Kamis, April 4

MENGENAL 3 MODEL BISNIS

OLEH: LU’LU ILMAKNUN (41618010027)
ABSTRAK
            Kalian pasti tidak asing dengan kata konvensional, waralaba, dan e-commerce, apakah kalian tau maksud dari kata tersebut? Bisnis? Ya tidak salah, banyak yang beranggapan bahwa 3 kata kunci tersebut adalah bisnis yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Di artikel ini akan dibahas secara singkat mengenai 3 kata kunci tersebut.
KATA KUNCI: 3 model bisnis(konvensional, waralaba, e-commerce)

            Menurut Owen bisnis adalah suatu perusahaan yang berhubungan dengan distribusi dan produksi barang-barang yang nantinya dijual ke pasaran ataupun memberikan harga yang sesuai pada setiap jasanya. Adapun di Indonesia model bisnis yang diterapkan yaitu konvensional, waralaba, dan e-commerce.
A.    Konvensional
Menurut Jncipta dalam artikelnya berjudul bisnis konvensional yang masih laris, bisnis konvensioanl atau lebih dikenl dengan bisnis offline merupakan kegiatan transaksi jual beli yang dilakukan secara langsung adanya pertemuan antara penjual dan pembeli juga barang yang akan dijual belikan. Dalam bisnis konvensioanl pembeli bebas memilih barang yang akan dibelinya sehingga bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan barang yang dibeli secara langsung.
Kelebihan dalam bisnis konvensional :
      Pembeli langsung dapat melihat produk yang akan dibeli  
      Memiliki tempat atau kios sendiri sehingga pembeli dapat mengunjungi kios dan dapat secara langsung bertemu dnengan penjual.
      Memiliki banyak stok
      Terjamin, pembeli dapat mengetahui penjual secara langsung  (face to face).
Kekurangan dalam bisnis konvensional :
      Lingkup pemasarannya terbatas
      Membutuhkan modal yang cukup besar
      Memerlukan banyak stok
      Apabila pembeli ingin membeli barang, maka harus pergi ke toko tempat dijualnya barang tersebut.

      Persaingan Bisnis konvensional biasanya berada di sekitar lokasi usaha.
B.     Waralaba(franchisee)
Pemberian hak untuk menjual produk berupa barang atau jasa dengan memanfaatkan merek dagang Franchisor (Pemberi Waralaba), dengan kewajiban pada pihak Franchise (Penerima Waralaba) untuk mengikuti metode dan tata cara atau prosedur yang telah ditetapkan oleh Pemberi Waralaba.
Martin Mandelsohn menyatakan bahwa waralaba format bisnis ini terdiri atas:
      Konsep bisnis yang menyeluruh dari Pemberi Waralaba.
      Adanya proses permulaan dan pelatihan atas seluruh aspek pengelolaan bisnis, sesuai dengan konsep Pemberi Waralaba.
      Proses bantuan dan bimbingan yang terus-menerus dari pihak Pemberi Waralaba.
Kontrak yang dibuat oleh pihak franchisor dengan franchisee berlaku sebagai undang-undang bagi
kedua belah pihak. Sejak penandatanganan kontrak antara kedua belah pihak akan menimbulkan hak
dan kewajiban. Kewajiban dari pihak franchisor adalah menyerahkan lisensi kepada franchisee.
Sedangkan yang menjadi hak franchise adalah sebagai berikut :
      Logo merek dagang (trade mark)
      Format/pola usaha
      Dalam kasus tertentu berupa rumus, resep, desain, dan program khusus.
Hak cipta atas sebagian dari hal di atas bisa dalam bentuk tertulis dan terlindungi dalam undang-undang hak cipta
C.    E-commerce
Menurut Martin Kütz adalah pertukaran barang dan jasa antara (biasanya) organisasi independen dan / atau orang-orang yang didukung oleh penggunaan sistem  ICT (Information & Commucation Technology) yang komprehensif dan infrastruktur jaringan yang standar secara global. Contoh e-commerce di Indonesia ada bukalapak yang didirikan oleh Achmad Zaky.
Pendekatan lain untuk menjelaskan, apa itu E-Commerce, berasal dari model 5-C (Zwass 2014):
      Commerce (Perdagangan)
      Colaboration (Kolaborasi)
      Communication (Komunikasi)
      Connection (Koneksi)
      Computation (Komputasi)













(Rina, model bisnis konvensional dan e-commerce)
Hubungan  Ketiga Model Bisnis
            Gelombang e-commerce memunculkan tren disruptif. Di satu sisi, e-commerce membantu pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) memperluas pasar. Namun di sisi lain melemahkan bisnis konvensional yang sudah lebih dulu ada.
Menurut Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Dimitri Mahayana, di Bandung, Minggu 24 September 2017, penurunan omzet bisnis konvensional ada kaitannya dengan pesatnya pertumbuhan e-commerce, seiring dengan mulai beralihnya gaya hidup masyarakat ke arah digital. Namun, ia menampik jika e-commerce dikatakan sebagai perusak pasar konvensional.
"Pasar bisnis konvensional masih dan akan tetap ada. Hanya sebagian konsumen sudah dan akan beralih ke digital. Keduanya, antara e-commerce dan bisnis konvensiaonal seharusnya bisa saling melengkapi," katanya.
Contohnya, menurut Dimitri, sebuah tempat di mall tetap bisa mempertahankan skema bisnis konvensional mereka sambil berjualan di marketplace. Dengan demikian, mereka bisa meraup kedua kelompok konsumen sambil memperluas cakupan pasar. Selain itu, masih ada bisnis konvensional yang masih laris di tengah maraknya bisnis online, yaitu bisnis rumah makan, kelontong, menjahit baju, bimbel, salon atau cukur rambut.
            Dalam 10 tahun terakhir ini bisnis waralaba tengah menjadi model bisnis paling
populer di negeri ini, terutama bagi mereka yang ingin terjun menjadi entrepreneur tanpa mau repot merintis bisnis baru dari nol. Layaknya sebuah mode, bisnis franchise ini banyak
diperbincangkan di mana-mana dan sangat digandrungi oleh masyarakat luas. Di sekitar kita
banyak kita lihat menjamurnya bisnis franchise baik asing maupun lokal. Franchise asing
misalnya McDonald’s, Kentucky Fried Chicken, Pizza Hut, Wendy’s, dll. Franchise lokal
misalnya Ayam Bakar Wong Solo, Es Teller 77, Alfamart, Indomart, RM Padang, Bakso Cak
Eko, Bakso Cak Man, dll. Tingginya minat untuk membuka bisnis franchise ini antara lain
terlihat dari antusiasnya pengunjung dalam setiap kali pameran franchise, juga laris manisnya
seminar dan buku-buku bertemakan franchise. Masalahnya adalah apakah ada jaminan
menjalankan bisnis franchise pasti berhasil?
Memang cukup banyak investor yang berhasil dalam menjalankan bisnis franchise,
tetapi banyak juga diantaranya yang gagal. Sebagaimana disampaikan Ketua Waralaba dan
Lisensi Indonesia Karamoy (2009) bahwa rata-rata pertumbuhan bisnis franchise lokal
mencapai 8-9% per tahun, sedangkan franchise asing 12-13% per tahun. Namun perbedaan
tingkat kegagalan dari keduanya sangat mencolok yaitu sebesar 50-60% untuk franchise lokal
dan hanya 2-3% untuk franchise asing (Firdaniaty, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa
antusias masyarakat untuk membuka bisnis franchise belum dibarengi dengan kehati-hatian
dan kejelian dalam pengelolaan.
KESIMPULAN
            Dari artikel tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa setiap model bisnis yang kita lakukan terdapat hal positif dan negatifnya, dimana saat orang lain berkata buruk belum tentu menurut kita buruk, semua itu tergantung cara dan niat kita dalam menjalankan bisnisnya. Dan kita harus juga melihat kebutuhan konsumen agar bisnis kita tetap berjalan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
·         Sudarmiatin, MS. 2011. “praktek bisnis waralaba (franchise) di Indonesia, peluang usaha dan investasi”. Pidato pengukuhan guru besar sebagai guru besar dalam bidang ilmu manajemen 1 pada fakultas ekonomi (FE) UM dalam http://digilib.um.ac.id/images/stories/pidatogurubesar/2011/Praktik%20Bisnis%20Waralaba%20Franchise%20Di%20Indonesia%20Peluang%20Usaha%20Dan%20Investasi.pdf (diunduh 4 April 2019)
·         Marlina, Rina. 2017. “model bisnis konvensional, waralaba, dan e-commerce” dalam http://mcm402.weblog.esaunggul.ac.id/wp-content/uploads/sites/7045/2017/08/Manajemen-Komunikasi-Pemasaran-Pertemuan-6.pptx (diunduh 4 April 2019)
·         Rachmawati, Ai Rika. 2017 “E-Commerce Tumbuh Pesat, Bisnis Konvensional Melemah” dalam https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2017/09/24/e-commerce-tumbuh-pesat-bisnis-konvensional-melemah-410118 (diakses 4 April 2019)
·         Jncipta. 2016. “bisnis konvensional yang masih laris” dalam https://www.totalgiftsindonesia.com/bisnis-konvensional-yang-masih-laris/ (diakses 4 April 2019)

·         Natalia, Dhea dan Hapzi Ali. 2018. “bisnis konvensional, waralaba, dan e-commerce” dalam https://www.slideshare.net/dhea18/minggu-5-model-bisnis-konvensional-waralaba-dan-e-commerce (diakses 4 April 2019)

10 komentar:

  1. Nama : Cindy
    NIM : 43218110114

    Artikel ini sangat lengkap. karena dijelaskan jenis-jenis bisnis serta kelebihan dan kekurangannya.

    BalasHapus
  2. Nama : Natan
    NIM : 43117110110

    Artikel ini sangat lengkap. karena dijelaskan jenis-jenis bisnis serta kelebihan dan kekurangannya.

    BalasHapus
  3. Nama : Helena Mutiara H
    NIM : 43218110214

    Artikel ini sudah cukup bagus, bagi pemahaman para pebisnis pemula. Karena disetiap penjelasan sudah terperinci.

    BalasHapus
  4. NAMA : SANDRO HANDIKA
    NIM : 41617110108

    Artikel yang cukup bagus, dimana memberitahu beberapa model bisnis serta kekurangan dan kelebihannya.

    BalasHapus
  5. Nama : Sulistianto
    NIM : 41617110021

    Artikel yang cukup bagus, karena di jelaskan jenis model bisnis serta kelebihan dan kekurangannya.

    BalasHapus

  6. Nama : Fadjar Imaniar
    Nim : 43117010001

    Artikel ini sangat benar, baik dan bermanfaat.

    Setiap model bisnis yang kita lakukan terdapat hal positif dan negatifnya, dimana saat orang lain berkata buruk belum tentu menurut kita buruk, semua itu tergantung cara dan niat kita dalam menjalankan bisnisnya. Dan kita harus juga melihat kebutuhan konsumen agar bisnis kita tetap berjalan dengan baik.

    BalasHapus
  7. Nama : Ricco Yudistira
    Nim : 41617110077

    Artikel yang cukup bagus, dimana memberitahu beberapa model bisnis dengan jelas

    BalasHapus
  8. Nama : Anenaya Nurul Afifah
    NIM : 43218110265

    Artikel ini sudah cukup bagus karena artikel ini memberikan penjelasan kepada kita yang belum mengetahui tentang 3 model bisnis tersebut.

    BalasHapus
  9. Nama : Hana Kartika
    Nim : 42317110015
    Artikel ini cukup bagus,karna dapat memberikan pemahaman untuk bisnis pemula.

    BalasHapus
  10. Nama : Nurhadi Budi Santoso.Y
    Nim : 416171100
    Artikel yang sangat bagus untuk pemula pebisnis.karena pentingnya memahami 3 model pebisnis.

    BalasHapus