Minggu, September 26

MEMBANGUN RASA PENASARAN DENGAN MEMBACA ARTIKEL” ETIKA BISNIS “

 


Disusun Oleh : 
( @S16-ANGGA )

Abstarak

Kegiatan bisnis yang berkembang di Indonesia, akan memicu ketatnya persaingan yang terjadi dan terkadang menyebabkan pelaku bisnis menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, sehingga sering terjadi persaingan dalam bisnis. Kompetisi ini dapat merugikan banyak orang tetapi juga dalam jangka panjang dapat merugikan bisnis itu sendiri.

Masalah etika ini tidak hanya ada di bisnis kecil, tetapi juga skala besar bisnis memiliki masalah yang sama, masalah etika dalam bisnis. Etika bisnis adalah etika yang berkaitan dengan pedoman dalam kegiatan bisnis di mana etika bisnis adalah menerapkan aturan umum tentang perilaku bisnis yang etis.

Etika bisnis menyangkut moral, kontak sosial, hak dan kewajiban, prinsip dan aturan. Etika bisnis menjadi penting bagi perusahaan karena dalam persaingan bisnis yang ketat seperti sekarang, hanya perusahaan yang visioner yang memahami bahwa perusahaan dapat terus bertahan jika ia menggunakan etika dalam bisnis, hari ini rekan kerja termasuk pelanggan menuntut kualitas barang

dan jasa, sehingga dengan melakukan tindakan berdasarkan etika dapat menghasilkan kepercayaan bagi

perusahaan, dan keyakinan itu dapat menumbuhkan kelangsungan hidup perusahaan untuk jangka menengah atau panjang ketentuan.

Kata Kunci : Etika, Bisnis, Tanggung Jawab Sosial

 

Pendahuluan

Semakin terbukanya pasar nasional sebagai dampak dari proses globalisasi ekonomi semakin menumbuhkan minat untuk melakukan kegiatan bisnis. Kegiatan bisnis yang tengah berkembang di Indonesia, akan memicu terjadi persaingan yang sangat ketat dan kadang kala akibat dari ketatnya persaingan dapat menyebabkan pelaku bisnis menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, akibatnya terjadilah persaingan yang tidak sehat dalam bisnis. Persaingan yang tidak sehat ini dapat merugikan orang banyak, selain itu juga dalam jangka panjang dapat merugikan pelaku bisnis itu sendiri. Permasalahan etika ini tidak hanya ada pada bisnis skala kecil, namun tidak jarang bisnis dalam skala besarpun mengahadapi permasalahan yang sama yaitu permasalah etika dalam bisnis. Tina Dacin (2011:1) mengatakatan bahwa penipuan tetap merupakan masalah yang sulit dipecahkan dan mahal dalam organisasi saat ini. Sebuah survey menemukan bahwa sekitar sepertiga dari organisasi di seluruh dunia adalah korban dari kejahatan ekonomi.

 Dalam bisnis aspek hukum dan aspek etika bisnis sangat mempengaruhi terwujudnya persaingan yang sehat. Munculnya persaingan yang tidak sehat menunjukkan bahwa peranan hukum dan etika bisnis dalam persaingan bisnis ekonomi belum berjalan sebagaimana semestinya. Dengan munculnya berbagai masalah pelanggaran etika dalam bisnis menyebabkan banyaknya tuntutan untuk menerapkan etika kegiatan bisnis, dengan diterapkannya etika dalam bisnis akan meminimalisir hal-hal negatif yang tidak diinginkan, dan secara tidak lansung dapat membantu tatanan perkonomian.

                Bisnis merupakan suatu hal yang tidak dapat terlepas dari masyarakat, dalam kata lain masyarakat merupakan bagian dalam bisnis dan sebaliknya. Karena bisnis tidak dapat terlepas dari masyarakat maka bisnis seharusnya patuh pada norma-norma yang ada di masyarakat. Tata hubungan bisnis dengan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan tersebut telah menciptakan etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnis, baik etika bisnis antar sesama pelaku bisnis ataupun etika bisnis terhadap masyarakat, baik dalam hubungan langsung maupun tidak langsung.

                Dalam beberapa dekade kebelakang, etika bisnis telah menjadi isu yang begitu hangat dan penting dalam sebuah perusahaan. Dalam menjalankan kegiatan bisnis tentunya perusahaan harus berusaha untuk menghindari efek negatif kepada masyarakat yang berada diseklilingnya. Masyarakat yang dimaksud di sini adalah para pekerja, perusahaan lain, pelanggan, pemasok, investor dan masyakarat atau penduduk disekitarnya. Begitu hangatnya isu mengenai etika bisnis, maka dalam kesempatan kali ini penulis akan membahas mengenai “Apakah etika bisnis itu penting bagi perusahaan ?”

Pembahasan

 Apa itu Etika Bisnis ?

Sebelum kita mengetahui apa yang dimaksud dengan etika bisnis, seyogyanya kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan etika dan etiket.

Secara etimologi (asal kata) etika berasal dari kata “ethicus” (Bahasa Latin) dan “eticos” (Bahasa Yunani) yang memiliki makna “kebiasaan”. Menurut Harmon Chaniago (2013:237) etika adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, didasarkan pada kebiasaan mereka. Hal ini dipertegas oleh Barten dalam Gustina (2008:138) “etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral dalam suatu masyarakat. Di sini terkandung arti moral atau moralitas seperti apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan yang pantas atau tidak, dan sebagainya.”

Dari beberapa definisi di atas mengenai etika, dapat kita tarik kesimpulan bahwa etika adalah hal yang penuh dengan pandangan atau nilai yang dianut oleh masyarakat, di mana dasar nilai itu dibangun dari kebiasaan yang mereka lakukan. Membahas mengenai etika, maka kita akan masuk pada ranah kebiasaan yang terjadi pada suatu masyarakat, etika akan berbicara mengenai benar atau salah. Kebiasaan yang berlaku disuatu tempat biasanya mengacu pada adat istiadat, norma, peraturan, budaya dan lainnya. Semakin seseorang sesuai dengan kebiasaan setempat, maka dapat dikatakan ia semakin beretika di tempat yang bersangkutan.

Bila kita lihat lebih jauh, ada perbedaan yang nyata antara etika dan etiket. Etiket berasal dari Bahasa Prancis “Etiquette” yang berarti kartu undangan yang dipakai oleh raja-raja prancis dalam mengadakan acara formal. Pada kartu undangan tersebut tertera aturan yang harus diikuti bila akan menghadiri undangan seperti: pakaian, dasi, tempat duduk dan sebagainya. Dalam perkembangannya etiket lebih menitik beratkan pada sikap dan perbuatan yang lebih real (applicative), ia berbicara apa yang seharusnya dilakukan sesuai aturan yang ada. Dalam wujudnya etiket dapat dilihat dari tata karma, sopan santun, norma, perbuatan, kelakuan dan tindak tanduk. (Wursanto dalam Harmon, 2013:238).

Bisnis adalah kegiatan-kegiatan teratur melayani dalam suatu kebutuhan yang bersifat umum (artinya: non personal) sambil memperoleh pendapatan (income) (Pandji:113). Hal ini dipertegas Skinner dalam Pandji (2007:6) “bisnis adalah pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan atau memberikan manfaat. Sedangkan menurut arti dasarnya, bisnis memiliki makna sebagai the buying and selling of goods and services. Sedangkan perusahaan bisnis adalah organisasi yang terlibat dalam pertukaran barang, jasa, atau uang untuk menghasilkan keuntungan.”

Dahulu bisnis dilakukan dengan cara barter¸ yaitu kegiatan tukar-menukar barang atau jasa yang terjadi tanpa menggunakan uang sebagai perantara, selanjutnya manusia dihadapkan pada kenyataan bahwa apa yang mereka hasilkan sendiri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk memperoleh barangbarang yang tidak dapat dihasilkan sendiri mereka mencari dari orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya. Jadi barter adalah kegiatan tukar menukar barang.

Menurut Wikipedia Indonesia (2013) kesulitan yang ditemui pada tahap barter adalah kesulitan untuk mempertemukan orang-orang yang saling membutuhkan dalam waktu bersamaan. Kesulitan itu telah mendorong manusia untuk menciptakan kemudahan dalam hal pertukaran, dengan menetapkan bendabenda tertentu sebagai alat tukar. Sampai sekarang barter masih dipergunakaan pada saat terjadi krisis ekonomi di mana nilai mata uang mengalami devaluasi akibat hiperinflasi.

Menurut Pandji (2007:113) etika bisnis adalah Etika (Ethics) yang menyangkut tata pergaulan di dalam kegiatan-kegiatan bisnis. Bisnis adalah kegiatan-kegiatan teratur yang melayani kebutuhan yang bersifat umum (artinya: non-personal) sambil memeperoleh pendapatan (Income). Jika di dalam “pendapatan” itu dikalkulasikan laba, maka bisnis tersebut bersifat komersial.

Menurut Wikipedia Indonesia (2014) etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berikatan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nila, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun huubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/ mitra kerja, pemegang saham, masyarakat.

Etika adalah ilmu atau pengetahuan tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk dijunjung tinggi atau untuk diperbuat (Ethics is the science of good and bad). Jadi dapat kita tarik benang mewah bahwa etika bisnis adalah ilmu yang menyangkut tata pergaulan di dalam kegiatan-kegiatan bisnis dimana etika bisnis adalah menerapkan aturan-aturan umum mengenai etika pada perilaku bisnis. Etika bisnis ini menyangkut moral, kontak sosial, hak dan kewajiban, prinsip-prinsip dan aturan-aturan.

 

Pembentuk Nilai Etika

Menurut Mamduh (2003:74) etika individu dipengaruhi atau dibentuk oleh beberapa hal :

1.       Keluarga Keluarga merupakan tempat tumbuhnya seorang individu, karena keluarga mempunyai pengaruh penting dalam pembentukan etika seorang individu. Individu akan berperilaku mencontoh perilaku orang tuanya atau keluarga dekat, atau berperilaku seperti yang disusruh oleh orang tuanya.

2.      Pengaruh Faktor Situasional Siatuasi akan menentukan etika individu. Sebagai contoh, jika seseorang mencuri barangkali mempunyai alasan karena ia membutuhkan uang tersebut karena anakanya sakit. Meskipun nampaknya jalan yang diambil merupakan jalan pintas, tetapi situasi semacam itu membantu memahami kenapa seseorang dapat melakukan tindakan yang tidak etis.

3.      Nilai, Moral, dan Agama. Seseorang yang memprioritaskan sukses pribadi dan pencapaian tujuan keuangan tentunya mempunyai perilaku yang lain dibandingkan mereka yang memprioritaskan untuk menolong orang lain. Keputusan dan perilaku manajer seringkali dipengaruhi oleh kepercayaanya.

4.      Pengalaman Hidup Selama hidupnya, manusia mengalami banyak pengalaman baik maupun yang jelek. Pengalaman tersebut merupakan proses yang normal dalam kehidupan seseorang. Pengalaman tersebut akan membentuk etika seseorang. Sebagai contoh, seseorang yang mencuri kemudian tidak tertangkap barangkali akan terdorong mencuri kembali di masa mendatang. Sebaliknya, jika ia tertangkap dan dihukum, dapat membuatnya jera untuk melakukan pencurian lagi.

5.      Pengaruh Teman Teman sebaya terutama akan berpengaruh terhadap pembentukan etika seseorang. Contoh yang paling baik adalah masa anak-anak. Jika seorang anak berteman dengan anak yang nakal, maka ada kecenderungan anak teresbut tertular nakal. Demikian juga dengan teman pernainan pada waktu seorang individu menginjak remaja. Jika lingkungan mempunyai standar etika yang tinggi, seorang individu akan cenderung mempunyai etika yang tinggi juga.

Prinsip-Prinsip Etika dan Perilaku Bisnis

Menurut pendapat Michael Josephson dalam Pandji (2007:125), secara universal, ada 10 prinsip etika yang mengarahkan perilaku, yaitu :

1.      Kejujuran, yaitu penuh kepercayaan, tidak curang, dan tidak berbohong

2.      Integritas, yaitu memegang prinsip, melakukan kegiatan terhormat, tulus hati, berani dan penuh pendirian, tidak bermuka dua, tidak berbuat jahat dan saling percaya.

3.      Memelihara janji, yaitu selalu menaati janji, patut dipercaya, penuh komitmen, patuh.

4.      Kesetiaan, yaitu hormat dan loyal kepada keluarga, teman, karyawan, dan negara; jangan menggunakan atau memperlihatkan informasi yang diperoleh dalam kerahasiaan; begitu juga dalam suatu konteks professional, jaga/lindungi kemampuan untuk membuat keputusan professional yang bebas dan teliti, hindari hal yang tidak pantas dan konflik kepentingan

5.      Kewajaran/Keadilan, yaitu berlaku adil dan berbudi luhur, bersedia untuk mengakui kesalahan; dan memperlihatkan komitmen keadilan, persamaan perlakuan individual dan toleran terhadap perbedaan, jangan bertindak melampaui batas atau mengambil keuntungan yang tidak pantas dari kesalahan atau kemalangan orang lain. Seema Gupta (2010:11) menyatakan bahwa konsep keadilan secara tradisional telah berkaitan dengan hak dan kewajiban.

6.      Suka membantu orang lain, yaitu saling membantu, barbaik hati, belas kasihan, tolong menolong, kebersamaan, dan menghindari segala sesuatu yang membahayakan orang lain.

7.      Hormat kepada orang lain, yaitu menghormati martabat manusia, menghormati kebebasan dan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi semua orang, bersopan santun, jangan merendahkan diri seseorang, jangan memperlakukan seseorang dan jangan merendahkan martabat orang lain.

8.      Kewarganegaraan yang bertanggung jawab, yaitu selalu mentaati hukum/aturan, penuh kesadaran sosial, menghormati proses demokrasi dalam mengambil keputusan.

9.      Mengejar keunggulan, yaitu mengejar keunggulan dalam hal baik dalam pertemuan personal maupun pertanggungjawaban professional, tekun, dapat dipercaya/diandalkan, rajin dan penuh komitmen, melakukan semua tugas dengan yang terbaik berdasar kemampuan, mengmbangkan, dan memperhahankan tingkat kompetensi yang tinggi.

10.  Dapat dipertanggung jawabkan, yaitu memilki tanggung jawab, meneri,a tanggung jawab atas keputusan dan konsekuensinya, dan selalu mencari contoh.

Sementara Sonny Keraf dalam Sorta (2008:18) menyebutkan bahwa secara umum ada lima prinsip etika bisnis, yaitu :

1.      Prinsip Otonomi

2.      Prisip Kejujuran

3.      . Prisip Keadilan

4.      Prinsip Saling Menguntungkan, dan

5.      Prinsip Integritas Moral.

Cara-cara Memepertahankan Standar Etika

Menurut pandji (2007:127), ada beberapa cara untuk mempertahankan standar etika, dianataranya adalah sebagai berikut :

1.      Ciptakan kepercayaan perusahaan, kepercayaan perusahaan dalam menetapkan nilai-nilai perusahaan yang berdasar tanggung jawab etika bagi stakeholders.

2.      Kembangkan kode etik, kode etik merupakan suatu catatan tentang standar tingkah laku dan prinsip-prinsip etika yang diharapkan perusahaan dan karyawan

3.      Jalankan kode etik secara adil dan konsisten, manajer harus mengambil tindakan apabila merasa melanggar etika. Bila karyawan mengetahui, bahwa yang melanggar etika tidak dihukum, maka kode etik menjadi tidak berarti apa-apa.

4.      Lindungi hak perorangan, akhir dari semua keputusan setiap etika sangat tergantung pada individu. Melindungi seseorang dengan kekuatan prinsipprinsip moral dan nilai-nilainya merupakan jaminan yang terbaik untuk menghindari penyimpangan etika. Untuk membuat keputusan-keputusan etika seseorang harus memiliki :

a.       Komitmen etika, yaitu tekad seseorang untuk bertindak secara etis dan melakukan sesuatu yang benar

b.      Kesadaran etika, yaitu kemampuan untuk merasakan implikasi etika dari suatu situasi,

c.       Kemampuan kompetensi, yaitu kemampuan untuk menggunakan suara pikiran moral dan mengembangkan strategi pemecahan masalah secara praktis.

5.      Adakan pelatihan etika, balai kerja merupakan alat untuk meningkatkan kesadaran para karyawan.

6.      Lakukan audit etika secara periodic, audit merupakan cara yang terbaik untuk mengevaluasi efektivitas sistem etika. Hasil evaluasi tersebut akan memberikan suatu sinyal kepada karyawan bahwa etika bukan sekedar iseng.

7.      Pertahankan standar yang tinggi tentang tingkah laku, jangan hapus aturan. Tidak ada seorangpun yang dapat mengatur etika dan moral. Akan tetapi manajer bisa saja membolehkan orang untuk mengetahui tingkat penampilan yang mereka harapkan. Standar tingkah laku sangat penting untuk menekankan bahwa betapa pentignya etika dalam organisasi. Setiap karyawan harus mengetahui bahwa etika tidak bisa dinegoisasi atau ditawartawar.

8.      Hindari contoh etika yang tercela setiap saat. Etika diawali dari atasan, atasan harus memberi contoh dan menaruh kepercayaan kepada bawahannya.

9.      Ciptakan budaya yang menekankan komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah sangat penting, yaitu untuk menginformasikan barang dan jasa yang kita hasilkan dan untuk menerima aspirasi untuk perbaikan perusahaan.

10.  Libatkan karyawan dalam mempertahankan standar etika. Para karyawan diberi kesempatan untuk memebrikan umpan balik tentang bagaimana standar etika dipertahankan.

Tanggung Jawab Perusahaan

            Menurut Sandono, dkk (2004:353) prinsip-prinsip utama tanggung jawab sosial yang berkembang di Amerika Serikat ialah:

1.      Prinsip Charity, membawa ide bahwa anggota masyarakat yang lebih kaya seharusnya menolong anggota masyarakat yang kurang bernasib baik seperti orang cacat, orang tua dan orang sakit. Pada masa kini kita dapat melihat suatu tren perubahan telah berlaku pada konsep ini apabila pihak koporat mulai memberi perhatian dan sumbangan kepada charity berbanding dengan masa lalu di mana ia dibuat oelh individu-individu tertentu

2.      Prinsip Stewardship adalah suatu konsep yang diambil dari ajaran yang mengehendaki individu yang kaya, menganggap diri mereka sebagai pemegang amanah terhadap harta benda mereka untuk kebajikan seluruh masyarakat. Ini termasuk melaksanakan tanggung jawab sosial kepada masyarakat awam, kepada lingkungan, pekerja, konsumen, dan investor.

Prinsip ini digunakan untuk mendorong perkembangan rasa tanggung jawab pengusaha terhadap masyarakat.

Hal serupa dikemukakan Zimmere dalam Pandji (2007:128) ada beberapa macam pertanggungjawaban perusahaan, yaitu :

1.      . Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan

Perusahaan harus ramah lingkungan, artinya perusahaan harus memperhatikan, melestarikan dan menjaga lingkungan, misalnya tidak membuang limbah yang mencemari lingkungan, berusaha mendaur ulang limbah yang merusak lingkungan, menjalin komunikasi dengan kelompok masyarakat yang ada di lingkungan sekitar

2.      Tanggung Jawab Terhadap Karyawan. Menurut Ronal J.Ebert dalam Pandji (2007:128) semua aktivitas manajemen sumber daya manusia seperti perekrutan, pengupahan, pelatihan, promosi, dan kompensasi, kesemuanya dlam rangka tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan. Menurut Zimmere dalam Pandji (2007:129) tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan dapat dilakukan dengan cara :

·         Dengarkan para karyawan dan hormati pendapat mereka.

·         Minta input kepada karyawan.

·         Berikan umpan balik baik negatif maupun positif.

·         Ceritakan selalu kepada mereka tentang kepercayaan.

·         Biarakan mereka mengetahui sebenar-benarnya apa yang mereka harapkan.

·         Berilah hadiah kepada karyawan yang bekerja dengan baik.

·         Percayalah kepada mereka.

3.      Tanggung Jawab Terhadap Pelanggan

Menurut Sutrisno dan Suherman (2007:35) pelanggan adalah pembeli atau pemakai produk yang harus dihormati, karena merekalah kelangsungan hisup perusahaan dapat terjamin. Untuk itu tanggung jawab perusahaan kepada pelanggan sangatlah penting. Tangung jawab sosial perusahaan terhadap pelanggan menurut Ronal J. Ebert dalam Pandji (2007:129) ada dua kategori, yaitu:

1.      Menyediakan barang dan jasa yang berkualitas,

2.      Hak untuk mendapatkan informasi segala aspek produk.

3.      Hak untuk didengar.

4.      Hak untuk memilih apa-apa yang mereka akan beli.

Sedangkan menurut Zimmerer dalam Pandji (2007) hak-hak pelanggan yang harus dilindungi meliputi lima :

1.      Hak keamanan, barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan harus berkualitas dan memberikan rasa aman, demikian juga kemasannya.

2.      Hak untuk mengetahui, konsumen berhak untuk mengetahui barang dan jasa yang mereka beli termasuk perusahaan yang mengahasilkan barang tersebut.

3.      Hak untuk didengar, komunikasi dua arah harus dibentuk, yaitu untuk menyalurkan keluhan produk dan jasa dari konsumen dan untuk menyampaikan berbagai informasi barang dan jasa dari perusahaan.

4.      Hak atas pendidikan, pelanggan berhak atas pendidikan. Misalnya pendidikan tentang bagaimana menggunakan dan memelihara produk. Perusahaan harus menyediakan program pendidikan agar mereka tahu informasi barang dan jasa yang akan dibelinya

5.      Hak untuk memilih. Hal terpenting dalam persaingan adalah memberi hak untuk memilih barang dan jasa yang mereka perlukan. Tanggung jawab sosial perusahaan adalah tidak mengganggu persaingan dan mengabaikan undang-undang antitrust.

Hak-hak pelangganpun diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, di mana hak konsumen adalah :

a.       Hak atas kenyamanan, kemanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/ atau jasa;

b.      Hak untu memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/ jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c.       Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/ atau jasa;

d.      Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

e.       Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

f.       Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

g.      Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

h.      Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/ atau penggantian, apabila barang dan/ atau jasa ang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

i.        Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangan-undangan lainnya.

 

4.      Tanggung jawab terhadap investor

Tanggung jawab perusahaan terhadap investor adalah menyediakan pengembalian (return) investasi yang menarik di antaranya dengan memamksimuman laba. Selain itu perusahaan juga bertanggung jawab untuk melaporkan kinerja keuangannya kepada investor seakurat dan setepat mungkin.

5.      Tanggung jawab terhadap masyarakat

Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap masyarakat sekitaranya. Misalnya menyediakan pekerjaan dan menciptakan kesehatan dan menyediakan berbagai kontribusi terhadap masyarakat yang berada dilokasi tersebut.

Ronald J Ebert dan Ricky M dalam Pandji (2007:128) mengatakan bahwa etika sangat berpengaruh pada tingkah laku individual. Tanggung jawab sosial yang mencoba menjembatani komitmen individu dan kelompok dalam suatu lingkungan sosial menyeimbangkan komitmen-komitmen yang berbeda-beda.

 

 

Argumen Pro dan Kontra terhadap Tanggung Jawab Sosial

Tanggung jawab sosial merupakan pelaksanaan tuntutan etika oleh organisasi, dalam kaitannya dengan tuntutan lingkungan atau pihak-pihak yang berkaitan dengan organisasi. Meskipun nampaknya argumen tanggung jawab sosial perusahaan cukup kuat, tetapi masih ada kontroversi terhadap tanggung jawab sosial perusahaan. Tabel berikut ini menyajikan ringkasan argumen pro dan kontra tanggung jawab sosial perusahaan. (Mamduh, 2003:78).

Tabel 1 Pro dan Kontra Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Argumen Pro Tanggung Jawab Sosial

1.      Bisnis merupakan anggota masyarakat, karena itu berkepentingan terhadap kemajuan dan kebaikan masyarakat dimana bisnis itu berada.

2.      Tindakan sosial dapat meningkatkan keuntungan.

3.      Merupakan hal yang etis.

4.      Meningkatkan kesan baik (image) bisnis di mata publik.

5.      Bisnis ada karena memberi sumbangan kepada masyarakat. Masyarakat dapat menarik kembali penugasan tersebut jika bisnis tidak dapat memberi sumbangan yang terbaik.

6.      Perlu dilakukan untuk menghindari peraturan pemerintah.

7.      Norma sosial mengharuskan bisnis melakukan tanggung jawab sosial.

8.      Hukum tidak dapat dibuat untuk setiap situasi, karena itu bisnis harus memelihara ketentraman hokum dengan mengisi gap tersebut.

9.      Konsisten dengan kepentingan pemegang saham. Tanggung jawab sosial akan meningkatkan harga saham karena bisnis menjadi semakin kecil risikonya, yaitu kecil kemungkinannya untuk diserang oleh masyarakat publik.

10.  Masyarakat harus memberi kesempatan kepada bisnis memecahkan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah.

11.  Bisnis mempunyai sumberdaya manusia dan keuangan untuk menyelesaikan masalah sosial.

12.  Mencegah masalah lebih baik disbanding mengobatinya, biarkan bisnis menyelesaikan masalahnya sebelum masalah tersebut membesar.

13.  Bisnis menciptakan maslah, karena itu mereka harus memecahkannya.

14.  Bisnis merupakan partner di masyarakat, bersama dengan pemerintah masyarakat.

Argumen Kontra Tanggung Jawab Sosia

1.       Tindakan sosial tidak dapat diukur.

2.      Tujuan suatu bisnis adalah memaksimumkan keuntungan.

3.      Keterlibatan dalam pekerjaan sosial membuat bisnis mempunyai kekuasaan yang semakin besar.

4.      Bisnis tidak mempunyai keahlian dalam menjalankan program-program sosial.

5.      Ada potensi konflik kepentingan.

6.      Biaya tanggung jawab sosial terlalu tinggi.

7.       Akan menekan neraca pembayaran karena produk menjadi tidak kompetitif di pasaran internasional.

Sumber : Manajemen, Mamduh M. Hanafi Mamduh (2003:79)

 menjelaskan bahwa Argumen pro pada dasarnya menganggap bahwa perusahaan merupakan bagian dari masyarakat. Kemudian, perusahaan atau bisnis mempunyai kekuasaan yang cukup besar. Mereka dapat menentukan jumlah tenaga kerja yang ditarik, dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Karena keuasaan tersebut, perusahaan mempunyai kewajiban untuk mempertahankan atau meningkatkan kemakmuran masyarakat. Kekuasaan harus disertai dengan kewajiban. Program sosial yang dilakukan perusahaan akan menngkatkan profitabilitas perusahaan, paling tidak dalam jangka panjang. Dengan demikian, dengan melakukan tanggung jawab sosial, perusahaan dapat meningkatkan keuntungannya.

 Argumen kontra berpendapat bahwa jika perusahaan diharuskan menjalankan tanggung jawab sosial, maka akan ada konflik antara tujuan ekonomi dengan tujuan sosial. Perusahaan tidak akan bertahan karena dipaksa untuk mengerjakan tugas yang kontradiktif tersebut. Salah satu tokoh pendukung argumen kontra adalah Milton Friedman, ekonom dari Amerika Serikat. Friedman berpendapat bahwa tanggung jawab sosial bahkan menjadi sesuatau yang tidak etis, karena manajer dipaksa untuk mengeluarkan uang yang seharusnya menjadi miliki pemegang saham.

Berdasarkan penelitian terhadap 560 eksekutif perusahaan yang dilakukan oleh Mamduh (2003:80) mengenai potensi efek positif dan negatif dari tanggung jawab sosial perusahaan menunjukan bahwa ada sekita 97,4% responden yang mengaharapkan peningkatan reputasi organisasi. Pengharapan tersebut merupakan pengharapan paling tinggi. Sementara untuk efek negatif, ada 59,7% yang menganggap tanggung jawab sosial menyebabkan penurunan profitabilitas jangka pendek. Secara umum efek positis memperoleh tingkat penghatapan (potensi) yang lebih tinggi dibandingkan dengan efek negatif.

Relevansi Etika Bisnis dan Perusahaan

Bisnis merupakan kegiatan ekonomi, dimana bisnis dapat digambarkan sebagai kegiatan yang terstruktur atau terorganisai dalam rangka memperoleh keuntungan. Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki orientasi akhir yaitu untuk mendapatkan keuntungan dan kelangsungan hidup perusahaan, lalu apakah penting sebuah etika bisnis bagi perusahaan? adakah relevansi antara etika bisnis dengan perusahaan bisnis? Sonny Keraf dalam Sorta (2008:16) menyatakan bahwa etika bisnis justru hanya memiliki relevansi bagi para pelaku bisnis yang menginginkan bisnisnya sukses dan bertahan lama. Etika bisnis sulit memiliki relevansi bagi para pelaku bisnis yang hanya berpikir tentang bisnis hari ini dan keuntungan sesaat. Bisnis modern saat ini adalah bisnis yang diwarnai oleh persaingan ketat. Dalam konteks bisnis yang kompetitif, setiap perusahaan berusaha untuk unggul berdasarkan kekuatan manajemen dan profesionalisme suatu perusahaan.

 

Kesimpulan

Jadi, etika bisnis merupakan suatu pedoman yang sangat penting dalam kegiatan bisnis, pelaku bisnis harus mampu memahami dan mengintrepretasikan apa yang dimaksud dengan etika bisnis. Etika bisnis menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan, maksudnya adalah keberlangsungan hidup suatu perusahaan bergantung pada bagaimana cara penerapan etika bisnis oleh pelaku bisnis.

Dengan terapkannya etika dalam bisnis, maka secara tidak langsung dapat menumbuhkan kepercayaan dari rekan kerja, masyarakat, dan pelanggan, di mana kepercayaan merupakan sebuah modal yang sangat penting agar kelangsungan hidup perusahaan tetap terjamin. Maka dari itu, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan standar etika. Dengan terciptanya kesadaran akan pentingnya etika bisnis, maka akan ada banyak pihak yang mendapat keuntungan, diantaranya adalah pelaku bisnis itu sendiri, pelanggan, serta masyarakat serta pemerintah. Dengan menerapkan etika bisnis, dapat membantu tatanan ekonomi menjadi lebih baik dan dapat mengingkatkan tanggung jawab sosial perusahaan.

 

Daftar Pustaka

Anogara, Pandji. 2007. Pengantar Bisnis Pengelolaan Bisnis Dalam Era Globalisasi. Jakarta: Rineka Cipta Chaniago, Harmon. 2013. Manajemen Kantor Kontemporer. Bandung: Akbar Limas Perkasa CV.

Dacin, Tina. dkk. 2011. Artikel “Unethical Conduct Within Organizations: Understanding and Preventing Fraudulent Behavior” dalam Journal of Business Ethics. Tersedia: http://aaahq.org/calls/JBE_Fraud_Issue.pdf (19 Desember 2014)

Google. “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen”. Tersedia http://www.esdm.go.id/prokum/uu/1999/uu-8-1999.pdf. (29 Desember 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.