen etis ini. Tetapi konsumen tidak selalu mendasarkan keputusan pembeliannya pada sikap mereka terhadap lingkungan, meskipun sikap tersebut mungkin memiliki pengaruh yang cukup kuat. Dalam pengertian ini, Strandvik et al., (2013) mencatat bahwa konsumen etis menolak beberapa merek, terutama merek yang memfokuskan citra mereka pada aspek positif dari konsumsi. Penghindaran merek telah didefinisikan sebagai penolakan atau pengabaian merek yang disengaja (Lee et al., 2009), yang dapat menghasilkan berbagai tanggapan yang berbeda,

Akses ke teknologi telah mendukung munculnya konsumen tersebut. TIK, khususnya Internet, memungkinkan mereka untuk menyediakan sarana untuk mencari informasi, tetapi juga untuk berkomunikasi dan menyebarluaskan pendapat dan pengalaman mereka. Konsumen yang menuntut dan berpengetahuan ini tidak terbatas pada pencarian informasi online tentang produk dan perusahaan yang menjualnya. Mereka juga memiliki kapasitas dan kekuatan yang cukup untuk didengar dan menuntut jenis perilaku tertentu dari perusahaan (Mourali dan Yang, 2013). Faktanya, laporan yang disiapkan oleh Insider pada tahun 2012 mencatat bahwa, konsumen memiliki kekuatan lebih dari sebelumnya dan sangat penting bagi bisnis. “Kita hidup di dunia di mana semuanya hanya dengan sekali klik. Internet telah mengkondisikan kita untuk mengharapkan informasi dan layanan sesuai permintaan kapan saja, di mana saja — dan seringkali gratis. Ini juga memberi kami kekuatan untuk segera membagikan pengalaman kami, dengan satu sentuhan tombol. Konsumen, bukan merek, mengontrol interaksi. Sebagai konsumen, kami tidak lagi membutuhkan pengiklan untuk berbicara langsung dengan kami; melalui media sosial dan ponsel kami, kami dapat langsung berbagi rekomendasi dan konten dengan teman-teman kami. Kami juga dapat beralih ke pendapat orang asing melalui peringkat dan ulasan perdagangan sosial untuk membantu kami menentukan produk dan layanan mana yang kami beli. Merek perlu bekerja lebih keras untuk membuat diri mereka didengar”. Kami juga dapat beralih ke pendapat orang asing melalui peringkat dan ulasan perdagangan sosial untuk membantu kami menentukan produk dan layanan mana yang kami beli. Merek perlu bekerja lebih keras untuk membuat diri mereka didengar”. Kami juga dapat beralih ke pendapat orang asing melalui peringkat dan ulasan perdagangan sosial untuk membantu kami menentukan produk dan layanan mana yang kami beli. Merek perlu bekerja lebih keras untuk membuat diri mereka didengar”.

Selain membingkai ulang identitas individu (misalnya, dengan berinteraksi dengan orang lain, bermain peran, belajar dan menguji keterampilan sosial seseorang), teknologi dapat meningkatkan pemberdayaan individu melalui peningkatan efisiensi diri dan keterampilan (Amichai-Hamburger et al. 2008 ). Bentuk pemberdayaan yang terakhir ini sangat relevan bagi konsumen baru, karena menawarkan kemampuan baru untukmemainkan peran yang lebih penting dalam proses penciptaan nilai perusahaan.

Perilaku ini ditentukan oleh keinginan yang ditunjukkan oleh individu untuk mengetahui apakah produk diproduksi secara efisien, atau apakah perusahaan berkelanjutan dalam hal ekonomi, sosial dan lingkungan. Proses ini disebut sebagai co-creation dan dapat terjadi dalam berbagai konteks (Bolton dan Saxena-Iyer, 2009). Secara umum, co-creation melibatkan penciptaan nilai bersama oleh perusahaan dan jaringannya dari berbagai entitas (seperti pelanggan, pemasok, dan distributor) yang disebut di sini sebagai aktor (Perjs et al., 2012). Konsep ini telah dipelajari secara ekstensif di bidang pemasaran. Dalam pemasaran co-creation mengacu pada keterlibatan konsumen dalam berbagai aktivitas penciptaan nilai melalui produk dan layanan yang dibuat.

Menurut Ranjan dan Read (2016), co-creation adalah konsep dua dimensi. Dimensi pertama adalah produksi bersama, yang melibatkan partisipasi pelanggan dan keterlibatan basis pelanggan. Dimensi co-creation kedua melibatkan aktivitas nilai-dalam-penggunaan kolaboratif yang meningkatkan nilai seumur hidup pelanggan. Produksi bersama melibatkan pelanggan yang mengambil peran aktif selama langkah-langkah kunci produksi barang dan jasa. Misalnya, mereka dapat mendesain surat kabar dan majalah mereka sendiri dengan menggunakan Really Simple Syndication (RSS), untuk mengunduh jenis item berita tertentu atau mereka mungkin merakit sendiri perabotan mereka sendiri yang telah mereka beli dari IKEA. Kecenderungan ke arah keterlibatan konsumen yang lebih besar ini telah difasilitasi oleh perubahan substansial dalam teknologi, kecanggihan konsumen, dan lingkungan peraturan. Secara khusus, perkembangan teknologi Internet yang memungkinkan konsumen untuk memiliki akses cepat ke informasi yang tersimpan dan untuk membuat dan menyebarkan teks, gambar dan pesan suara dengan biaya minimal. Dengan demikian teknologi umumnya dipandang sebagai pendorong utama penciptaan bersama dengan istilah yang mengacu pada partisipasi pelanggan dalam pengembangan penawaran inti (Vargo et al., 2008). Di sisi lain, konsumen telah berevolusi dari 'pemirsa pasif' menjadi 'pemain aktif'. Dengan evolusi ini, peran interaksi pelanggan-ke-pelanggan dan pelanggan-ke-perusahaan menjadi semakin penting dalam menghasilkan nilai pelanggan baru yang diciptakan bersama.

Salah satu konteks khususnya di mana kreasi bersama konsumen semakin penting adalah bidang produk barupembangunan (NPD). Dalam hal ini, penting untuk mempertimbangkan fakta bahwa, terlepas dari hilangnya kendali atas aktivitas tertentu yang dapat diwakilinya, perusahaan menemukan manfaat penting dalam pengembangan proses co-creation.. Hemat biaya dan peluang interaksi yang ditawarkan telah menjadikan co-creation sebagai sarana yang sesuai untuk menciptakan nilai dan meningkatkan kesuksesan produk baru secara keseluruhan. Dalam hal ini, konsumen mampu dan mau memberikan ide untuk barang atau jasa baru yang dapat memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi oleh pasar atau mungkin meningkatkan penawaran yang ada (Ernst et al., 2010). Hauser et al., (2006) menunjukkan bahwa NPD yang sukses tergantung pada pemahaman mendalam tentang kebutuhan konsumen dan upaya pengembangan produk yang memenuhi kebutuhan tersebut (Hauser et al., 2006) dan, khususnya, ide yang dihasilkan melalui co-creation yang akan lebih mencerminkan kebutuhan konsumen.

Banyak bisnis yang secara positif menganggap perilaku seperti ini oleh konsumen. Beberapa perusahaan bahkan menganggap bahwa partisipasi pelanggan harus dilakukan di semua fase inovasi produk (Ernst et al.2010). Namun, seperti yang ditunjukkan oleh Etgar (2008), konsumen sering sangat bervariasi dalam minat dan kemampuan mereka untuk berpartisipasi secara berguna dalam tugas-tugas co-creation. Dengan demikian, hanya ada beberapa segmen konsumen yang mungkin secara khusus mau dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan co-creation. Ini termasuk inovator (pengguna utama) konsumen yang muncul dan pakar pasar.

Pada tingkat strategis, perusahaan menetapkan dua jenis tujuan:

(a)   Bahwa jumlah konsumen yang memiliki hubungan dekat dengan mereka tinggi.

(b)  Bahwa relasi yang terjalin, selain memiliki dimensi behavioral (perilaku kolaboratif) juga memiliki dimensi afektif.

Saat ini, mencapai hati dan pikiran sejumlah besar konsumen sangat penting untuk bisnis dan terutama di bidang pemasaran, itu adalah faktor kunci. Namun, nilai dan motivasi yang menjadi ciri konsumen baru berbeda dari satu dekade lalu: hal ini menimbulkan kebutuhan akan konsep pemasaran baru yang paling sesuai dengan realitas situasi saat ini.

 

pemasaran 4.0: langkah selanjutnya DALAM evolusi pemasaran

 

Marketing 3.0 adalah pendekatan pemasaran berbasis nilai di mana pelanggan diperlakukan sebagai manusia yang aktif, cemas, dan kreatif. Itu melibatkan tantangan penting bagi hubungan konsumen-merek, karena konsumen memiliki suara, pendapat, dan pengalaman mereka sendiri (Kotler et al., 2010). Mereka menuntut agar merek memuaskan kecemasan dan keinginan terdalam mereka, dan meminta lebih banyak partisipasi dalam penciptaan nilai. Oleh karena itu, tidak hanya berfokus pada kebutuhan dan keinginan tradisional pelanggan. Merek, buat percakapan pribadi dengan pelanggan mereka, dorong mereka untuk merasa bebas berbicara tentang perasaan dan pengalaman mereka. Media sosial menjadi ruang interaksi di mana pelanggan berbagi pendapat dan pengalaman dan menawarkan bisnis media yang berguna di mana konsumen memvalidasi, mengkonfirmasi dan memeriksa konsumen lain.

Menurut Choo et al., (2013), solusi pertama untuk sistem informasi dan komunikasi yang unggul diimplementasikan menawarkan keuntungan terbatas bagi perusahaan. Mereka adalah: (a) berdasarkan platform online di mana akses beberapa konsumen dibatasi; (b) berfokus pada pengguna dan sektor yang sangat spesifik, dan (c) berdasarkan informasi konsumen yang tidak mengintegrasikan sudut pandang penawaran – seperti pendapat dan justifikasi dari vendor. Perusahaan membutuhkan pendekatan pemasaran baru, seperti Marketing 4.0 yang terintegrasi dengan teknologi konsumen dan juga memberikan solusi berdasarkan analisis informasi konsumen tentang preferensi, pendapat, dan kebutuhan mereka.

Jara et al (2012) menunjukkan bahwa Marketing 4.0 sebagai evolusi sederhana dari Marketing 3.0. Para penulis menunjukkan bahwa pendekatan berbasis nilai berkembang menjadi integrasi merek konsumen yang kuat berkat penggunaan teknologi yang intensif. Tapi Yeh et al., (2016), menyoroti bahwa Marketing 4.0 lebih dari itu, pendekatan pemasaran baru ini mengubah aturan bisnis dengan mengubah interaksi dengan pelanggan dalam ruang dan waktu. Dengan demikian:

(a)   Tujuan pemasaran dijelaskan dalam hal keterlibatan merek, loyalitas, retensi, dan rekomendasi, sedangkan persepsi kualitas konsumen, kepuasan, dan pengalaman adalah alat yang digunakan untuk mendapatkannya (Sashi, 2012).

(b)  Penjualan online dikonsolidasikan, sehingga strategi pemasaran mulai dirancang sesuai dengan toko dua dimensi dari browser web (bukan toko fisik tiga dimensi). Dalam lingkungan pemasaran elektronik pada dekade terakhir, titik koneksi terputus (telepon rumah, telepon kantor, email) telah digantikan oleh telepon seluler tunggal yang selalu dapat dijangkau. Implikasinya besar karena pemasaran baru dicirikan oleh keberadaan jaringan, universalitas, keunikan, dan keseragaman (Kurkovsky dan Harihar, 2006).

(c)   Evolusi teknologi melampaui interaksi manusia-komputer. Misalnya, Internet of things (IoT) adalah sistem perangkat komputasi yang saling terkait, mesin mekanis dan digital, objek, hewan, tumbuhan, atau orang yang dilengkapi dengan pengidentifikasi unik dan kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan manusia-untuk -interaksi manusia atau manusia ke komputer.

(d)  Perusahaan dapat mengakses sejumlah besar informasi tentang hubungan konsumen-merek di banyak saluran yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan mereka.

 

Dalam situasi ini, perusahaan perlu memilah semua bagian ini untuk merancang strategi pemasaran yang sukses Mengakses semua bagian ini adalah kunci untuk mencapai posisi dan kinerja pasar yang sukses. Namun, untuk mengidentifikasi dan menganalisis informasi hanyalah langkah pertama untuk menyusun teka-teki ini, di bagian berikut kami membahas langkah-langkah yang perlu diambil perusahaan untuk mendapatkan manfaat dari Pemasaran 4.0 dan data besar.

 

Langkah pertama: data besar

Pada tahun 2013, Forbes menerbitkan artikel berjudul Big Data, Analytics and the Future of Marketing and Sales. Dikatakan bahwa: “Big Data adalah peluang terbesar yang mengubah permainan untuk pemasaran dan penjualan sejak Internet menjadi arus utama hampir 20 tahun yang lalu. Pernyataan itu sering kali memicu anggukan kepala yang kuat dari para eksekutif, tetapi segera diikuti dengan garuk-garuk kepala. “Bagaimana kita bisa mewujudkannya” (Gordon, 2013).

Pada tahun-tahun berikutnya, revolusi Big Data telah mengubah banyak praktik bisnis. Perusahaan menghasilkan sejumlah besar informasi tentang hubungan konsumen-merek di banyak saluran yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan mereka. Aliran informasi yang konstan tentang audiens konsumen dan interaksi mereka sangat penting untuk merancang praktik pemasaran baru, seperti pembelian media terprogram, segmentasi audiens granular, dan pemasaran pemicu waktu nyata yang ditargetkan.

Big Data, singkatnya, telah menjadi arus utama. Tapi itu menimbulkan pertanyaan penting: Jika setiap orang "didorong oleh data" baik dalam teori maupun tindakan, bagaimana perusahaan bisa mendapatkan diferensiasi kompetitif yang berarti melalui penggunaan informasi mereka? Jelas bahwa hal ini menimbulkan beberapa keraguan dan pertanyaan tentang driver, tantangan dan konsekuensi bagaimana penggunaan informasi dapat secara langsung mempengaruhi pendekatan strategi pemasaran perusahaan. Bagaimana perusahaan dapat memperoleh data? Bagaimana data dapat menjadi bagian dari pendekatan pemasaran bisnis? Atau, bagaimana analisis data dapat membantu mengembangkan aplikasi pemasaran? Semua pertanyaan ini relevan dengan pendekatan pemasaran baru, Pemasaran 4.0, juga disebut pemasaran data besar.

 

pemasaran 4.0: data besar dan pemasaran-u

 

Data besar sangat membantu dalam strategi pemasaran, tetapi ada beberapa hal yang harus diingat oleh setiap pemasar untuk membantu memastikan bahwa data besar akan menghasilkan kesuksesan besar. Kisaran kemungkinan penggunaan big data bisa tampak luar biasa, jadi mulailah dengan berfokus pada beberapa tujuan utama. Setelah pemasar memutuskan untuk melakukannya, maka identifikasi data apa yang diperlukan untuk mendukung analisis terkait mereka. Juga, perhatikan bahwa penggunaan data besar menawarkan eksplorasi yang mendalam dan terinformasi dari realitas terukur. Data besar memberi kesempatan untuk menggali lebih dalam dan lebih dalam ke dalam data, mengupas lapisan-lapisan untuk mengungkapkan wawasan yang lebih kaya.

Wawasan yang diperoleh dari analisis awal dapat dieksplorasi lebih lanjut, dengan wawasan yang lebih kaya dan lebih dalam muncul setiap saat. Ini dapat membantu untuk mengembangkan beberapa strategi dan tindakan khusus untuk mendorong pertumbuhan. Tetapi juga perusahaan membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki manajer untuk memulai perancangan strategi pemasaran yang benar. Data besar mendukung dan menyempurnakan model Marketing 4.0. Menggunakan data yang diperoleh dari perilaku belanja dan pembelian pelanggan membuat pemasar memahami bagaimana mempersonalisasi pengalaman berbelanja pelanggan dan melakukan pendekatan yang lebih personal untuk pemasaran perusahaan yang mengarah pada keterlibatan, retensi dan loyalitas pelanggan yang lebih baik, serta optimalisasi dan kinerja pemasaran.

Watson et al (2002), dan baru-baru ini, Allen (2012), menunjukkan bahwa batas-batas pemasaran seperti pemisahan temporal dan spasial pembeli dan penjual, serta tahap berurutan dalam operasi perencanaan pemasaran, telah berubah. Ini diperluas dan dikaburkan saat era jaringan global mengubah paradigma ruang-waktu. Menurut penulis ini, model pemasaran baru memungkinkan desain strategi berdasarkan jumlah informasi yang dimiliki perusahaan, dan menurut konteks virtual baru di mana perusahaan bertindak.

Pada tahun 2011, Kotler menyoroti bahwa Marketing 3.0 harus: (1) holistik dan (2) membangun merek yang kuat. Tapi sekarang, dalam konteks bisnis kompetitif baru yang sedang dijelaskan, penggunaan data besar memungkinkan untuk mendefinisikan kembali arti dari kedua konsep tersebut. Jadi, dalam dunia yang saling berhubungan, pemasaran holistik berarti ada di mana-mana, universal, unik, dan oleh karena itu branding harus ditujukan untuk meningkatkan pengalaman dan keterlibatan konsumen.

Big data membantu Marketing 4.0 menjadi holistik dan membangun hubungan yang kuat dengan berbagai cara. Data besar dapat membantu memperkaya model pemasaran merek perusahaan dan keterlibatan pelanggan. Branding dapat ditingkatkan dengan menggunakan data yang diperoleh dari belanja dan perilaku pembelian pelanggan. Ini dapat membantu pemasar memahami cara mempersonalisasi pengalaman berbelanja pelanggan dan melakukan pendekatan yang lebih personal terhadap model pemasaran perusahaan untuk keterlibatan pelanggan yang lebih baik. Juga, data besar dapat digunakan dalam loop umpan balik. . Dengan proses analisis data besar, pemasar digital dapat mengetahui apakah pendekatan pemasaran merek tertentu berhasil dan mampu melibatkan pelanggan. Mereka menggunakan umpan balik ini untuk transisi dari satu pendekatan pemasaran ke yang lain sampai mereka menemukan satu yang menghasilkan respon pelanggan yang lebih baik dan interaksi produk. Akhirnya,

 

 

Kesimpulan

Marketing 4.0 lebih dari sekadar evolusi sederhana dari Marketing 3.0. Marketing 3.0 hadir sebagai respons terhadap beberapa faktor: perkembangan teknologi baru, masalah yang disebabkan oleh globalisasi dan minat orang untuk mengekspresikan kreativitas, nilai, dan spiritualitas mereka. Sedangkan Marketing 4.0 merupakan respon dalam konteks bisnis baru yang ditransformasikan oleh integrasi teknologi di mana-mana dalam kehidupan masyarakat.

Marketing 3.0 berfokus pada orangnya, bukan sebagai kontradiksi dari visi pemasaran sebelumnya, tetapi sebagai penyempurnaannya. Perusahaan sebagai agen aktif di lingkungan harus menunjukkan tanggung jawab sosial melalui pengembangan tindakan yang berpihak pada masyarakat, semua dengan tujuan memposisikan diri sebagai perusahaan yang mereknya dihormati dan dikagumi. Ini adalah evolusi dari Pemasaran 1.0, berdasarkan produk dan yang menarik "alasan" pelanggan melalui argumen rasional dan diteruskan ke Pemasaran 2.0 yang berfokus pada pelanggan, dan bertujuan untuk sampai ke hati pelanggan (hubungan berorientasi pemasaran ). Marketing 3.0 bertujuan untuk mengetahui pelanggan mereka dan memperhatikan mereka (emosi mereka, perasaan mereka, kekhawatiran mereka) dan menciptakan produk bersama dengan mereka.

Sekarang, perusahaan beralih dari Marketing 3.0 ke Marketing 4.0. Perusahaan-perusahaan yang saat ini menerapkan Pemasaran 3.0 dengan benar adalah mereka yang telah baik dalam Pemasaran 1.0 dan 2.0. Pemasaran masa depan berarti bahwa perusahaan tidak lagi menjadi pejuang lepas, tetapi harus menjadi organisasi yang bertindak sebagai bagian dari jaringan mitra yang setia, di mana orang bukan hanya konsumen, tetapi "manusia utuh" dengan "semangat manusia" yang ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Dalam Marketing 4.0 kita melihat bagaimana teknologi dapat menekan perusahaan dengan berbagai cara. Di satu sisi, untuk menggunakan volume data yang besar; di sisi lain untuk mengubah sudut pandang pemasaran mereka. Marketing 4.0 mendorong perusahaan untuk mencari tujuan berdasarkan keterlibatan konsumen, loyalitas, dan retensi. Pendekatan pemasaran baru ada di mana-mana, universal, unik dan serempak. Ini mendorong pembangunan hubungan merek-konsumen yang kuat. Penggunaan data besar dapat membantu pemasaran untuk mencapai tujuan perusahaan karena memudahkan untuk memahami perilaku konsumen dan dengan demikian merancang tindakan pemasaran untuk mempersonalisasi pengalaman berbelanja pelanggan. Dengan demikian Marketing 4.0 dapat memfasilitasi pendekatan yang lebih personal terhadap model pemasaran perusahaan untuk keterlibatan pelanggan yang lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Aaker, D.A. (1996).Building Strong Brands. Free Press, N.Y.

Allen, M. (2012). What was Web 2.0? Versions as the dominant mode of internet history. New Media & Society, 15(2), 260-275.

Barry, D., Helstrom, B., and Potter, J. (2016). and Related Technology. Asset Management Excellence: Optimizing Equipment Life-Cycle Decisions, 89.

Beck, U. (2015). What is globalization?. John Wiley & Sons.

Biswas, A., and Roy, M. (2015). Green products: an exploratory study on the consumer behaviour in emerging economies of the East. Journal of Cleaner Production87, 463-468.

Bolton, Ruth N. and Shruti Saxena-Iyer (2009), ‘‘Interactive Services: A Framework, Synthesis and Research Directions,’’ Journal of Interactive Marketing, 23 (1), 91-104.

Botsman, R., and Rogers, R. (2010). What’s mine is yours: How collaborative consumption is changing the way we live. Harper Collins Publisher, N.YCoe, N.M. and Wrigley, N. (2009). The Globalization of Retailing. Volumes I and II. Cheltenham MA: Edward Elgar Publishing Ltd.

Boztepe, A. (2016). Green marketing and its impact on consumer buying behavior. European Journal of Economic and Political Studies5(1), 5-21.

Brown, C., and Vessey, I. (2003). Managing the next wave of enterprise systems: leveraging lessons from ERP. MIS Quarterly Executive2(1), 45-57.

Choo, C. W., Detlor, B., and Turnbull, D. (2013). Web work: Information seeking and knowledge work on the World Wide Web (Vol. 1). Springer Science & Business Media.

Copeland, M.V and Malik, O. (2005). “How to Ride the Fifth Wave,” Business 2.0, July 2005

Corstjens, M. and Lal, R. (2012). Retail Doesn't Cross Borders: Here's Why and What to Do About It, Harvard Business Review, 90. 4 (April), 104-111.

Donnelly, C., Simmons, G., Armstrong, G., and Fearne, A. (2015). Digital loyalty card ‘big data’and small business marketing: Formal versus informal or complementary?. International Small Business Journal33(4), 422-442.

Dunn, K. (2015). Globalization and consumer: What marketer needs to know.The Neumann Business Review, 16-30.

Edwards, S. M. (2011). A social media mindset. Journal of Interactive Advertising, 12(1), 1-3

Ernst, Holger, Wayne D. Hoyer, Manfred Krafft, and Jan-Henrik Soll (2010), ‘‘Consumer Idea Generation,’’ working paper, WHU, Vallendar.

Etgar, Michael (2008), ‘‘A Descriptive Model of the Consumer Co-Production Process,’’ Journal of the Academy of Marketing Science, 36 (Spring), 97-108.

Feick, Lawrence and Linda Price (1987), ‘‘The Market Maven: A Dif-fuser of Marketplace Information,’’ Journal of Marketing, 51 (1), 83-97.

Fotis, J. N. (2015). The Use of social media and its impacts on consumer behaviour: the context of holiday travel (Doctoral dissertation, Bournemouth University).

Ghemawat, P. (2007). Managing Differences: The Central Challenge of Global Strategy, Harvard Business Review, 85. 3 (March), 58-68.