Selasa, Oktober 15

Pengembangan Produk Kain Tenun Ikat Sintang


Oleh Melinda Adi Umul Chasanah (@N17-MELINDA)

Beberapa tahun belakangan ini terdengar kabar bahwa negara tetangga Malaysia mengklaim budaya-budaya daerah yang ada di Indonesia, tidak terkecuali produk budaya yang ada di Kalimantan Barat. Kerajinan anyaman dari kulit kayu (bidai) dari Bengkayang dan juga makanan khas Sambas yaitu subur Padas sudah menjadi icon negara Malaysia. Padahal, kedua hasil budaya tersebut merupakan hasil kerajinan dan makanan kuliner dari Kalimantan Barat. Fenomena ini meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk segera memberikan perlindungan dan pelestarian pada semua hasil budaya daerah yang tersebar di nusantara.

Gambar Alat Tenun Ikat Tradisional Dayak Desa Kabupaten sintang

"Strategi Pengembangan Produk Strategi menurut Sun Tsu seorang ahli strategi dari Cina yang hidup 500 SM mengatakan bahwa strategi itu seperti air yang mengikuti bentuk kolam, di sungai air akan mengikuti aliran sungai, di laut air bisa menutupi samudra (Purna, 2016)." 
Dengan demikian dapat dipahami bahwa strategi menurut Tsu bergantung pada kondisi masing masing. Walaupun begitu strategi sebagai sebuah usaha tetap diperlukan untuk memecahkan masalah. Masyarakat Sintang memerlukan cara atau strategi untuk mengembangkan tenun ikat. Kain tradisional semakin terpuruk dengan keberadaan produk–produk kain modern yang jauh lebih bervariasi, murah, dan lebih leluasa dalam penggunaannya. 
"Pengembangan dalam konteks industri budaya berkaitan dengan proses para pengrajin dalam upaya mempertahankan atau meningkatkan hasil kerajinannya dan peningkatan kemampuan bersaing dan bekerja sama antarperajin / pengusaha mulai dari pengadaan bahan baku, peralatan produksi, kemampuan tenaga kerja, sampai dengan teknik pemasaran (Marjanto, 2010)."
Strategi yang bisa dilakukan oleh masyarakat atau organisasi yang peduli dengan pelestarian tenun dalam mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi oleh para penenun antara lain tersediaanya bahan baku, tersedianya modal, tersediaanya alat-alat tenun yang lebih baik, tersedianya SDM atau pengrajin yang mahir, kreativitas penciptaan motif dan corak yang beragam, dan pemasaran.

Untuk menjaga keberlangsungan kebudayaan yang ada, pemerintah dan masyarakat harus senantiasa mengembangkan produk kain tenun ikat sintang. Apakah dengan membuat produk yang benar-benar baru, meremajakan  produk yang sudah ada, menambahkan fitur atau fungsi baru, atau bisa jadi menciptakan produk baru yang merupakan pengembangan bisnis sekaligus kebudayaan. Dengan mengembangkan produk baru, maka siklus hidup produk bisa dijaga agar tetap dalam masa pertumbuhan dan kedewasaan, artinya saat ada item produk yang mengalami penurunan (decline), masyarakat sudah memiliki produk lain sebagai subtitusi di segment tersebut. Mengembangkan produk baru juga berfungsi untuk memperlebar segment pasar, dengan menciptakan produk baru untuk market segment baru yang berbasis pada produk lama.

Untuk meminimalkan resiko kegagalan pengembangan produk baru, pemerintah dan masyarakat bukan saja harus memikirkan strategi pengembangan produk baru, tetapi harus juga memahami dan menjalankan setiap tahapan dalam proses pengembangan produk baru tersebut. 
Berikut adalah 8 tahap proses pengembangan produk baru (8 steps of new product development process) agar bisa menghasilkan produk yang unggul dalam persaingan di pasar, yaitu :


1 : Idea Generation (Penciptaan Ide)

Tahap pertama dalam pengembangan produk baru adalah dengan menciptakan atau men-generate ide atas sebuah produk baru. Dalam men-generate ide atas produk baru, perusahaan harus mengikuti sistematika proses penciptaan ide produk baru. Secara umum dalam tahap awal proses penciptaan ide ini akan mampu menghasilkan banyak sekali ide produk baru. Tentu tidak semua ide tersebut bisa dilanjutkan ke proses tahap selanjutnya, akan ada banyak ide produk yang berguguran setelah melewati berbagai persyaratan akan kelayakan sebuah ide produk baru.


2 : Penyaringan Ide (Idea Screening)

Tahap selanjutnya setelah mendapatkan sekian ide produk adalah melakukan penyaringan atau screening atas semua ide produk tersebut. Screening atas ide produk dimaksudkan untuk mendapatkan ide produk yang benar-benar layak untuk diproses ke tahap selanjutnya, untuk mengurangi biaya proses, untuk meminimalkan resiko gagal produk, dan untuk memilih hanya ide produk yang benar-benar bagus dan bisa dikerjakan saja yang akan diproses lebih lanjut.
Dalam proses screening ini, tentu saja harus menggunakan atau memiliki mekanisme khusus untuk setiap tujuan produk, dimana mekanisme ini didasarkan pada beberapa hal, seperti :
  • Tujuan penciptaan produk
  • Proses yang dibutuhkan versus sumber daya 
  • Proses produksi
  • Proses pemasaran (distribusi, komunikasi, penjualan dan lain-lain)
  • Bagaimana dengan regulasi yang ada (pemerintah, lingkungan, dll.)
  • Tingkat keuntungan (estimasi) yang bisa didapatkan, berapa tingkat return-nya (ROI)
  • Ketersediaan bahan baku beserta legalitasnya.

3 : Pengembangan dan Pengujian Konsep (Concept Development & Testing)

Setelah ditemukan ide produk yang paling memungkinkan untuk diproses lebih lanjut, maka tahap berikutnya dilanjutkan dengan tahap pengembangan konsep dan pengujian konsep atas produk baru tersebut. Konsep ini adalah hasil dari proses pengembangan atas ide-ide yang terpilih dalam proses screening, dimana dalam konsep produk ini harus dinyatakan dalam bahasa sehari-hari yang bisa dipahami oleh target market dalam segmen yang dituju.
  • Pengembangan Konsep
Pengembangan konsep adalah tahapan untuk mengembangkan lebih lanjut dari ide yang terpilih menjadi suatu konsep produk untuk diproses lebih lanjut di tahap berikutnya. Itulah sebabnya dalam tahap pengembangan konsep produk (dari ide produk), haruslah dibuat dalam beberapa alternatif yang disesuaikan dengan kebutuhan (segmen) pasar yang paling menarik.
  • Pengujian Konsep
Konsep produk baru yang sudah dirumuskan seperti di atas harus diuji lagi dengan target konsumen yang disasar dalam skala kecil. Konsep-konsep tersebut bisa disajikan dalam berbagai bentuk, tetapi untuk beberapa jenis produk. Setelah memaparkan konsep tersebut kepada kelompok konsumen sasaran, berikutnya mereka akan diminta untuk menjawab serangkaian pertanyaan untuk mengetahui daya tarik konsumen dan nilai pelanggan dari masing-masing konsep.

Setelah konsep produk baru sudah ditemukan atau sudah dipilih, maka langkah selanjutnya dalam proses pengembangan produk baru adalah menyusun dan mengembangkan strategi pemasaran yang tepat. Strategi pemasaran yang dikembangkan dimulai dari strategi awal yaitu peluncuran produk ke pasar, hingga produk bisa diterima pasar dan mulai menunjukan pertumbuhannya. Secara garis besar, ada tiga bagian utama dari konsep strategi pemasaran yang harus dirumuskan dengan tepat, yaitu :
  • Pasar sasaran, proposisi nilai yang direncanakan, penjualan, pangsa pasar, dan sasaran laba untuk beberapa tahun pertama harus di deskripsikan dengan jelas.
  • Garis besar dari struktur dan metode penetapan harga yang direncanakan, model distribusi, serta anggaran pemasaran untuk tahun pertama.
  • Rencana penjualan jangka panjang, sasaran laba, dan strategi bauran pemasaran.
Setelah memutuskan konsep produk dan strategi pemasaran, tahap berikutnya adalah proses evaluasi seberapa tinggi daya tarik bisnis atas produk baru yang telah ditetapkan tersebut. Dalam tahap analisa bisnis proses pengembangan produk baru ini, akan dilakukan peninjauan atas proyeksi penjualan, biaya dan laba untuk produk baru tersebut, untuk mengetahui apakah semua faktor ini bisa memenuhi tujuan. Jika hasil analisa bisnis menunjukan hasil positif atau sudah sesuai dengan tujuan, maka produk dapat dipindahkan ke tahap selanjutnya, yaitu tahap pengembangan produk.
6 : Pengembangan Produk (Product Development)
Sampai dengan tahap ini produk yang dikembangkan biasanya masih belum produk yang sebenarnya, melainkan masih berupa konsep produk dalam deskripsi kata, gambar, video animasi atau prototype produk. Jika telah melewati tahap analisa bisnis maka akan dilanjutkan dengan pengembangan produk riil atau produk yang sesungguhnya. Proses untuk pengembangan produk ini membutuhkan investasi biaya yang tidak kecil, itulah sebabnya dalam tahap ini biasanya produksi hanya dalam skala terbatas.
7 : Uji Pemasaran  (Market Testing)
Sebelum produk benar-benar diluncurkan ke pasar bersamaan dengan strateginya, maka harus dilakukan uji pemasaran di pasar yang riil, pasar sesungguhnya, namun dalam skala kecil. Dengan uji pemasaran ini, maka pemerintah, masyarakat dan pemasar akan mendapatkan gambaran dan pengalaman dengan pemasaran produk tersebut, sebelum produk benar-benar diluncurkan ke pasar dalam skala yang besar, yang mana akan menelan biaya yang tidak sedikit. Uji pemasaran ini memungkinkan untuk menguji produk dan seluruh program pemasaran awal, termasuk ketepatan target market dalam segmen yang dipilih, penetapan positioning, iklan dan promosi, distribusi, dan lainnya, sebelum perusahaan melakukan investasi secara maksimal atas produk baru tersebut.

8 :  Komersialisasi (Commercialization)

Hasil dari tes pemasaran ini seharusnya sudah bisa memberikan gambaran bagaimana prospek produk baru tersebut. Atas hasil tes pemasaran tersebut, manajemen akan memutuskan apakan akan meluncurkan produk baru tersebut, menunda atau bahkan membatalkannya. Selanjutnya jika memilih opsi meluncurkan produk baru, maka harus menyiapkan serangkaian aktivitas lanjutan yaitu aktivitas komersialisasi, dimulai dari persiapan produksi dalam kapasitas yang lebih besar, persiapan untuk aktivitas peluncuran produk baru seperti iklan, promosi penjualan, distribusi dalam skala yang lebih besar dan berbagai aktivitas pemasaran lainnya.
Beberapa faktor harus dipertimbangkan sebelum produk diluncurkan ke pasar, yaitu :
  • Waktu peluncuran produk. apakah ini saat yang tepat untuk meluncurkan produk tersebut. Misalnya, jika kondisi ekonomi sedang lesu, dan daya beli konsumen sedang turun, mungkin akan bijaksana untuk menunggu sampai kondisi lebih, untuk meluncurkan produk.
  • Area peluncuran produk, di area mana saja produk baru tersebut akan diluncurkan?, apakah cukup diluncurkan di satu lokasi, satu wilayah, pasar regional, atau pasar nasional?
  • Bagaimana dengan sumber daya perusahaan, jika perusahaan tidak memiliki sumber daya yang cukup, modal, dan kapasitas untuk meluncurkan produk baru dengan distribusi tingkat nasional atau internasional secara penuh, akan bijak jika peluncuran dibuat bertahap, area by area dari waktu ke waktu.
Dalam seluruh tahap dari proses pengembangan produk baru ini, fokus terpenting kita adalah bagaimana menciptakan nilai pelanggan yang unggul, karena hanya dengan cara itu, sebuah produk bisa menjadi sukses di pasar. Seperti kita ketahui, hanya sedikit produk yang bisa berhasil masuk dan sukses di pasar, dan untuk meminimalkan resiko ini, sebaiknya pemerintah dan masyarakat menjalankan semua tahapan tersebut di atas.

Demikian pembahasan kita mengenai tahapan utama untuk mengembangkan sebuah produk baru, dimulai dengan pencarian dan penciptaan ide produk baru, memilih beberapa yang terbaik dan mungkin, mengembangkan dan menguji konsep produk, strategi pemasaran, serta melakukan analisa bisnis untuk kemudian mengembangkan produk riil, menguji di pasar dalam skala kecil baru kemudian meluncurkannya ke pasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar