Kamis, November 4

“SEBERAPA DAMPAKNYA KEWIRAUSAHAAN PADA PEREKONOMIAN NEGARA?”

 



 

Kontribusi sektor swasta yang diberikan oleh perusahaan besar maupun UKM dalam pembangunan ekonomi suatu negara sudah tidak bisa disangsikan lagi. .Terdapat empat keunggulan yang dimiliki wirausahawan dalam mendukung perekonomian negara, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produktivitas, menciptakan teknologi, produk dan jasa baru, serta menciptakan perubahan dan kompetisi.

Dalam upaya memicu pertumbuhan ekonomi sekaligus memengaruhi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat, wirausahawan melakukan berbagai kegiatan sebagai berikut:

1. Menciptakan lapangan pekerjaan.

2. Meningkatkan kualitas hidup.

3. Meningkatkan pemerataan pendapatan.

4. Memanfaatkan dan memobilisasi sumber daya untuk meningkatkan produktivitas nasional.

5. Meningkatkan penerimaan pemerintah melalui pajak.



Menurut beberapa pakar, pembangunan kewirausahaan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka banyak lapangan kerja baru (Schumpeter, 1971), melahirkan banyak kreativitas dan inovasi baru dalam melakukan usaha maupun teknologi (Porter, 1990), meningkatkan kualitas kompetisi yang berujung pada nilai tambah bagi masyarakat (Lumpkin dan Dess, 1996), menurunkan biaya dan waktu yang timbul akibat ketidakpastian (McGrath, 1992), dan kesejahteraan yang pada dasarnya adalah sebuah created wealth (Porter, 2004).

Ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh suatu bangsa dalam menumbuh-kembangkan kewirausahaan dengan baik, antara lain:

1. Pembinaan UKM dan Bagi-bagi Modal Belas Kasihan

Secara umum dapat dikatakan pemerintah masih mengalami "kebingungan" dalam membina UKM. Bahkan ketika berbicara tentang UKM, yang tampak adalah usaha-usaha mikro yang proses terbentuknya masih jauh dari tujuannya, serta kemungkinan gagalnya masih sangat tinggi. Akibatnya pembinaan sering terperangkap dengan prinsip belas kasihan dan bagi-bagi rejeki.

2. Pribumisasi Usahawan yang Gagal

Sejak zaman pemerintahan Presiden Soekarno yang kemudian dilanjutkan dengan masa pemerintahan Presiden Soeharto, bangsa ini telah bersusah payah melahirkan usahawan-usahawan pribumi yang mampu mengimbangi kekuatan kalangan keturunan asing yang berhasil membesarkan usahanya. Program Benteng Group (1950-an) dan kemudian program pembentukan usahawan "plat merah" lewat tender-tender pemerintah pada tahun 1980-an yang dikoordinasi oleh kantor Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) adalah beberapa contohnya. Meskipun secara politis program ini tampak begitu ideal, namun dalam praktiknya upaya-upaya ini tidak membuahkan hasil.

Dari kacamata teoretis, upaya "pribumisasi" pengusaha sesungguhnya sudah lama ditunjukkan bukanlah sebuah gagasan yang brilian. Kao (1988) misalnya, menunjukkan keberhasilan orang-orang Cina dalam bisnis lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka bukanlah "pribumi" di tanah mereka berada. Sebutan Chinese Overseas menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai ikatan yang kuat dengan tanah di mana mereka dilahirkan, sehingga tidak memiliki dukungan masyarakat setempat yang kuat untuk mengisi pos-pos lapangan kerja, apalagi yang berkaitan dengan kekuasaan dan pemerintahan. Kao menyebut sifat itu sebagai the survival mentality. Hal serupa juga terjadi pada orang-orang keturunan India yang menjadi pengusaha di Afrika Timur, orang-orang Yahudi di Eropa dan Amerika Serikat, serta orang-orang keturunan Vietnam dan Korea di Amerika Serikat.

Gagasan ini dibenarkan oleh Knight (1983) yang menemukan bahwa wirausaha dibentuk oleh prinsip-prinsip refugee (pengungsi). Di tanah pengungsian itu seseorang harus mulai sesuatu dari bawah, tanpa dukungan modal uang, ataupun dukungan keluarga besar, tetapi mereka dituntut jeli melihat pasar dan tekun memeliharanya. Refugee tidak selalu pengungsi politik, melainkan terjadi melalui berbagai peristiwa kehidupan, seperti kebiasaan adat (misalnya, perantau Minang di luar Sumatera Barat), diberhentikan dari perusahaan (corporate refugee), ibu-ibu yang anaknya mulai dewasa (parental refugee), perlakuan diskriminatif yang dialami kaum perempiian (feminist refugee), atau mereka yang sekolahnya gagal (educational refugee).



3. Usaha-usaha Kecil Umumnya Gagal menjadi Usaha Besar

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terbesit di benak kita ketika melihat krisis telah menjatuhkan perusahaan-perusahaan besar nasional. Selain berpindah ke tangan asing, kita juga menyaksikan perusahaan-perusahaan menengah satu per satu mengalami kebangkrutan begitu memasuki tahap berikutnya. Kegagalan UKM menjadi besar juga banyak disebabkan oleh permasalahan mental, kepemimpinan, dan gaya hidup yang cepat puas.





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.