Minggu, September 26

OLAHAN KERIPIK BERBAHAN DASAR KULIT MELINJO DIDESA TAMIANG SERANG

 


                                                Disusun Oleh : @S16-ANGGA 

ABSTRAK

Desa Tamiang mempunyai lahan pertanian dan perkebunan seluas 307 ha dengan produk melinjo yang melimpah. Setiap bagian dari melinjo dapat dimanfaatkan termasuk kulit melinjo. Kulit melinjo di Desa Tamiang hanya dijual apa adanya dan hanya dimasak sebagai sayur. Saat musim panen, kulit melinjo melimpah dipasaran sehingga harganya sangat murah. Selain itu kulit melinjo tidak tidak tahan lama dan mudah membusuk. Jika dikelola dengan baik kulit melinjo mempunyai potensi yang banyak dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Melihat potensi tersebut, maka perlu adanya usaha kreatif dan inovatif dalam pengolahan kulit melinjo. Pengolahan kulit melinjo menjadi keripik menjadi solusi yang ditawarkan dengan tujuan memberikan nilai tambah bagi kulit melinjo, menambah pemasukan, dan pemuda yang tertarik berwirausahaan sasaran kegiatan ini meliputi ibu rumah tangga dan pemuda yang tertarik berwirausaha. Metode yang digunakan adalah penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Hasil yang diperoleh peserta pelatihan mampu memproduksi keripik kulit melinjo aneka rasa yang inovatif dan digemari oleh konsumen. Hasil penjualan keripik mampu menambah pemasukan keluarga.

 

Kata kunci : Keripik, Kreatif, Kulit Melinj, Nilai Tambah, Wirausaha.

 

Abstract

Tamiang village has 307 ha of agricultural and plantation land with abundant melinjo products. Every part of melinjo can be utilized including gnetum skin has a lot of potential and has high economic value. Seeing this potential, it is necessary to have creative and innovative efforts in the processing of gnetum skin. Processing of gnetum skin, increasing income, and fostering an entrepreneurship spirit. The targets of ths activity are housewives and youth who are interested in entrepreneurship. The method were counseling, training, and assistance. The results obtained by the training participants were able to produce gnetum skin chips of various flavors that were innovative and favored by consumers. The sale of chips can increase family income.

Keywords : Added Value, Chips, Creative, Entrepreneurship, Gnetum Skin. 

PENDAHULAN

Kampung Cilebak terletak di Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Sari Serang, Nama Desa

Tamiang diambil dari suatu bukit yang bernama pasir Tamiang yang bertujuan supaya desa bisa

menjadi pelindung dan pengayom bagi masyarakat. Desa Tamiang berbatasan sebelah Utara

dengan Desa Cokop Sulanjana, Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Gunungsari, sebelah

Barat berbatasan dengan Desa Sukalaba, dab sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan

Cibendung.

   Gambar 1 Lokaasi Desa Tamiang Gunung Sari Serang

Desa Tamiang mempunyai lahan pertanian dan perkebunan seluas 307 ha. Kampung Cilebak di

Desa Tamiang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya alam tersebut berupa

Perkebunan melinjo ( Gnetum Gnemon L ). Tanaman melinjo adalah tanaman penghasil buah melinjo dan jenis tanaman yang memiliki banyak manfaatnya. Melinjo merupakan tanaman asli di Indonesia – Malaysia dan banyak ditemukan di Indonesia ( Kato, Tokunaga, dan Sakan, 2009 ).

Setiap bagian dari melinjo dapat dimanfaatkan, seperti biji melinjo yang telah tua yang dapat dijadikan emping, sedangkan kulitnya belum banyak dimanfaatkan padahal memiliki potensi yang cukup besar ( Manner dan Elevitch , 2008 ). Kulit Melinjo di Kp. Cilebak hanya dijual apa adanya dipasar dan oleh warga hanya dimasak sebagai sayur. Pada saat musim panen, kulit melinjo akan melimpah dipasaran sehingga harganya sangat murah. Selain itu kulit melinjo mempunyai potensi yang sangat banyak dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

Melihat potensi tersebut, maka perlu adanya usaha kreatif dan inovatif dalam pengelolahan kulit melinjo. Pengelolahan kulit melinjo menjadi olahan keripik menjadi solusi yang ditawarkan dalam program pengabdian masyarakat ini. Keripik merupakan produk olahan makanan yang digemari masyarakat. Banyak aneka macam keripik juga dijadikan komoditas oleh – oleh khas dari berbagai daerah. Pengolahan kulit melinjo menjadi keripik sangat mudah prosesnya dan dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang sederhana dan dapat dikerjakan oleh ibu – ibu rumah tangga. Dengan adanya pelatihan pembuatan keripik kulit melinjo ini di harapkan dapat memberikan nilai tambah bagi produk kulit melinjo, memberikan tambahan pemasukan bagi warga, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan bagi warga Kp. Cilebak Desa Tamiang.

Kandungan dan Manfaaat Kulit Melinjo

Bagian – bagian tumbuhan melinjo mengandung senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Kandungan senyawa kulit buah melinjo antara lain flavonoid, tanin, saponim, dan triterpen ( Dewi , 2018 ). Beberapa penelitian menunjukan bahwa tumbuhan melinjo baik daun maupun kulit biji mengandung senyawa antioksidan seperti likopen dan karontenoid ( Cornelia, Siregar, dan Ermiziar , 2010). Antioksidan bekerja dengan cara menghentikan pembentukan radikal bebas, menetralisir serta memperbaiki kerusakan – kerusakan yang telah terjadi ( Dalimartha dan Soedibyo, 1999 ). Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa likopen dan karotenoid berperan sebagai senyawa antioksidan yang dapat mengurangi risiko berbagai penyakit kronis, seperti kanker dan penyakit jantung koroner (Sigh dan Goyal, 2008).

Kandungan likopen sangat dipengaruhi oleh proses pengolahan dan perbedaan varietas, misalkan varietas yang berwarna merah mengandung lebih banyak likopen dibandingkan yang berwarna kuning. Kandungan dan kualitas likopen menurun dengan adanya pemanasan ( Colle , 2010 ). Kulit melinjo mengandung total karoten sebesar total karoten 241,220 ppm dan aktivitas antioksidan sebesar 28.43 mg ( Suci , 2015 ). Likopen dan karoten merupakan senyawa yang tergolong dalam karatenoid.

Flavonoid, saponim, dan tanun yang terkandung pada melinjo tersebut dapat berfungsi sebagai antibakteri ( Dewi , Utami, dan Riyadi, 2012 ). Menurut Cowan (1999), mekanisme kerusakan dinding sel dapat disebabkan oleh adanya akumulasi komponen lipofilik yang terdapat pada dinding sel atau membran sel, sehingga menyebabkan perubahan komposisi penyusunan dinding sel.

Kulit melinjo berpotensi sebagai antidiare (Pramitaningastuti dan Advistasari, 2019). Beberapa penelitian menunjukan bahwa kandungan senyawa aktif seperti tanin,flanovoid,alkaloid,saponim,triterpen,dan terpen dapat berfungsi sebagai antidiare (Longanga, et al , 2000).

Kulit melinjo mengandung asam askorbat, tokoferol, dan polifenol memiliki aktvitas sebagai antioksidan juga berpotensi sebagai inhibitor xantin oksidase (Santoso dkk, 2010). Xantin oksidase memiliki peranan penting dalam proses pembentukan asam urat dengan mengkatakisis berturut – turut hipoxantin menjadi xantin kemudian asam urat.

Kulit melinjo memiliki komponen fitokimia, yang dapat mengurangi kadar asam urat  dalam serum darah (parhusip dan suraja, 2019). Pada penelitian Kencana ( 2015 ) , minuman fermentasi kulit ,melinjo mampu menurunkan kadar asam urat lebih rendah dibandingkan obat allopurinol. Penurunan kadar asam urat pada tikus yang diberi perlakukan minuman fermentasi kulit melinjo disebabkan adanya kandungan fenolik dan flavonoid.

 

Olahan Kulit Melinjo

Salah sumber pewarna alami yang masih kurang dimanfaatkan adalah kulit melinjo. Kulit melinjo banyak mengandung senyawa flavonoid, vitamin c, beta karoten yang dapat bertindak sebagai antioksidan dan dapat menjadi zat pewarna alami pada produk makanan. Warna alami kulit melinjo merupakan pigmen organik yaitu karotenoid yang pada umumnya memberikan warna merah sampai kuning kehijauan ( wahyu, 2017). Pigmen yang memberi warna merah pada produk pangan adalah antosianin, sedangkan pigmen yang berwarna merah pada produk pangan adalah antosianin, sedangkan pigmen yang berwarna kuning, orange, dan merah memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai pewarna alami dalam sediaan lipstik ( siregar dan Utami 2014).

Kulit melinjo dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh kulit melinjo (Ardiyansyah dan Apriliyanti, 2016). Selain itu tepung kulit melinjo dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat dalam pembuatan biskuit (Eriska, 2009). Kadar serat pada tepung kulit melinjo cukup tinggi yaitu 29,91%. Kandungan protein pada kulit melinjo cukup tinggi yaitu sebesar 4,0% (Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, 1982).

METODE PELAKSANAAN

Lokasi dan Waktu Kegiatan

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Kampung Cilebak Desa Tamiang

Serang Banten pada bulan Desember 2018. Kegiatan yang dilakukan dalam bentuk

penyuluhan, pelatihan dan pendampingan pembuatan keripik kulit melinjo.

 Tahapan Kegiatan

Kegiatan penyuluhan dan pelatihan pembuatan keripik kulit melinjo meliputi:

1. Kegiatan awal

a. Survei, yaitu pengamatan langsung ke lapangan untuk mengetahui minat warga dalam berwirausaha, harga kulit melinjo di pasaran, konsumsi kulit melinjo, dan lain sebagainya.

 b. Wawancara, yaitu melakukan audiensi dengan tokoh masyarakat, ketua RT, ibu-ibu rumah tangga dan warga setempat.

 2. Persiapan alat dan bahan

a. Alat-alat yang digunakan adalah kenceng, kompor, wadah, spatula, tirisan.

b. Bahan-bahan yang diperlukan adalah kulit melinjo, garam, bumbu aneka rasa,dan plastik.

3. Pra-produksi

Kegiatan pra-produksi meliputi pembentukan kelompok kerja dan pengumpulanmodal awal usaha.

4. Produksi

5. Pasca Produksi

a. Pengemasan

b. Strategi pemasaran

c. Pembukuan dan perhitungan pendapatan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan pengabdian masyarakat ini diawali dengan kegiatan survei secara langsung,

observasi lapangan, wawancara, dan diskusi dengan tokoh masyarakat untuk mendapatkan METODE PELAKSANAAN

Lokasi dan Waktu Kegiatan

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Kampung Cilebak Desa Tamiang

Serang Banten pada bulan Desember 2018. Kegiatan yang dilakukan dalam bentuk

penyuluhan, pelatihan dan pendampingan pembuatan keripik kulit melinjo.

 Tahapan Kegiatan

Kegiatan penyuluhan dan pelatihan pembuatan keripik kulit melinjo meliputi:

1. Kegiatan awal

a. Survei, yaitu pengamatan langsung ke lapangan untuk mengetahui minat warga

dalam berwirausaha, harga kulit melinjo di pasaran, konsumsi kulit melinjo, dan

lain sebagainya.

 b. Wawancara, yaitu melakukan audiensi dengan tokoh masyarakat, ketua RT, ibu-

ibu rumah tangga dan warga setempat.

2. Persiapan alat dan bahan

a. Alat-alat yang digunakan adalah kenceng, kompor, wadah, spatula, tirisan.

b. Bahan-bahan yang diperlukan adalah kulit melinjo, garam, bumbu aneka rasa,

dan plastik.

3. Pra-produksi

Kegiatan pra-produksi meliputi pembentukan kelompok kerja dan pengumpulan

modal awal usaha.

4. Produksi

5. Pasca Produksi

a. Pengemasan

b. Strategi pemasaran

c. Pembukuan dan perhitungan pendapatan

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan pengabdian masyarakat ini diawali dengan kegiatan survei secara langsung,

observasi lapangan, wawancara, dan diskusi dengan tokoh masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai potensi di Kp. Cilebak Desa Tamiang. Dari kegiatan tersebut diperoleh informasi bahwa terdapat potensi yang besar dari kulit melinjo, namun belum dimanfaatkan secara maksimal oleh warga. Kulit melinjo biasanya hanya digunakan sebagai bahan beberapa masakan misalnya sayur lodeh, oseng-oseng, sambal goreng dan yang lainnya. Dipasaran harga kulit melinjo akan turun drastis pada masa panen. Selain itu masa simpan kulit melinjo relatif sebentar, sehingga kulit melinjo mudah busuk dan akhirnya terbuang menjadi sampah yang tidak berguna.

Melihat potensi yang ada, tim menyampaikan kepada ketua RT dan tokoh masyarakat

mengenai rencana kegiatan penyuluhan dan pelatihan dalam pembuatan keripik kulit

melinjo. Usulan ini disambut dengan baik oleh ketua RT, tokoh masyarakat dan juga warga.


  Gambar 2. Diskusi dengan Ketua RT di Kampung Cilebak

Kegiatan selanjutnya adalah persiapan dan sosialisasi ke warga masyarakat. Kegiatan

penyuluhan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 10 Desember 2018 bertempat di rumah

warga.


Gambar 3. Penyuluhan Pengolahan Keripik Kulit Melinjo

 

Kegiatan selanjutnya yaitu pelatihan. Pada kegiatan pelatihan, kelompok kerja

mendapatkan pelatihan mengenai tahapan pembuatan keripik kulit melinjo sehingga

menghasilkan keripik kulit melinjo yang siap untuk dipasarkan. Berikut adalah kegiatan

pelatihan pembuatan keripik kulit melinjo:

1. Bahan-bahan

a. Melinjo 10 kg

b. Bumbu aneka rasa

c. Garam

d. Minyak goreng

2. Pengolahan Keripik Kulit Melinjo

a. Kulit melinjo pertama kali dicuci hingga bersih, hingga air cucian tersebut

tidak berwarna keruh.

b. Kulit melinjo ditiriskan lalu diberi garam, takarannya satu kilogram kulit

melinjo diberi 5 sendok makan garam halus.

c. Kulit melinjo direndam selam 30 menit menggunakan air garam dan kapur

sirih.

d. Kemudian kulit melinjo ditiriskan kembali hingga benar-benar kering

kemudian digoreng.

e. Goreng kulit melinjo tersebut hingga kering (biasanya jika kering tidak

terjadi buihan dalam proses penggorengan) kemudian ditiriskan.

f. Setelah ditiriskan lalu masuk pada proses pemberian rasa (bumbu instan: rasa

pedas, balado, keju manis, jagung bakar dan lain-lain).

Gambar 4. Proses Penggorengan Kulit Melinjo

 

 

3. Pengemasan

Proses selanjutnya yaitu pengepakan.

                        Gambar 5. Pengemasan Menggunakan Peralatan Sederhana

Keripik kulit melinjo dimasukkan ke dalam plastik dengan ukuran 10x6 , lalu

dikemas dalam plastik yang berukuran 20x30, selanjutnya dikemas dalam plastik

besar yang berisi 40 pcs plastik kecil). Produk olahan ini dinamakan dengan

KKM (Keripik Kulit Melinjo).

Untuk meningkatkan omzet penjualan dapat dilakukan dengan perbaikan inovasi dan

teknologi pengemasan, teknologi seasoning dengan bumbu tabur, dan memperluas

pemasaran dengan media internet (Purnavita, Sriyana, dan Widiastuti, 2018). Inovasi dalam

olahan keripik kulit melinjo dilakukan dengan pemberian aneka rasa sehingga memberikan

variasi rasa yang disukai konsumen.

Kegiatan yang tidak kalah penting selanjutnya adalah pemasaran produk. Inovasi yang

dilakukan dalam tahap pemasaran adalah pemasaran dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Pemasaran Online

2. Pemasaran Offline

 

Pemasaran Online

Pemasaran online adalah sebuah usaha untuk memperkenalkan bisnis atau produk yang

akan dijual kepada masyarakat dengan menggunakan internet. Pada tahap pemasaran online

yang dilakukan yaitu melalui sosial media Instagram dan Whatsapp. Social media marketing

merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien untuk memperkenalkan produk KKM

(Keripik Kulit Melinjo) kepada masyarakat luas karena strategi pemasaran online melalui

internet membuat usaha seakan-akan buka selama 24 jam dan dapat diakses dengan mudah

selama terhubung dengan koneksi internet.



Gambar 6. Bukti Pemasaran Secara Online

 

Pada sosial media instagram produk yang telah terjual sebanyak 3 pak sedangkan pada sosial media whatsapp produk yang telah terjual sebanyak 4 pak. Sistem untuk pengiriman produk pada strategi pemasaran online yaitu dengan metode COD (cash on delivery) dengan konsumen. Strategi pemasaran online ini masih berjalan sampai sekarang.

Pemasaran Offline

Pemasaran offline adalah sebuah usaha untuk memperkenalkan bisnis atau produk yang akan dijual kepada masyarakat luas. Pada tahap pemasaran offline yang dilakukan yaitu dengan cara menitipkan produk kepada warung-warung sekitar di Desa Tamiang. Pada awal strategi pemasaran offline yang dilakukan yaitu dengan menitipkan produk pada tiga warung. Pemasaran ini produk yang telah laku terjual yaitu sebanyak 3 pak. Strategi pemasaran offline ini akan ditingkatkan ke depannya untuk lebih banyak menitipkan produk ke warung- warung lainnya.

Gambar 7. Produk Keripik Kulit Melinjo 40
Kegiatan selanjutnya adalah pelatihan pembukuan dan perhitungan keuntungan. Perhitungan

biaya di mulai dari pembelian kulit melinjo hingga plastik untuk pengemasan.

a. Melinjo 10 kg @5000 : Rp. 50.000

b. Bumbu 4 pack @4000 : Rp. 16.000

c. Garam 3 pack @1000 : Rp. 3.000

d. Plastik kecil dan besar : Rp. 13.000

e. Minyak goreng 2 liter : Rp. 23.000

f. Gas : Rp. 25.000

g. Transportasi : Rp. 15.000

TOTAL BIAYA : Rp.145.000

Total penjualan sebesar Rp 188.600,- sehingga dengan modal Rp 145.000 mampu

memberikan keuntungan sebesar Rp 43.600,-.

Kegiatan selanjutnya yaitu pendampingan yang meliputi proses produksi, pengemasan,

pemasaran hingga pembukuan. Peserta kegiatan sangat antusias dalam mengikuti pelatihan dan pendampingan ini karena mereka menganggap bahwa kegiatan ini sangat penting dan

dapat meningkatkan harga jual kulit melinjo dan mampu menambah pendapatan keluarga.

KESIMPULAN

Dengan adanya pelatihan pembuatan keripik kulit melinjo ini dapat memberikan nilai

tambah bagi produk kulit melinjo dalam bentuk olahan keripik kulit melinjo (KKM) aneka

rasa, mampu memberikan tambahan pemasukan bagi warga, dan menumbuhkan semangat

kewirausahaan bagi warga Kp. Cilebak Desa Tamiang.

 

REKOMENDASI

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan di atas, maka disarankan kegiatan

lanjutan adalah sebagai berikut:

1. Perlu pelatihan pengemasan yang menarik.

2. Promosi untuk menjadikan keripik kulit melinjo sebagai oleh-oleh khas dari daerah

Serang Banten.

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih disampaikan kepada 1) Universitas Serang Raya sebagai pemberi

dana kegiatan, 2) Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat Desa Tamiang yang telah mengijinkan

dan mendukung kegiatan pengabdian, serta, 3) Peserta Pelatihan yang penuh semangat

mengikuti kegiatan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adolf J. N., Parhusip, & Kaywina Junetta Suraja, K.J. (2019). Pemanfaatan Bakteri Asam

Laktat pada Minuman Fermentasi Kulit Melinjo Merah untuk Anti Asam Urat pada

Tikus Wistar. FaST- Jurnal Sains dan Teknologi. 3(1): 59-70.

Ardiyansyah, & Mulia Apriliyanti, M. (2016). Karakteristik Kimia Teh Kulit Melinjo. Jurnal

Ilmiah INOVASI, 1(2), 89-92.

Colle , I., et.al. (2010). Effect of Thermal Processing on The Degradation, Isomerization,

and Bioaccessibility of Lycopene in Tomato Pulp. Journal of Food Science 75 (9).

Cornelia, M., Siregar, T.M., dan Ermiziar. (2010). Study on Carotenoid Antioxidant Activity

and Vitamin C of Melinjo Peels (Gnetum gnemon L.) Natural Pigments Conference for

South-East Asia, Malang, 20-21 Maret 2010.

Cowan, M.M. (1999). Plant Products as Antimicrobial Agents. Clinical Microbiology

Reviews 12(4): 564-582.

Dalimartha, Setiawan dan Soedibyo, M. (1999). Awet Muda dengan Tumbuhan Obat dan

Diet Suplemen. Jakarta: Trubus Agriwidya.

Departemen Kesehatan., (1982). Daftar Kandungan Gizi Kulit Melinjo. Jakarta: Direktorat

Gizi Departemen kesehatan RI.

Dewi, A. N. (2018). Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Kulit Buah Melinjo (Gnetum Gnemon

L.) pada Mencit Jantan Galur DDY. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Dewi, C., Utami, R., dan Riyadi, N.H. (2012). Aktivitas Antioksidan dan Antimikroba

Ekstrak Melinjo (Gnetum gnemon L.). Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 5(2), 74-81.

Eriska, Elisa, F., Nurwitri, C.C. (2009). Pemanfaatan Tepung Kulit Melinjo sebagai Sumber

Serat dalam Pembuatan Biskuit. Jurnal Ilmu dan Teknologi.

Kato, E., Tokunaga, Y., dan Sakan, F. (2009). Stilbenoids Isolated from the Seeds of melinjo

( Gnetum gnemon L.) and their Biological Activity. Journal Agric FoodChem. 57(6):

2544-2549.

Kencana, A. H. (2015). Aplikasi Minuman Fermentasi Kulit Melinjo sebagai Anti Asam

Urat pada Tikus Wistar. Tangerang: Univeritas Pelita Harapan. Skripsi.

Longanga, O.A., Vercruysse, A., and Foriers, A., (2000). Contribution to the Ethnobotanical,

Phytochemical and Pharmacological Studies of Traditionally Used Medicinal Plants in

the Treatment of Dysentery and Diarrhoea in Lomela Area, Democratic Republic of

Congo (DRC), Journal Ethnopharmacol, 71(3): 411-23.

Panji Ratih Suci, P.R. (2015). Pengaruh Proses Pengolahan Biji Melinjo (Gnetum Gnemon

L.) terhadap Kadar Total Likopen dan Karoten dengan Metode Spektrofotometri-Vis.

Jurnal Wiyata, 2(2), 151-156.

Pramitaningastuti, A.S., dan Advistasari, Y.D. (2019). Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak

Etanol Kulit Buah Mlinjo (Gnetum Gnemon L.) pada Mencit Jantan Galur Swiss. Jurnal

Farmasi & Sains Indonesia, 2 (1): 6-10.

Prasetia, V., et al. (2019). Peningkatan Proses Produksi pada UMKM Makanan di Desa

Maos Lor, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap. Jurnal Berdaya Mandiri. 1 (1): 25-34.

Purnavita, S., Sriyana, H.Y., dan Widiastuti, T. (2018). Kemasan Menarik dan Internet

Marketing untuk Meningkatkan Nilai Jual Emping Garut sebagai Produk Unggulan

Kabupaten Sragen. E-DIMAS: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. 9(1), 88-97.

Santoso, M., et.al. (2010). Antioxidant and Damage Prevention Activities of the Edible Parts

of Gnetum gnemon and Their Change upon Heat Treatment. Journal Food Science and

Technology, 16 (6), 549-556.

Singh, P., Goyal, G.K. (2008). Dietary Lycopene: Its Properties and Anticarcinogenic

Effects. Comprehensive Review in Food Science and Food Safety.

Wahyuni, S., Rais, M., & Fadilah, R. (2017). Fortifikasi Tepung Kulit Melinjo sebagai

Pewarna Alami pada Pembuatan Kerupuk Singkong. Jurnal Pendidikan Teknologi

Pertanian, Vol. 3, 212-222.

Winarno. (2004). Naskah Akademis Keamanan Pangan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.


MAPPING MAP 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.