Sabtu, Juli 29

Belajarlah Sampai Ke Negeri Cina

Ada pepatah lama, ‘belajarlah sampai ke negeri Cina’. Sebenar-benarnya kita harus belajar banyak dari orang Cina, baik kepada orang Cina yang ada di Indonesia dan lebih bagus lagi belajar kepada mereka yang ada di negara Cina sana. Setiap orang tanpa kecuali, bahkan mereka yang berada di lembaga pemerintahan Indonesia juga harus ikut belajar dari orang Cina.


Pengalaman dari beberapa orang di Jerman, mereka bertemu dengan rekan-rekan dari negara Republik Rakyat Cina (RRC), mereka hidup penuh kesederhanaan. Begitu sederhananya sampai kepada penghematan makan, belanja, bahkan sabun cuci! Mereka begitu rajin dalam menuntut ilmu, begitu getol (rajin, terus menerus) mengumpulkan berbagai informasi ilmu yang ada, mereka coba serap semua itu, mereka copy, sampai ada rasa waswas yang timbul di masyarakat Jerman saat itu kepada para mashasiswa Cina yang berada di dalam institusi riset dan study di sana sebagai “pencuri” ilmu teknologi karena begitu getolnya mereka menyerap segala macam yang ada untuk mereka bawa pulang. Jadi rata-rata mahasiswa tingkat lanjut itu memang begitu berambisi, antusias untuk “mencuri” ilmu dan teknologi dari negara lain.

Bahkan ada contoh lain saat salah satu negara bagian di Jerman akan menscrap sebuah pabrik (lengkap dengan mesin-mesin) yang sudah dianggap tidak efisien lagi, karena satu dan lain hal harus dihancurkan dan dibuang/dijual sebagai besi tua, dan ditawarkan ke dunia internasional, ternyata lelang dimenangkan oleh negara Cina, dengan harga yang jauh lebih tinggi dari para peserta lainnya, tetapi dengan syarat mereka (orang Cina itu) boleh membawa teknisi untuk melakukan pembongkaran pabrik itu. Mereka menang tender dan segera mengirim seribuan teknisi ke Jerman, membongkar satu demi satu sekrup, mur, dan semua benda yang ada, mereka catat (didolumentasikan dengan rinci), kemudian dikirim ke Cina dan mereka, para teknisi yang telah membongkar itu memasang kembali segala peralatan, perangkat, dan bangunan itu menjadi satu pabrik utuh kembali. 

Dan dari dokumentasi yang mereka telah lakukan, mereka bisa membuat pabrik-pabrik sejenis di 
tempat lain.

Coba kalau pengusaha Indonesia mendapatkan penawaran yang sama, paling jauh menganggap pabrik tua itu hanya sebagai rongsokan besi tua, dijual-beli sebagai besi tua kilo-an.
Contoh lain, bagaimana rakyat Cina sudah mendapatkan program komputer Microsoft Windowsnya dalam bahasa Cina, atau Jepang, atau Vietnam, seperti juga negara-negara maju berbahasa non Inggris yang telah menetapkan pengalih-bahasaan teknologi komputer kedalam bahasa mereka. Di Indonesia?

Banyak hal yang bisa diambil  makna tersebut, sedikit banyak mengenal orang-orang berbangsa tiong hoa ini, sedikit banyak belajar darinya masalah bisnis atau usaha.
jangan kan belajar sampai kenegeri cina, belajar dengan orang cina yang berbisnis juga bisa menambah banyak ilmu dalam usaha.

Orang cina kalau baru merintis usaha itu orangnya giat tekun dan pantang menyerah, jujur, pintar sekali menyimpan uang (bukan berarti pelit) tapi hemat, makanpun harus makan bubur kalau usahanya belum berhasil. karakter tersebut sudah tertanam sejak nenek moyang mereka. kalau sudah berhasil rumah mewah bawaan mobil mewah lho  semua itu butuh proses, jika ingin hasil yang bertahan lama. bukannya instan yang tiba-tiba bisa hilang. seperti pepatahnya bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian…mereka berusaha dengan pikiran dan otak mereka terus mengasah kemampuan mereka, uang yang didapat dengan usaha sendiri yang halal. bukan nyabetin duit orang apalagi korupsi, mungkin ada sebagian kecil yang seperti itu.

Sedikit banyak belajar berdagang berwirausaha mendapatkan ilmu dan nasehat dari orang cina, kejujuran itu kunci sukses merajut tali pertemanan dengan orang berbangsa tion hoa ini, jika mereka merasa telah dibohongi sekali mereka tidak akan pernah percaya lagi…karena bohong itu penyakit dan sering berulang.

Pesan dan nasihat , jika kita membuka usaha, tidak slamanya kita mendapat untung dan ramai, kadang kala kita rugi dan sepi. itu semua harus dilalui dan butuh proses, jangan sekali-kali merasa pusing bahkan stress disaat sepi, tapi berjuang terus..berusaha sendiri hal seperti itu adalah biasa, tapi bagi kita yang pemula..lumayan berat menjalankannya. harus ada strategi disini, pada saat ramai dan untung banyakhasilnya jangan dibuat foya-foya tapi ditabung, nanti pada suatu saat akan sangat dibutuhkan. sehingga ekonomi kita akan lebih stabil dan bisa mengatasi setiap masalah-masalah.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan (baca: belajar), juga telah mengantarkan China menjadi salah satu negara yang memiliki teknologi tinggi. Misalnya saja dalam peluncuran Satelit Indosat PALAPA-D, China menjadi \\\'pengantar\\\' satelit milik perusahaan telekomunikasi di Indonesia itu, menuju ruang angkasa. Adalah roket-roket yang dihasilkan China Academy of Launch Vehicle Technology (CALT), yang akan meluncur mengantarkan satelit itu sampai ke orbit yang diinginkan.

Daftar Pustaka

https://dewikartikasukmono.wordpress.com/2012/11/13/belajar-sampai-ke-negeri-cina/
https://bambangbakti.wordpress.com/046-belajar-sampai-ke-negeri-cina/
https://news.detik.com/berita/d-1192732/belajarlah-sampai-ke-negeri-china

Tidak ada komentar:

Posting Komentar