April 04, 2022

Literasi Digital Pada Pelaku Usaha

Oleh : Rizky Dana Wahyu Putra

(@T09-Dana)


Pelaku usaha di tuntut untuk memiliki kemampuan menerima sebuah informasi dan juga diimbangi dengan kemampuan untuk menelusur dan mengidentifikasi informasi yang diterima terutama dalam bentuk digital atau yang disebut dengan kemampuan literasi digital.

Latar Belakang

Sebagai pelaku usaha di tuntut untuk mampu dalam memahami dan mengevaluasi sebuah informasi yang mereka terima. Kemampuan menerima sebuah informasi tersebut tentunya juga diimbangi dengan kemampuan untuk   menelusur dan  mengidentifikasi informasi yang diterima terutama dalam bentuk digital atau yang disebut dengan kemampuan literasi digital. Dimana literasi digital sebagai kemampuan untuk memahami informasi, dan yang lebih penting untuk mengevaluasi dan mengintegrasikan informasi dalam berbagai format yang dapat diberikan oleh komputer dalam Gilster. Literasi digital dan Update juga bisa disebut penggunaan internet sebagai rujukan pertama untuk mencari informasi serta dapat pula dikatakan sebagai kemampuan seseorang untuk menggunakan internet sebagai media dalam mencari sebuah informasi. Untuk itu, pelaku usaha khususnya usaha skala kecil memiliki kemampuan berliterasi digital sebagai tujuan untuk mengembangkan usaha serta mengembangkan perekenomian masyarakat pada pelaku usaha.

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara berkembang mengingat jumlah penduduknya yang relatif banyak. Hal ini tentu berdampak pada kondisi ekonomi dan sosial yang belum merata kesejahteraannya. Masalah yang umumnya dihadapi oleh negara berkembang seperti Indonesia adalah tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran, rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan, mahalnya harga pangan dan kesehatan, dan sebagainya. Cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diperlukanperan kewirausahaan dalam perekonomian Indonesia adalah. Dapat diketahui peran wirausaha dalam perekonomian Indonesia adalah sangat diperlukan untuk menciptakan bisnis baru agar dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Contoh pada Kota Surabaya memiliki program Pahlawan Ekonomi, yaitu pemerintah Surabaya mencoba fokus pada program yang mendorong pengembangan kualitas ekonomi kerakyatan, khususnya bagi pelaku usaha di Kota Surabaya. Dimana pada progam pahlawan ekonomi sebagai program pemberdayaan berupa pendampingan dan pelatihan usaha untuk perkembangan usaha di skala kecil hingga menengah. Maka dari itu juga di perlukan penerapan literasi digital yang harus gencar- gencarnya di lakukan untuk mendorong program tersebut, yang dimana kemampuan literasi digital di Surabaya masih di fokuskan kepada kompetensi teknis menggunakan internet. Banyak lembaga yang mengajarkan pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang hanya berfokus pada keterampilan teknis dalam mengoperasikan perangkat komputer dan internet. Pelaku usaha sangat membutuhkan pelatihan khusus untuk mengembangkan usaha. Misalnya, memberi materi terkait manfaat, keuntungan dan kemudahan untuk melakukan jual beli online, mempraktekkan bagaimana cara untuk menjual barang di marketplace atau online, dan alur untuk menjual barang secara online. Selain itu para pelaku usaha juga dapat menelusur informasi untuk mencari trend apa yang sekarang lagi berkembang kemudian bisa di terapkan dalam usahanya.

Pembahasan

A. Pengertian

Menurut Gilster (1997) literasi digital di jelaskan bagaimana seseorang dapat memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai formast yang digunakan. Gilster juga mengungkapkan bahwa literasi digital tidak hanya sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis, melainkan kemampuan seseorang untuk dapat memahami berbagai makna dan mengerti atas bacaan tersebut. Literasi digital telah mencangkup kepada perluasan ide- ide dalam mengakses informasiyang terdapat dalam format, bukan lagi penekanan terhadap pemahaman tombol. Sehingga dapat di simpulkan bahawa Glister menekanakan lebih kepada proses untuk berpikir kritis terhadap temuan dalam media digital, serta menekankan pada evaluasi yang kritis terhadap informasi apapun yang di temukan melalui media digital di banding dengan kemampuan teknis yang di perlukan untuk mengakses media digital tersebut. Ada empat kompetensi inti yang harus di miliki seseorang wirausaha sehingga dapat di katakan memiliki kemampuan literasi digital yaitu antara lain : aspek pencarian di internet (Internet searching), hypertext navigation, aspek evaluasi konten informasi (content evaluation) serta aspek penyusunan pengetahuan (knowledge assembly). Secara lebih rinci ke empat kompetensi tersebut dijelaskan sebagai berikut :

1. Pencarian di internet (Internet searching)

Gilster (1997) menjelaskan sebagai kemampuan dalam melakukan aktivitas menggunakan internet yang mencangkup beberapa komponen kompetensi yaitu kemampuan untuk melakukan pencarian informasi di internet dengan menggunakan search engine, serta melakukan aktuvitas di dalamnya. Adapun aktivitas yang dapat dilakukan di internet.

2. Hypertext Navigation

Hypertext navigation adalah suatu keterampilan untuk membaca serta pemahaman secara dinamis terhadap hypertext. Sehingga seseorang dituntut untuk memahami navigasi (pandu arah) suatu hypertext dalam web browser yang tentunya sangat berbeda dengan teks yang dijumpai dalam buku teks.

3. Evaluasi konten informasi (content evaluation)

Gilster (1997) kompetensi tersebut dijelaskan sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir kritis dan memberikan penilaian terhadap apa yang di temukan secara online di sertai dengan kemampuan untuk mengindentifikasi keabsahan dan kelengkapan informasi yang di referensikan oleh link hypertext.

B. Dampak Kemampuan           Literasi Digital Terhadap      Keuntungan Usaha

Konsep laba berfungsi sebagai panduan dalam proses pembuatan laporan keuangan dan dapat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Sebagai salah satu elemen akuntansi, laba digunakan sebagai informasi yang dibutuhkan oleh para pengguna laporan keuangan. Oleh karena itu, konsep laba harus dipahami sebagai suatu Bahasa yang dapat   dikomunikasikan kepada para  pengguna. Dari penjabaran mengenai   keuntungan usaha dapat diketahui bahwa keuntungan usaha yang didapat bisa dikatakan positif. Dimana dalam keuntungan usaha yang didapat oleh pelaku usaha mayoritas sejumlah < 50.000.000 yang diperoleh pelaku usaha skala kecil di Kota Surabaya. Hal tersebut sesuai dengan teori keuntungan usaha yang bahwa selisih pendapatan berhubungan dengan kegiatan usaha yang dilakukan (Soemarso S.R, 2009). Dan Houston (2006) mengatakan suatu perubahan ekuitas dalam satu periode setelah disesuaikan dengan modal dan distribusi modal yang melebihi investasi modal awal.

C. Pelaku usaha mikro di Era Globalisasi

Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan perkembangan pesat teknologi, telah memberi kesan kepada persaingan yang sangat hebat di kalangan pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) mengakibatkan perubahan ekonomi yang sangat pesat. Selain itu, penjualan produk juga harus menerima kenyataan akan perkembangan teknologi yang cendrung akan berdampak pada margin keuntungan. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia bisa dibilang bertumbuh sangat pesat. Di tahun 2017, jumlah UMKM di Indonesia telah mencapai 59,2 juta. Untuk saat ini UMKM yang sudah memanfaatkan platform online dalam memasarkan produknya mencapai 3,79 juta. Jumlah ini berkisar 8 persen dari total pelaku UMKM yang ada di Indonesia. Pemerintah yaitu Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Kemenkop UMKM) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) ingin menumbuhkan jumlah pelaku UMKM yang menggunakan platformonline dengan membuat program bertajuk 8 juta UMKM Go Online. 8 Lewat kerja sama ini, pemerintah berharap dapat mempercepat transformasi UMKM di Indonesia menuju digital. Dengan kebijakan pemerintah, UMKM memiliki potensi tumbuh dan berkembang, memiliki pasar yang jauh lebih besar mencapai Internasional. Indonesia segera menghadapi era bonus demografi di tahun 2020-2035, akan menimbulkan dampak persaingan yang ketat. Jika, tidakada dukungan pemangku kebijakan, UMKM akan kalah bersaing dengan pesaing dari luar Indonesia.

Kesimpulan

Terdapat empat aspek dalam mengetahui gambaran komptensi literasi digital yaitu aspek pencarian di internet, aspek hypertext navigation, aspek evaluasi konten informasi, dan aspek penyusunan pengetahuan (Gilster, 1997). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek pencarian di internet pada pelaku usaha skala kecil tergolong tinggi. Hasil data kemampuan mengelola email dengan kategori sangat mampu untuk membuat, mengirim, dan menerima email dengan persentase 34,6 %, kemampuan responden menggunakan internet untuk mencari informasi terkait usaha dengan persentase 62,5 %, pemahaman terkait kata kunci yang digunakan untuk mencari informasi yang dibutuhkan kategori paham dengan persentase 39,4 %, pemahaman situs- situs yang berkaitan dengan bidang usaha kategori paham dengan persentase 51,0 %, kemampuan pemasaran dengan media online kategori cukup mampu dengan persentase 40,4 %, intensitas pemanfaatan multimedia melalui internet kategori jarang dengan persentase 45,2 %.

Referensi

Gilster. 1997. Digital Literacy. New York : Wiley

Jurnal NIA, FIS IIP Zah K

Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah provinsi Jawa Timur. 2017. http://diskopukm.jatimprov.go.i d/

https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/14756-Full_Text.pdf

https://money.kompas.com/read/2022/01/02/215320826/peran-kewirausahaan-dalam-perekonomian-indonesia?page=all

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.