Sabtu, Juli 30

Mulailah Dari Langkah Kecil



Salam sejahtera untuk teman-teman dan pembaca semua,    

    Pernah kah anda terbayang saat kecil, saat ingin memilik sebuah mainan atau benda apapun dengan , dan kemudian meminta orang tua kita untuk membelikannya, namun kadang apa yang kita inginkan belum tentu akan diberikan oleh orang tua kita.
Baik itu karena barang itu mahal, berbahaya atau alasan lainnya. Hingga akhirnya kita terpikirkan untuk membelinya memakai uang kita sendiri, tanpa meminta ke orang tua ?
    Kadang hal kecil inilah yang akan menjadi sebuah gerakan dalam diri kita untuk melakukan sesuatu untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Hal ini terjadi kepada saya, seorang bocah ingusan yang terlahir dengan nama Willy Chandra. Saya terus berpikir bagaimana kita dapat menghasilkan uang dengan keadaan yang ada. Hal ini masih menjadi angan-angan sampai ketika saya beranjak masuk SMK. Pada libur akhir kelas 3 SMP, angan-angan ini menjadi sebuah kenyataan. Saya hanya memulai sebuah langkah kecil, yaitu bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya.



    Saat itu saya sedang ingin membeli motor Satria Fu 150, namun karena sudah memiliki Yamaha MX. Mama saya tidak setuju untuk membelikan buat saya. Kira-kira seperti inilah problematika saya saat itu :





Akhirnya setelah saya renungkan beberapa saat, saya menemukan ide ini :



    Hingga akhirnya saya terpikirkan untuk mencari tambahan uang, untuk modal menukarkan motor tersebut. Pada saat tahun 2011 itu sedang trend case-case unik untuk Blackberry, kebetulan saya ada kenalan teman yang sekolah dekat pusat hp ITC Roxy Mas. Saya titip beli case dengan dia, dan memulai jualnya ke sekolah” dan melalui BBM. Teman-teman sepermainan saya mulai meledek saya, karena menurut mereka tidaklah lazim seorang anak sekolah sambil jualan. 
Namun saya ingat betul apa yang pernah Soedono Salim atau Liem Sioe Liong katakan di Biografi nya, yaitu ““Jika anda hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang, anda akan gila. Anda harus melakukan apa yang anda yakini.”  
    Dengan semangat itulah saya menekuni apa yang saya lakukan. Dari pelanggan hanya beberapa orang, sampai ratusan orang pernah saya tangani, sampai saya mampu membayar uang sekolah saya tiap bulannya. Hingga akhirnya terkumpul untung yang lumayan dan cukup untuk tamabahan buat tukar motor. Namun saya mengurungkan niat saya itu, dikarenakan memasuki pertengahan 2012, semakin banyak orang yang berjualan dengan konsep yang mirip dengan saya. Sehingga makin lama, pelanggan saya makin sedikit. Kemudian saya mendapatkan dagangan baru, yaitu jersey sepak bola yang waktu itu sedang trend nya karena adanya moment Liga Champion 2012, Euro 2012 dan Olimpiade 2012. Kemudian saya turn over ke bisnis jersey sepak bola. Namun jualan jersey juga tidak dapat bertahan lama, dikarenakan munculnya penjual lain dan offline store yang semakin menjamur di kota saya. 
    Saya pun mencoba konsep bisnis lain, yaitu memulai menerima jasa order / pesan barang dari luar negeri. Modal saya hanyak account Paypal yang dimana dapat digunakan untuk membayar diseluruh dunia. Saya mematok fee sebesar 5% dari total nilai pembelian tersebut. Hasilnya lumayan untuk menambah tabungan saya. Hingga lagi-lagi saya menemui hambatan, saat itu saya ditipu oleh salah satu pengguna saya. Dimana dia menggunakan jasa saya untuk membeli barang yang terlarang untuk diimpor ke Indonesia, kesalahan terbesar saya adalah tidak meminta uang muka untuk pembelian tersebut. Kerugian yang alami lumayan, sekitar 700 USD. Saya benar – benar lelah dengan semua usaha yang saya coba.
    Dan akhirnya saya pun lulus dari SMK pada tahun 2014. Hingga suatu hari saya ke Gramedia, saya membaca buku biografi Eka Tjipta Widjaja yang merupakan pendiri Sinarmas Group, saya menemukan kata – kata yang seketika membakar bara didalam diri saya, yaitu :
Apa pun kesulitan yang dihadapi, asalkan memiliki keinginan untuk melawan, pasti semua kesulitan dapat diatasi” - Eka Tjipta Widjaja

Kisah hidup Om Eka Tjipta ini memang sangat menginspiratif, berikut beberapa kutipan perjalanan hidup beliau :

    Eka Tjipta Widjaja merupakan seorang pengusaha dan konglomerat Indonesia, Berkat keuletannya dalam menjalankan bisnis perusahaannya, ia merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia menurut Majalah Globe Asia edisi bulan desember 2012 dengan kekayaan mencapai 8,7 milyar Dolar Amerika Serikat. Pada tahun 2011, menurut Forbes, ia menduduki peringkat ke-3 orang terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan US$ 8 miliar, beliau merupakan pendiri sekaligus pemilik dari Sinar Mas Group, Bisnis utamanya adalah pulp dan kertas, agribisnis, properti dan jasa keuangan.
Ia terlahir dari keluarga yang amat miskin. Saat umurnya masih sangat muda yaitu umur 9 tahun. Tepatnya pada tahun 1932, beliau pindah ke kota Makassar

    Tiba di Makassar, Eka kecil segera membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Eka pun minta Sekolah. Tapi Eka menolak duduk di kelas satu. Eka Tjipta Widjaja bukanlah seorang sarjana, doktor, maupun gelar-gelar yang lain yang disandang para mahasiswa ketika mereka berhasil menamatkan studi. Namun beliau hanya lulus dari sebuah sekolah dasar di Makassar. Hal ini dikarenakan kehidupannya yang serba kekurangan. Tamat SD, ia tak bisa melanjutkan sekolahnya karena masalah ekonomi. Ia pun mulai jualan.

    Ia keliling kota Makassar, Dengan mengendarai sepeda, ia keliling kota Makasar menjajakan door to door permen, biskuit, serta aneka barang dagangan toko ayahnya. Dengan ketekunannya, usahanya mulai menunjukkan hasil.

    Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya dan keliling Makassar. Sampailah ia ke Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tapi bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik Eka, melainkan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu.
Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah di Paotere. Ia membawa serta kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air 2 panas, cangkir, sendok dan sebagainya. Semula alat itu ia pinjam dari ibunya. Enam ekor ayam ayahnya ikut ia pinjam. Ayam itu dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam. Dia juga pinjam satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol anggur dari teman-temannya. Jam tujuh pagi ia sudah siap jualan. Benar saja, pukul tujuh, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos pasukan Jepang. Eka mentraktir si Jepang makan minum di tenda. Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk whisky gratis, si Jepang bilang joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan minum di tenda Eka. Tentu saja ia minta izin mengangkat semua barang yang sudah dibuang.

    Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 – 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Ia pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat 3 sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung. Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp. 50 per karung, lalu ia menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, ia mulai jual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40.

    Pada tahun 1980, ia memutuskan untuk melanjutkan usahanya yaitu menjadi seorang entrepreneur seperti masa mudanya dulu. Ia membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau. Tak tanggung-tanggung, beliau juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit. Bisnis yang dia bangun berkembang sangat pesat dan dia memutuskan untuk menambah bisnisnya. Pada tahun 1981 beliau membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1000 hektar dan pabriknya mempunyai kapasitas 20 ribu ton teh.


    Dari cerita diatas, kisah dari Om Eka Tjipta ini dapat kita jadikan pedoman dalam menjadi seorang wirausaha. Bagaimana kita harus pandai membaca peluang dan arah trend pasar. Dan juga semangatnya menghadapi segela rintangan dan hambatan.

    Berkat kisah beliau lah, saya bertekad untuk terus melanjutkan usaha mandiri saya. Dan pada pertengahan 2014, saya kemudian lulus dari bangku SMK. Waktu itu saya diberi 2 pilihan oleh keluarga saya, yaitu kuliah atau bekerja. Saya memilih bekerja, karena terlintas dipikiran saya adalah gaji yang akan saya dapatkan dan dapat membeli semua yang saya inginkan. Namun ternyata bekerja tidaklah seenak yang saya pikirkan, kerasnya dunia persaingan dilingkungan kerja membuat saya down. Psy war antara kita dengan rival perusahaan lain sangat terasa. Dimana pihak yang tidak menguasai bidangnya akan cenderung kalah. Dan kala itu saya sangat tidak menguasai bidang yang saya geluti. Namun saya cepat belajar dengan atasan saya, saya melakukan dan mempraktekkan apa yang diajarkan oleh engineering saya. 
    Hingga saya baru menguasi bidang pekerjaan yang saya geluti. Dan karena saya bekerja disebuah Perusahaan EPC, yang dimana saya memiliki jadwal meeting dengan supplier / principal ataupun client diluar negeri 2 atau 3 bulan sekali, semisal Singapura atau Malaysia. Dari sana saya terpikir untuk menekuni jasa hand carry barang elektronik yang tidak dijual di Indonesia. Hasil dari jasa ini juga lumayan untuk menambah uang tabungan saya.

    Memang dari langkah kecil dari masa lalu kita akan menjadi sebuah dorongan kedepannya bagi kita.
Perjalanan kita masih panjang. Apapun dapat terjadi, namun kita tidak boleh putus asa dalam melakukannya. Jalani lah apa yang telah diberikan oleh-Nya. 

Sekian dan terima kasih.









Ditulis oleh : Willy Chandra
NIM            : 41615110076
Fakultas      : Teknik Industri 

Daftar Pusaka & Referensi :
http://biografi-orang-sukses-dunia.blogspot.co.id/2013/12/biografi-soedono-salim-liem-sioe-liong.html

http://www.biografiku.com/2013/06/biografi-eka-tjipta-widjaja-pemilik.html

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/154396-sosok-eka-tjipta-taipan-terkaya-kedua

faturohman, maman, purwanto, nugroho, arissetyanto, suhardi. 2007. kewirausahaan: membangun usaha sukses sejak usia muda

Richard Borsuk, Nancy Chng. 2006. Liem Sioe Liong dan Salim Group-Pilar Bisnis Suharto







Tidak ada komentar:

Posting Komentar