Jumat, Juni 10

Perusahaan Chevron Geothermal Slaka Tbk dalam Green Business

Dalam sejumlah literatur, terdapat banyak pengertian tentang green business. Namun, saya meringkas dan mendefinisikannya sebagai berikut.
 Green business adalah suatu paradigma bisnis yang menganjurkan dalam berbisnis untuk meraup keuntungan (profit), korporasi harus juga peduli, berkomitmen dan bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan dan alam semesta (planet) dan meningkatkan kesejahteraan sosial kepada masyarakat (people). 

Dalam konteks komitmen dan tanggung jawab tersebut, Cooney (2009) menyatakan bahwa green business adalah upaya-upaya yang dilakukan perusahaan untuk meminimalkan dampak-dampak negatif dari aktivitas ekonomi perusahaan terhadap komunitas, masyarakat, ekonomi dan lingkungan lokal maupun global dengan cara memenuhi prinsip-prinsip triple bottom line of business. Menurut Cooney (2009), suatu bisnis dapat dikatakan sebagai green business apabila memenuhi empat kriteria berikut. Pertama, perusahaan menginternalisasikan prinsip-prinsip sustainabilitas bisnis dalam setiap keputusan bisnis. 

Kedua, perusahaan menghasilkan dan menawarkan produk-produk atau jasa yang ramah lingkungan. Ketiga, perusahaan tersebut lebih hijau atau lebih peduli lingkungan dibanding perusahaanperusahaan kompetitor lainnya. Keempat, perusahaan memiliki komitmen berkelanjutan untuk menerapkan prinsip-prinsip lingkungan dalam operasi bisnisnya. Pemahaman yang lebih luas tentang green business yang berikan oleh John Elkington. 

Chevron Geothermal Salak Ltd (CGS) merupakan perusahaan yang menghasilkan energi listrik yang berasal dari panas bumi dan tanpa efek rumah kaca.
Selain itu CSR mereka bergerak di bergbagi upaya konservasi energi, lingkungan hidup, seklaigus mengangkat harkat masyarakat disekitar daerah operasinya.

Kawasan operasi CGSs seluas 10 ribu hektar terletak di dua desa, yaitu Desa Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, dan desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, Kabuapaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Meski demikian, dari 10 ribu ha Wilayah Kerja Pertambangan , lahan yang dipakai sebesar 2,84%.

Energi Panas bumi juga diklaim merupakan energi yang andal karena mampu menyediakan energi samapi 90% dari kapasitas daya sepanjang tahun dan dapat mengurangi ketergantungan energi pada fosil. Meski demikian CGS sadar bahwa mereka beroperasi di tengah masyarakat yang lebih dulu bermukim disana. Selain itu, kawasan Gunung Salak yang menjadi basis produksi CGS, menjadi habitat satwa langka seperti owa Jawa, macan tutul, dan elang Jawa.

Karena itu, dari tahun ke tahun, program green company yang dijalankan CGS kerap menyangkut aspek efisiensi energi; penurunan emisi gas rumah kaca; pengurangan, penggunaan kembali dan daur ulang (3R) limbah; konservasi air; konservasi keanekaragaman hayati; pemberdayaan masyarakat; serta inovasi untuk keberlanjutan beroperasi.

Program 3R digenjot dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel, serta mengolah sampah CGS menjadi kompos, kerajinan dan sebagainya oleh mitra usaha.

Demi menjaga kelestarian lingkungan merestorasi fungsi hutan, CGS merilis program Prakarsa Lintasan Hijau. Program ini dijalankan untuk merestorasi fungsi hutan yang terdegradasi dan yang mngnhubungkan Gunung Halimun dan Gunung Salak serta pemberdayaan masyarakat perambah hutan.\

Tahun pertama dan kedua CGS berfokus pada penanaman dan perawatan pohon di area seluas 500 ha disekitar hutan. Kemudian tahun ketiga dan keempat CGS fokus mengedukasi masyarakat agar tidak lagi merambah hutan sebagai mata pencarian tetapi ikut serta dalam menjaga kelestarian hutan. Caranya dengan membuat koperasi beranggotakan masyarakat.

Selain itu CGS juga merilis program pengembangan komunitas. Ikut serta dalam pemberdayaan satu koperasi, 10 kelompok masyarakat atau sebanyak 341 orang; pemberdayaan masyarakat Kawasan Lintasan Hijau, serta pemberdayaan peternak sapi terpadu dan kawasan perikanan terintegrasi.

Berbagai program terebut sangat erat melibatkan masyarakat. Dari tahun ke tahun, jumlah partisipasinya terus membesar. Dari 2012 hingga 2013, jumlah penduduk yang terlibat dalam program ini sebanyak 55 orang dengan jumlah sisa hasil usaha dari koperasi yang dibentuk sebanyak Rp 20 juta. Adpun lahan yang berhasil ditanami seluas 124,4 ha dengan total penyerapan karbon 70.000 ton CO2 pertahun.

Data tersebut terus bertambah dan meningkat pada 2014-2015. Dari total aset, meningkat hingga Rp 274 juta dari seblumnya hanya Rp 132 juta. Luas lahan yang sudah ditanam juga sudah mencapai 310 ha. Jumlah peserta program meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 100 orang. Dan, SHU yang dibagikan juga bertambah menjadi Rp 88 juta. Penyerapan karbon pun kian bertambha menjadi 171.000 ton CO2/tahun.

Drai program efisiensi energi, CGS mengklaim mampu menghemat 24 ribu MWh atau setara pemenuhan listrik bagi sekitar 37.700 rumah berdaya 450 watt. Konversi sumur injeksi ke sumur produksi menghemat 750.000 liter solar atau menghindari 2 juta kg CO2 dan mencegah timbulan limbah serpih bor sebesar 731 ton. Tahun 2015 CGS juga berhasil mengurangi hingga 99,53% limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) yang dihasilkan produksi energi panas bumi. Program 3R sampah domestik yang dilakukan CGS pada 2015 berhasil mendaur ulang sebanyak 79% dari total sampah yang dihasilkan. Pada 2015, CGS berhasil melakukan konservasi air lebih dari 4 juta m3 (99,02%) terhadap total pemakaian air.

Meski telah meraih kemajuan dalam program hijaunya, CGS masih memiliki segudang rencana. Tahun 2016, CGS berencana memulai kerja sama dengan pihak ketiga untuk meluncurkan program pemberdayaan mikro bagi masyarakat sekitar CGS.

Dari program Prakarsa Lintasan Hijau, tahun 2016 CGS punya target merestorasi zona ekologi kritis seluas 500 ha dan membuat sntra pelatihan peternakan terpadu untuk masyarakat.

Donny Indrawan, Manager Corporate Communication Chevron menambahkan, CGS memiliki rencana strategis jangka panjang dan rencana kerja yang selalu diperbaharui tiap tahun untuk seluruh aspek Efisiensi Enegi, Penurunan Emisi, Konservasi Air dan Sumber Daya Alam, Pengelolaan limbah B3 dan Limbah non-B3, Ecofriendly Product, Perlindungan Keanekaragaman Hayati dan Pemberdayaan Masyarakat. Target disesuaikan dengan pencapaian sebelumnya dna hasil evaluasi pelaksanaan program.

dari uraian diatas, tak heran CGS berhasil menyabet jura pertam ajang Indonesia Green Company 2016 yang digelar SWA.



Note : Isi sebagian besar artikel ini saya ambil dari majalah SWA yang terbit tanggal 4-17 Maret 2016

Referensi :1.  http://budisansblog.blogspot.co.id/2013/10/manfaat-green-business.html
               
                2. Majalah SWA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.