Selasa, Maret 13




Mengubah Pola Pikir Pemuda dalam Berwirausaha

Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk memperluas wawasan serta memahami potensi dalam diri dengan motivasi dan mengubah pola pikir sebagai wirausahawan.

Kata Kunci : Mengubah, kebiasaan, pola pikir, pandangan hidup.

Pendahuluan
Keterbatasan kesempatan kerja bagi para lulusan perguruan tinggi menciptakan pengangguran-pengangguran intelektual. Kondisi yang dihadapi akan semakin buruk karena adanya persaingan global, contohnya Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA. MEA menjadikan hubungan antar Negara semakin terbuka sehingga lulusan-lulusan perguruan tinggi dari luar negeri pun ikut bersaing dalam mencari pekerjaan, maka dari itu dibutuhkan adanya kompetensi untuk menjadi Job Creator bukan Job Seeker. Masalahnya adalah bagaimana cara mendidik para pemuda, khususnya pada mahasiswa untuk menumbuhkan jiwa wirausaha?
Ada beberapa faktor bagaimana seseorang dapat menciptakan usaha sendiri, dengan pengalaman bekerja, motivasi yang didapatkan dari belajar, Zimmerer (2002:12), menyatakan bahwa salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan disuatu negara terletak pada peranan universitas melalui penyelenggaraan pendidikan kewirausahaan. Faktor lainnya adalah bisa karena karakter, sifat, dan kepribadian seseorang yang dapat menumbuhkan rasa semangat untuk berwirausaha. Dalam pendidikan kewirausahaan, mahasiswa diberi pengarahan untuk mengubah pola pikir serta motivasi berprestasi untuk menjadi wirausahawan.

 Pembahasan
Mengubah sesuatu yang menjadi kebiasaan tidaklah mudah serta membutuhkan kerja keras dan banyak pengorbanan, apalagi menyangkut pola pikir dari seorang individu. Pandangan hidup, adat kebiasaan, persepsi, hingga perilaku, dipengaruhi oleh perjalanan yang sangat panjang, baik secara keturunan (hereditas) maupun lingkungan.
Mengubah pola pikir memerlukan keberanian dan kerelaan, karena tanpa itu semua tidak akan terjadi perubahan apa-apa. Dengan bahasa yang tegas, Dr. Rhenald Kasali, pakar manajemen Universitas Indonesia, pernah mengatakan “Berubah atau Mati !! “ Ia memberikan sinyal bahwa setiap pengusaha yang mau bertahan harus melakukan perubahan demi perubahan atau akan tertinggal dari para pesaingnya.
Sadar atau tidak, kita selalu keluar masuk dari comfort zone satu ke comfort zone berikutnya. Dari semua gambaran tersebut, kita berharap agar para pengusaha tidak terjebak hanya menjalankan bisnis kecil saja. Langkah awal yang harus dilakukan adalah merubah cara pandang dan memulai pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial – mindset).

Menurut  McGrath dan MacMillan (2000) dalam Rambat (2004), lima karakteristik yang umumnya dimiliki pengusaha adalah :
  1. Pengusaha sangat bersemangat melihat peluang-peluang baru.
  2. Pengusaha mengejar peluang dengan disiplin yang kuat.
  3. Pengusaha hanya mengejar peluang yang sangat baik dan menghindari mengejar peluang yang lain yang  belum jelas.
  4. Pengusaha berfokus pada pelaksanaan.
  5. Pengusaha mengikutsertakan energi setiap orang yang berada dalam jangkauan mereka. 
Mindset / pola pikir dapat mempengaruhi nasib seseorang, menjadi gagal atau berhasil adalah berasal dari pola pikir dan tindakan. Untuk menjadikan kita orang yang sukses, kita harus melihat serta meniru pola pikir orang yang sukses. Karena pola pikir orang sukses menjadi tolak ukur dan menjadi inspirasi yang berharga bagi setiap orang yang ingin mempunyai kesempatan untuk berwirausaha hingga menjadi sukses. Sukses juga bukan merupakan suatu tujuan, melainkan sebuah proses, kegagalan juga bagian dari sukses, dan selalu berorientasi pada solusi, sehingga kegagalan itu bisa di ubah menjadi keberhasilan.

Seperti yang dikatakan Bob Sadino, “Mending anda gagal dulu kalau ingin menjadi wirausaha muda yang sukses”. Pengusaha bernama lengkap Bambang Mustari Sadino, lahir tanggal 9 Maret 1933, memulai usaha sendiri dengan menyewakan mobil mercedesnya dan menjadi supir. Namun usaha itu tidak berjalan dengan mulus karena kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak dan tidak punya biaya untuk memperbaikinya. Setelah itu, akhirnya Bob Sadino bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah 100 rupiah. Suatu hari seorang temannya menawarkan untuk bisnis ternak ayam negeri dan telur ayam negeri, Bob tertarik untuk mengembangkan usaha peternakan ayam dan telur ke seluruh Indonesia, dimana ayam negeri mendominasi pasar. Ketika itu, telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli oleh ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang, serta beberapa orang Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri. Namun seiring berjalannya waktu, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Bob semakin berkembang. Bob kemudian melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Selain memperkenalkan telur ayam negeri, ia juga merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia.
Catatan awal tahun 1985 menyebutkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan sayuran segar 100 ton.




Kesimpulan
Percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga dia tidak segera melangkah, yang paling penting adalah tindakan. Terampil dan tekun dalam menjalani suatu usaha, serta pola pikir yang positif dan tidak mudah putus asa adalah kunci dari sebuah keberhasilan dan kesuksesan


Daftar Pustaka
Buku Kewirausahaan "Membangun Usaha Sukses Sejak Usia Muda", Salemba Empat 2011, Jakarta  (Universitas Mercu Buana)  
Suharti. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol. 13 No. 2, 2011.
Wahyudi, Agung. Mengubah Pola Pikir dan Motivasi Berprestasi. Universitas Mercu Buana. Jakarta.
https://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Sadino

Tidak ada komentar:

Posting Komentar