Jumat, April 1

Budaya Bisnis China

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa salah satu bangsa yang pandai dalam urusan ekonomi adalah China. Di Indonesia, warga keturunan China  banyak yang menjadi pengusaha sukses dan pebisnis yang handal. Salah satu bidang ekonomi yang sering mereka kerjakan adalah perdagangan. Mengapa banyak warga China dan juga termasuk warga keturunannya lebih senang menjadi pengusaha mandiri ketimbang bekerja pada suatu instansi?


Ternyata ada sebuah prinsip hidup yang mereka pegang, yakni "seseorang bisa dikatakan telah dewasa bila ia mampu berwirausaha secara mandiri dan tidak lagi bekerja untuk digaji". Oleh karena itu, banyak orang Cina dan warga keturunan China yang cenderung lebih suka membuka usaha sendiri dari pada bekerja untuk suatu perusahaan. Meskipun usaha yang dibangun tersebut termasuk bisnis kecil-kecilan, tetapi mereka menganggapnya lebih baik.

Dalam urusan berbisnis, khususnya perdagangan, orang China diakui keahliannya. Sejak zaman kekaisaran lampau, perekonomian bangsa China digerakkan oleh perdagangan. Para saudagar menjalin kerjasama perdagangan mulai dari kawasan Asia hingga ke Eropa. Hingga kini, bangsa China (termasuk warga China yang migrasi ke berbagai penjuru dunia) merupakan pebisnis - pebisnis yang handal. Apa yang membuat mereka mampu menggapai kesuksesan dalam dunia kewirausahaan? Mungkin prinsip, falsafah, dan nilai - nilai kehidupan yang mereka pegang menjadi kunci keberhasilan mereka. Apa sajakah itu?

Orang Cina merupakan bangsa yang fleksibel, mudah berubah, dan mampu beradaptasi dengan beragam keadaan, sehingga ketika mereka menetap di negara lain, mereka akan mudah menyesuaikan diri.

Orang Cina senantiasa berpandangan jauh ke depan, dan tidak membiarkan keadaan menjadi statis. Artinya, jika ayahnya dahulu berjualan air keliling, maka anaknya berupaya untuk menjadi pengusaha air kemasan.

Dalam membuka usaha perdagangan, orang China berupaya menciptakan hubungan saling menguntungkan (mutualisme), sehingga misalnya jika di suatu wilayah telah terdapat usaha rumah makan, maka mereka cenderung menghindari untuk membangun usaha yang sama, tetapi mendirikan usaha yang melengkapi (komplementer), misalnya usaha suplier bahan makanan. Begitu juga sebaliknya.

Kebanyakan orang China percaya bahwa hanya dengan berdagang, mereka dapat menjadi kaya dan meningkatkan taraf hidupnya. Berdagang memungkinkan mereka berubah dan menjadi golongan yang dinamis.

Orang Cina cenderung menghindari untuk berdagang produk musiman, misalnya berdagang jamur saat musim hujan, karena akan mengalami kendala modal dan likuiditas. Pedagang musimam tersebut tidak akan mampu berkembang.

Dalam aktivitas perdagangan, orang Cina berupaya untuk menumbuhkan rasa percaya pelanggan dengan memberikan pelayanan terbaik. Salah satu contoh upaya yang mereka lakukan adalah menyediakan uang recehan (sebagai uang kembalian) sehingga transaksi akan menjadi lebih cepat dan efesien.

Persepsi orang China terkait dengan perdagangan adalah positif. Perdagangan adalah dunia yang menjanjikan kesenangan, kemewahan, dan kebahagiaan. Akitivitas perdagangan dapat membuat mereka lebih cakap dalam berinteraksi, menjalin hubungan, dan berkomunikasi.

Bangsa China menganggap bahwa mereka yang terjun ke dunia dagang dianggap lebih matang dan menjadi rujukan ketimbang mereka yang masih bekerja di suatu perusahaan. Perdagangan tidak membuat seseorang menjadi licik, tetapi membolehkan segalanya berjalan dengan licin khususnya dalam mendapatkan uang.

Orang Cina percaya bahwa hanya dengan bekerja keras dan berani membuka peluang, mereka akan mendapatkan hal yang lebih baik. Dalam berdagang harus bersikap serius dan memiliki komitmen untuk mencapai keberhasilan.

Dalam falsafah bisnis orang Cina, "pedagang yang jatuh akan merasa sakit, tetapi rasa sakit itulah yang membuatnya bangkit kembali". Kegagalan yang dialami dalam perdagangan harus diambil hikmah dan pelajarannya.

Orang Cina sering mewariskan wawasan dan keahlian dagangnya kepada anak cucunya, sehingga sedari kecil mereka telah diajarkan tentang dunia dagang.

Dalam membuka peluang usaha dagang, orang Cina adalah orang yang ketat dan disiplin. Mereka memiliki pembukuan yang baik dan terperinci. Keuntungan yang diperoleh pada awal memulai bisnis tidak boleh dibelanjakan untuk keperluan lain. Keuntungan tersebut harus digunakan untuk menambah modal kerja dan melakukan investasi. 

Pedagang Cina sering menerima tawar-menawar dari calon pembeli. Meskipun hal tersebut akan memakan waktu dan mengurangi keuntungan, tetapi itu dapat membuat hati pembeli menjadi senang, sehingga bagus untuk investasi jangka panjang.

Ada lima prinsip dasar yang banyak dipegang oleh pedagang Cina, yakni agresif, jangan melepaskan peluang, berani mengambil risiko, tahan banting, dan jangan menyerah pada nasib.

Demikianlah deskripsi tentang dunia perdagangan orang-orang Cina dan warga imigran Cina yang membuat mereka mampu memperoleh kesuksesan.

Bangsa Tionghoa terkenal dengan kerja keras dan keuletan mereka dalam menggapai mimpi. Nama-nama seperti Mari Pangestu, Bob Sadino, Agnes Monica, Richard Oh dan Angelique Wijaya, pasti tak asing lagi di telinga Anda. Mereka hanya contoh kecil tokoh Indonesia keturunan Tionghoa yang mengukir prestasi cemerlang di bidang karir masing-masing. Mereka sekaligus membuktikan, warga Tionghoa tidak hanya bisa sukses sebagai pegadang. Etos kerja dan semangat juang tinggi (meski terkadang juga bisa dinilai sangat ambisius) adalah modal mereka. Berikut ini adalah 7 Tips Sukses ala Tionghoa (Kumpulan etos kerja hebat dan pantas ditiru) yang dipegang teguh orang Tionghoa dalam mengejar kesuksesan hidup:

1. Tak Takut Bermimpi.
Meniti karir dari posisi paling bawah sekalipun, orang Tionghoa tidak gengsi. “Sebab, walau masih berada di bawah, mereka tidak takut bermimpi meraih jabatan paling tinggi, Misalnya, ketika menjadi seorang loper Koran, ia akan bermimpi memiliki sebuah penerbitan Koran,” ujar Drs. Sidharta Wirahadikusuma, M.Ed, Pengajar Jurusan Bahasa & Sastra Mandarin di Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Ketua Konsorsium Daerah Bahasa Mandarin Dikmenti DKI Jakarta. Dengan menggenggam impian setinggi langit ini, disadari atau tidak, Anda pun akan berusaha mencari jalan dan menyusun strategi untuk mencapainya. “Orang Tionghoa amat percaya bahwa roda kehidupan itu selalu berputar. Suatu saat berada di bawah, namun di lain waktu pasti akan berhasil mencapai posisi puncak,” imbuh Sidharta.

2. Bekerja dan Bekerja.
Bekerja dan menghasilkan suatu karya adalah salah satu cara untuk membuktikan kepada dunia tentang keberadaan diri Anda. Orang Tionghoa memegang hal ini sebagai pedoman hidup. “Ibaratnya, apabila tidak bekerja atau pun tidak melakukan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain, apa gunanya hidup.” Ujar Sidharta. Waktu dan kesempatan adalah suatu kemewahan yang pantang disia-siakan oleh orang Tionghoa. JIka memakai filosofi ini dalam berkarir, maka itu berarti jangan selalu menakar tugas hanya dengan kepuasan materi. Sebab dengan menghasilkan karya yang baik, Anda pun sudah memperoleh kepuasan pribadi dan makin menguasai bidang pekerjaan yang Anda tekuni saat ini. Jangan lupa bahwa pembuktian diri berupa karya yang baik juga bisa menjadi ajang promosi diri. Bukan hanya pembuktian diri di perusahaan temapt Anda bekerja, namun juga akan sampai ke perusahaan tetangga

3. Berpikir Untuk 3 Keturunan.
Menurut falsafah Konghucu, bangsa Tionghoa selalu berpikir untuk 3 keturunan sekaligus, yaitu untuk dirinya, anak dan cucunya. Contohnya bila ia memiliki uang Rp50.000, maka ia tidak akan menggunakan seluruhnya untuk kepentingan pribadi, melainkan hanya sekitar Rp15.000 saja. Sisanya akan disimpan untuk keperluan anak dan cucu. Dengan bersikap hemat, mereka bisa mengantisipasi berbagaia masalah yang mungkin timbul di kemudian hari.

4. Tak Pernah Menyerah.
Setiap orang pasti menemukan rintangan dalam hidup. Namun, setiap orang juga memiliki cara berbeda dalam menyikapinya. Orang Tionghoa percaya, setiap rintangan dalam kehidupan ini akan membawa dirinya pada kondisi yang lebih baik. Ibarat ujian kenaikan pangkat, kalau berhasil dilewati maka akan memperoleh ganjaran (hasil) yang lebih besar. Ada pepatah klasik yang sejalan dengan hal ini yaitu, kehidupan seseorang hendaknya seperti “ikan mas yang berhasil melompati jembatan naga”. Di Jepang dan Cina, ikan mas adalah lambang kekayaan dan kesejahteraan. Di sungai mereka berenang menentang arus dari hilir ke hulu, untuk menangkap makanan. Walau sesekali terbawa arus, mereka berenang kembali menuju arah semula. Untuk menangkal kuatnya arus, ikan mas berenang menepi. “Pelajaran yang bisa ditarik adalah setiap orang harus mau berusaha untuk mencapai sesuatu. Kalau menemukan masalah, jangan lekas menyerah dan berusahalah mencari solusinya. Kemudian, maju lagi menuju tujuan semula,” ujar Sidharta.

5. Menguasai Bisnis Dari Hulu ke Hilir.
Dalam buku “Resep Kaya Ala Tionghoa” karya Lie Charlie, agar lebih hemat, seorang pengusaha Tionghoa akan berusaha memangkas biaya produksi dengan cara menangani sendiri keseluruhan proses produksinya. Misalnya, seorang pengusaha mie instan akan membuat sendiri semua bahan baku mie. Tepung terigu, bumbu-bumbu bawang, cabai, atau tmat diusahakan dibuat sendiri atau dengan menggandeng pemasok yang sudah dikenal, sehingga bisa member nya harga ‘miring’. Jadi selain berkonsentrasi pada bisnis hilir, pengusaha Tionghoa juga akan mengembangkan bisnis di hulu untuk mendukung keseluruhan usahanya. Meski cara yang biasa ditempuh pengusaha Tionghoa ini secara ilmu ekonomi bisa berbahaya karena rawan tindak monopoli, Anda bisa mengambil sisi positifnya. Misalnya, sebagai pegawai, Anda juga bisa menerapkan tips ini dengan cara mengenal dan (kalau bisa) mengusai seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan posisi Anda di kantor. Misalnya, sebagai seorang staf marketing suatu perusahaan penerbitan, Anda juga perlu mengetahui proses pembuatan naskah, layout, hingga pemasarannya. Bekali pula diri Anda dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat dari pelbagai sumber. Bukankah Anda punya cita-cita pada suatu saat nanti akan memiliki sebuah perusahaan penerbitan sendiri?

6. Memberi Service Terbaik.
Memelihara reputasi adalah poin penting yang harus dipegang setiap orang. Sebab Anda sendiri akan enggan memiliki hubungan dengan seseorang yang tidak dapat dipercaya bukan? Dalam karir, menjaga reputasi dan nama baik bisa dilakukan dengan cara: selalu menepati janji, menaati tenggat pekerjaan serta selalu menampilkan kesan baik di mata setiap orang yang berhubungan dengan Anda. Terkait dengan hal ini, dalam kebudayaan Tionghoa, ada pepatah yang berbunyi “Jika tidak pandai tersenyum, janganlah membuka toko.” Kira-kira maksudnya adalah dalam berkarir ataupun berbisnis, kemampuan kerja seseorang bukanlah hal utama yang dijadikan penilaian, faktor yang tak kalah penting adalah menyangkut kemampuan membawa diri dan kesediaan untuk memberika pelayanan yang terbaik setiap kali mengerjakan sesuatu.

7. Memelihara Relasi.
Orang Tionghoa amat mementingkan kekerabatan dan relasi. Mereka percaya bahwa tidak ada orang yang mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan memiliki relasi, peluang bisnis terbuka lebar. Bagi pengusaha Tionghoa, pelanggan juga termasuk relasi yang harus dijaga dengan baik. Bahkan demi mendapatkan pelanggan setia, mereka tidak akan segan untuk merugi di awal. Pepatah mereka mengatakan, “walau berisik dan membuang kotoran di mana-mana, seseorang tidak boleh menyembelih seekor angsa bertelur emas” Jadi, ibarat memelihara seekor angsa bertelur emas, maka seorang pengusaha wajib menjaga hubungan baik dengan pelanggannya, walaupun pelanggannya seringkali merepotkan. Dalam berkarir, Anda pun harus menjaga hubungan baik dengan rekan kerja, atasan, bawahan serta klien. Dengan menjaga hubungan yang dimiliki, niscaya kebahagiaan dan kesuksesan tidak akan berada jauh dari tempat Anda berdiri saat ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar