Desember 14, 2021

 

KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN (LEADERSHIP)

 Oleh : Fahrudin @S04-Fahrudin

 

 

A.    Latar Belakang

Setiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin dan setiap manusia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya kelak. Manusia sebagai pemimpin minimal mampu memimpin dirinya sendiri. Setiap organisasi harus ada pemimpinnya, yang secara ideal dipatuhi dan disegani bawahannya. Organisasi tanpa pemimpin akan kacau balau. Oleh karena itu, harus ada seorang pemimpin yang memerintah dan mengarahkan bawahannya untuk mencapai tujuan individu, kelompok, dan organisasi.

Kepemimpinan merupakan salah satu topik terpenting dalam mempelajari dan memperaktikkan manajemen sehingga Gibson, et al., (2009) menyebutkan fungsi manajemen yaitu POLC. 

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai kepemimpinan dan manajemen, teori kepemimpinan, tingkatan pemimpin dan kepemimpinan, ketrampilan yang harus dimiliki pemimpin, tipe-tipe kepemimpinan serta kepemimpinan yang efektif.

B.    Pengertian Pemimpin, Kepemimpinan, dan Manajemen

1.      Pemimpin

Definisi Pemimpin Menurut Para Ahli

a)   Ahmad Rusli dalam kertas kerjanya Pemimpin Dalam Kepimpinan Pendidikan(1999). Menyatakan pemimpin adalah individu manusia yang diamanahkan memimpin subordinat  (pengikutnya) kearah mencapai tujuan  yang ditetapkan.

b)   Kartini Kartono (1994 : 33). Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

c)  Henry Pratt Faiechild dalam Kartini Kartono (1994: 33). Pemimpin ialah seseorang yang dengan jalan memprakarsai (memelopori) tingkahlaku social dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui kekuasaan dan posisi. Dalam pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifny ada ekseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.

d)   John Gage Alle. Leader…a guide; a conductor; a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).

e)  Ensiklopedia Administrasi (disusun oleh Staf Dosen Balai Pembinaan Administrasi UGM). Pemimpin (Leader) adalah orang yang melakukan kegiatan atau proses mempengaruhi orang lain dalam situasi tertentu, melalui proses komunikasi, yang diarahkan guna mencapai tujuan.

2.      Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi kegiatan pengikut melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Para ahli lain berpendapat bahwa kepemimpinan adalah sebagai seni untuk mengatur individu dan masyarakat, serta memotivasi semangat mereka untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan. Pendapat lain menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai seni untuk memengaruhi dan mengarahkan orang lain dengan metode tertentu agar mereka berusaha untuk taat, loyal, dan membantu dalam satu cara untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan.

Seorang pemimpin memiliki karekter dan sifat tertentu, pemimpin menduduki jabatan yang tinggi sebuah struktur organisasi, perusahaan. Pemimpin di bekali dengan kekuasaan untuk mempengaruhi, mengatur atau mengarahkan anggota organisasi untuk tunduk terhadap kepemimpinan mereka. Kepemimpinan muncul dari aspirasi anggota organisasi. Adapun seorang pemimpin dengan kekuasan yang di milikinya, ia berusaha memengaruhi prilaku orang lain dengan sebuah metode yang memungkinkan mereka loyal dan taat kepadanya, selain itu para bawahan juga berkenaan untuk mematuhi segala perintahnya dengan ridha dan segenap perasaan jiwa. Sebagai seorang pemimpin  ia menggunakan sepenuh hati dan bisa di terima oleh bawahnnya jadi, seorang pemimpin sumber kekuasaannya adalah aspirasi bawahan.

Kepemimpinan merupakan sifat dari pemimpin dalam memikul tanggung jawabnya secara moral dan legal formal atas seluruh pelaksanaan wewenangnya yang telah didelegasikan kepada orang-orang yang dipimpinnya. .

Dari beberapa definisi  di atas,  ada beberapa unsur pokok yang mendasari atau sudut pandang dan sifat-sifat dasar yang ada dalam merumuskan definisi kepemimpinan, yaitu:

a.    Unsur-unsur yang mendasari

1.  Kemampuan mempengaruhi orang lain (kelompok/bawahan).

2. Kemampuan mengarahkan atau  memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok.

3. Kemampuan bekerjasama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

b.   Sifat dasar kepemimpinan

1. Kecakapan memahami individual, artinya mengetahui bahwa setiap manusia mempunyai daya motivasi yang berbeda pada berbagai saat dan keadaan yang berlainan.

2.  Kemampuan untuk menggugah semangat dan memberi inspirasi.

3.  Kemampuan untuk melakukan tindakan dalam suatu cara yang dapat mengembangkan suasana (iklim) yang mampu memenuhi dan sekaligus menimbulkan dan mengendalikan motivasi-motivasi (Tatang M. Amirin, 1983:15). 

Dari definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan yang sama, yaitu masalah kepemimpinan adalah masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. 

3.      Manajemen

Manajemen berasal dari Bahasa Latin, yaitu dari asal kata manus yang berarti tangan dan agere (melakukan). Kata-kata itu digabung menjadi managere yang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke Bahasa Inggris to manage (kata kerja), management (kata benda), dan manager untuk orang yang melakukannya. Managenent diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi menejemen (pengelolaan).

Manajemen dalam arti luas adalah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan (P3) sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen dalam arti sempit adalah manajemen sekolah/madrasah yang meliputi: perencanaan program sekolah/madrasah, pelaksanaan program sekolah/madrasah, kepemimpinan kepala sekolah/madrasah, pengawas/evaluasi, dan sistem informasi sekolah/madrasah. Jika istilah administrasi banyak digunakan oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Australia, maka manajemne banyak digunakan oleh Inggris, Afrika, dan negara-negara Eropa. 

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

Perbedaan kepemimpinan dengan manajer:

Manager

Leadership

1.    Building and maintaining an organizational structure (membangun dan mengembangkan struktur organisasi)

Building and maintaining an organizational culture (membangun dan mengembangkan kultur organisasi)

2.    Path- following (merujuk pada alur kepengikutan)

Path- finding (merujuk pada alur penemuan)

3.    Doing thing right (mengerjakan sesuatu yang benar)

Doing the right thing (mengerjakan sesuatu dengan benar)

4.    The manager maintains, relies and control (mengedepankan pemeliharaan dan pengendalian)

The leader develops, inspires trust (mengembangkan dan menginspirasi kepercayaan)

5.    A preoccupation with the here-and-now of goal attainment (beranjak dengan “disini dan sekarang” dari pencapaian tujuan)

Focused on the creation of a vision about a desired future state (berfokus pada upaya mengkreasi tentang masa depan yang diinginkan)

6.    Managers maintain a low level of emotional involvement (memelihara level rendah keterlibatan emosional)

Leaders have empathy with other people and give attention to what event and action means (mempunyai empati terhadap orang lain dan memberi perhatian pada setiap peristiwa dan makna tindakan)

7.    Designing and carry out plant, getting things done, working effectively with people (mendesain dan membawa rencana, mendorong tindakan, dan bekerja efektif dengan orang)

Establishing a mission, giving a sense of direction (memantapkan misi dan membangkitkan rasa untuk mencapai arah tertentu)

8.    Being taught by the organization (mengembangkan pikiran dari organisasi)

Learning from the organization (belajar dari organisasi)

Sumber: Stoner, Freeman, Gilbert dalam Danim (2008: 4-5)

C.   Teori Kepemimpinan

1) Teori dengan Pengaruh Kekuasaan

Teori yang dikemukakan oleh French dan Raven (1959) ini menyatakan bahwa kepemimpinan bersumber pada kekuasaan dalam satu kelompok atau organisasi. Dengan perkataan lai, orang atauorang-orang yang memiliki akses terhadap sumber kekuasaan dalam suatu kelompok atau organisasi tertentu akan mengendalikan atau memimpin kelompok atau organisasi itu.(Salito Wirawan, 2005:40)

 Adapun sumber kekuasaan itu sendiri ada tiga macam, yaitu (1) kedudukan, (2) kepribadian, dan (3) politik.

1.1) Kekuasaan yang bersumber pada kedudukan

Kekuasaan yang bersumber pada kedudukan terbagi lagi ke dalam beberapa jenis;

a) Kekuasaan Formal atau legal (French & Raven, 1959)

Termasuk dalam jenis ini adalah komandan tentara, kepala dinas, presiden atau perdana mentri dan sebagainya yang mendapat kekuasaan karena ditunjuk dan/atau diperkuat dengan peraturan atau perundangan yang resmi.

b) Kendali atas Sumber dan Ganjaran (French & raven, 1959)

Majikan yang menggaji karyawan, majikan yang mengupah buruh, kepala suku atau kepala kantor yang dapat member ganjaran kepada bawahannya, dan sebagainya, memimpin berdasarkan sumber kekuasaan seperti ini.

c) Kendali atas Hukum (French & Raven, 1959)

Ganjaran biasanya terkait dengan hukuman sehingga kendali atas ganjaran biasa juga kendali atas hukuman. Walaupun demikian, ada kepemimpinan yang yang sumbernya hanya kendali atas hukuman saja, ini merupakan kepemimpinan yang didasarkan pada rasa takut. Contoh para preman yang memungut pajak kepada pedagang, pedagang akan tunduk kepada preman karena takut akan mendapat perlakuan kasar.

d) Kendali atas Informasi (French & Raven, 1959)

Informasi adalah ganjaran positif bagi orang yang memerlukannya, sehingga siapa pun yang menguasai informasi dapat menjadi pemimpin. Misal adalah orang yang paling tahu arah jalan maka otomatis dia akan menjadi pimpinan rombongan.

e) Kendali Ekologi (lingkungan)

Sumber kekuasaan ini dinamakan juga perekayasa situasi (situational sengineering). Contoh adalah kendali atas penempatan jabatan (Oldham, 1975). Seorang atasan, manager, atau kepala bagian personality mempunyai kekuasaan atas bawahannya, karena ia boleh menentukan posisi anggotanya.

1.2) Kekuasaan yang Bersumber pada Kepribadian

Berbeda dari kepemimpinan kekuasaan, kekuasaan yang bersumber pada kepribadian berawal dari sifat-sifat pribadi, yaitu sebagai berikut;

a) Keahlian atau Ketrampilan (French & Raven, 1959)

Dalam agama Islam, orang yang menjadi imam adalah orang yang paling fasih membaca ayat Al-Qur’an. Demikian pula dalam pesawat atau kapal, orang yang paling ahli dalam mengemudilah yang akan menjadi pemimpin.

b) Persahabatan atau Kesetiaan (French & Raven, 1959)

Sifat dapat bergaul, setia kawan atau setia kepada kelompok dapat merupakan sumber kekuasaan, sehingga seseorang dianggap sebagai pemimpin.

c) Karisma (House, 1977)

Ciri kepribadian yang menyebabkan timulnya kewibawaan pribadi dari pemimpin juga merupakan salah satu sumber kekuasaan dalam proses kepemimpinan. Mengenai hal ini dibicarakan tersendiri dalam teori bakat.

1.3) Kekuasaan yang Bersumber pada Politik

Kekuasaan yang bersumber pada politik terdiri atas beberapa jenis (Pfeffer, 1981)

a)      Kendali atas Proses Pembuatan Keputusan

Dalam organisasi, ketua menetukan apakah suatu keputusan akan dibuat dan dilaksanakan atau tidak. Dan sebagainya.

b) Koalisi (Stevenson, Perace & Porter, 1985)

Kepemimpinan atas dasar sumber kekuasaan politik ditentukan juga atas hak atau kewenangan untuk membuat kerja sama denga kelompok lain.

c) Partisipasi (Pfeffer, 1981)

Pemimpin mengatur partisipasi anggotanya, siapa yang boleh berpartisipasi, dalam bentuk apa tiap anggota berpartisipasi, dan sebagainya.

d) Institusionalisasi

Pemimpin agama menikahkan pasangan suami istri, menentukan terbentuknya keluarga baru. Notaris atau hakim menetukan berdirinya suatu yayasan atau perusahaan baru.

2) Teori Bakat

Teori bakat dinamakan juga teori sifat (trait), teori karismatik atau teori transformasi. Inti dari teori ini adalah bahwa kepemimpinan terjadi karena sifat-sifat atau bakat yang khas yang terdapat dalam diri pemimpin yang dapat diwujudkan dalam prilaku kepemimpinan. Sifat atau bakat itu dinamakan karisma atau wibawa. Sebagai contoh adalah Bung Karno, Adolf Hitler, Fidel Castro, Mahatma Gandhi, Ibu Theresa dan Martin Luther King. Tokoh-tokoh ini memiliki sifat yang tidak dimiliki pemimpin-pemimpin lain.

Di pihak lain, pemimpin-pemimpin karismatik tidak dapat disamakan dengan tokoh-tokoh yang kewibawaan, kekuasaan atau kepemimpinannya bersumber atau ditopang oleh legenda-legenda, mitos, dan dongeng-dongeng. Misal keturunan raja, bangsawan, orang sakti, keturunan yang dianggap titisan dewa dan sebagainya.

Karisma yang ditunjang oleh oleh mitos dan legenda ini bukanlah dating dari bakat atau sifat pribadi yang bersangkutan, sehingga tidak dapat digolongkan dalam teori bakat yang sedang kita bicarakan ini.

3) Teori Perilaku

Teori prilaku memusatkan perhatiannya pada perilaku pemimpin dalamkaitannya dengan struktur dan organisasi kelompok. Oleh karena itu, teori prilaku ini lebih sesuai untuk kepemimpinan dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, karena peran pemimpin digariskan dengan jelas. Teori perilaku menurut beberapa ahli, antara lain;

Mintzberg (1973) mengemukakan sepuluh peran pemimpin (manager) sebagai berikut; Peran dalam hubungan antarpribadi adalah sebagai pemimpin, penghubung dan panutan (figurehead). Peran yang berkaitan dengan pemrosesan informasi adalah sebagai pemantau, penyebaran informasi dan juru bicara. Peran yang berkaitan dengan pembuatan keputusan adalah sebagai wiraswasta, penyelesaian gangguan, pengalokasian sumber, dan negosiator.

Bagaimana seorang pemimpin memenuhi kesepuluh peran itu, hal itu akan ditentukan bagaimana kepemimpinannya. Mereka akan memiliki kecocokan dengan salah satu peran, dan biasanya mereka akan unggul dalam hal itu.

Page (Page, 1985 & Tornow, 1987) juga memusatkan teori kepemimpinannya pada peran yang dibawakan pemimipin dalam posisi managerial. Menurutnya ada Sembilan kewajiban dan tanggung jawab manager dalam organisasi. Yaitu penyelia (supervising), perencan dan pengorganisasi, pembuat keputusan, pemantau indicator, pengendalian, perwakilan, pengkooordinasi, konsultasi, dan administrasi.

4) Teori Situasional

Teori situasional berintikan hubungan antara perilaku pemimpin dan situasi dilingkungan pemimpin itu.dalam hal ini ada dua macam hubungan, yaitu perilaku pemimpin yang merupakan hasil atau akibat dari situasi dan perilaku pemimpin merupakan penentu atau penyebab situasi. Dengan perkataan lain, pada hubungan pertama, pemimpin merupakan variabel ikutan (dependent variable), sedangkan yang kedua masuk dalam variabel bebas (independent variable). 

D.    Tingkatan Pemimpin dan Kepemimpinan

a.      Pemimpin

1.      Top Management yang juga sering disebut dengan istilah” administrative management”

2.      Middle Management

3.      Lower Management, Supervisory Management, Gang leader, Mandur, atau Operational Management. 

b.      Kepemimpinan

1.      Pemimpin yang dicintai

2.      Pemimpin yang dipercaya

3.      Pembimbing

4.      Pemimpin yang berkepribadian

5.      Pemimpin Abadi. 

E.    Keterampilan/Kemampuan yang harus dimiliki pemimpin

1.      Ketrampilan presentasi

2.      Ketrampilan membangun tim yang kuat

3.      Ketrampilan negosiasi

4.      Ketrampilan bersikap baik

5.      Ketrampilan memotivasi

6.      Ketrampilan mengorganisasi

F.     Tipe-tipe Kepemimpinan yang Efektif

1.      Tipe Kepemimpinan

Tipe kepemimpinan dapat disebut dengan model (gaya) kepemimpinan seseorang. Tipe kepemimpinan yang secara luas dikenal adalah sebagai berikut.

1.      Tipe Otoriter

Disebut juga tipe kepemimpinan authoritarian. Dalam kepemimpinan ini, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota kelompoknya. Baginya memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Batasan kekuasaan dari pemimpin otoriter hanya dibatasi oleh undang-undang. Bawahan hanya bersifat sebagai pembantu, kewajiban bawahan hanyalah mengikuti dan menjalankan perintah dan tidak boleh membantah atau mengajukan saran. Mereka harus patuh dan setia kepada pemimpin secara mutlak.

Kelebihan:

a. Keputusan dapat diambil secara cepat

b. Mudah dilakukan pengawasan

Kelemahan:

a. Pemimpin yang otoriter tidak menghendaki rapat atau musyawarah.

b. Setiap perbedaan diantara anggota kelompoknya diartikan sebagai kelicikan, pembangkangan, atau pelanggaran disiplin terhadap perintah atau instruksi yang telah diberikan.

c. Inisiatif dan daya pikir anggota sangat dibatasi, sehingga tidak diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.

d. Pengawasan bagi pemimpin yang otoriter hanyalah berarti mengontrol, apakah segala perintah yang telah diberikan ditaati atau dijalankan dengan baik oleh anggotanya.

e. Mereka melaksanakan inspeksi, mencari kesalahan dan meneliti orang-orang yang dianggap tidak taat kepada pemimpin, kemudian orang-orang tersebut diancam dengan hukuman, dipecat, dsb. Sebaliknya, orang-orang yang berlaku taat dan menyenangkan pribadinya, dijadikan anak emas dan bahkan diberi penghargaan.

2. Tipe Laissez-faire (Bahasa Perancis  : “biarkan mereka sendiri”)

Dalam tipe kepemimpinan ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan kepemimpinannya, dia membiarkan bawahannya berbuat sekehendaknya.Pemimpin akan menggunakan sedikit kekuasaannya untuk melakukan tugas mereka.Dengan demikian sebagian besar keputusan diambil oleh anak buahnya.Pemimpin semacam ini sangat tergantung pada bawahannya dalam membuat tujuan itu.Mereka menganggap peran mereka sebagai ‘pembantu’ usaha anak buahnya dengan cara memberikan informasi dan menciptakan lingkungan yang baik.

Kelebihan:

a. Keputusan berdasarkan keputusan anggota

b. Tidak ada dominasi dari pemimpin

Kekurangan:

a. Pemimpin sama sekali tidak memberikan control dan koreksi terhadap pekerjaan bawahannya.

b. Pembagian tugas dan kerja sama diserahkan sepenuhnya kepada bawahannya tanpa petunjuk atau saran-saran dari pemimpin. Dengan demikian mudah terjadi kekacauan dan bentrokan.

c. Tingkat keberhasilan anggota dan kelompok semata-mata disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok, dan bukan karena pengaruh dari pemimpin.

3. Tipe Demokratis

Pemimpin ikut berbaur di tengah anggota kelompoknya. Hubungan pemimpin dengan anggota bukan sebagai majikan dengan bawahan, tetapi lebih seperti kakak dengan saudara-saudaranya. Dalam tindakan dan usaha-usahanya ia selalu berpangkal kepada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya, dan mempertimbangkan kesanggupan dan kemampuan kelompoknya.

Kelebihan:

a. Dalam melaksanalan tugasnya, ia mau menerima dan bahkan mengharapkan pendapat dan saran dari kelompoknya.

b. Ia selalu berusaha membangun semangat anggota kelompok dalam menjalankan dan mengembangkan daya kerjanya dengan cara memupuk rasa kekeluargaan dan persatuan. Di samping itu, ia juga memberi kesempatan kepada anggota kelompoknya agar mempunyai kecakapan memimpin dengan jalan mendelegasikan sebagian kekuasaan dan tanggung jawabnya.

Kekurangan:

a. Proses pengambilan keputusan akan memakan waktu yang lebih banyak.

b. Sulitnya pencapaian kesepakatan.

4. Tipe Pseudo-demokratis

Tipe ini disebut juga semi demokratis atau manipulasi diplomatic. Pemimpin yang bertipe pseudo-demokratis hanya tampaknya saja bersikap demokratis padahal sebenarnya dia bersikap otokratis. Misalnya jika ia mempunyai ide-ide, pikiran, atau konsep yang ingin diterapkan di lembaga Pendidikannya, maka hal tersebut akan dibicarakan dan dimusyawarahkan dengan bawahannya, tetapi situasi diatur dan diciptakan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya bawahan didesak agar menerima ide atau pikiran tersebut sebagai keputusan bersama. Pemimpin ini menganut demokrasi semu dan lebih mengarah kepada kegiatan pemimpin yang otoriter dalam bentuk yang halus, samar-samar, dan yang mungkin dilaksanakan tanpa disadari bahwa tindakan itu bukan tindakan pimpinan yang demokratis.

5.     Tipe Kharismatik

Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu itu dikagumi. Pengikutnya tidak mempersoalkan nilai yang dianut, sikap, dan perilaku serta gaya dari si pemimpin.

2. Kepemimpinan yang Efektif

Bureaucrat

Developer

Bene Volent

Executive

Patuh pada peraturan

Mencipta

Mampu memotivasi orang lain

Berorientasi ke masa depan

Loyal

Menggunakan orang lain

Belajar dari pengalaman

Membangkitkan partisipasi bawahan

Memelihara lingkungan dengan peraturan

Percaya pada orang lain

Efektif untuk memperoleh hasil

Berpandangan jangka panjang

Mengembangkan bakat orang lain

Paham aturan dan metode kerja

Memotivasi dengan baik

Bekerja efektif

Empat gaya kepemimpinan efektif (Anonim, 2009)

  1. Kesimpulan

Kata pemimpin, kepemimpinan serta manajemen memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.

Keterampilan/Kemampuan yang harus dimiliki pemimpin:

a)      Ketrampilan presentasi

b)      Ketrampilan membangun tim yang kuat

c)      Ketrampilan negosiasi

d)     Ketrampilan bersikap baik

e)      Ketrampilan memotivasi

f)       Ketrampilan mengorganisasi

  1. Saran

Demikianmakalah yang kami susun.Kritikdan saran yang membangun kami harapkangunakaryatulis yang lebihbaiklagi, terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar