Jumat, Agustus 19

Kisah Sukses Roti Bakar Eddy



    Jakarta adalah kota yang mengandung sifat “magnet” tersendiri bagi penduduk Indonesia, khususnya bagi kaum urban dari daerah dengan tujuan ingin mencari kehidupan lebih baik.
Ibu kota  tidak hanya menjanjikan “surga” untuk para pencari rezeki dengan banyak peluang meraup rezeki, namun  juga “neraka” bagi mereka yang gagal bertaruh hidup di kota metropolitan ini.


Biaya hidup yang tinggi dan persaingan yang berat tidak akan memberi ampun bagi pendatang yang tidak siap “lahir batin”. Mungkin, inilah yang terbersit di pikiran salah seorang pemuda kelahiran Solo, Jawa Tengah, bernama Eddy Supardi 15 tahun (pada saat itu) yang ingin mencari kehidupan lebih baik di Jakarta.

 Ia memutuskan untuk hijrah dari daerah Solo, Jawa Tengah, ke kota dimana banyak orang-orang di desanya mengadu nasib.

 Berbekal niat dan restu orangtua, akhirnya Ia pun menapakkan kakinya pertama kali di Jakarta tahun 1966. Kedatangan Eddy ke Jakarta boleh dibilang nekad, dengan bekal yang seadanya. Awalnya, Pak Eddy muda menjadi karyawan di warung roti bakar kaki lima. Pekerjaanya melayani dan membereskan barang dagangan. Ia juga pernah mencecap menjadi penjual koran. Saat itu, yang dipikirkannya hanyalah mencari uang untuk makan.
Kesabaran yang membuat Pak Eddy bertahan berjuang di Jakarta walaupun banyak kesusahan dan rintangan tidak membuat Pria yang kini berusia 61 tahun ini pulang kampung pada saat itu.

Bulan ke bulan Ia menerima gaji yang hanya cukup untuk biaya hidup, namun dengan manajemen keuangan yang sederhana. Manajemen keuangan yang sederhana namun bersahaja inilah yang menuntut Pak Eddy menjadi orang yang hemat. Ia menabung sisa uang dari gajinya, dengan harapan suatu saat kelak jika modalnya dirasa cukup akan membuat usaha sendiri.  Sebelum menemukan “harta karun” Roti Bakar, Pak Eddy mencoba berjualan lontong sayur dan bubur ayam di wilayah dekat Universitas Al-Azhar Indonesia, Blok-M, Jakarta Selatan.

Ia memboyong gerobaknya di pinggir jalan. Jadi sudah sering Pak Eddy berurusan dengan petugas keamanan dan ketertiban kota (Kamtib). “Dulu bapak sering diusir sama petugas kota,” ujar Mas Ariyadi anak ke-4 dari Pak Eddy yang kini meneruskan usaha roti bakar ayahnya di daerah blok-M tersebut kepada Bisnis Global,, Senin (24/12).. Keberadaan gerobak Pak Eddy dianggap menganggu warga sekitar karena pelanggannya yang lumayan ramai.
Gonta-ganti dagangan pun telah berkali-kali dilakoninya, sampai pada tahun 1971 ia mencoba dagangan roti bakar dengan bermodal uang perak (mata uang zaman dulu) yang sedikit di lokasi yang sama. 

“Belum lagi saat itu modal yang dikeluarkan bapak masih hitungan perak,” ujar Ari, sapaan akrab Ariyadi.

Pada saat itu, ia menilai di seputar komplek Universitas Al-Azhar Indonesia belum ada yang menjajakan roti bakar. Berbekal pengalamannya ketika menjadi karyawan usaha roti bakar milik orang lain, akhirnya Pak Eddy memutuskan mencoba usaha yang satu ini. “Bapak dagang roti di sini karena pada saat itu belum ada yang dagang roti bakar,” lanjut Ari.
“Sebetulnya, hasil bapak dari dagang itu hanya buat makan sehari-hari,” lanjut  Ari begitu panggilan sehari-harinya. Namun, karena kerja keras dan lingkungan yang mendukung, perlahan tapi pasti pembeli roti bakar gerobakanya terus bertambah.

Pundi-pundi rupiah pun mulai mengalir di tabungannya sehingga Pak Eddy mempunyai kesempatan yang besar untuk lebih mengembangkan usahanya. Banyak para pembeli yang menyebut roti bakar dagangannya dengan sebutan “Roti Bakar Eddy.” Padahal menurut penuturan Ari, awalnya usaha dagang ayahnya cuma buat survive keluarga.

Karena lokasi berjualan roti tersebut terletak di pinggir jalan, untuk yang kesekian kalinya Pak Eddy harus kembali berhadapan dengan Kamtib. Bukan kali pertama, Pak Eddy diusir oleh Kamtib karena dianggap menganggu ketertiban dan kenyamanan.
Saat brand roti Eddy mulai dikenal khalayak, tepatnya tahun 1980-an, 5 tahun kemudian usaha rotinya harus rela mengalami kerugian pendapatan. Saat itu, pemerintah mengeluarkan peraturan tidak boleh keluar malam setelah pukul 21.00 pasca terjadinya peristiwa kerusuhan yang terjadi di wilayah Blok M dan sekitarnya.

Kini, Roti Eddy sudah sukses dan mendapat tempat di hati para pembelinya. Jika ditanya roti bakar yang enak di Jakarta, mayoritas masyarakat sekitar kompak menyebut Roti Bakar Eddy. Melengkapi kisah suksesnya, tempat awal mula dirintisnya usaha ini, tepatnya di belakang Universitas Al-Azhar Indonesia Jakarta, kini sudah permanen. Pengunjung bisa menemukan dan menikmati khasnya roti Eddy setiap malam mulai pukul 18.00-02.30 untuk hari kerja dan pukul 18.00-03.00 untuk akhir pekan

Dimuat di Majalah Bisnis Global Edisi  Februaru 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar