Jumat, November 19

MODEL KEMITRAAN DALAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO

 MODEL KEMITRAAN DALAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO

Oleh : Bayoe Aditya Dwi Prasetya (@S09-BAYOE)

PENDAHULUAN   

Gerakan  kewirausahaan  telah  mulai mengambil  perhatian  global  dan  nasional dalam  upaya  mengatasi  kemiskinan  dan pengangguran,  sekaligus membangun kesejahteraan. Kewirausahaan    sendiri memang  menjadi  salah  satu  faktor  kunci untuk  mempercepat  pembangunan  ekonomi dan daya saing. Aktor kunci dalam kewirausahaan merupakan para wirausahawan  yang  memiliki  kepribadian dan  perilaku  yang  diyakini  menjadi  faktor penyebab pencapaian yang berorientasi pada pertumbuhan (Bridge,  O’Neill,  &  Cromie, 1998). Ciri dari wirausahawan adalah orang yang  memiliki  inisiatif,  keterampilan  untuk berinovasi dan mencari prestasi. Pemberdayaan  usaha  mikro,  kecil  dan menengah  (UMKM)  sangat  penting  untuk mendorong pengembangan jiwa kewirausahaan. Maju mundur dan berkembangnya UMKM   adalah   mutlak karena  keinginan  dan  motivasi  dari  pelaku usaha  itu  sendiri  dengan  mengubah  pola berfikir usaha   dari   sekedarmenutupi kebutuhan   berubah   menjadi   seorang wirausaha.  Saat  ini  upaya  pengembangan UMKM  diterjemahkan  dalam  kebijakan pemerintah melalui 3 (tiga) program prioritas Kementerian  Koperasi  dan  UMKM  yaitu program pengembangan koperasi dan UKM, akses pembiayaan bagi koperasi dan UMKM, dan pemberdayaan UMKM melalui gerakan kewirausahaan nasional.

PEMBAHASAN

A. Membangun  Relasi dan Kepercayaan

Suatu  fase  yang  sangat penting dimana  kelompok  mahasiswa  membangun hubungan  dengan  mitra  usaha  atau  dalam proses ini dikategorikan masuk dalam fase engagement. Engagementadalah  masa dimana       kelompok       mahasiswa menyesuaikan  diri  dengan  masalah  dan mulai  untuk  membangun  komunikasi  dan hubungan dengan individu (klien) yang juga berupaya  mencari  masalah (Kirst-Ashman & Hull, 2009). Pada masa ini juga kelompok mahasiswa membangun rasa saling percaya dengan  mitra  usaha.  Beberapa  kelompok mahasiswa yang gagal membangun fase ini dengan  baik,  kemudian  berdampak  pada proses  pemberdayaan  secara  keseluruhan. Karena  pada  proses  ini  pula  kelompok mahasiswa  memiliki  kesempatan  untuk membangun  konsensus  awal  mengenai program  pengembangan  usaha  seperti  apa yang   akan   mereka   lakukan   selama pendampingan. ase engagement dilakukan selama proses pemberdayaan     termasuk     ketika melakukan   asesmen   kebutuhan   dan mengembangkan rencana aksi. Asesmen yang  dilakukan  meliputi  identifikasi masalah,  kebutuhan  dan  potensi  yang dimiliki mitra ataupun lingkungansecara bersama-sama oleh kelompok mahasiswa dan  mitra  usaha.  Berdasarkan  hasil identifikasi   tersebut,   menjadi   dasar penetapan suatu tujuan dan rencana aksi yang   disepakati   antara   kelompok mahasiswa dan mitra usaha. Memutuskan tujuan dan rencana aksi bersama sangat penting  untuk  membantu  mitra  usaha memahami   apa   yang   benar-benar memotivasi  mereka  dan  menjadi  cara yang   berguna   untuk   mengetahui bagaimana  mereka  dapat  menggunakan sumber  daya  internal  mereka.

B. Pola Kemitraan

Pola kemitraan secara umum dapat diartikan sebagai bentuk kerja sama yang saling menguntungkan antara dua pihak atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. Kemitraan adalah kesepakatan antar sektor dimana individu, kelompok atau organisasi sepakat bekerja sama untuk memenuhi sebuah kewajiban atau melaksanakan kegiatan tertentu, bersama-sama menanggung resiko maupun keuntungan dan secara berkala meninjau kembali hubungan kerja sama (Lembasi, 2010).

Indonesia terdapat beberapa jenis pola kemitraan yang telah dikembangkan pada berbagai bidang usaha. Didalam kemitraan ini proses hubungan keterkaitan pembinaan usaha didalam pola kemitraan dilaksanakan dengan berbagai pola:

1.      Intiplasma, hubungan kemitraan usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar, yang didalamnya usaha menengah atau usaha besar bertindak sebagai inti dan usaha kecil selaku plasma, perusahaan ini melaksanakan pembinaan mulai dari penyediaaan sarana, produksi, bimbingan teknis, sampai dengan pemasaran hasil produksi.

2.      Pola sub kontrak, hubungan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang didalamnya usaha kecil memproduksi komponen yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar sebagai bagian dari produksinya.

3.      Pola waralaba, hubungan kemitraan yang didalamnya pemberi waralaba memberikan hak pengguna lisensi, mark dagang, dan saluran distribusi perusahaan kepada penerima waralaba dengan disertai bantuan bimbingan manajemen.

4.      Pola pembinaan, pola dikembangkan untuk memberikan kesempatan kepada pengusaha kecil yang memiliki potensi tapi lemah dalam modal dan pemasaran, hal ini terutama bagi hasil produksi yang berpeluang untuk dipasarkan secara luas ( Pasal 26 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembinaan kemitraan usaha terhadap produktivitas perusahaan industri kecil.

C. Model Pemberdayaan

Perusahaan  yang  menjadi  mitra  tergolong kedalam usaha mikro hingga masuk dalam kategori self employed menurut klasifikasi EU   (European   Union)   dikarenakan beberapa   hanya   mengandalkan   tenaga sendiri  dan  belum  sampai  pada  tahap manajerial  (Bridge et al., 1998). Sedangkan beberapamitra  sudah  berada  pada  level manajerial  ditandai  dengan  adanya  proses produksi yang didelegasikan kepada orang lain   baik   sebagai   karyawan   ataupun outsource produksi pemilihan   mitra   usaha   dilakukan melalui proses seleksi yang dilakukan oleh tim pengelola sesuai dengan standar kondisi motivasi dan profil bisnis mitra yang sudah ditetapkan. Mitra usaha  yang  sudah  terpilih  kemudian dilelang untuk bisa dipilih oleh kelompok mahasiswa  untuk  mencocokkan  modal wirausaha  yang  dimiliki  masing-masing pihak. Terdapat penelitian yang menarik mengenai  pola  rekrutan  dalam  sebuah program  training  menunjukkan  bahwa proses  seleksi  memiliki  pengaruh  pada sejauh    mana    program    tersebut menghasilkan    peningkatan    kinerja pertumbuhan dibandingkan dengan non-intervensi. Kemitraan  yang  dimaksud  adalah manfaat dua arah yang dihasilkan selama proses  pendampingan  usaha.  Kelompok mahasiswa memfasilitasi pengembangan usaha  melalui  pendampingan  intensif disertai   dengan   banyaknya   proses penyaluran pengetahuan dan peningkatan keterampilan  mitra  usaha.  Sedangkan mitra   usaha   memberikan   kesempatan kepada   kelompok   mahasiswa   untuk mengeksplorasi  segala  tantangan  terkait keterbatasan ataupun potensi dalam upaya pengembangan usaha di pedesaan.



D. Motivasi Pencapaian

Adanya motivasi yang mendorong mitra usaha untuk bergerak, akan membantu kelompok mahasiswa dalam proses pendampingan atau penyaluran pengetahuan dan keterampilan. Motivasi sebagai ‘bahan bakar’ mitra usaha  untuk  bergerak  dan  fokus  dalam mengembangkan usaha. Adanya motivasi yang  baik  dari  mitra  usaha,  akan memudahkan   kelompok   mahasiswa untuk   memfasilitasi mereka dalam memahami kondisi usaha, mengembangkan ide dan mengimplementasikannya. Motivasi menjadi aspek yang sangat mendasar bagi mitra usaha untuk bisa terlibat aktif dalam proses  pemberdayaan.  Beberapa  mitra usaha yang terkendala dengan motivasi, akan  selalu  menjadi  prioritas  utama penyelesaian  masalah  bagi  kelompok mahasiswa   sehingga   mengorbankan aspek-aspek pemberdayaan kewirausahaan yang lain faktor-faktor internal terkait model motivasi pencapaian seperti nilai-nilai  dan  motif  yang  dimiliki  dan mengarah  pada  pemanfaatan  peluang, pemanfaatan  kondisi  perdagangan  yang menguntungkan  atau  untuk  membentuk takdir mereka sendiri. Salah satu  kelompok  mahasiswa  mendorong motivasi    mitra    usaha    dengan mengidentifikasi   kebutuhan   normatif yaitu  kebutuhan  yang  walaupun  mitra usaha    belum  sadari,  namun  kelompok mahasiswa   melihat   bahwa   kondisi tersebut memerlukan perbaikan ke depan.



Kesimpulan

Model  live-in yang  diinisiasi memberikan kesempatan kepada kelompok mahasiswa      untuk memberikan pendampingan yang intensif terhadap pengembangan  usaha  milik  mitra.  Metode yang  digunakan  adalah  praktik  bersama yang melibatkan berbagai strategi pemberdayaan  seperti  membangun  relasi, pendekatan   direktif   dan   non-direktif, perspektif  kekuatan,  motivasi  pencapaian dan  experiential  learning. Temuan  unik yang muncul dalam  penelitian  ini  adalah pentingnya strategi pemberdayaan tersebut untuk mendorong partisipasi    atau keterlibatan  mitra  usaha  dalam  praktik bersama  yang  dipadukan  dalam  konten materi kewirausahaan yang bertujuan untuk bisa    mengelola    bisnisnya    secara berkelanjutan,  mandiri  dan  kompetitif. Strategi  yang  digunakan  akan  bergantung pada  konteks  masing-masing  bisnis  mitra, sehingga  kegagalan  kelompok  mahasiswa dalam memahami aspek pemberdayaan atau keunikan dari mitra usaha dapat berdampak pada  pembuatan  dan  pengimplementasian program  kerja  yang  tidak  sesuai  dengan kebutuan ataupun kapasitas mitra usaha.

 

 

 REFERENSI

Budiono, Bambang Sunaryo, 2002. “Dinamika Strategi Pelayanan Outlet dan Kinerja penjualan”, Journal Sains Pemasaran Indonesia, Vol. 1, No. 1, Mei , hlm. 41-56.

Lembasi.2010. Efektivitas Kemitraan Usaha dan Hubungannya Dengan Peningkatan Produktivitas Perusahaan Industri Kecil, Makalah, Jurusan Ilmu Ekonomi, UNILA.Lampung.

Haeruman, Herman. 2001. Kemitraan dalam Pengembangan Ekonomi lokal: Bunga Rampai. Jakarta: Yayasan Mitra Pembangunan Desa-Kota


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.