Jumat, Agustus 5

MANDIRI DARI SOSOK PEMILIK WAROENG STEAK


Tahun 2016 dimana perekenomian di Indonesia yang semakin menurun membuat banyak masyarakat semakin terpuruk, banyaknya penggangguran dan semakin bertambahnya rakyat miskin. Kondisi seperti ini mendorong saya sebagai kaum muda prihatin dan ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dengan kemampuan dan bekal ilmu yang saya punya. Mungkin kalian para pembaca setuju dengan hal ini? Lalu bagaimana solusinya?
Jawabannya perbanyaklah wirausahawan (entrepreneur). Bangsa yang maju membutuhkan setidaknya 2 persen entrepreneur dari jumlah total penduduk, sementara di Indonesia jumlahnya kurang dari jumlah minimal itu. Mengutip dari www.suara.com Bahlil Lahadalia selaku Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) mengatakanSaat ini Indonesia baru memiliki 1,5 persen pengusaha dari sekitar 252 juta penduduk Tanah Air. Indonesia masih membutuhkan sekitar 1,7 juta pengusaha untuk mencapai angka dua persen. Sedangkan di negara Asean seperti Singapura tercatat sebanyak 7 persen, Malaysia 5 persen, Thailand 4,5 persen, dan Vietnam 3,3 persen jumlah pengusahanya. Semakin banyak entrepreneur di suatu negeri, semakin meningkat kualitas kehidupan dinegeri tersebut karena pendapatan Negara bertambah dari pajak perusahaan tersebut dan terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat yang otomatis mengurangi jumlah pengangguran.
Berbicara soal entrepreneur saya ingin membagikan cerita sukses dari salah satu entrepreneur inspirasi saya. Siapa yang tak kenal makanan steak? Daging sapi yang dipanggang diatas bara api dan dihidangkan dengan lumuran saos yang lezat.

Makanan ini memang bukan makanan khas Indonesia melainkan makanan khas dari negeri Inggris. Tetapi dengan bumbu khasnya dari salah satu kedai penyedia makanan ini rasa Indonesianya tetap kental. Kluenya restoran ini dinamakan warung. Warung? Kenapa namanya “masyarakat” sekali? Sedangkan para pengusaha restoran lain berlomba memberi nama yang terkesan “wah dan mewah.” Nah dengan dinamakan warung, harga direstoran ini tidak mencekik pelanggannya melainkan harganya pas sekali dikantong sekalipun para pelajar. Ini adalah restoran yang sering saya dan teman-teman kunjungi sewaktu sekolah karena harganya yang murah meriah tapi rasanya enak. Yap, nama restorannya adalah “WAROENG STEAK AND SHAKE.”


Pasti kalian para pembaca tahukan tentang kedai makanan satu ini? Gerainya ada dimana-mana hampir disetiap daerah ada. Pemiliknya adalah Jody Broto Suseno, pria kelahiran Jakarta 3 Maret 1974 ini memulai usahanya bersama sang istri di Yogyakarta pada tahun 2000. Meskipun ayah Jody adalah pemilik usaha steak juga “OBONK STEAK” yang memiliki kelas masyarakat menengah atas, Jody memulai bisnisnya dari bawah. Ia bekerja di OBONK STEAK milik ayahnya sebagai karyawan biasa dengan gaji standar karyawan lainnya.
Awalnya berjualan susu segar, lalu roti bakar dan jus buah. Namun, bisnis itu terpaksa berhenti karena peralatannya banyak diambil orang. Jody juga berjualan kaus partai politik. Pada Pemilu 1999, jumlah partai membengkak dari tiga menjadi 48 partai. Jody melihat peluang itu dan memanfaatkan dengan berjualan kaus berlambang partai politik. Hasil penjualan, antara lain, digunakan untuk mengontrak rumah di kawasan Demangan, Yogyakarta. Selepas pemilu, Jody dan Aniek berpikir lagi mencari tambahan. Kelahiran anak pertama, Yuga Adiaksa, membuat kebutuhan bertambah.
Akhirnya pasangan itu memutuskan berjualan steik, seperti yang sudah dilakukan keluarga Jody. Namun, pasangan itu tidak meniru konsep Obonk Steak. Mereka memilih mahasiswa dan pelajar sebagai target pasar. Untuk merek usaha, mereka memilih nama Waroeng Steak and Shake.
Gerai pertama dibuka di teras rumah mereka karena tidak ada dana untuk menyewa tempat. ”Saya pilih istilah warung untuk menegaskan pesan makan steak di sini tidak mahal,” ujar Jody. Namun, mereka terbentur modal untuk memulai usaha.
Kala itu, Jody dan Aniek hanya punya uang Rp 100.000. Akhirnya, Jody menjual motor dan hasilnya dipakai untuk modal awal Waroeng Steak. Ketika baru mulai, Jody mengurus dapur dan melayani pembeli, sementara Aniek menjadi kasir. Namun, warung itu tidak langsung ramai. ”Pernah sehari cuma dapat bersih Rp 30.000,” ujarnya.
Dari cerita diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Jody adalah sosok yang percaya diri, mandiri, berani mengambil resiko. Hal ini dapat dilihat dari sikapnya yang ingin berdiri di kaki sendiri dan tidak mengandalkan nama besar usaha dari Bapaknya, ia lebih memilih usaha dari nol dengan nama baru dan modal awal yang sedikit. Ia mempunyai kemauan yang kuat dan menjaga keorisinalan dari produk yang ia jual.
Ingin tahu cerita selanjutnya? Baca disini…..

Sumber:
Himawan, Aditya. 2016. Bisnis. Jumlah Pengusaha di Indonesia Baru 1,5 Persen dari Total Penduduk. Diambil dari: http://www.suara.com/bisnis/2016/05/09/133306/jumlah-pengusaha-di-indonesia-baru-15-persen-dari-total-penduduk (1 Agustus 2016)
Wikipedia Indonesia. 2016. Profil Jody Brotosuseno. Diambil dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Jody_Brotosuseno (1 Agustus 2016)
     Hari W, Laksono. 2013. Ekonomi. Bisnis dan Keuangan. Gagal Jadi Arsitek, Sukses Berbisnins Steak. Diambil dari: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/06/08/08323684/Gagal.Jadi.Arsitek..Sukses.Berbisnis.Steik (1 Agustus 2016)
     Puri. 2016. Jody Broto Suseno dan Warung Kesuksesan Akhirat. Diambil dari: http://www.dream.co.id/orbit/jatuh-bangun-jody-broto-suseno-rintis-bisnis-steak-160210y/memegang-prinsip-spiritual-company-g6a.html (1 Agustus 2016)
     Suharyadi, Arissetyanto Nugroho, dkk. 2004. Kewirausahaan Membangun Usaha Sukses Sejak Usia Muda. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar