Senin, Oktober 18

ANALISIS KONDISI DAN KINERJA KEUANGAN

 



 

 

ABSTRAKSI

Rasio keuangan merupakan angka hasil perbandingan antara satu angka keuangan dengan angka keuangan lainnya. Angka-angka tersebut terdapat dalam laporan keuangan, yang terdiri dari neraca, laporan laba/rugi, laporan arus kas dan perubahan posisi modal sendiri.

Analisa rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut. Analisis rasio keuangan merupakan bentuk atau cara umum yang digunakan dalam analisis laporan keuangan. Analisis rasio berguna bagi para analisis intern untuk membantu manajemen membuat evaluasi mengenai hasil-hasi operasinya, memperbaiki kesalahan-kesalahan dan menghindari keadaan yang dapat menyebabkan kesuiltan keuangan.

 

PENDAHULUAN

Menurut SFAC Nomor 1 tentang Objective of Financial Reporting by Business Enterprises, tujuan pelaporan keuangan adalah Menyediakan informasi yang berguna bagi investor, kreditor, dan pengguna potensial lainnya dalam membantu proses pengambilan keputusan yang rasional atas investasi, kredit dan keputusan lain yang sejenis, Menyediakan informasi yang berguna bagi investor, kreditor, dan pengguna potensial lainnya yang membantu dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian prospek penerimaan kas dari dividen atau bunga dan pendapatan dari penjualan, penebusan atau jatuh tempo sekuritas atau pinjaman. Menaksir aliran kas masuk (future cash flow) pada perusahaan, Memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi, klaim atas sumber daya tersebut dan perubahannya.

Dalam rangka membantu pengguna laporan keuangan dalam memahami dan menginterpretasikan laporan keuangan maka perlu dibuat analisis laporan keuangan. Analisis laporan keuangan dimaksudkan untuk membantu bagaimana memahami laporan keuangan, bagaimana menafsirkan angka-angka dalam laporan keuangan, bagaimana mengevaluasi laporan keuangan dan bagaimana menggunakan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan. Teknik analisis yang sering digunakan dalam menganalisis laporan keuangan adalah analisis rasio. Analisis rasio adalah teknik analisis untuk mengetahui hubungan matematis dari pos-pos tertentu dalam setiap elemen laporan keuangan. Hasil dari perhitungan rasio akan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, agar dapat diketahui perubahan yang terjadi, apakah mengalami kenaikan atau penurunan.

Analisis laporan keuangan menggunakan perhitungan rasio-rasio agar dapat mengevaluasi keadaan finansial perusahaan dimasa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Rasio dapat dihitung berdasarkan sumber datanya yang terdiri dari rasio-rasio neraca yaitu rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca, rasio-rasio laporan laba-rugi yang disusun dari data yang berasal dari perhitungan laba-rugi, dan rasio-rasio antar laporan yang disusun berasal dari data neraca dan laporan laba-rugi. Laporan keuangan perlu disusun untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan tersebut meningkat atau bahkan menurun dan didalam menganalisis laporan keuangan diperlukan alat analisis keuangan, salah satunya adalah dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio keuangan tersebut meliputi rasio likuiditas, rasio solvabilitas (leverage), rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio pertumbuhan.

Rasio keuangan merupakan angka hasil perbandingan antara satu angka keuangan dengan angka keuangan lainnya. Angka-angka tersebut terdapat dalam laporan keuangan, yang terdiri dari neraca, laporan laba/rugi, laporan arus kas dan perubahan posisi modal sendiri.

Analisa rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut. Analisis rasio keuangan merupakan bentuk atau cara umum yang digunakan dalam analisis laporan keuangan. Analisis rasio berguna bagi para analisis intern untuk membantu manajemen membuat evaluasi mengenai hasil-hasi operasinya, mempe            rbaiki kesalahan-kesalahan dan menghindari keadaan yang dapat menyebabkan kesuiltan keuangan.

Analisis Rasio Keuangan atau Financial Ratio adalah merupakan suatu alat analisa yang digunakan oleh perusahaan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan masing-masing pos yang terdapat di laporan keuangan seperti Laporan Neraca, Rugi / Laba, dan Arus Kas dalam periode tertentu.

 

Laporan Keuangan bertujuan untuk memberikan gambaran informasi mengenai posisi keuangan dan kinerja perusahaan yang dapat dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan bisnis.

Analisis Data Laporan Keuangan dilakukan dengan menganalisa masing - masing pos yang terdapat di dalam laporan keuangan dalam bentuk rasio posisi keuangan dengan tujuan agar dapat memaksimalkan kinerja perusahaan untuk masa yang akan datang.

Setiap tutup periode akhir bulan biasanya accounting menyiapakan dan menyusun Laporan Keuangan yang terdiri dari Laporan Neraca, Rugi Laba, Arus Kas, Perubahan Modal, dan Laporan tersebut diserahkan ke pimpinan perusahaan. Hal umum yang biasa terjadi adalah mereka hanya fokus terhadap Laporan Laba Rugi, namun ada hal yang lebih penting yang perlu disajikan dalam penyampaian laporan ini yaitu mengenai Analisis Laporan Keuangan.

Tujuan utama analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:

Sebagai alat barometer untuk melakukan forecasting atau memproyeksikan posisi keuangan dimasa yang akan datang.

Mereview kondisi perusahaan saat ini, permasalahan dalam manajemen, operasional maupun, keuangan.

 

LITERATUR TEORI

A.    KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan adalah suatu alat bantu yang dapat digunakan untuk membuat suatu keputusan antara lain mengenai rencana-rencanan perusahaan, penanaman modal/investasi, pencarian sumber-sumber dana oprasi perusahaan lainnya (Amin Wijaya Tunggal, 1995). Melalui analisis laporan keuangan ini maka para pemakai informasi akuntansi dapat mengambil keputusan. Pengelola/manajer dalam suatu perusahaan dapat menilai apakah kinerjanya dalam suatu periode yang lalu mendatangkan keuntungan atau tidak, Komponen laporan keuangan yang umumnya dikeluarkan oleh perusahaan biasanya terdiri atas:

1.     Laporan Posisi Keuangan / Neraca (Balance Sheet).

Laporan Posisi Keuangan/Neraca adalah suatu bagian dari laporan keuangan yang menunjukkan keadaan dari suatu unit usaha pada tanggal tertentu yang terdiri atas dua bagian yaitu aktiva dan pasiva. Aktiva dapat dikategorikan sebagai investasi yang dilakukan dalam perusahaan sedangkan pasiva merupakan sumber-sumber yang digunakan untuk investasi tersebut dan jumlah kedua bagian ini harus sama.”

Menurut Smith dan Skousen (2007, hal 152): Neraca adalah merupakan laporan pada suatu saat tertentu mengenai sumber daya perusahaan (aktiva), hutangnya (kewajiban) dan klaim kepemilikan terhadap sumber daya (ekuitas pemilik).” Neraca sendiri dapat disusun dalam dua bentuk, yaitu bentuk T (T Form) dan bentuk L (L Form). Di dalam bentuk T form semua harta perusahaan ditempatkan pada sisi bagian kiri neraca dengan judul aktiva (assets), sedangkan hutang dan modal ditempatkan pada sisi kanan neraca dengan judul pasiva (Liabilities and Stockholders’ Equity). Dalam bentuk L form, semua harta perusahaan ditempatkan pada bagian atas neraca, sedangkan hutang dan modal ditempatkan pada bagian bawah neraca. Menurut Smith dan Skousen (2007, hal 164) keterbatasan neraca antara lain adalah:

a.      Sumber daya dan kewajiban entitas biasanya disajikan menurut harga perolehan (historical cost) pada saat terjadinya sehingga menjadi tidak relevan untuk melakukan evaluasi kekayaan perusahaan.

b.     Ketidakstabilan nilai mata uang menyebabkan neraca tidak mencerminkan daya beli konstan. Akibatnya, neraca mencerninkan aktiva, kewajiban, dan ekuitas dalam satuan daya beli yang tidak sama.

c.      Sulitnya untuk melakukan perbandingan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya karena masing-masing perusahaan tidak mengklasifikasikan dan melaporkan semua pos yang hampir sama secara seragam.

d.     Dalam hal pengukuran, ada beberapa sumber daya dan kewajiban entitas tidak dilaporkan ke dalam neraca (Off Balance Sheet Item).

 

Laporan posisi keuangan terdiri dari 3 (tiga) unsur, yaitu aset, liabilitas, dan ekuitas. Informasi yang dapat disajikan di laporan posisi keuangan antara lain posisi sumber kekayaan entitas dan sumber pembiayaan untuk memperoleh kekayaan entitas tersebut dalam suatu periode akuntansi.

 

2.     Laporan Laba Rugi (Income Statement).

Laporan laba rugi adalah laporan yang menyajikan seluruh pos pendapatan dan beban yang diakui dalam satu periode. Laporan laba rugi dapat disajikan dalam 2 (dua) bentuk:

1)  Bentuk satu, laporan laba rugi komprehensif

2)  Bentuk dua laporan:

        Laporan yang menunjukkan komponen laba rugi (laporan laba rugi terpisah); dan

        Laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukkan komponen pendapatan komprehensif lain (laporan laba rugi komprehensif)

 

Pendapatan komprehensif lain berisi pos-pos pendapatan dan beban (termasuk penyesuaian reklasifikasi) yang tidak diakui dalam laba rugi.

Laporan laba rugi adalah suatu laporan utama akuntan dalam mengukur kinerja ekonomi suatu usaha, yaitu pendapatan dikurangi dengan biaya-biaya selama periode akuntansi tertentu. Menurut Baridwan (2000, hal 39-40) laporan laba rugi dalam penyajiannya dibagi menjadi dua bentuk, yaitu:

a.      Single step model

Adalah bentuk laporan laba rugi yang dilakukan pengelompokan- pengelompokan atas pendapatan dan biaya ke dalam kelompok-kelompok usaha dan di luar usaha tetapi hanya dipisahkan antara pendapatan-pendapatan dan laba dengan biaya-biaya kerugian.

b.     Multistep model

Adalah bentuk laporan laba rugi dimana dilakukan beberapa pengelompokan terhadap pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya yang disusun dalam urutan tertentu.

 

3.     Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan perubahan ekuitas yaitu laporan keuangan yang menunjukan perubahan ekuitas selama satu periode. Laporan perubahan ekuitas terdiri dari saldo awal modal pada neraca saldo setelah disesuaikan di tambah laba bersih selama satu periode dikurangi dengan pembayaran dividen. Komponen akun dalam laporan perubahan ekuitas adalah:

a.      Modal awal

b.     Laba (rugi) tahun berjalan

c.      Pembayaran dividen

d.     Pencadangan saldo laba untuk cadangan tujuan

e.      Modal akhir

 

4.     Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement).

Laporan arus kas adalah suatu ringkasan mengenai penerimaan dan pembayaran kas dari suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Laporan ini dibuat dengan melakukan perbandingan antara neraca di awal periode dengan neraca di akhir periode serta menggunakan pos-pos kunci di dalam laporan laba rugi. Dalam penyajiannya, menurut Hackel dan Livnat (1996, hal 146-164), Laporan arus kas dibagi dalam tiga kelompok yaitu:

a.     Aktivitas operasional (Operating).

Adalah kelompok yang meliputi seluruh transaksi dan kegiatan lainnya yang tidak termasuk di dalam kegiatan investasi maupun pembiayaan perusahaan. Secara lebih jelas, arus kas yang berasal dari kegiatan operasional meliputi arus kas dari kegiatan produksi, distribusi barang dan penyediaan jasa. Arus kas dari kegiatan operasi adalah arus kas hasil dari transaksi dan kegiatan lainnya yang ikut menentukan laba bersih.

b.     Aktivitas Investasi (Investing).

Adalah kelompok yang meliputi pembelian dan penagihan piutang, pengembalian persediaan barang dagang, pembayaran pinjaman, pengadaan serta penjualan ekuitas dan harta kekayaan perusahaan (tanah), bangunan, dan peralatan serta aktiva-aktiva produktif lainnya, yaitu aktiva yang digunakan oleh perusahaan untuk melakukan produksi barang dan jasa.

c.      Aktivitas pendanaan atau pembiayaan (Financing).

Adalah kelompok yang meliputi perolehan sumber daya dari para pemilik dan pemberian hasil atas investasi yang telah dilakukan, peminjaman, serta pembayaran kembali hutang oleh pemiliknya atau sebaliknya penyelesaian kewajiban perusahaan kepada pemilik, dan perolehan serta pembayaran sumber daya lainnya yang berasal dari pembiayaan jangka panjang.

 

5.     Catatan atas laporan keuangan (berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lain); dan

6.     Laporan posisi keuangan pada awal periode sebelumnya ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.

 

B.    ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

1.  Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Secara umum, pengguna laporan keuangan bertujuan melakukan analisis terhadap kesehatan perusahaan

 

2.  Jenis Analisis Laporan Keuangan

Analisis Laporan Keuangan juga diperlukan untuk memahami posisi keuangan selama periode tertentu. Menurut Myres, "Analisis laporan keuangan sebagian besar merupakan studi hubungan antara berbagai faktor keuangan dalam bisnis seperti yang diungkapkan oleh satu set laporan dan studi tentang tren faktor ini seperti yang ditunjukkan dalam serangkaian pernyataan ". Analisis laporan keuangan dapat secara luas diklasifikasikan menjadi dua jenis penting dasar bahan yang digunakan dan metode operasi.

 

Berdasarkan Material Bekas

Berdasarkan bahan yang digunakan, analisis laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis utama seperti analisis eksternal dan analisis internal.

b.     Analisis Eksternal

Luar dari badan usaha melakukan analisis biasanya eksternal tetapi mereka secara tidak langsung terlibat dalam badan usaha seperti investor, kreditur, organisasi pemerintah dan lembaga kredit lainnya. Analisis eksternal adalah sangat berguna untuk memahami posisi keuangan dan operasionalmbadan usaha. Analisis eksternal terutama tergantung pada diterbitkan laporan keuangan perhatian. Analisis ini menyediakan hanya terbatas informasi tentang badan usaha.

c.      Analisis internal

Perusahaan itu sendiri tidak mengungkapkan beberapa informasi yang berharga bagi badan usaha dalam jenis analisis. Analisis ini digunakan untuk memahami pertunjukan operasional masing-masing dan setiap departemen dan unit badan usaha. Analisis internal membantu untuk mengambil keputusan mengenai mencapai tujuan dari badan usaha.

 

Berdasarkan Metode Operasi

Berdasarkan metode operasi, analisis laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis utama seperti analisis horizontal dan analisis vertikal.

a.       Analisis Horizontal

Berdasarkan analisis horizontal, laporan keuangan dibandingkan dengan beberapa tahun dan berdasarkan itu, perusahaan dapat mengambil keputusan. Biasanya, saat ini angka tahun dibandingkan dengan tahun dasar (tahun dasar yang menganggap sebagai 100) dan bagaimana informasi keuangan yang berubah dari tahun ke tahun. Analisis ini juga disebut sebagai analisis dinamis.

b.      Analisis Vertikal

Berdasarkan analisis vertikal, laporan keuangan mengukur jumlah hubungan dari berbagai item dalam laporan keuangan pada periode tertentu. Hal ini juga disebut sebagai analisis statis, karena, analisis ini membantu untuk menentukan hubungan dengan berbagai item muncul dalam laporan keuangan. Sebagai contoh, penjualan diasumsikan sebagai 100 dan barang-barang lainnya yang diubah menjadi angka penjualan.

 

PEMBAHASAN

Teknik Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan yaitu untuk menentukan kinerja keuangan dan operasional perusahaan. Sejumlah metode atau teknik yang digunakan untuk menganalisis laporan keuangan perusahaan. Berikut ini gambaran umum metode atau teknik yang banyak digunakan oleh perusahaan sbb:

Gambar 2.3 Teknik Analisis Laporan Keuangan

 

a.       Analisis Rasio Keuangan (Ratio Analisis)

b.      Analisis Perbandingan Laporan Keuangan (Comparative Financial Statement Analysis)

1)     Analisis Laporan Keuangan Perbandingan Laporan Posisi Keuangan (Comparative Statement of Financial Position Analysis)

2)     Analisis Laporan Keuangan Perbandingan Pendapatan (Comparative Income Statement Analysis)

c.       Analisis Laporan Keuangan Sistem Trend (Trend Analysis)

d.      Analisa Common size (Common Size Analysis)

e.       Analisa Du Pont (Du Pont Analysis)

f.        Analisa Aliran Dana (Fund Flow Statement)

g.       Analisa Arus Kas (Cash Flow Statement)

h.      Analisa Rasio (Ratio Analysis)

 

a.       Analisis Rasio (Rasio Analysis)

Analisis rasio adalah teknik yang paling populer dan banyak digunakan untuk melakukan analisis laporan keuangan. Rasio dapat bermanfaat sebagai analisis perbandingan dengan 1) rasio tahun lalu, 2) standar yang telah ditentukan, dan 3) rasio kompetitor.

Aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis rasio:

a.     Faktor yang mempengaruhi rasio

Analis harus memahami faktor yang dapat mempengaruhi rasio perusahaan, misalnya kejadian ekonomi, faktor industri, kebijakan manajemen, dan kebijakan akuntansi.

 

b.    Interpretasi dari rasio

Rasio harus diinterpretasikan dengan cermat, karena faktor yang mempengaruhi numerator (pembilang) akan berkorelasi dan berdampak terhadap denominatornya (penyebut)

 

Untuk menganalisis laporan keuangan perusahaan, diperlukan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran yang sering digunakan adalah rasio. Rasio diperoleh dengan membandingkan satu pos atau elemen laporan keuangan dengan elemen yang lain dalam laporan keuangan tersebut. Analisis atas laporan keuangan suatu entitas tergantung pada sudut pandang serta tujuan pihak yang melakukan analisis. Analisis dapat berbeda untuk satu pihak dengan pihak yang lain.

 

Menurut Hanafi dan Halim pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan kedalam lima macam kategori, yaitu:

1.     Rasio Likuiditas

2.     Rasio Aktivitas

3.     Rasio Solvabilitas

4.     Rasio Profitabilitas

5.     Rasio Pasar

 

Melalui kelima rasio tersebut, investor dapat melihat prospek dan resiko perusahaan pada masa yang mendatang. Kelima faktor tersebut akan mempengaruhi harapan investor terhadap perusahaan pada masa-masa mendatang. Dari kelima rasio diatas akan dijelaskan definisi serta perhitungannya yaitu sebagai berikut:

a)     Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio).

Merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang akan segera jatuh tempo.

Rasio likuiditas yang umum digunakan yaitu:

1)     Rasio Lancar (Current Ratio).

Rasio ini dihitung dengan membagi Aktiva lancar dengan Utang Lancar. Rasio lancar merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek, karena rasio ini menunjukkan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo utang.

Rasio lancar yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuiditas. Sebaliknya suatu perusahaan yang rasio lancarnya terlalu tinggi juga kurang bagus, karena menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan peningkatan laba perusahaan.

 

2)     Rasio Kas (Cash Ratio).

Rasio ini dihitung dengan kas ditambah efek kemudian membagi hasilnya dengan Utang Lancar.

Rasio kas yaitu kemampuan untuk membayar hutang yang harus segara dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan (mudah dirubah menjadi uang).

 

3)     Rasio Cepat (Quick/Acid Test Ratio).

Rasio ini dihitung dengan mengurangkan Persediaan dari Aktiva Lancar dan kemudian membagi hasilnya dengan Utang Lancar.

Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya rendah, sering mengalami fluktuasi harga, dan unsur aktiva lancar ini sering menimbulkan kerugian jika terjadi  likuidasi.  Jadi  rasio  cepat  lebih  baik  dalam  mengukur  kemampuan  suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio cepat yang umumnya dianggap baik adalah 1 (satu).

 

4)     Rasio Modal Kerja (Working Capital to Total Asset Ratio).

Rasio ini dihitung dengan aktiva lancar dikurangi hutang lancar kemudian membagi hasilnya dengan jumlah aktiva.

Rasio modal kerja yaitu Likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja (netto).

 

b)     Rasio Aktivitas (Activity Ratio).

Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan (penjualan, persediaan, penagihan piutang dan lainnya). Atau rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.

Adapun sebagian dari rasio – rasio aktivitas adalah sebagai berikut:

1)     Total Assets Turn Over Ratio (TATO Ratio).

Kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu atau kemampuan modal yang dinvestasikan untuk menghasilkan revenue. Kemudian juga mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap Rupiah aktiva dan biasanya rasio ini dinyatakan dengan desimal. Rumus untuk mencari Total Assets Turnover digunakan adalah sebagai berikut:

 

2)     Tingkat Perputaran Piutang (Receivable Ratio).

Kemampuan perusahaan dalam mengumpulkan piutang, artinya semakin cepat perputaran piutang semakin bagus dalam pengumpulan piutangnya. Ukurannya:

      Receivable Turnover

Digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode. Atau berapa kali dana yang tertanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode. Semakin tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah (bandingkan dengan rasio sebelumnya) dan tentunya kondisi ini bagi perusahaan semakin baik. Sebaliknya jika semakin rendah maka ada over investment dalam piutang. Cara mencari rasio ini adalah dengan membandingkan antara penjualan kredit dengan rata piutang.

Rumusan untuk mencari turnover receivable adalah sebagai berikut:

 

      Average Collection Period

Digunakan untuk mengukur periode rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang. Bagi bank yang akan memberikan kredit perlu juga menghitung hari rata–rata penagihan piutang (days of receivable). Rumus yang digunakan adalah:

 

3)     Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over)

Kemampuan perusahaan dalam memutarkan persediaan barang yang dimiliki, artinya semakin cepat perputaran perputaran persediaan semakin cepat barang yang dimiliki terjual. Ukurannya:

      Inventory Turnover

Digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam inventory ini berputar dalam satu periode. Rasio ini dikenal dengan nama rasio perputaran persediaan (inventory turnover). Rasio ini juga menunjukkan berapa kali jumlah barang persediaan diganti dalam satu tahun. Semakin kecil rasio ini maka semakin jelek, demikian pula sebaliknya.

Cara mencarinya adalah dengan membandingkan antara harga pokok barang yang dijual dengan rata – rata persediaan. Namun apabila tidak ada harga pokok maka dapat digunakan sebagai perhitungan adalah penjualan (sales) dengan rata – rata persediaan dan biasanya dalam hitungan tahun. Rumus untuk mencari inventory turnover digunakan adalah sebagai berikut:

 

      Average Day’s Inventory

Digunakan untuk mengukur periode menahan persediaan rata-rata atau perioded rata- rata persediaan barang berada di gudang. Rumus yang digunakan adalah:

 

4)     Perputaran Aset (Asset Turnover)

Digunakan untuk mengukur penggunaan semua aktiva perusahaan. Kemudian juga mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap Rupiah aktiva dan biasanya rasio ini dinyatakan dengan desimal. Rumus untuk mencari assets turnover digunakan adalah sebagai berikut:

 

c)     Rasio Solvabilitas/Leverage (Solvability Ratio)

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Perusahaan yang tidak solvabel adalah perusahaan yang total hutangnya lebih besar dibandingkan total asetnya. Rasio ini mengukur likuiditas jangka panjang perusahaan dan dengan demikian memfokuskan pada sisi kanan neraca. Ada beberapa macam rasio yang dapat dihitung: rasio total hutang terhadap total aset, rasio Time Interest Earned, rasio Fixed Charges Coverage.

Rasio Solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban berupa pembayaran bunga dan pokok pinjaman jangka panjang. Rasio ini berhubungan dengan Hutang/debt. Artinya seberapa besar hutang yang digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Rasio ini penting sekali karena perusahaan perlu mengatur seberapa besar hutang yang digunakan nantinya, karena apabila perusahaan tidak mengatur ini maka bisa saja hutang yang terlalu tinggi dan bunga terlalu tinggi, sedangkan hasil laba operasional perusahaan rendah. Oleh karena itu hutang harus disinkronisasikan dengan laba perusahaan.

Solvabilitas  suatu  perusahaan  menunjukkan  kemampuan  perusahaan  untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya apabila sekiranya perusahaan tersebut pada saat itu dilikuidasikan (Bambang Riyanto, 1995, hal 32).

Suatu perusahaan yang solvabel belum tentu likuid dan sebaliknya perusahaan yang insolvable belum tentu ilikuid. Dalam hubungan antara likuiditas dan solvabilitas ada empat kemungkinan yang dapat  dialami oleh perusahaan yaitu:

§  Perusahaan yang likuid tetapi insolvabel

§  Perusahaan yang likuid dan solvabel

§  Perusahaan yang solvabel tetapi ilikuid

§  Perusahaan yang insolvabel dan ilikuid

 

Tingkat  solvabilitas diukur dengan beberapa  rasio, yaitu :

1.      Total Debt to Equity Ratio (DER)

Rasio ini membandingkan modal sendiri (Net worth) di satu pihak dengan total hutang (Total Debt) di lain pihak. Rumus:

 

Makin kecil prosentase ratio ini berarti makin cepat  perusahaan  menjadi  insolvabel. Tingkat solvabilitas dapat dipertinggi hanya dengan jalan penambahan modal sendiri dengan alternatif  sebagai berikut:

a.     Menambah aktiva tanpa menambah utang atau menambah aktiva relatif lebih besar daripada  bertambahannya hutang.

b.    Mengurangi hutang tanpa mengurangi aktiva atauengurangi hutang relatif besar daripada  berkurangnya aktiva.

 

2.      Debt  to Asset Ratio (DAR)

Debt to Asset Ratio (DAR) adalah ratio yang dihasilkan dengan membandingkan jumlah aktiva (total assets) di satu   pihak  dengan   jumlah utang (total debt  dilain pihak). Rumus:

 

3.      Long Term Debt to Total Equtiy Ratio (LTDE)

Rasio ini menunjukkan besarnya hutang jangka panjang yang dimiliki perusahaan dibanding dengan modal sendiri yang dimiliki. Rumus:

 

4.      Time Interest Earned Ratio (TIER)

Ratio ini menujukkan kemampuan perusahaan untuk membayar bunga hutang dengan laba yang diperoleh. Semakin besar ratio ini semakin besar kemampuan perusahaan memenuhi pembayaran bunga

 

d)     Rasio Profitabilitas (Profitability Rasio)

Profitability Rasio adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, artinya seberapa besar rasio dari kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktifitas perusahaan maka semakin baik perusahaan tersebut.

Rasio profitabilitas yaitu rasio yang melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Rasio profitabilitas merupakan aspek fundamental perusahaan, karena selain memberikan  daya tarik yang besar bagi investor yang akan menanamkan dananya pada perusahaan juga sebagai alat ukur terhadap efektivitas dan effisiensi penggunaan semua sumber daya yang ada di dalam proses operasional perusahaan. Hanafi dan Halim (1996) mendefinisikan rasio profitabilitas sebagai rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu.

Rasio profitabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator:

1)   Ratio profitabilitas yang berhubungan dengan penjualan

§  Gross profit margin

§  Profit Margin

§  Net Profit Marin

2)   Ratio profitabilitas yang berhubungan dengan investasi

§  Return on Assets

§  Return on Equity

§  Return on Investment

 

1.   Profit Margin

Profit Margin merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan penjualan yang dicapai.

Ratio profitabilitas yang berhubungan dengan penjualan:

a.     Gross Profit Margin Ratio (GPM)

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

 

b.    Profit Margin Ratio (PMR)

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

 

c.     Net Profit Marin

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

 

2.   ROA (Return on Asset)

Return on Asset juga sering disebut sebagai rentabilitas ekonomis merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam hal ini laba yang dihasilkan adalah laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT.

 

3.   ROE (Return on Equity)

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan  modal tertentu. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham. Rasio ROE bisa dihitung sebagai berikut:

 

Meskipun, rasio ini mengukur laba dari sudut pandang pemegang saham, rasio ini tidak memperhitungkan dividend maupun capital gain untuk pemegang saham. Karena itu rasio ini bukan pengukur return pemegang saham yang sebenarnya. ROE dipengaruhi oleh ROA dan Leverage keuangan perusahaan. Selain itu ROE bisa dihitung dengan cara:

Bagian atas persamaan tersebut (numenator) mencerminkan bagian laba yang bisa dialokasikan ke pemegang saham untuk periode tertentu, setelah semua hak-hak kreditur dan saham preferen telah dilunasi, biaya bunga telah dikurangkan dari laba bersih. Sementara dividen untuk saham preferen belum dikurangkan. Karena itu dividen untuk saham preferen mesti dikurangkan darilaba bersih perusahaan untuk memperoleh hak bersih pemegang saham biasa. Pembagi (denominator) persamaan diatas mengukur rata- rata jumlah saham yang digunakan selama periode tersebut. Saham biasa sama dengan total saham dikurangi nilai dari nominal saham preferen

 

4.   ROI (Return on Investment)

Return on Investment merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutup investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk mengukur rasio ini adalah laba bersih setelah pajak atau EAT. Formula yang digunakan untuk menghitung ROI adalah sebagai berikut:

Dalam analisa keuangan mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh (komprehensif). Analisa ROI ini merupakan teknik analisa yang lazim digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan.

Return on Investment itu sendiri adalah salah satu bentuk dari ratio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Dengan demikian ratio ini menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan (net operating  income) dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut (net operating assets). Sebutan lain untuk ratio ini adalah net operating profit rate of return atau operating earning power.

Kegunaan dari analisa ROI dapat dikemukakan sebagai berikut:

a.       Sebagai salah satu kegunaannya yang prinsipil ialah sifatnya yang menyeluruh. Apabila perusahaan sudah menjalankan praktek akuntansi yang baik maka manajemen  dengan menggunakan teknik analisa ROI dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang bekerja, efsiensi produksi danefisiensi bagian penjualan. Apabila suatu perusahaan pada suatu periode telah mencapai “operating aset turnover“ sesuai dengan standar atau target yang telah ditetapkan, tetapi ternyata ROI-nya masih dibawah standar target, maka perhatian managemen dapat dicurahkan pada usaha peningkatan efisiensi disektor produksi dan penjualan. Sebaliknya apabila profit margin telah mencapai  target atau standar yang telah ditetapkan, sedangkan operating aset turn over masih dibawah target maka perhatian managemen dapat dicurahkan nuntuk perbaikan kebijaksanaan investasi baik dalam modal kerja maupun dalam aktiva tetap. Rendahnya operating aset turnover ini bisa disebabkan karena kesalahan dalam kebijakan pembelian bahan mentah yang dibeli terlalu besar menumpuk di gudang.

b.      Apabila perusahaan dapat mempunyai data industri sehingga dapat diperoleh ratio industri, maka dengan analisa ROI ini dapat dibandingkan efisiensi penggunaan modal pada perusahaannya dengan perusahaan lain yang sejenis, sehingga dapat diketahui apakah perusahaannya berada dibawah, sama, atau diatas rata-ratanya. Dengan demikian akan dapat diketahui dimana kelemahannya dan apa yang sudah kuat pada perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis.

c.       Analisa ROI dapat digunakan untuk mengukur efisiensi aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh divisi/bagian, yaitu dengan mengalokasikan semua biaya dan modal ke dalam bagian yang bersangkutan. Arti penting mengukur rate of return pada tingkat bagian adalah untuk dapat membandingkan efisiensi suatubagian dengan bagian yang lain didalam perusahaan yang bersangkutan.

 

Kelemahan analisa ROI yaitu:

a.     Perbedaan metode dalam penilaian berbagai aktiva antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain, perbandingan tersebut akan dapat memberi gambaran yang salah. Ada berbagai metode penilaian inventory (FIFO, LIFO,The Lower cost or market valuation) yang digunakan akan berpengaruh terhadap besarnya nilai inventory, dan yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap jumlah aktiva. Demikian pula adanya berbagai metode depresiasiakan berpengaruh terhadap jumlah aktivanya.

b.     Kelemahan lain dari teknik analisa ini adalah terletak pada adanya fluktuasi nilai dari uang (daya belinya). Suatu mesin atau perlengkapan tertentu yang dibeli dalam keadaan inflasi nilainya berbeda dengan kalau dibeli pada waktu tidak ada inflasi, dan hal ini akan berpengaruh dalam menghitung investment turn over dan profit margin.

 

5.   Earning Per Share (EPS)

Kadang-kadang pemilik juga menginginkan data mengenai keuntungan yang diperoleh  untuk setiap lembar sahamnya. Keuntungan perlembar saham biasanya merupakan  indikator laba yang diperhatikan oleh para investor yang merupakan angka dasar yang diperlukan dalam menentukan harga saham.Earning pershare atau laba perlembar saham merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik.Laba yang digunakan sebagai ukuran adalah laba bagi pemilik atau EAT.

Senada dengan Haniffa, Gray (1988) dalam Ratmono, (2003), akuntabilitas dipandang lebih sesuai dengan tujuan akuntansi berdasarkan syari’ah. Gray menganggap bahwa adanya akuntabilitas akan membuat perusahaan lebih memperhatikan kepentingan sosial. Adanya akuntabilitas menuntut perusahaan lebih memperhatikan stakeholders dan lingkungan dari pada stockholders semata. Sementara Triyuwono (2002), berpendapat tujuan akuntansi syari’ah bersifat materi yaitu pemberian informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi dan bersifat spirit yaitu akuntabilitas.

Berbeda dengan Harahap (2001), dimana tujuan akuntansi   syari’ah   adalah   muamalah   yaitu   Amar   Ma’ruf   Nahi   Munkar,   keadilan  dan kebenaran, maslahat sosial, kerjasamaaa, menghapus riba,dan mendorong zakat. Sehingga dengan demikian tujuan akuntansi syari’ah lebih menekankan pentingnya memberikan informasi bagi penghitungan zakat,pelaksanaan keadilan dan melaporkan kegiatan yang bertentangan dengansyari’ah. Tujuan-tujuan tersebut perlu dilakukan dalam rangka memenuh tanggungjawab bank kepada direct stakeholders maupun indirect stakeholders.

Sementara itu berkaitan dengan konsep kepemilikan (equity), pakar akuntansi syari’ah antara lain; Harahap (1997), Adnan (1999), Triyuwono (2000),dan Baydoun dan Willeet (2000), berpendapat mengingat tujuan akuntansi syari’ah mencakup aspek sosial dan pertanggungjawaban, maka teori enterprise lebih sesuai dengan akuntansi syari’ah. Mereka berpendapat akuntansi syari’ah dipandang tidak saja sebagai bentuk akuntabilitas kepada stakeholders dan Tuhan. Pandangan ini yang mendasari Baydoun dan Willet (2000) mengusulkan Laporan Nilai Tambah (Value Added Statement) sebagai komponen Laporan Keuangan Islami yang memberikan perhatian kepada pihak-pihak yang memberikan kontribusi kepada perusahaan. Akuntasi syari’ah seharusnya memberikan perhatian tidak hanya sebatas pada pemilik modal tetapi juga kepadapihak-pihak lain.

 

e)     Rasio Pasar

Rasio pasar yaitu rasio yang mengukur harga pasar relatif terhadap nilai buku. Sudut pandang rasio ini lebih banyak berdasar pada sudut investor atau calon investor, meskipun pihak manajemen juga berkepentingan terhadap rasio-rasio ini. Ada beberapa rasio pasar yang bisa dihitung yaitu:

1.   Price Earning Rasio (PER)

Price Earning Rasio (PER) merupakan rasio untuk rasio untuk melihat harga saham relatif terhadap earningnya. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu:

2.   Dividend Yield (DY)

Dividend Yield (DY) merupakan rasio untuk melihat bagian dari harga pasar saham yang akan diperoleh investor. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu:

3.   Price to Book Value (PBV)

Price to Book Value (PBV) Merupakan rasio untuk menilai suatu ekuitas berdasarkan nilai bukunya.  Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu:

4.   Book Value (BV)

Book Value (BV) Merupakan rasio dihasilkan dari ekuitas dibagi rata-rata jumlah saham yang beredar.  Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :

 

3.  Alat Ukur Kinerja Keuangan Yang Lain

Meskipun data-data akuntansi memberikan banyak informasi yang berguna, namun akunyansi juga memiliki keterbatasan. Dalam menghadapi keterbatasan ini analisis melakukan penyesuaian dengan memberikan ukuran kinerja alternatif. Beberapa ukuran profitabilitas akhir akhir ini yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja manajerial antara lain MVA (Market Value Added) serta EVA (Economic Value Added).

1.      Nilai Tambah Pasar (Market Value Added/MVA)

Tujuan utama sebagian besar perisahaan adalah memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Tujuan ini jelas menguntungkan pemegang saham, tetapi juga memastikan bahwa sumber daya yang terbatas telah dialokasikan secara efisien, yang menguntungkan perekonomian.

Kekayaan pemegang saham akan menjadi maksimal dengan memaksimalkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas perusahaan dan jumlah modal ekuitas yang diinvestasikan investor. Perbedaan ini disebut Nilai Tambah Pasar (Market Value Added/MVA).

MVA dapat diformulasikan sebagai berikut :

MVA = Nilai Pasar Ekuitas – Modal ekuitas yang diinvestasikan oleh investor

 = (Saham yang beredar) (Harga saham) – Total ekuitas saham biasa

Contoh:

Perusahaan “Maju jaya” pada tahun 2010 memiliki nilai ekuitas sebesar Rp.540.000.000,-, sedangkan total nilai pasar saham perusahaan adalah sebesar Manajemen Keuangan Suatu Konsep Dasar Rp.650.000.000,- maka MVA adalah sebesar Rp.90.00.000,- (650 juta-540 juta). Dengan memaksimalkan perbedaan ini, maka berarti manajemen memaksimalkan kekayaan pemegang saham.

 

2.      Nilai Tambah Ekonomi (Economic Value Added/EVA)

Jika MVA mengukur pengaruh tindakan manajerial sejak pendirian perusahaan, maka nilai tambah ekonomi (economic valueadded/EVA) memfokuskan pada efektifitas manajerial dalam satu tahun tertentu. EVA menunjukkan semua laba setelah semua biaya modal termasuk modal ekuitas dikurangkan. Jadi EVA adalah suatu laba ekonomis yang sesungguhnya dalam tahun berjalan, dan hal ini sangat berbeda dengan laba akuntansi. EVA dapat diformulasikan sebagai berikut:

EVA = Laba operasi setelah pajak - biaya modal setelah pajak

 = EBIT (1-tarif pajak) – (Total Modal) (Biaya modal setelah pajak)

Total modal mencakup hutang jangka panjang, saham preferen dan ekuitas saham biasa.

 

Contoh Soal Dan Penyelesaian

Pada tahun 2014 perusahan : Alfaro Jaya” telah bekerja dengan modal sebesar Rp.20.000.000,- yang terdiri dari modal sendiri sebesar 75 % sedangkan sisanya modal asing dengan tingkat bunga 10%. Pada tahun 2014 direncanakan pertambahan modal sebesar Rp 7.500.000,- sehingga tingkat penjualan dapat dinaikkan menjadi Rp 30.000.000,- harga pokok penjualan sebesar Rp 20.000.000,- biaya operasi sebesar Rp 5.000.000,-. Pajak perseroan yang harus dibayar sebesar 50% dari data-data diatas hitunglah:

a.       Earning Power tahun 2014

b.      Profit margin tahun 2014

c.       Total assets turn over tahun 2014

d.      Rate of return on net worth bila tambahan modal dipenuhi dengan modal sendiri dan  Rate of return on net worth bila tambahan modal dipenuhi dengan modal asing.

 

PENYELESAIAN

a.       Mencari Earning power Pertama harus dicari EBIT

Sales                        Rp 30.000.000,-

HPP                        Rp 20.000.000,-

Gross Profit                        Rp 10.000.000,-

Operating expense                        Rp   5.000.000,-

EBIT                        Rp   5.000.000,-

Tatal assets = 20.000.000 + 7.500.000 = Rp 27.500.000,-

b.      Mencari Profit Margin

c.       Mencari Total Assets Turn Over

d.      Mencari Inventory Turn Over

e.       Mencari Debt to Net Worth Ratio

f.        Mencari Time Interest Earned Ratio

g.       Mencari Profit Margin

h.      Mencari Operating Assets Turn Over

i.        Mencari Earning Power

j.        Mencari Rate of Return On Net Worth

 

KESIMPULAN

1.       Untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kineja keuangan, analisis keuangan harus melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan keuangan perusahaan. Alat yang biasa digunakan adalah analisis rasio keuangan. Rasio keuangan adalah yang menghubungkan dua angka akuntansi dalam laporan keuangan dengan membagi satu angka dengan angka lainnya.

2.       Rasio Likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajibannya yang sudah jatuh tempo.

3.       Rasio Aktivitas mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola usahanya.

4.       Rasio Rentabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.

5.       Rasio Pasar mengukur kinerja pasar atau harga pasar saham perusahaan.

6.       Analisis rasio bisa dilakukan dengan melakukan perbandingan internal (analisis trend) dan analisis eksternal (analisis industri).

7.       Market Value Added/MVA adalah perbedaan antara nilai pasar ekuitas perusahaan dan jumlah modal ekuitas yang diinvestasikan investor. Economic Value Added/ EVA adalah suatu laba ekonomis yang sesungguhnya dalam tahun berjalan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Gandhy, Fardinal, (2019). Analysis of Financial Ratio to Predict Financial Distress Conditions (Empirical Study on Manufacturing Companies listed on the Indonesia Stock Exchange for 2014-2017). International Journal of Business and Management Invention (IJBMI), 8(6), 27-34.

Hanifah, S., Sarpingah, S., & Putra, Y. M., (2020). The Effect of Level of Education, Accounting Knowledge, and Utilization Of Information Technology Toward Quality The Quality of MSME ’ s Financial Reports. The 1st Annual Conference Economics, Business, and Social Sciences, 1(3). https://doi.org/10.4108/eai.3-2-2020.163573.

Herliansyah, Y., Nugroho, L., Ardilla, D., & Putra, Y. M., (2020). The Determinants of Micro, Small and Medium Entrepreneur (MSME) Become Customer of Islamic Banks (Religion, Religiosity, and Location of Islamic Banks ). The 1st Annual Conference Economics, Business, and Social Sciences (ACEBISS) 2019, 1, (2). https://doi.org/10.4108/eai.26-3-2019.2290775.

Putra, Y. M., (2017). Pengelolaan Piutang Perusahaan. Modul Kuliah Manajemen Keuangan. FEB-Universitas Mercu Buana: Jakarta.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.