Jumat, Agustus 12

G050-Ade (Tugas KWU 004)

Motivasi Menjadi Wirausaha Sukses

Proses termotivasinya seseorang dengan orang lain untuk menjadi pengusaha berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki motivasi yang sama untuk menjadi pengusaha. Sebenarnya bangsa Indonesia memiliki dasar spirit dan keterampilan yang unik di masing-masing daerah. Sebagai bangsa Indonesia jangan biarkan bangsa lain mengelolah sumber daya dan kita hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun.
Jangan percaya terhadap mitos seputar wirausaha, semua itu sebenarnya hanyalah kurangnya pemahaman kita tentang kewirausahaan.
Seperti mitos berikut ini:
Ø  Mitos: Wirausaha muncul karena bakat dan keturunan
Ø  Mitos: Wirausaha adalah para pelaku, bukan para pemikir
Ø  Mitos: Wirausaha tidak bisa diajarkan atau dibentuk
Ø  Mitos: Wirausaha adalah selalu sebagai investor
Ø  Mitos: Wirausaha membutuhkan keberuntungan
Ø  Mitos: Wirausaha harus selalu sukses dan tidak gagal
Ø  Mitos: Wirausaha adalah sama seperti penjudi
Mengubah Pola Pikir
Merubah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan tidak mudah. Perubahan bukanlah kata yang menakutkan dan membahayakan. Mengubah pola pikir memerlukan keberanian dan kerelaan.
Menurut McGrath dan MacMillan (2000) ada lima karakteristik yang umumnya dimiliki oleh pengusaha :
·         Pengusaha sangat bersemangat dalam melihat atau mencari peluang-peluang baru
·         Pengusaha mengejar peluang dengan disiplin yang ketat
·         Pengusaha hanya mengejar peluang yang sangat baik dan menghindari mengejar peluang laun yang belum jelas
·         Pengusaha berfokus pada pelaksanaan
·         Pengusaha mengikutsertakan energy setiap orang yang berbeda dalam jangkauan mereka
Memotivasi Berprestasi
Semakin seseoang meyakini bahwa dirinya dapat mengelolah berbagai kekuatan dan kelemahan, maka semakin yakin ia bahwa dirinya dapat mewujudkan satu prestasi. Ciri-ciri pribadi wirausaha yang berhasil adalah :
·         Berorientasi pada tindakan dan memiliki motif yang tinggi dalam mengambil resiko untuk mencapai tujuan
·         Dapatmendayagunakan kekuatan-kekuatan yang dimiliki dan mengurangi kelemahan-kelemahan yang ada
·         Mempunyai perilaku yang agresif dalam mengejar tujuan atau berorientasi pada tujuan dan hasil
·         Mau belajar dari pengalaman
·         Memupuk dan mengembangkan pribadi unggul secara terus-menerus
Seseorang menat berwirausaha karena adanya sesuatu motif, yaitu motif berprestasi. David C. McClelland mengelompokan motivasi menjadi tiga motif social yaitu: kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan kekuasaan, dan kebutuhan akan afisiliasi.
Memanfaatkan Kekuatan Pikiran Bahwa Sadar
Apa saja yang kita dapatkan hari ini, baik disadari maupun tidak, sebenarnya merupakan hasil dari proses kekuatan alam bahwa sadar. Yakinlah apa yang kia dapatkan hari ini sebenarnya sudah pernah kita bayangkan sebelumnya atau pernah terlintas dalam otak, imajinasi, atau bahkan dalam mimpi walau hanya sesaat.
Proses mental bahwa sadar dapat membantu kita melaksanakan kegiatan sehari-hari. Menggunakan kekuatan yang terfokus pada keiginan untuk merasakan suatu kesenangan atau kesengsaraan mampu menimbulkan energy dasyat dalam hidup.
Pikiran manusia dapat dikelompokan menjadi dua yaitu pikiran sadar dan tidak sadar. Pikiran bahwa sadar mampu mengontrol tindakan secara otomatis. Beberapa factor atau kondisi yang mendorong semakin produktifitasnya pikiran bawah sadar yaitu :
·         Sikap ragu-ragu
·         Sikap berani
·         Bermacam-macam pengalaman, memori, dan ketertarikan
·         Persiapan yang sempurna dan sungguh-sungguh
·         Menyerah sementara
·         Istirahat / santai
·         Menulis
·         Berukar pikiran
·         Bebas dari kebingungan atau kekacauan
·         Batas waktu (deadlines)
·         Tensi (tension)
Kisah Sukses Ayam Bakar Mas Mono: Gerobak Dagangan Ambruk Ketika Jualan
      Mas mono Nama lengkapnya adalah A. Pramono, namun lebih akrab disapa Mas Mono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono, yang sudah punya cabang di mana-mana. Profilnya sudah mejeng di pelbagai koran dan majalah kenamaan di Indonesia. Beberapa kali menjadi bintang iklan juga. Dan belakangan ini sibuk berkeliling menjadi mentor wirausaha.

      Lelaki kelahiran Madiun ini hanya menamatkan pendidikannya sampai SMA. Kemudian merantau ke Jakarta, bekerja sebagai office boy. Pekerjaan yang membanggakan baginya, saat itu! Orang tua dan para tetangga kampung tahunya dia bekerja di kantor yang mentereng, ber-AC, ada banyak komputer, dan tentunya nyaman. Namun kebanggaan itu luntur seketika, ketika bapaknya terbaring di rumah sakit, dan Mas Mono tak punya uang untuk membantu membiayai pengobatannya. Tamparan yang sangat keras baginya, sebagai seorang anak, tak mampu membantu ketika orang tuanya sedang sakit.
      Akhirnya Mas Mono pun mengambil keputusan yang berani. Memajukan dirinya, keluar dari pekerjaannya sebagai office boy. “Saya tak pernah pakai kata mengundurkan diri ya, karena bagi saya dengan keluar dari pekerjaan itu, berarti saya sedang memajukan diri saya,” katanya tegas. Berjualan gorengan menjadi pilihannya mencari nafkah selepas keluar dari pekerjaannya sebagai office boy. Mas Mono pun keliling dari satu sekolah ke sekolah lain menjajakan gorengannya. Sehari hanya bisa mengantongi uang antara 15 ribu-20 ribu rupiah. Masa-masa yang sulit baginya.
      Mas Mono pun mulai meragukan keputusannya berjualan gorengan, ketika ibunya dari Madiun datang mengunjunginya ke Jakarta. Ibunya sedih melihat putra kesayangannya menjadi penjaja gorengan, keliling dari satu tempat ke tempat lain, dari pagi sampai sore hari, hanya mendapatkan uang 20 ribu rupiah. Ibunya lebih suka kalau Mas Mono kerja di kantoran saja, walau hanya sekedar menjadi office boy.
      Kesedihan ibunya, menjadi tamparan kedua baginya. Mas Mono pun memutuskan untuk beralih usaha, menjual ayam bakar. Berjualan di kaki lima, tepatnya di jalan Soepomo, seberang kampus Universitas Sahid, Pancoran. Awal berjualan ayam bakar, modalnya 500 ribu rupiah untuk membeli gerobak, dan lima ekor ayam. Malang nian, pertama berjualan, gerobaknya ambruk, ayam-ayamnya pun jatuh.
      “Rupanya gerobak untuk jualan ayam bakar itu lain dengan gerobak gorengan, harus lebih kokoh karena membawa tempat nasi yang berat,” jelas Mas Mono menganalisa gerobaknya yang ambruk diawal dia berjualan ayam bakar.
      “Saya lap ayam-ayam yang jatuh itu satu persatu, biar bisa dijual,” lanjut mas Mono mengenang kisah awalnya berjualan. Waakss.. jorok dong?! “Nggak apa-apa, yang penting kan yang beli nggak tahu kalau ayamnya sudah jatuh,” jawab Mas Mono santai setengah bercanda. Yang pasti, sekarang ayam bakarnya tak lagi di jual di gerobak, tapi di restoran yang Insya Allah terjamin kebersihannya.
      Jualan ayam bakar itu dijalaninya dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang. Jangan berprasangka baik bahwa ayam bakarnya habis setiap jam 2 siang ya, ternyata itu karena jualan di kaki lima itu ada shift-nya. Tiap jam 2 harus gantian dengan penjual lainnya. Jadi laku nggak laku, jam 2 siang itu, Mas Mono harus menutup jualan ayam bakarnya.

      Seiring waktu, jualan ayam bakarnya semakin berkembang. Ayam Bakar Mas Mono mulai melayani katering di pelbagai kantor. Dua stasiun televisi swasta menjadi langganan tetap kateringnya. Belum lagi melayani katering dari perusahan-perusahaan besar yang         Mengadakan acara. Sekali order bisa sampai 4000 boks harus dia sedikan. Ayam Bakar Mas Mono pun mulai buka cabang di mana-mana. Karyawannya pun bertambah seiring semakin meluas jaringan usahanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.