Senin, September 20

Entrepreneurship, Technopreneurship dan Sociopreneurship

 Oleh : Fahrudin @S04-Fahrudin

Entrepreneurship

Kewiraswastaan atau Kewirausahaan (bahasa Inggrisentrepreneurship) adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu.  Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidak pastian.

Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon (1775), misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai usaha investasi dengan keuntungan yang didapat di masa depan. Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian. Berbeda dengan para ahli lainnya, menurut Penrose (1963) wirausahawan merupakan seseorang yang didorong oleh keserbagunaan, ambisi, kecerdasan, dan kemampuan untuk mengumpulkan mengelompokkan, dan menggunakan informasi untuk mengolah sumber daya dan produk atau jasa, sedangkan menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan sebagai usaha pengisi jurang di saat pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya. Menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah disiplin ilmu dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan atau wiraswasta.  Sikap mental wiraswasta dapat dibagi menjadi komponen kogintif, komponen afektif, dan komponen kognatif.

 Technopreneurship 

Secara singkat, technopreneurship adalah entrepreneurship dalam bidang teknologi di mana keahlian yang dibutuhkan tak lagi hanya wirausaha,  tetapi juga pengetahuan akan teknologi mutakhir. Istilah ini bisa dibilang baru dan kian populer bersama dengan berkembangnya teknologi. Kalau kamu merasa seseorang yang cerdas, inovatif, suka teknologi, dan berani mengambil risiko, menjadi seorang technopreneur bisa jadi sesuai untukmu. Saat ini, istilah technopreneur dikenal bagi seorang pengusaha startup atau bisnis rintisan yang memanfaatkan teknologi sebagai basis bisnisnya. Menurut Entrepreneur, teknologi yang sedang sangat diminati dan terus diteliti adalah kecerdasan buatan, augmented reality, blockchain, the internet of things, 3D printing, big data, cloud computing, dan masih banyak lagi.

Pentingnya Technopreneurship

Di era teknologi ini, tentu technopreneurship adalah suatu hal yang tak mungkin lagi dianggap sepele. Technopreneurship memiliki peran penting dalam memanfaatkan teknologi untuk mempermudah berbagai tujuan. Beberapa manfaat yang membuat technopreneurship penting adalah sebagai berikut:

1. Menciptakan lapangan kerja

Bisnis startup yang semakin banyak bermunculan merupakan hasil dari technopreneurship. Startup-startup ini tentu menciptakan lapangan kerja baru karena kebutuhannya akan sumber daya manusia untuk mengoperasikan bisnis. Oleh karena itu, technopreneurship memiliki dampak besar dalam mengurangi jumlah pengangguran dan menyelesaikan masalah kesulitan menemukan lapangan kerja.

2. Meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal

Startup berbasis teknologi dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sekitar kita.  Contohnya, berbagai startup ojek dan taksi online yang menyelesaikan masalah kesulitan menemukan kendaraan umum. Dengan teknologi mereka, kini sangat mudah untuk memanggil kendaraan umum untuk transportasi sehari-hari. Startup tersebut pun tidak diragukan lagi telah menyerap banyak sumber daya manusia yang tergabung sebagai mitra dan memberikan mereka kesempatan akan kualitas hidup yang lebih baik.

3. Diversifikasi dan desentralisasi bisnis

Pemanfaatan teknologi mutakhir sebagai basis bisnis yang diciptakan seorang technopreneur mampu memberikan kesempatan bagi orang-orang tanpa peduli jarak. Kini, remote working atau kerja jarak jauh tak lagi asing dan justru semakin terfasilitasi.

4. Perkembangan teknologi

Technopreneurship adalah salah satu pendorong perkembangan teknologi serta inovasi. Perusahaan-perusahaan yang diciptakan oleh technopreneur visioner terus menerus berusaha mengembangkan teknologi agar menjadi lebih efisien dan bermanfaat setiap harinya.

5. Peningkatan ekonomi

Dengan terbukanya lapangan baru, tentu saja technopreneurship dan bisnis berbasis teknologi adalah salah satu penyokong ekonomi negara. Perkembangannya yang cepat mengundang banyak investor yang memberikan suntikan dana sebagai bentuk dukungan bisnis masa kini yang bermanfaat.

6. Mendorong kewirausahaan

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, technopreneurship adalah aplikasi entrepreneurship yang menitikberatkan penggunaan teknologi. Oleh karena itu, dengan terus berkembangnya technopreneurship, orang-orang akan semakin tergerak untuk juga berusaha memulai bisnisnya sendiri.

Sociopreneurship

sociopreneurship ini adalah gabungan dari dua kata, yaitu social dan entrepreneurship. Sama seperti namanya, sociopreneur ini menggabungkan konsep bisnis dengan isu sosial yang ada di masyarakat. Dilansir dari laman Investopedia, sociopreneur adalah mereka yang berusaha untuk menggunakan berbagai cara bisnis agar bisa mengatasi masalah bersama-sama. Mereka yang bergerak pada bidang ini harus berani mengambil resiko dan berusaha lebih keras untuk bisa memberikan dampak yang positif dengan adanya berbagai inisiatif yang dilakukannya. Bila pada umumnya suatu bisnis berusaha keras untuk mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, maka sociopreneur berbeda. Sociopreneur adalah bisnis yang lebih menekankan pada unsur isu sosial daripada mengejar profit. Tapi, itu bukan berarti sociopreneur mengabaikan profit. Kegiatan yang mereka lakukan tetap mampu menghasilkan profit, tapi profit tersebut lebih banyak digunakan untuk membuat suatu aksi yang positif daripada nilai keuntungan semata. Dikutip dari laman Hubspot, indikator kesuksesan pada suatu sociopreneur adalah saat bisnis tersebut mampu memberikan efek yang sangat positif untuk dunia. Saat ini, ada berbagai bidang sociopreneur yang banyak tersedia. Mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, industri kreatif, kemanusiaan, sampai dengan penyediaan akses pada berbagai daerah terpencil. Dilansir dari laman CNN Indonesia, terdapat tiga bidang sociopreneur yang paling banyak diminati oleh para sociopreneur dalam negeri. Ketiga bidang Ada tiga bidang yang paling diminati oleh para sociopreneur lokal, yaitu industri kreatif sebanyak 22%, agrikultur dan perikanan 16%, dan pendidikan 15%.

Karakter Sociopreneurship

Beberapa karakter yang berhubungan dengan sociopreneur adalah sebagai berikut ini:

1. Fokus Pada Misi Sosial

Sociopreneur adalah mereka yang fokus pada visi dan misi sosial yang sudah mereka pilih dari awal. Sebagai contoh, sociopreneur bisa memilih untuk fokus pada isi bencana di daerah yang rawan konflik perang atau rawan terjadi bencana alam.

Untuk itu, setiap usaha yang dilakukan pada isu sosial ini harus lebih mengacu pada pemenuhan hak sandang, pangan, dan papan pada daerah bencana tersebut.

2. Memiliki Skala Dampak yang Besar

Setelah berhasil memilih misi, maka sociopreneur pun harus mempunyai target skala dampak yang ingin dicapainya. Misalnya, akan lebih baik lagi bila bisnis sosial yang dilakukan mampu memberi dampak keselamatan untuk berbagai daerah rawan bencana di Indonesia, bukan hanya pada satu daerah saja.

3. Inovatif

Suatu bisnis sosial harus sangat peka dan juga inovatif dalam hal menciptakan cara terbaik agar bisa mencapai tujuan bisnisnya.

4. Terbuka pada Feedback

Bisnis sosial tidak hanya terkait tentang bisnis saja, namun juga tentunya banyak orang yang akan merasakan efek tersebut. Untuk itu, sociopreneur pun harus bisa lebih mengedepankan feedback dari orang lain agar bisa terus beradaptasi dalam mengembangkan bisnisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.