Minggu, September 12

BUDIDAYA UNGGAS PETELUR


Oleh : WILFRID ARDIANTO (@S25-WILFRID)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar.

Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.

Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni).

Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula..

Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika.

Pengembangan usaha ternak layer (ayam petelur) di Indonesia masih memiliki prospek yang bagus, terlebih lagi konsumsi protein hewani masih kecil. Sesuai standar nasional, konsumsi protein per hari per kapita ditetapkan 55 g yang terdiri dari 80% protein nabati dan 20% protein hewani (www.litbang.deptan.co.id). Hal itu berarti target konsumsi protein hewani sekitar 11 g/hari/perkapita. Namun yang terjadi, konsumsi protein hewani penduduk Indonesia baru memenuhi 4,7 g/hari/perkapita, jauh lebih rendah dibanding Malaysia, Thailand dan Filipina.

Dalam dunia peternakan, kita tidak asing lagi dengan ayam yang sengaja diternakan untuk dihasilkan daging atau telurnya, karena sudah banyak peternakan ayam yang menyebar diseluruh Indonesia bahkan sampai diluar negeri, baik peternkan pabrik ataupun peternakan individu. Seperti pada peternakan ayam petelur yang kami kunjungi, yang dimana peternakan tersebut dimiliki individu. Adapun nama pemiliknya yaitu Rochman Hadi, peternakan ini terletak di daerah Jalan Klogeng Gribig No 22.

Ayam itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis yaitu ayam jenis pedaging dan ayam jenis petelur. Ayam jenis pedaging, pastinya dibudidayakan karena untuk dihasilkan daging dalam jumlah yang banyak dengan kualitas yang baik, sedangkan ayam petelur dibudidayakan untuk dihasilkan telur dengan jumlah yang banyak dan kualitas yang baik. Dalam beternak, kita perlu memperhatikan mulai dari pakan, kandang, penyakit serta pengobatannya, sifat genetikanya, asal usulnya, vaksinasi dan sebagainya.

Kami melakukan kunjungan atau observasi ke peternak dengan maksut untuk mengetahui situasi dalam membudidayakan ternak khususnya komoditi ayam petelur, yang dipilih oleh peternaknya tersebut. Ayam Petelur tersebut dipilih untuk dijadikan pilihan dalam beternak karena dirasa ayam petelur tersebut mampu untuk menghasilkan telur dalam jumlah yang cukup dengan waktu yang cepat. Sehingga peternak tersebut memilih komoditi ayam petelur untuk diternakan.

Dalam hal kandang yang perlu diperhatikan diantaranya yaitu pendirian kandang yang jauh dari pemukiman, tapi dekat dengan sumber pakan, air, dan pemasaran. Selain itu yang perlu diperhatikan yaitu mengenai struktur atau desain kandang, bahan kandang yang dipakai, memperhatikan sanitasi,  sirkulasi udara, suhu pada kandang, kapasitas yang baik untuk jumlah ternak yang dihuni didalamnya.

Dalam hal penyakit pada ayam petelur juga perlu diperhatikan karena sangat penting juga dalam hal mengawinkan ternaknya, agar anakannya yang dihasilkan nanti dalam kulaitas yang baik. Penyakit pada ayam umumnya sama, yaitu diantaranya penyakit tetelo, pilek atau flu, cacar ayam dan sebagainya.

 

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari karya tulis ini, yaitu :

1.      Apa saja yang dapat menyebabkan kegagalan dalam budidaya ayam petelur?

2.      Apa saja faktor yang mempengaruhi wirausaha di bidang budidaya unggas petelur?

C.    Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini, yaitu :

1.      Untuk mengetahui apa saja yang dapat menyebabkan kegagalan dalam budidaya ayam petelur.

2.      Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi wirausaha di bidang budidaya unggas petelur.

D.    Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, yaitu :

1.      Bagi masyarakat, diharapkan agar memahami secara baik tentang budidaya unggas petelur ini supaya mereka yang ingin memulai usaha di bidang ini dapat memperkecil kemungkinan kerugian.

2.      Bagi siswa, diharapkan agar dapat menerapkan karya tulis ini dalam kehidupan sehari-hari untuk serta dapat mengembangkan karya tulis ini menjadi inovasi-inovasi yang lebih menarik.

3.      Bagi guru, diharapkan agar dapat memberikan informasi mengenai budidaya unggas petelur ini dalam proses belajar mengajar agar tercipta pembelajaran yang bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 

 

A.    Apa itu “budidaya unggas petelur”

Budidaya unggas petelur merupakan usaha pengelolaan sumber daya hayati berupa unggas dengan tujuan untuk dipanen hasilnya. Dalam budidaya uggas petelur dibutuhkan sarana dan peralatan. Selanjutnya kamu akan mempelajari sarana dan peralatan yang di butuhkan dalam budidaya unggas petelur. Dalam budidaya unggas petelur pemilihan lokasi harus dilakukan sebaik mungkin. Lokasi yang sesuai untuk budidaya ayampetelur adalah jauh dari keramaian, mudah dijangkau untuk pemasaran, dan bersifat menetap.

1.      Sarana dan Peralatan Budidaya Unggas Petelur

Sarana dan peralatan yang dibutuhkan dalam budidaya ayam petelur terdiri dari kandang dan perlengkapan kandang, bibit, pakan, vitamin dan obat-obatan.

A.    Kandang

Kandang adalah kebutuhan utama dalam usaha budidaya ternak unggas. Kandang berguna untuk menjaga agar unggas peliharaan tidak berkeliaran, memudahkan pemeliharaan, seperti pemberian pakan dan obat-obatan, serta memudahkan pemanenan atau pengumpulan hasil peternakan. Selain itu kandang juga berfungsi untuk memperoleh hasil panen yang berkualitas.

Kandang yang umum digunakan pada budidaya unggas petelur adalah kandang sangkar yang dimodifikasi menjadi kandang battery. Unggas petelur biasanya dipelihara terlebih dahulu dalam kandang postal, selanjutnya dipindahkan ke kandang battery jika sudah dewasa. Biasanya kandang battery diletakkan dalam bangunan kandang, jika seolah-olah ada kandang dalam kandang. Kandang battery dapat dibuat dari kawat, kayu atau bambu yang didesain sedemikian rupa sehingga telur dapat mengelinding keluar dari kandang battery. Biaya oembuatan kandang battery cukup besar, sedangkan keuntungan kandang battery adalah:

·         Memudahkan mengambil dan mengumpulkan telur

·         Menghindari kerusakan telur dari unggas

·         Memperoleh telur yang bersih dari kotoran unggas

·         Menghindari kanibalisme antarunggas

 

B.     Peralatan kandang

Selain kandang dibutuhkan juga peralata seperti di bawah tempat makan, minum, dan grit. Kandang postal harus dilengkapi dengan tempat makan dan minum sehinnga harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Tempat makan dan minum pada kandang battery sudah cukup menyatu dengan kandang yang dapat terbuat dari bambu, aluminium atau bahan lainnya yang kuat, tidak bocor, dan tidak berkarat.

C.    Bibit ayam

Bibit ayam petelur dapat diperoleh pada penyedia bibit. Bibit ayam yang digunakan disebut DOC/ ayam umur sehari. Persyaratan bibit DOC adalah:

1.      Anak ayam berasal dari induk yang sehat

2.      Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya

3.      Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya

4.      Anak ayam mempunyai nafsu makan yang baik

5.      Ukura badan normal, yaitu mempunyai berat badan antara 35-40 gram

6.      Tidak ada letajan tinja diduburnya

D.    Pakan

Pakan adalah campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya. Pakan dapat dibuat dari bahan-bahan hasil pertanian, perikanan, peternakan, dan hasil industri yang mengandung zat gizi dan layak dipergunakan sebagai pakan baik yang telah diolah maupun yang belum diolah.

Pakan unggas terdiri atas campuran bahan makanan seperti jagung, kedelai, dan bahan lainnya sehingga memiliki komposisi nutrisi karbohidrat, serat kasar, protein, lemak, kalsium, dan fospor sehingga sesuai sebagai pakan ayam. Pakan ayam sudah tersedia dalam bentuk siap pakai dibeli di toko pakan ternak.

E.     Obat-obatan, vitamin, dan Hormon Pertumbuhan

Obat-obatan diberikan kepada unggas jika diperlukan, yaitu untuk yang sakit. Obat-obatan yang diberikan harus disesuaikan dengan penyakit yang diderita oleh unggas. Obat juga diberikan sesuai dosis, julah serta waktu yang tepat.

Vitamin berfungsi untuk membantu pertumbuhan dan menjaga kesehatan unggas, sedangkan hormon pertubuhan berfungsi untuk menpercepat pertumbuhan unggas. Secara alami unggas dapat tumbuh sehat jika mendapatkan pakan dalam jumlah yang cukup.

F.     Peralatan panen

Peralatan panen diperlukan untuk mempermudah dan mempercepat panen. Disamping itu, peralatan panen dapat digunakan untuk mencegah telur yang dihasilkan tidak pecah dan ruak. Peralatan panen adalah wadh untuk mengumpulkan telur yang telah dipanen.

 

2.      Teknik Budidaya Unggas Petelur

Kegiatan budidaya unggas petelur meliputi:

a.       Penyediaan Kandang

b.      Penyediaan bibit

c.       Pemeliharaan

d.      Panen

e.       Pasca panen

B.     Seputar Mengenai Perencanaan Wirausaha di Bidang Budidaya Unggas Petelur

Langkah awal yang harus dilakukan sebelum kita melakukan suatu kegiatan wirusaha adalah melakukan perencanaan usaha. Perencanaan wirausaha merupakan titik tolak dari pencapaian sebuah tujuan atau proses kerja fikir dan rasa dalam menentukan bagaimana cara bertindak untuk mencapai tujuan. Perencanaan usaha ini menyangkut pembuatan keputusan tentang apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, kapan melakukannya dan siapa yang akan melakukannya. Keberhasilan dalam suatu usaha sangat ditentukan oleh faktor perencanaan usaha. Keberhasilan dalam suatu usaha sangat ditentukan oleh faktor perencanaan usaha. Oleh karena itu, perencanaan usaha hendaklah dibuat/disusun sebaik mungkin.

Manfaat dari perencanaan wirausaha adalah sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Sebuah rencana wirausaha akan membantu untuk memilah-milah proses dimaksud menjadi bagian-bagian kecil yang lebih jelas. Dengan demikian sebuah masalah bisnis yang besar dapat dilihat sebagai sebuah urutan masalah-masalah kecil. Dan dengan memecahkan masalah masalah kecil dimaksud, otomatis masalah besar tersebut juga akan dapat terpecahkan..Berikut ini adalah hal-hal penting harus direncanakan sebelum memulai wirausaha, yaitu:


1. Menentukan Jenis Ternak

Analisis pasar adalah suatu penganalisasisan untuk mempelajari berbagai masalah pasar. Analisis pasar dilakukan setelah produk sudah ditentukan, dan manajemen sudah disiapkan , maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengadakan analisa pasar. Maksudnya agar ketika produk peternakan yang kita usahakan sudah berproduksi dengan baik dan manajemen yang dilakukan sudah benar maka kita tidak akan bingung mau di kemanakan produk yang telah kita buat.

Berdasarkan pengalaman survei pasar yang dilakukan pada pembelajaran sebelumnya, dapat menentukan jenis unggas yang akan dibudidayakan. Pilih jenis unggas yang produk budidayanya laku dipasaran atau pilih produk yang kompetitornya lebih sedikit. Salah satu hewan petelur yang memenuhi kriteria tersebut adalah Puyuh. 

Banyak sekali alasan mengapa beternak burung puyuh semakin digemari di Indonesia. Selain daging dan telurnya yang dapat dikonsumsi, kotoran burung puyuh bahkan banyak dicari para petani dan peternak ikan. Kandungan protein serta nitrogen yang tinggi ternyata dapat menyuburkan tanah dan pakan yang bergizi. Ada beberapa keunggulan wirausaha burung puyuh yang menguntungkan, di antaranya adalah sebagai berikut.

·                  Permintaan telur puyuh yang tinggi serta  harga dipasaran juga menguntungkan peternak puyuh, serta masih terjadi kekurangan pasokan telur puyuh.

·                  Harga telur puyuh cenderung naik dari waktu ke waktu.

·                  Daging puyuh juga mulai dilirik pengusaha kuliner. Rasanya yang lezat dan bertekstur lembut membuat daging puyuh digemari. Hal ini sebagai alternatif jika nantinya putuh sudah kurang maksimal bertelur.

·                  Sebagai unggas penghasil telur terbesar kedua setelah ayam ras petelur, puyuh mulai bertelur saat berumur 45 hari. Masa produktif puyuh berlangsung sekitar 18 bulan.

·                  Untuk memulai beternak puyuh tidak diperlukan modal besar dan lahan yang luas. Jika beternak ayam membutuhkan luas lahan sekitar 100 m2 untuk memelihara 1.000 ekor, maka untuk 1.000 ekor puyuh hanya membutuhkan luas lahan sekitar 12 m2.

·                  Dibandingkan dengan unggas lain, puyuh tidak mengidap terlalu banyak penyakit. Vaksin yang diberikan cukup ND-Lasota dan AI.

2. Menentukan Lokasi Kandang

Kandang merupakan bagian penting dalam usaha ternak puyuh petelur, kandang digunakan untuk puyuh yang sudah siap untuk bertelur dan puyuh yang masih perlu untuk dirawat dan dipelihara hingga siap bertelur. Calon peternak juga perlu untuk memperhatikan tempat yang akan dijadikan tempat pembuangan kotoran burung puyuh agar tidak menjadi sumber bau yang kurang menyenangkan bagi lingkungan sekitar.

Kandang yang baik untuk digunakan dalam cara budidaya burung puyuh haruslah terjaga suhunya yaitu berkisar pada 20°C hingga 25°C dengan kelembapan sekitar 30% hingga 80%. Saluran air dan suplai listrik juga sangat penting untuk diperhatikan. Kandang burung puyuh membutuhkan listrik untuk menyalakan lampu dan menjaga suhu kandang. Didalam cara beternak burung puyuh yang benar, selama musim penghujan dibutuhkan lampu 25 hingga 40 watt di siang hari dan 40 hingga 60 watt di malam hari. Ukuran dan tata letak untuk kandang juga perlu untuk diperhatikan.


3. Menentukan Skala Usaha

Menentukan skala usaha berarti menentukan jumlah hewan puyuh yang akan dipelihara agar bisnis bisa berjalan secara kontinu dan menguntungkan. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menjalankan usaha puyuh petelur sebagai berikut.

·                  Modal yang tersedia. Jumlah ternak yang akan dipelihara, tergantung besarnya modal yang dimiliki. Semakin besar modal (uang), semakin banyak pula ayam yang dapat dipelihara, asalkan faktor-faktor lain mendukung. 

·                  Ketersediaan lahan. Jika menghendaki beternak dengan kandang pribadi, perlu membangun kandang terlebih dahulu.  

·                  Kapasitas kandang dan perlengkapan. Jika kandang sudah tersedia, kapasitas kandang dan jumlah perlengkapan menentukan skala usaha. 

·                  Efisiensi biaya produksi. Efisiensi produksi terkait dengan jumlah tenaga kerja dan penggunaan bahan yang lainya. 

·                  Kebutuhan atau permintaan pasar. Pasar merupakan faktor penting dalam menentukan skala usaha. Percuma memelihara puyuh dalam jumlah besar jika tidak bisa memasarkan. Peliharalah puyuh sesuai dengan permintaan pasar. Suplai yang melebihi permintaan dapat mengakibatkan harga jatuh. 

Selanjutnya lakukanlah analisis biaya yang diperlukan dalam wirausaha di bidang budidaya ternak unggas petelur. Komponen biaya produksi dalam usaha ternak unggas sangat ditentukan oleh skala wirausaha. Semakin besar skala wirausaha, semakin besar pula biaya yang dibutuhkan.

 

Komponen biaya dalam suatu wirausaha terdiri atas biaya tetap dan tidak tetap. Biaya tetap terdiri atas biaya pembuatan kandang dan pembelian peralatan kandang, sedangkan biaya tidak tetap terdiri atas biaya bibit, pakan, dan obat-obatan. Berikut ini analisa usaha budidaya puyuh petelur skala rumah tangga ( sekitar seribu ekor) dengan luas lahan 20 m persegi dan waktu yang digunakan untuk mengelola sebanyak 30 menit hingga satu jam.

No.

Jenis Biaya

Harga Biaya

Banyaknya

Total

Biaya Tetap

1.

Sangkar produksi.

@ Rp 600,000

5 Unit

Rp 3,000.000

2.

Puyuh betina siap bertelur

@ Rp. 9,000

1.000 ekor

Rp 9.000.000

3.

Pakan selama 30 hari

@ Rp 5.600

20 kg/hari

Rp 3.360.000

Jumlah

Rp 15.360.000

Biaya Tidak Tetap (Biaya per hari)

4.

Pakan harian

@ Rp 5.600

22 kg

Rp 123.200

5.

Biaya lain (Obat = 20%)

@ Rp. 9,000

1.000 ekor

Rp 12.300

Jumlah

Rp 135.500

Pendapatan (Produksi 75-80%)

6.

Telur

@ Rp. 280

775 butir

Rp 217.000

Pendapatan - Biaya = 217.000 - 135.500 = 81.500 - 12.300 = Rp. 69.200

BEP = Rp. 15.360.000 : Rp. 69.200 = 221 hari atau 7,4 bulan  (Saat ini Puyuh mampu dipelihara hingga 18 Bulan Sudah Tercapai Break Event Point (titik Balik Modal)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODELOGI PENULISAN

 

 

A.    Jenis Penulisan

Jenis penulisan yang digunakan oleh penulis pada karya tulis ini adalah deskriptif analisis, yakni dengan mendeskripsikan dan mengkaji mengenai problematika budidaya unggas petelur dan perencanaan wirausaha di bidang budidaya unggas petelur dalam peternakan ayam petelur.

 

B.     Waktu dan Tempat Penulisan

Penulisan dilakukan pada bulan Juli 2016 dan bertempat di SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III.

 

C.    Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam karya tulis ini adalahdengan menggunakan metode studi pustaka, yaitu dengan mengumpulkan data-data melalui buku-buku dan internet. Studi pustaka dilakukan untuk menambah data agar lebih lengkap. Data-data diperolah melalui media cetak, seperti buku-buku dan media elektronik seperti melalui internet.

 

D.    Metode Analisis Data

Pada metode analisis data, penulis menggunakan analisis kualitatif, yaitu memperoleh data-data dengan mengumpulkan informasi dari berbagai  sumber, seperti buku-buku dan media massa yaitu internet.

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

A.    Apa saja yang dapat menyebabkan keberhasilan dan kegagalandalam budidaya ayam petelur?

Faktor Penentu Keberhasilan

Beberapa hal yang menjadi faktor keberhasilan dalam usaha ternak ayam ras petelur adalah sebagai berikut.

1.    Sifat ayam petelur biasanya memerlukan suasana tenang, pencahayaan yang cukup dan perlakuan dari petugas kandang yang hati-hati.

2.    Ayam ras sangat sensitif terhadap perubahan manajemen baik dalam hal pakan, tenaga kerja maupun lingkungan sekitar, sehingga memerlukan pengawasan yang ketat.

3.    Perubahan secara mendadak yang tidak diinginkan ternak akan dapat menurunkan produksi telur sampai 50 %.

4.    Menghadapi pasar yang semakin mengglobal, persaingan yang kemungkinan datang berasal dari negara lain, sehingga perlu diwaspadai.

5.    Pola konsumsi masyarakat sering fluktuatif harus selalu diantisipasi secermat mungkin.

6.    Teknologi pemeliharaan ayam petelur memerlukan upaya sebaik-baiknya dalam hal menjaga standar kebutuhan pakan baik kuantitas maupun kualitas, cahaya dan suasana lingkungan.

7.    Usaha ayam ras petelur dituntut untuk selalu menghasilkan produk yang diinginkan konsumen dalam hal warna, ukuran dan kualitas bahkan bentuk kemasan yang sesuai dengan tuntutan selera masyarakat.

8.    Adanya persaingan global, maka tuntutan untuk berproduksi dengan harga yang lebih murah juga menjadi keharusan, sehingga perlu diantisipasi melalui penerapan atau pengenalan teknologi (pakan, obat-obatan dan peralatan) yang efisien.

9.    Kerjasama antara peternak kecil, menengah dengan perusahaan besar untuk menjamin kelangsungan produksi dan pemasaran.

10.                        Mengantisipasi fluktuatif harga produksi dan sarana produksi dengan perencanaan dan evaluasi jangka panjang.

Faktor Penyebab Kegagalan

Beberapa hal yang menjadi faktor kegagalan dalam usahaternak ayam ras petelur adalah sebagai berikut.

1.    Tidak cermat dalam manajemen pemeliharaan yang dapat mengakibatkan kematian tinggi atau penurunan produktivitas dan kualitas.

2.    Tidak mampu dalam mengantisipasi perubahan.

3.    Sistem pengadaan pakan tidak memadai, seperti dalam pengangkutan dan penyimpanan pakan.

4.    Penanganan kesehatan kurang teratur.

5.    Memulai usaha pada saat yang tidak tepat karena tidak adanya upaya memprediksi situasi yang fluktuatif atau keterbatasan kemampuan dalam strategi investasi.

6.    Bagi pelaku yang baru memulai usaha, cederung tidak menguasai teknik peramalan yang cermat serta kepercayaan berlebihan (over convident).

7.    Penurunan harga secara mendadak yang sering terjadi karena produksi yang melimpah dari wilayah lain.

 

B.     Apa saja faktor yang mempengaruhi wirausaha di bidang budidaya unggas petelur?

Wirausaha sangat terpengaruh oleh faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilannya baik dari luar maupun faktor dari dalam perusahaan itu sendiri.

1.             Faktor Eksternal

a. Lingkungan Umum

Secara Umum faktor lingkungan sangat berpengaruh pada usaha agribisnis. Kondisi iklim dan situasi suatu wilayah akan mempengaruhi kinerja perusahaan karena bagaimanapun juga selain tergantung dari kondisi ekonomi dan sosial masyarakat, kondisi iklim mempengaruhi secara langsung pada usaha ayam petelur (layer).

b.      Lingkungan Tugas

Perkembangan peternakan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Masyarakat telah mengetahui betapa strategisnya bisnis bidang peternakan termasuk ayam petelur yang dibarengi dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi protein hewani dan perkembangan industri makanan yang membutuhkan telur dalam pengolahannya seperti cake,bakery dan cookies. Hal ini tentu saja menjadi angin segar mengingat sektor industri sudah banyak yang colaps sehingga berwirausaha bidang peternakan dapat menjadi salah satu pilihan. Konsekuensi dari hal ini sebagai peternak harus dapat bersaing di pasar. Ada 4 kaidah yang dapat dilakukan peternak agar telur yang dihasilkan dapat layak jual yaitu genetik, nutrisi, kesehatan dan manajemen.

Faktor Internal

a.       Pemilik

Peternak merupakan subyek dari usaha peternakan. Kesuksesan usaha peternakan ditentukan oleh kemampuan peternak dalam mengelola usahanya. Latar belakang pengetahuan, keterampilan dan pengalaman usaha adalah faktor penting yang hatus diperhatikan oleh peternak. Selain itu faktor kultur atau budaya masyarakat harus diketahui oleh pemilik dan disesuaikan dengan kultur budaya setempat dalam memilih komoditas yang akan diusahakan. Dalam usaha layer seringkali dijumpai peternak yang belum benar dalam menghitung BEP yang tidak mengikutkan biaya-biaya yang seharusnya dimasukkan dalam penghitungan sehingga tidak optimal dalam kelangsungan usahanya.

b.      Karyawan

Pada usaha peternakan, tenaga kerja yang digunakan dapat berasal dari keluarga sendiri dan dari luar. Kecakapan pekerja sangat diperlukan dna pengetahuannya harus luas agar dpat mengelola dengan baik. Pemilik harus selektif dalam memilih pekerja, mereka harus benar- benar mempunyai kompetensi di bidang peternakan. Kegiatan pokok dari tenaga kerja adalah pembersihan kandang dan pemberian pakan.

c.       Lingkungan Kerja Fisik

Manajemen yang kurang maksimal pada akhirnya akan menghasilkan performa yang tidak optimal. Sebagai contoh perkandangan, konstruksi yang salah menyebabkan sirkulasi yang tidak lancar dan kurangnya cahaya yang masuk ke kandang sehingga ayam tidak nyaman dalam berproduksi. Pengawasan kandungan obat ternak serta cemaran mikrobia, mikotoksin dan senyawa lainnya pada pakan ternyata sering belum sesuai dengan ketentuan. Sehingga perlu digalakkan sosialisasi tentang pentingnya mengikuti petunjuk penggunaan obat ternak baik yang digunakan dalam pakan komersial maupun untuk pengobatan.

 

 

 

 

 

 

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

 

A.    Simpulan

Adapun beberapa simpulan dalam karya tulis ini, yakni sebagai berikut.

1.           Sarana dan peralatan yang dibutuhkan dalam budidaya ayam petelur terdiri dari kandang dan perlengkapan kandang, bibit, pakan, vitamin dan obat-obatan.

2.           Wirausaha di bidang budidaya ayam petelur sangat terpengaruh oleh faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilannya baik dari luar maupun faktor dari dalam perusahaan itu sendiri.

3.           Perencanaan usaha ini menyangkut pembuatan keputusan tentang apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, kapan melakukannya dan siapa yang akan melakukannya.

B.     Saran

Adapun saran dalam karya tulis ini yakni sebagai berikut.

1.         Bagi pemerintah diharapkan agar dapat memberikan sosialisasi bagi masyarakat tentang budidaya unggas petelur ini agar mayarakat tau bagaimana tata cara yang baik dan benar dalam peternakan unggas petelur.

2.         Bagi masyarakat diharapkan agar mengetahui bagaimana berternak unggas untuk memperkecil kemungkinan kerugian atau kegagalan.

3.         Bagi pelajar diharapkan dapat memberi tahu masyarakat terdekat seperti tetangga tentang budidaya unggar petelur ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

A, Faadhila. 2012. Kiat Usaha Ayam Petelur. Bandung: Jaya Lestari Grafika.

Al-Alwani dan Taha Jabir, Ter. Suharsono. 2005. Bisnis Islam. Yogyakarta:

AK GROUP.

Andri, wawancara dengan pemilik usaha peternakan ayam ras petelur pada

tanggal 11 Februari 2018 pukul. 18.45.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Aziz, wawancara dengan pemilik usaha peternakan ayam bloiler pada tanggal

14 Desember 2017 pukul 18.35.

Richa Andriani, Skripsi, Mekanisme Penentuan Harga Jual Kerajinan Marmer Pada

UD. Tukul Jaya Tulungagung.

Badroen, Faisal. 2006. Etika Bisnis dalam Islam. Jakarta: Kencana Prenada

Media Group.

Bastaman, Aam dan Riffa Juffiasari .“Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Pengambilan Keputusan Bagi Wanita untuk Berwirausaha (Studi Kasus

Anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia DKI Jakarta)” (Jakarta:

Universitas Triloga, 2015).

Cholil, Umam dan Taudhlikul Afkar. 2011. Modul Kewirausahaan.

Surabaya: IAIN Sunan Ampel.

Departemen Agama RI, 2001. Al-Qur’an dan terjemahannya (Transliterasi

Arab Latin) Model Perbasis. Semarang: CV Asy Syifa

Fauroni, Lukman Rekontruksi Etika Bisnis: Prespektif Al-Quran, IQTISAD

Jaurnal of Islamic Economic, Vol. 4, no. 1, Muharram 1424 H/March

       2003.

.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.