November 20, 2022

Integritas Dalam Bisnis

 

Integritas Dalam Bisnis

 


Aktivitas bisnis adalah tentang pengambilan keputusan. Tidak ada yang dapat dilakukan di dalam suatu kegiatan bisnis tanpa melakukan pengambilan keputusan yang bentangnya sangat lebar, dari yang sifatnya mayor hingga minor, dari yang berkaitan murni keuntungan bisnis hingga berkaitan dengan moral.

 

Konseptualisasi Integritas

Di dalam teori kepemimpinan integritas juga dipakai untuk menggambarkan kemampuan seseorang menerjemahkan perkataannya ke dalam tindakan nyata (McShane & Von Glinow, 2003). Dalam integrasi harus diterjemahkan apakah konteksnya mengacu pada nilai-nilai yang dipegang oleh diri sendiri masyarakat, atau organisasi di mana seseorang berada. Hal ini menjadikan integritas suatu hal yang relatif tergantung pada lingkup peran seseorang.

Integritas juga telah didefinisikan dengan menekankan konsistensi moral, keutuhan pribadi, atau kejujuran (Mathis & Jackson, 2006). Di dalam seleksi karyawan dalam integrasi bisnis, tes terhadap integrasi dilakukan dengan mengukur beberapa variabel yang di antaranya adalah kejujuran dan penalaran moral (Berry et al., 2007).

 

Integritas Sebagai Bentuk Loyalitas

Dalam etika objektivisme, integritas diartikan sebagai loyalitas terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang rasional (Peikoff, 1982). Konsepsi objektivisme terhadap integritas adalah bahwa integritas adalah sebuah bentuk loyalitas, yaitu keteguhan hati seseorang untuk memegang prinsip dan nilai moral universal. Prinsip moral adalah norma, yaitu aturan moral yang menganjurkan atau melarang seseorang untuk berbuat sesuatu.

 

Integritas dan Perilaku Etis

Integritas di dalam kajian perilaku organisasi, kepemimpinan, dan lainnya secara esensial menyandingkan integritas dengan kejujuran. Kejujuran adalah pengakuan atas kenyataan bahwa seseorang tidak dapat memalsukan eksistensi dan integritas adalah pengakuan tentang fakta bahwa seseorang tidak dapat memalsukan fakta-fakta yang berhubungan dengan prinsip atau nilai yang dipegang seseorang (Becker, 1998).

Agar dapat membentuk suatu integritas moral, tindakan jujur haruslah didasari oleh prinsip moral kejujuran. Prinsip moral untuk bertindak jujur ini sendiri haruslah merupakan turunan dari nilai kejujuran, yang adalah nilai moral universal, dan bukan dari nilai lainnya seperti pada tahap perkembangan moral pre-conventional ataupun conventional.

 

 

References:

Becker, T. E. (1998). Integrity in organizations: Beyond honesty and conscientiousness. Academy of Management Review, 23(1), 154–161.

Berry, C. M., Sackett, P. R., & Wiemann, S. (2007). A review of recent developments in integrity test research. Personnel Psychology, 60(2), 271–301.

Mathis, R. L., & Jackson, J. H. (2006). Human resource management: Manajemen sumber daya manusia. Terjemahan Dian Angelia. Jakarta: Salemba Empat.

McShane, S. L., & Von Glinow, M. A. (2003). Organizational Behaviour, International Edition. McGraw-Hill Education, New York.

Peikoff, L. (1982). Objectivism: The Philosophy of Ayn Rand. New York: Meridian, 1993. The Philosophy of Education, CD Lecture Series. Irivine, CA: The Ayn.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.