Senin, September 6

USAHA PERAHU IKAN NELAYAN RAUP KEUNTUNGAN HINGGA 100% DALAM SEBULAN 4 KALI TRIP

Oleh : Murdiono deli  (@S03-MURDIONO)

PENDAHULUAN

Sektor perikanan merupakan sektor yang sangat penting untuk dikembangkan disamping sektor pertanian tanaman pangan dan peternakan. Pembangunan di sektor perikanan sampai saat ini tetap diarahkan pada peningkatan kontribusi sub sektor perikanan dalam menjamin tersedianya bahan pangan protein hewani, bahan baku industri, peningkatan ekspor, mendorong perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, meingkatkan pendapatan nelayan serta menunjang pembangunan daerah. Pembangunan sektor perikanan terutama diarahkan pada pengembangan produksi perikanan laut dan budidaya. Selain faktor sumber daya alam, faktor lain yang diperlukan dalam penguasaan perikanan adalah pemanfaatan SDM (fisik, mental, keterampilan dan keahlian), modal dan kemampuan teknologi yang baik. Walaupun sebenarnya lautnya lebih luas dari pada daratan yang ada, tetapi hasil dari laut sangat minim sekali. Ini karena laut kita adalah samudera Indonesia yang masih sangat ganas. Nelayan yang mengolah hasil laut juga masih tradisional.



Biaya Operasioanal

Biaya operasional terdiri dari biaya ransum, minyak oli, minyak solar, es balok, air bersih, biaya perawatan kapal, mesin jaring, dan biaya administrasi. Biaya operasional rata rata yang dikeluarkan perbulannya adalah Rp 4.619.423,08 dengan kisaran antara Rp 27.37500 ± Rp 6.600.000,00. Biaya ransum pertripnya adalah Rp 569.230,77 dengan kisaran antara Rp 300.000,00 ± Rp 1000.000. Dalam satu bulan rata rata nelayan melaut 3 kali atau 3 trip. Rata rata biaya yang dikeluarkan untuk ransum perbulannya adalah Rp 1. 707.692,31 dengan kisaran antara Rp 900.000 ± 3000.000. Rata rata biaya minyak oli yang digunakan pertripnya adalah Rp 75000,00 dengan kisaran Rp 40.000,00 ± Rp 100.000,00. Biaya penggunaan minyak oli perbulannya adalah Rp 225.000,00 dengan kisaran antara Rp 120.000,00 ± Rp 300.00,00. Sedangkan harga perliternya adalah Rp 10.000,00. Bahan bakar lain yang di gunakan oleh perahu motor adalah minyak solar dengan rata rata penggunaan perbulannya adalah 946,15 liter dengan kisaran antara 600 ± 1200 liter. Harga perliternya adalah Rp 2.000,00. Semakin lama dan semakin jauh nelayanmengoperasikan perahunya maka bahan bakar yang di gunakan akan semakin banyak. Rata rata biaya yang dikeluarkan untuk bahan bahan bakar solar adalah Rp1.892.307,69 dengan kisaran antara Rp 1.200.000,00 ± Rp 2.400.000,00. Agar hasil tangkapan yang didapat tidak lekas membusuk, nelayan membawa es balok. Jumlah es balok yang dibawa pertripnya adalah 26 balok dengan harga rata rata perbaloknya adalah Rp 8.500,00. Rata rata total biaya yang dikeluarkan untuk es balok perbulan adalah Rp 657.115,38 dengan kisaran antara Rp 382.500,00 ± Rp 892. 500,00. Es balok ini langsung diantar oleh pedagangnya ketempat dermaga . Air bersih yang digunakan diperoleh dari PAM. Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk keperluan air bersih pertripnya adalah Rp 20.000,00 dengan kisaran antara Rp15.000,00 ± Rp 25.000,00. Rata rata biaya air bersih perbulannya adalah Rp 60.000,00 dengan kisaran antara Rp 45.000,00 ± Rp 75.000,00.

Perawatan perahu 

dilakukan pada saat docking. Dalam satu bulan rata rata satu kali docking. Biaya yang dikeluarkan untuk perawatan perahu dalam sebulan adalah Rp 176.564,00 dengan kisaran antara Rp 83.400,00 ± Rp 249.000,00. Sedangkan biaya perawatan mesin perbulannya adalah Rp 196.754,00 dengan kisaran antara Rp 83.400,00 ± Rp 333000,00. Perawatan jaring dilakukan setiap trip karena dalam pengoperasian jaring ada beberapa bagian jaring yang rusak. Biasanya nelayan membawa beberapa gulung benang nilon dimana harga rata rata pergulungnya adalah Rp 2.300,00. Biaya yang dikeluarkan untuk perawatan jaring adalah Rp 2.500,00 pertrip dan Rp 7.500,00 perbulan. Untuk biaya adminstrasi diberikan setelah operasi penangkapan ikan yang diberikan kepada petugas pelabuhan. Biaya administrasi perbulannya adalah Rp 60.000,00. .Sedangkan biaya pertripnya adalah sebesar Rp 20.000,00/kapal. Semua biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi ditanggung oleh nelayan pemilik, sedangkan tenaga kerja (ABK) hanya mengoperasikan perahu saja . Modal yang didapat beerasal dari modal sendiri atau terkadang nelayan pemilik meminjam dengan nelayan lain. Peminjaman ini tidak dikenakan bunga dan waktu pengembalian tidak ditentukan.



Penerimaan dan Pendapatan Usaha Nelayan 

Penerimaan di ukur dalam satuan rupiah berupa nilai dari seluruh ikan yang didapat oleh nelayan. Dalam satu bulan nelayan pergi beroperasi 3 trip/kali. Adapun rata rata penerimaan nelayan pada trip pertama adalah sebesar Rp.2.826.923,00 dengan kisaran antara Rp 2000.000,00 ± Rp 4000.000,00, trip kedua sebesar Rp 3.552.615,00 dengan kisaran antara Rp 2.300.000,00 ± Rp4.772.500,00 sedangkan trip ketiga adalah sebesar Rp 2.908.923,00 dengan kisaran antara Rp 1530.000,00 ± Rp 3.612.500. Apabila jumlah penerimaan dan biaya total yang dikeluakan relatif tetap meskipun ada sedikit perbedaan maka rata rata penerimaan perbulannya adalah Rp 9.288.462,00 dengan kisaran anatara Rp 6000.000,00 ± Rp 12000.000,00. Pendapatan usaha penangakapan ikan di Desa Selubuk Kecamatan Air Napal dihitung dengan mengurangi total penerimaan dengan total pengeluaran. Adapun total pengeluaran perbulannya adalah Rp 7.702.460,00. Sehingga pendapatan nelayan dalam setiap bulannya adalah 1.586.001,00 Nelayan yang berpendapatan diatas rata rata sebanyak 19 orang atau sebanyak 73,07 % dari keseluruhan dan yang berpendapatan dibawah rata rata sebanyak 7 orang atau 26,93 % dari keseluruhannya (dapat dilihat pada lampiran 7). Keadaan ini mencerminkan bahwa pendapatan perorangan yang diterima oleh nelayan relatif tinggi. Hal ini berarti penggunaan sarana produksi yang dimilik oleh nelayan sudah optimal.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil adalah pendapatan rata rata nelayan pemilik perahu motor perbulan adalah Rp 1.586.001,00.Desa Selubuk kecamatan Air Napal mempunyai potensi yang baik untuk pengembangan usaha penangkapan ikan khususnya dengan perahu motor. Pengembangan usaha dapat dilakukan dengan jalan penambahan modal khususnya pada peralatan tetap karena peralatan yang dimiliki oleh nelayan masih relatif sederhana sehingga nelayan belum memiliki kepastian pendapatan yang akan diterima.

DAFTAR PUSTAKA

Azzaino, Z. 1982. Pengantar Tata Niaga Pertanian. Bahan kuliah Jurusan Ilmu Ilmu Sosial 

Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor : Bogor 

Dinas Perikanan Dati 11 Kotamadia Bengkulu. 1996. Pengembangan Perikanan di Kotamadia Bengkulu. 

Hani Diana. 1991. Distribusi Pendapatan Pekerja Sektor Industri Kecil di Kotamadia Bengkulu.

Skripsi, Universitas Bengkulu (tidak dipublikasikan)

Hanafiah dan Saefudin. 1983. Tataniaga Hasil Perikanan. Rajawali pers : Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.