Maret 17, 2022

Sejarah, Kreativitas, dan Inovasi dalam Kewirausahaan

  Sejarah, Kreativitas, dan Inovasi dalam Kewirausahaan

Oleh : Zulfa Habibah (@U47-Zulfa)

 

Abstrak

            Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha bar yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.

 

            Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon (1775), misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self- employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan mlenjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian. Berbeda dengan para ahli lainnya, menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan mencakup indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Sedangkan menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada sat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungi produksinya belum diketahui sepenuhnya dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan.Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.

 

Pendahuluan

          Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha adalah perbuatan amal, bekerja, dan berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Kewirausahaan merupakan suatu cara untuk meluangkan sesuatu yang bersifat kreatif dan inovatif yang di proses dengan adanya usaha. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha bar yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidak pastian. Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya.

 

Ada beberapa ahli yang mendefenisikan kewirausahaan antara lain:

 

            Richard Cantillon (1775), misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendir (self-employment) Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi in lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian. Berbeda dengan para ahli lainnya, 

 

            Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan mencakup indentfikasi peluang- peluang di dalam sistem ekonomi. Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungi produksinya belum diketahui sepenuhnya.

 

            Frank Knight (1921), Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi in menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang wirausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan.

 

            Peter Ducker, kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.

 

            Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai-nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.

Tiga jenis perilaku :

1. Memulai inisiatif, dimana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin. Tahap ini juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan.

2. Mengorganisasi dan mereorganisasi mekanisme sosial/ekonomi untuk merubah sumber daya dan situasi dengan cara praktis, dimana seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek:

pembiayaan,  SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko, dan mengambil keputusan pemasaran dan melakukan evaluasi

3. Diterimanya resiko dan kegagalan, di mana wirausahawan berdasarkan

hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai

untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

 

Sejarah Kewirusahaan Di Indonesia

            Entrepreneurship secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Namun di Indonesia istilah entrepreneurship bar dikenal pada akhir abad ke-20. Di abad ke 19 dan 20, wirausahawan didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan dan mengatur perusahaan untuk meningkatkan pertambahan nilai personal. Di abad ini inovasi melekat erat pada wirausahawan di masa sekarang.

 

            Seorang wirausaha mengatur dan menjalankan perusahaan untuk keuntungan pribadi. la membayar saat Ini untuk bahan baku yang digunakan untuk usahanya, untuk penggunaan lahan, untuk jasa karyawan yang dia gunakan, dan untuk modal yang dia butuhkan. Dia memberikan kontribusi 


inisiatif, keterampilan, dan kecerdasan dalam perencanaan, pengorganisasian dan

 
administrasi perusahaan secara mandiri. Dia juga berasumsi kesempatan untuk mendapatkan keuntungan atau kerugian tidak terduga dan tidak terkendali. 

 

            Di abad ke 19 dan 20 ini, seorang wirausaha juga dapat dipandang sebagai orang yang memperbaharui atau melakukan revolusi terhadap pola-pola produksi dengan mengeksploitasi suatu penemuan, atau suatu kemungkinan teknologi yang belum pernah dicoba dalam memproduksi suatu komoditas, baik itu dalam cara lama maupun dalam cara bar, Perubahan-perubahan yang direalisasikan para wirausahawan ini membuka sumber pasokan maupun outlet bar bagi suatu produk dan jasa, dengan implikasi terjadi reorganisasi suatu industri.

 

            Di Indonesia, entrepreneurship dipelajari bar terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman entrepreneurship baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat entrepreneurship menjadi berkembang.

 

            Perkembangan kewirausahaan di Indonesia pada masa Orde Baru ditandai dengan munculnya kegiatan industri pengolahan (manufacturing), yaitu suatu kegiatan ekonomi yang mengubah barang mentah (raw material) menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi (goods/commodity). Kegiatan industri pengolahan di Indonesia pada masa awal Orde Baru belum sedominan aktivitas pertanian yang telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia selama berabad-abad sebelumnya. Olch karena itu pada masa Orde Baru kehadiran industri manu faktur belum sesuai dengan gambaran umum aktivitas perekonomian masyarakat Indonesia, termasuk Asia Tenggara pada umumnya.

 

            Sejarah telah mencatat bahwa kemajuan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh peran individu-individu yang memiliki semangat kewirausahaan dan inovasi. Perjalanan panjang bangsa Indonesia, misalnya, selalu dipelopori oleh tokoh-tokoh yang memiliki keberanian untuk memulai tindakan dan mengambil risiko (salah satu karakter yang kemudian dipercaya sebagai ciri orang-orang dengan semangat kewirausahaan) untuk terjadinya suatu perubahan. Semangat pembaruan yang dimiliki Mahapatih Gadjah Mada juga tidak lepas dari jiwa entrepreneur sang tokoh. Di kemudian hari, munculnya seorang Soekarno dan Hatta serta para founding fathers Republik Indonesia juga tidak lepas dari semangat kepeloporan yang menjadi ciri khas seorang entrepreneur.

 

            Keberanian Dr.Ing. BJ. Habibie untuk kembali ke Indonesia dan membangun megaproyek Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN, waktu itu namanya PT. Nurtanio) yang penuh risikondan tantangan, juga tidak lepas dari semangat kewirausahaan dan inovasi yang dimilikinya. Saat itu Habibie lulusan summa cumlaude Universitas Aachen, Jerman, telah menduduki posisi sangat penting di perusahaan pembuat pesawat terbang ternama di Eropa, Messerschmitt Bolkow Biohm (MBB).

            Sekalipun IPTN sempat menuai kerugian dan akhirnya berhenti beroperasi, banyak anak-anak muda Indonesia lulusan SMA (Sekolah Menengah Atas) yang berhasil mencapai pendidikan tertinggi di universitas-universitas temama di negara-negara maju melalui program-program yang dirintis olch Habibie bersama para koleganya di IPTN dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi melalui beasiswa STAID (Science and Technology for Industrial Development). Mereka inilah yang sekarang menjadi lapisan utama dalam pengembangan kebijakan-kebijakan rise di Indonesia.


Kreatif dan Inovatif Dalam Berwirausaha


 

            Arti dari kata kreatifsendiri adalah menciptakan sesuatu yang berbeda dari yang lain, atau menghubungkan hal-hal yang tadinya tidak berhubungan. Sedangkan arti dari kata inovatifadalah menciptakan sesuatu yang belum pernah ada menjadi ada atau menciptakan sesuatu yang sama sekali berbeda. Hal-hal itulah yang sejatinya diperlukan para wirausahawan. Yang dimaksud dengan wirausahawan adalah pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausahawan. Wirausahawan adalah pionir dalam bisnis, inovator, penanggung resiko yang mempunyai penglihatan visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam berprestasi di bidang usaha. Fungsi kreativitas dalam proses inovasi merupakan pembangkitan ide yang menghasilkan penyempurnaan efektivitas dan efisiensi pada suatu sistem.

 

            Ada dua aspek penting pada kreatifitas yaitu proses dan manusia. Proses yang berorentasi tujuan, yang di desain untuk mencapai solusi suatu permasalahan. Sedangkan manusia merupakan sumber daya yang menentukan solusi. Proses tetap sama, namun pendekatan yang digunakan dapat bervariasi. Antara wirausahawan yang satu dan yang lainnya pastilah melakukan cara atau strategi yang berbeda-beda dalam membangun bisnisnya. Cara atau strategi inilah yang menentukan hasil akhir yang dihasilkan. Semakin kreatif orang tersebut menggunakan peluang yang ada, maka semakin baik pula hasil dari bisnis yang mereka jalankan.

 

            Namun memang dalam berpikir kreatif tidaklah semudah yang dibayangkan. Bagi anak-anak mungkin kreatifitas masih sangat luas karena pemikiran mereka masih dibebaskan. Tetapi semakin bertambah dewasanya seseorang, kreatifitas seakan-akan telah dikotak-kotakkan dan hal ini menjadi hambatan untuk seseorang berpikir kreatif. Hambatan tersebut bisa berasal dari banyak hal dan faktor, seperti hambatan yang dibuat sendiri. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh pendidikan dan budaya, misalnya 1+1 = 2, apabila ada jawaban yang berbeda maka akan dianggap salah atau aneh.  Hambatan lainnya adalah tidak berusaha menentang kenyataan atau menerima apa adanya, misalnya orang tersebut terpaku dengan apa yang telah mereka alami selama ini, tidak mau keluar dari batasan-batasan yang ada sebelumnya, dan terpaku pada peraturan-peraturan yang telah membelenggu. Atau hambatan lainnya adalah hambatan yang paling sering ditemukan, yakni takut dianggap aneh atau bodoh. Orang tersebut menjadi tidak berani mengeluarkan  ide atau pendapat yang sebenarnya sudah dipikirkan dan ada dalam benak pikirannya, dan orang tersebut juga tidak percaya diri bahwa ide yang ada dalam pikirannya adalah ide yang sesungguhnya memang benar.

 

            Hambatan-hambatan tersebut hendaknya diminimalisir atau justru dihilangkan karena dalam berwirausaha, kreatifitas sangatlah dibutuhkan dan jangan sampai hambatan menjadi permasalahan yang membuat ide kreatif kita tidak berkembang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kreatifitas wirausaha merupakan kemampuan seseorang untuk menuangkan ide dan gagasan melalui berfikir kreatif menciptakan sesuatu yang menuntut pemusatan, perhatian, kemauan, kerja keras dan ketekunan.

 

            Selain kreatif, hal lain yang diperlukan dalam berwirausaha adalah inovatif.  Dengan inovasi, wirausahawan menciptakan baik sumber daya produksi baru maupun pengelolahan sumber daya yang ada dengan peningkatan nilai potensi untuk menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.

 

            Cara mengembangkan inovasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, yang pertama adalah wirausahawan tersebut harus mengenali hubungan. Banyak penemuan dan inovasi lahir sebagai cara pandang terhadap suatu hubungan baru dan berbeda antara objek, proses, bahan, teknologi dan orang. Untuk membantu kreatifitas, kita dapat melakukan cara pandang kita terhadap hubungan kita dengan lingkungan alam sekitar. Orang yang kreatif akan memiliki hubungan intuisi tertentu untuk dapat mengembangkan dan mengenali hubungan yang baru. Selain itu untuk dapat melakukan kreativitas agar dapat berimajinasi  yang inovatif gunakanlah otak bagian kanan, sedangkan otak bagian kiri digunakan untuk bekerja. Proses kreativitas yang inovatif meliputi pemikiran logis dan analitis terhadap pengetahuan, evaluasi dan tahap implementasi. Jadi bila kita ingin lebih kreatif, kita harus melatih dan mengembangkan kemampuan kedua otak kita tersebut. Dan yang terakhir, untuk menjadi seorang yang kreatif dan inovatif dalam berwirausaha, maka kita harus selalu berfikir positif agar dapat menjadi orang yang sukses.


Kisah Inspiratif Berwirausaha


Sudono Salim – Indofood

            Siapa yang tidak mengenal Indofood, BCA, dan Bogasari? Nah, tetapi tahukah Anda bahwa ketiga perusahaan raksasa tersebut didirikan oleh Sudono Salim? Sudono Salim merupakan seorang imigran asal negeri Tiongkok yang berhasil sukses di negeri perantauan, yaitu Indonesia.

 

            Pada awalnya, Sudono Salim yang memiliki nama asli Liem Sioe Long pergi ke Indonesia, tepatnya ke Surabaya, karena terjadi konflik di negeri asalnya. Masa-masa awalnya di Indonesia terpaksa dihabiskannya menjadi gelandangan selama beberapa hari.

 

            Usaha keras berbuah hasil, Sudono Salim merintis usaha sebagai bandar cengkih yang cukup sukses bahkan memiliki koneksi hingga ke pulau-pulau lain, seperti Sulawesi dan Sumatera. Namun sayang, bisnis ini kandas ketika Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang.

 

            Kehidupan bisnis Sudono Salim tentu tidak berhenti di bisnis cengkih saja. Kemahirannya memantau kondisi kesulitan ekonomi di awal era Indonesia merdeka, dia memutuskan mendirikan sebuah bank yang diberi nama Central Bank Asia atau yang sekarang kita kenal dengan BCA atau Bank Central Asia.

 

            Sejak saat itu mulailah ia melebarkan bisnisnya ke produksi pangan yang sekarang kita kenal dengan PT. Bogasari dan produksi makanan olahan tepung terigu yang diberi nama Indofood dengan Indomie sebagai produk andalannya, serta sektor-sektor bisnis lainnya.

 

Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari sosok Sudono Salim, di antaranya:

           Kesuksesan harus didapat dengan kerja keras ditambah keberuntungan.

           Selalu percaya bahwa kesuksesan dapat diraih, walau berasal dari bentuk usaha yang lain.

 

Daftar Pustaka

[1] https://www.academia.edu/23775336/MAKALAH_SEJARAH_KEWIRAUSAHAAN

[2] https://lifepal.co.id/media/pengusaha-sukses/

[3] https://bbs.binus.ac.id/business-creation/2018/04/kreatif-dan-inovatif-dalam-berwirausaha/

[4] https://www.academia.edu/16349787/Sejarah_kewirausahaan_dan_Pengertian_Kewirausahan

[5]https://kumparan.com/profil-orang-sukses/profil-orang-sukses-sudono-salim-konglomerat-yang-pernah-menjadi-gembel-1swOC3prAm6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.