Jumat, Juni 3

Hubungan Kewirausahaan dengan Lingkungan

Dalam dunia global, produk luar negeri yang masuk ke dalam negeri menjadi pesaing produk lokal. Begitupula dengan produk lokal dapat diekspor dan menjadi sumber devisa negara. Dalam kondisi perekonomian global dan sangat kompleks, Wirausahawan (pengusaha) dapat tumbuh dengan cara yang berbeda-beda bergantung pada kondisi masing-masing, sehingga tidak ada satu jalan yang pasti dalam membuat peta menuju kesuksesan bagi wirausahawan baru. Sebagai contoh, pengusaha yang berhasil dengan tipe yang berbeda-beda, yaitu :
  • Jacob Oetama (Kompas-Gramedia Group) dan Liem Sioe Liong (Salim Group) tumbuh dari kecil sampai menjadi perusahaan konglomerasi dalam waktu yang lama namun sangat kuat.
  • Rusdi Kirana (Lion Air) dan Hary Tanuwijaya (Bakti Investama) yang mulai dari sektor pasar modal kemudian merambah ke sektor lain khususnya media cetak maupun elektronik (MNC Group) dengan membeli perusahaan yang sudah jadi.
  • Hariono (Bersih Sehat) yang perlahan tumbuh dari kecil sampai mampu mengembangkan usahanya kemanca negara.
  • Agus Susanto (Kopi Luwak) salah satu produk lokal yang mampu bersaing dengan produk luar negeri (Starbuck dan Coffe Bean) di beberapa Hotel dan Super Mall di kota besar.

Oleh karena faktor lingkungan yang berbeda-beda, maka bentuk usaha dan cara pembentukkannya juga berbeda-beda. Tidak ada jalur tunggal dalam membentuk dan mengembangkan kewirausahaan untuk menuju sukses.

a. Kewirausahaan dan Lingkungan Global
Perubahan lingkungan bisnis akan terjadi setiap saat, umumnya berupa gerak perubahan dari salah satu atau gabungan faktor-faktor lingkungan perusahaan, baik dalam skala nasional, regional maupun global. Sebagai dampaknya ada peluang bisnis baru, tetapi tidak menutup kemungkinan akan menjadi ancaman bagi beberapa bisnis yang sudah ada. Sebagai contoh, kasus teknologi SMS dapat mengancam/menghancurkan perusahaan POS.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh wirausahawan, baik yang bergerak dalam aktivitas lokal maupun global adalah terjadinya berbagai perubahan yang dipicu oleh perkembangan teknologi yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
  1. Produk-produk baru yang dilempar ke pasar oleh pesaing,
  2. Perkembangan teknologi komputer dan informasi
  3. Perkembangan teknologi barang substitusi
  4. Berbagai penemuan baru
  5. Adaptasi teknologi yang siap pakai
  6. Strategi perkembangan teknologi nasional
  7. Pengeluaran biaya R&D oleh perusahaan pesaing atau perusahaan-perusahaan di dalam satu industri
  8. Siklus hidup suatu produk (product life cycle)
  9. Terobosan-terobosan yang dapat meningkatkan produktivitas yang lebih baik di bidang input, pengolahan dan pemasaran
  10. Berbagai ramalan pengembangan teknologi di masa depan

Beberapa hal tersebut di atas, dapat dipandang sebagai tantangan sekaligus dapat dijadikan kesempatan untuk membuktikan dirinya apakah mampu bersaing dengan kemampuan dan kapabilitas yang dimilikinya.

b. Kewirausahaan Sebagai Pemicu Perekonomian Negara
Kontribusi sektor swasta (perusahaan kecil/UKM maupun perusahaan besar) dalam pembangunan ekonomi tidak bisa disangsikan lagi.
Ada 4 (empat) keunggulan yang dimiliki wirausahawan dalam mendukung perekonomian negara, yaitu :
  • Mendorong pertumbuhan ekonomi
  • Meningkatkan produktivitas
  • Menciptakan teknologi produk dan jasa
  • Menciptakan perubahan dan kompetisi
Dalam upaya memicu pertumbuhan ekonomi dan sekaligus mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat, wirausaha melakukan berbagai kegiatan sebagai berikut:
  • Menciptakan lapangan pekerjaan
  • Meningkatkan kualitas hidup
  • Meningkatkan pemerataan pendapatan
  • Memanfaatkan dan memobilisasi sumber daya untuk meningkatkan produktivitas nasional
  • Meningkatkan penerimaan pemerintah melalui pembayaran pajak.

Ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh suatu bangsa dalam menumbuh-kembangkan kewirausahaan dengan baik, yaitu:
a. Pembinaan UKM dan Bagi-bagi Modal Belas Kasihan.
b. Pribumisasi Usahawan Yang Gagal.
c. Usaha-usaha Kecil Umumnya gagal Menjadi Usaha Besar.

3. Kebersamaan, Etika & Tanggung Jawab Sosial
Kebersamaan merupakan keselarasan hubungan dan komunikasi yang baik antara pihak pengusaha dengan pihak-pihak internal organisasi dan pihak-pihak eksternal organisasi dengan prinsip saling menguntungkan.

Etika berkenaan dengan tindakan benar dan salah, atau berkenaan dengan kewajiban moral seseorang pada masyarakat. Tanggung jawab sosial adalah kewajiban perusahaan untuk merumuskan kebijakan, mengambil keputusan, dan melaksanakan tindakan yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Maka wirausaha atau perusahaan perlu memberikan konstribusi terhadap perbaikan dan kesejahteraan sosial masyarakat, dengan tidak hanya semata-mata mempertimbangkan keuntungan ekonomi.

a. Kejujuran dan Kedermawanan
“ Pedagang yang jujur sederajat dengan nabi, syuhada, dan, orang shaleh diakherat kelak (hadist) ”

Hadist tersebut merupakan suatu kabar gembira bagi para pedagang maupun wirausaha yang jujur. Bukan saja dijanjikan kehidupan yang sejajar para nabi, orang shaleh dan syuhada di akhirat, pedagang yang jujurpun dapat menikmati buah kejujurannya di dunia.
Arifin Noor, pendiri Harifani Group, perusahaan yang memiliki bisnis mulai dari penjualan karpet, air isi ulang, Bakmi Tebet, Solo Banjar, dan Paliat (masakan khas Tanjung Tabalong), mengatakan bahwa ” dengan mengutamakan kejujuran dalam berbisnis akan sangat mendorong kemajuan dalam berbisnis ”. Dalam berbisnis Arifin Noor, dilandasi nilai-nilai religius (kejujuran dan kedermawanan) menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam berbisnisnya. Maka tak jarang, penghasilan yang ia dapatkan dari berbisnis ia kembalikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

b. Kebersamaan dan Etika Bisnis
Dengan menerapkan kebersamaan secara total (intern dan ekstern) maka kegiatan usaha akan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.
Apabila etika bisnis menjadi pedoman dalam berpikir dan bertindak di berbagai kegiatan usaha, serta diterapkan dengan benar, maka akan mencerminkan kualitas dan image perusahaan yang bersangkutan.
Menerapkan asas kebersamaan dan menjalankan etika bisnis secara total, akan menghasilkan:
  • Terciptanya moral pimpinan dan karyawan perusahaan
  • Terciptanya hubungan yang sehat dengan pihak-pihak luar perusahaan yang memberikan dukungan kepada realisasi peluang-peluang usaha

c. Azas Etika Bisnis yang Sehat
Secara universal, pendapat Michael Josephson yang dikutip Zimmerer (2005) menyatakan ada sepuluh prinsip etika, sebagai berikut:
  1. Kejujuran
  2. Integritas
  3. Memelihara janji
  4. Kesetiaan
  5. Keadilan
  6. Suka membantu orang lain
  7. Hormat kepada orang lain
  8. Sebagai warganegara yang bertanggung jawab
  9. Mengejar keunggulan dalam segala hal
  10. Dapat dipertanggungjawabkan

d. Tanggung Jawab Sosial Kewirausahaan
Beberapa bentuk pertanggung jawaban sosial wirausaha tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Tanggung jawab terhadap lingkungan
  2. Tanggung jawab terhadap karyawan
  3. Tanggung jawab terhadap pelanggan: (1) Menyediakan barang dan jasa yang berkualitas, (2) memberikan harga yang wajar, (3) melindungi hak-hak konsumen
  4. Tanggung jawab terhadap investor
  5. Tanggung jawab terhadap masyarakat sekitar

Sumber:
http://belajarkomunikasilagi.blogspot.co.id/2012/02/kewirausahaan-dan-lingkungan.html
Buku Kewirausahaan "Membangun Usaha Sukses Sejak Usia Muda", Salemba Empat 2011, Jakarta (Universitas Mercu Buana)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.