Maret 17, 2022

Sejarah dan Perkembangan Wirausaha dalam Perkembangan Ekonomi untuk Meningkatkan Pendapatan dan Kesejahteraan Masyarakat

Sejarah dan Perkemangan Wirausaha dalam Perkembangan Ekonomi untuk Meningkatkan Pendapatan dan Kesejahteraan Masyarakat

Oleh: Rosiana Ayu Kartika Dewi (@U13-ROSIANA)


PENDAHULUAN

Pertumbuhan penduduk yang terus bertambah setiap tahunnya akan menambah jumlah tenaga kerja sehingga jumlah lapangan pekerjaan yang harus disediakan harus terus ditingkatkan. Masalah utama dalam dunia ketenagakerjaan yang dihadapi adalah tingginya tingkat pengangguran karena pertambahan jumlah tenaga kerja yang lebih besar dibandingkan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Data Badan Pusat Statistik Sumatera Utara tertanggal 02 Januari 2008 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Sumatera Utara menempati urutan keempat di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada bulan Agustus 2007 di Sumatera Utara terdapat 571.334 orang penganggur.

Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi juga ditentukan oleh dinamika perekonomian daerah, sedangkan perekonomian daerah pada umumnya di hasilkan dari kegiatan ekonomi berskala kecil dan menengah. Memang keberadaan pengusaha kecil dan menengah merupakan proses awal perkembangan industrialisasi di daerah, tapi kenyataannya di lapangan, masih banyak kendala yang dihadapi oleh usaha kecil dan menengah. Menurut Prawiranegara dalam Suryanita (2006,p.5) kendala intern yang dihadapi oleh pengusaha kecil yaitu kualitas SDM yang masih rendah, lemahnya akses dan pengembangan pasar, lemahnya struktur pemodalan, terbatasnya penguasaan teknologi, lemahnya organisasi dan manajemen, serta terbatasnya jaringan usaha dan kerjasama dengan pelaku-pelaku ekonomi lainnya. Untuk menghadapi kendala tersebut, seorang pengusaha harus memiliki pondasi yang kuat sebelum mendirikan dan menjalankan usahanya. Seorang pengusaha harus memiliki orientasi kewirausahaan untuk menghadapi persaingan dan tekanan pasar yang terus meningkat.


PEMBAHASAN

Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidak pastian. Kewirausahaan berasal dari kata “wira” dan “usaha” serta diberi imbuhan “ke- dan –an”. Wira dapat diartikan sebagai ksatria, pejuang, pahlawan, atau gagah berani. Sedangkan usaha adalah bekerja atau melakukan sesuatu. 

Kewirausahaan adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang pengembangan dan pembangunan semangat kreativitas serta berani menanggung resiko terhadap pekerjaan yang dilakukan demi mewujudkan hasil karya. Kewirausahaan merupakan suatu usaha untuk menciptakan dan mengelola sesuatu yang baru secara inovatif dan kreatif untuk menentukan peluang.

Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Di luar negeri, istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad 16, sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20.

 

Sejarah kewirausahaan dapat dibagi dalam beberapa periode:

1.      Periode awal

Sejarah kewirausahaan dimulai dari periode awal yang dimotori oleh  pengusaha sebagai go-between adalah Marco polo, yang mencoba untuk mengembangkan rute perdagangan hingga timur jauh. Dalam masanya, terdapat dua pihak yakni pihak pasif dan pihak aktif. Pihak pasif bertindak sebagai pemilik modal dan mereka mengambil keuntungan yang sangat banyak terhadap pihak aktif.

Sedangkan pihak aktif adalah pihak yang menggunakan modal tersebut untuk berdagang antara lain dengan mengelilingi lautan. Mereka menghadapi banyak resiko baik fisik maupun sosial akan tetapi keuntungan yang diperoleh sebesar 25%. Yang selanjutnya akan dibedakan antara pemilik modal dengan wirausaha atau yang menjalankan usaha tersebut.

 

 

2.      Abad pertengahan

Kewirausahaan berkembang di periode pertengahan, pada masa ini wirausahawan dilekatkan pada aktor dan seorang yang mengatur proyek besar. Mereka tidak lagi berhadapan dengan resiko namun mereka menggunakan sumber daya yang diberikan, yang biasanya yang diberikan oleh pemerintah. Tipe wirausahaawan yang menonjol antara lain orang yang bekerja dalam bidang arsitektural (baik arsiteknya sebagai perancang yang menjual jasa ataupun pekerja yang mengerjakan jasa tersebut dan yang memberikan modal sekaligus menjadi manajer bagi mereka).

 

3.      Abad 17

Di abad 17, seorang ekonom, Richard Cantillon, menegaskan bahwa seorang wirausahawan adalah seorang pengambil resiko, dengan melihat perilaku mereka yakni membeli pada harga yang tetap namun menjual dengan harga yang tidak pasti. Ketidakpastian inilah yang disebut dengan menghadapi resiko.

 

 

4.      Abad 18

Berlanjut di abad ke 18, seorang wirausahawan tidak dilekatkan pada pemilik modal, tetapi dilekatkan pada orang-orang yang membutuhkan modal. Wirausahawan akan membutuhkan dana untuk memajukan dan mewujudkan inovasinya. Pada masa itu dibedakan antara pemilik modal dan wirausahawan sebagai seorang penemu.

 para ahli membedakan pengertian investor (venture capitalist) atau orang yang memiliki modal dengan orang yang membutuhkan modal atau wirausaha. Salah satu penyebab terjadi pemisahan ini adalah karena revolusi industri yang melanda dunia. Berbagai penemuan terjadi pada abad ini sebagai reaksi terhadap perubahan dunia.

Seperti Eli Whitney dan Thomas Edison, kedua orang ini berhasil mengembangkan era teknologi baru tetapi mereka tidak mempunyai modal untuk membiayai riset mereka dan penelitian mereka. Eli Whitney membiayai mesin pemisah kapas dari bijinya dengan menggunakan pinjaman pemerintah, sedangkan Thomas Edison membiayai usaha riset listrik dan kimianya dari sumber dana perseorangan (private source). Baik Eli maupun Thomas adalah pengguna modal (wirausaha) bukan sebagai pemasok dana (venture capitalist). Seorang pemasok dana adalah seorang manajer keuangan professional yang menginvestasikan  uangnya pada investasi yang beresiko dalam bentuk penyertaan modal untuk mendapatkan hasil yang tinggi dari investasi tersebut.

 

5.      Abad 19

Sedangkan di abad ke 19 dan awal abad 20, wirausahawan didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan dan mengatur perusahaan untuk meningkatkan pertambahan nilai personal.

Dimana, Wirausaha tidak dibedakan dengan manajer dan hanya dilihat dari pandangan ekonom. Wirausaha  mengorganisir dan mengoperasikan  perusahaan untuk manfaat pribadi. Ia membiayai bahan baku yang digunakan dalam bisnis, tanah, gaji karyawan, dan modal yang diperlukan. Ia memberikan kontribusi inisiatif, keahlian dalam pembuatan perencanaan, pengorganisasian, dan administratur perusahaan. Ia harus menanggung resiko rugi karena hal-hal yang tidak dapat dikontrolnya. Nilai bersih keuntungan pada akhir tahun atau masa menjadi keuntungannya. Wirausaha yang dikenal pada masa ini adalah Andrew Carnegie, ia tidak menemukan sesuatu tetapi hanya mengadopsi dan membentuk teknologi baru dan produk menjadi penting dan menghasilkan. Ia berhasil membawa industri baja Amerika menjadi industri yang tidak henti-hentinya ketimbang menghasilkan suatu penemuan atau kreativitas tertentu.

 

6.      Abad 20 sampai sekarang

Pada abad ini, gagasan wirausaha sebagai penemu mulai dikenalkan; Fungsi wirausaha adalah untuk melakukan reformasi atau revolusi pola-pola produksi dengan mengeksploitasi penemuan atau, secara umum, menggunakan teknologi baru (yang sebenarnya belum pernah dicoba orang lain) untuk menghasilkan produk baru atau menghasilkan produk lama dengan cara baru, membuka sumber bahan baku baru, membuka pasar baru, dengan mengorganisir kembali industri yang ada sekarang. Konsep inovasi sangat menonjol pada masa ini. Inovasi untuk mengenalkan sesuatu  yang  baru adalah sebagian dari tugas berat wirausaha. Inovasi tidak saja membutuhkan kemampuan untuk menghasilkan dan mengembangkan konsep tetapi juga harus mengerti segala kekuatan yang bekerja atau terdapat di lingkungan (sekitarnya). Sesuatu yang baru bisa berupa produk baru atau sebuah sistem baru, untuk simplikasi struktur organisasi baru. Kemampuan inovasi adalah sebuah instinks yang membedakan seseorang dengan orang lain. Jadi

Sedangkan Ilmu kewirausahaan di Indonesia baru dikenalkan pada akhir abad ke 20, namun praktiknya sudah sejak dulu ada, bahkan sejak jaman colonial kegiatan perniagaan dan bisnis sudah ada di Indonesia. Pada akhir abad 20, pendidikan kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah dan perguruan tinggi saja. Pendidikan kewirausahaan melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat semakin berkembang seiring dengan perkembangan dan tantangan ekonomi seperti krisis moneter yang sempat melanda di akhir tahun 90-an.

 



Di indonesia, Pembelajaran tentang mental-mental seorang wirausahawan sudah mulai di tanamkan sejak bangku sekolah, karena banyak wirausaha yang berhasil dalam membangun bisnis ikut untuk berpartisipasi dalam bentuk pendidikan maupun mentoring langsung ke calon wirausaha seperti Bob Sadino dan Sandiaga Uno. Selain itu Kemajuan Internet dan terbentuknya komunitas-komunitas wirausaha juga turut memberikan dampak pada perkembangan kewirausahaan di Indonesia.

Peranan wirausaha tidak hanya sekedar meningkatkan pendapatan perkapita tetapi juga memicu dan mundukung perubahan struktur masyarakat dan bisnis. Dalam hal ini pemerintah dapat berperan sebagai inovator. Pemerintah akan bergerak sebagi pelindung dalam memasarkan hasil teknologi dan kebutuhan sosial. Kewirausahaan di Perguruan Tinggi Banyak yang salah kaprah dalam memahami konsep kewirausahaan di Perguruan Tinggi. Sering kali terjebak dalam pengertian entrepreneurial (berwirausaha). Hal ini tidak salah 100 persen jika yang dijual masih merupakan proses dari pengembangan bidang ilmunya (intrapreneurship) dan bukan tidak ada kaitannya dengan pengembangan ilmunya. Pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi tetap dikembangkan dalam kerangka pengembangan ilmu melalui riset-riset yang dilakukan dan dicoba untuk dipasarkan. Sehingga fokus utama pada inventor kemudian baru kewirausahaan. 

Pada saat ini Indonesia membutuhkan sedikitnya 4 juta wirausaha baru untuk meningkatkan struktur ekonomi. Karena saat ini rasio wirausaha di dalam negeri masih sekitar 3,1 persen dari total populasi penduduk. Indonesia perlu meningkatkan produktivitas dan daya saing di era digital untuk memacu pertumbuhan wirausaha termasuk IKM. Saat ini wirausaha nasional mencapai sekitar 8,06 juta jiwa penduduk Indonesia. Menteri Perindustrian menjelaskan, dalam menghadapi era revolusi industri 4.0, pihaknya telah menggagas platform e-commerce bertajuk e-Smart IKM. Ini sebagai salah satu upaya strategis pemerintah guna membangun sistem database IKM yang diintegrasikan melalui beberapa marketplace yang sudah ada di Indonesia. Pemerintah juga mulai mengadakan program – program untuk memberdayakan usaha kecil dan menengah (UKM) seperti Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif). Ini merupakan program dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk penyediaan layanan perbankan atau layanan keuangan lainnya melalui kerja sama dengan pihak lain (agen bank), dan didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi. Dengan adanya UKM, UKM ini juga memberi dampak yang baik bagi masyarakat sekitarnya melalui penyerapan tenaga kerja. 



KESIMPULAN

Kewirausahaan adalah sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif, bercipta, bersahaja   dalam berusaha untuk  meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya, serta merupakan perilaku dinamis yang berani mengambil risiko. Wirausahawan didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan dan mengatur perusahaan untuk meningkatkan pertambahan nilai personal. Karena pembelajaran tentang mental-mental seorang wirausahawan sudah mulai di tanamkan sejak bangku sekolah dan sudah banyak wirausaha yang berhasil maka Peranan wirausaha tidak hanya sekedar meningkatkan pendapatan perkapita tapi juga memicu dan mundukung perubahan struktur masyarakat dan bisnis.


REFERENSI

Harianto, Bambang. 30 September 2018. Sejarah Kewirausahaan. Diakses pada tanggal 15 Maret 2022, dari https://harianto05091995.blogspot.com/2018/09/sejarah-kewirausahaan.htm

Kemenperin.go.id. Indonesia Butuh 4 juta Wirausaha Baru Untuk menjadi negara Maju. Diakses pada tanggal 15 Maret 2022, dari https://www.kemenperin.go.id/artikel/19926/Indonesia-butuh-4-juta-wirausaha-baru-untuk-menjadi-negara-maju

Adindayr. 10 September 2016. Sejarah dan Perkembangan Wirausaha di Indonesia. Diakses pada tanggal 15 Maret 2022, http://blog.ub.ac.id/adindayr/2016/09/10/sejarah-dan-perkembangan-wirausaha-di-indonesia/ 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.