Rabu, Mei 30

Mengimplementasikan Prinsip Manajemen Fungsional

Mengimplementasikan Prinsip Manajemen Fungsional


Pendahuluan

Banyak perusahaan yang mengalami masalah dalam mengembangkan strategi manajemen. Dari beberapa masalah yang diidentifikasi bahwa perubahan budaya organisasi adalah sebagai penghalang utama penerapan strategi manajemen, antara lain lemahnya hubungan kerjasama pada tingkat fungsional (Plowman, 1990). Oleh karena itu strategi manajemen akan sangat tergantung pada budaya organisasi yang menimbulkan komitmen dari orang-orang dalam suatu organisasi. Untuk itu dapat diduga bahwa penerapannya akan mengalami masalah apabila tidak didukung oleh komitmen dari semua anggota organisasi untuk berubah.

Manajemen Klasik atau Fungsional

Menurut H. Koontz, Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan kegiatan anggota serta sumberdaya yang lain untuk mencapai sasaran organisasi (perusahaan) yang telah ditentukan.
Secara bahasa fungsional dapat diartikan sebagai suatu aspek yang ditinjau berdasarkan fungsinya. Maka dari itu peninjauan terhadap suatu aspek yang secara fungsional sama saja dengan meninjau aspek tersebut berdasarkan fungsinya.
Maka dari itu manajemen fungsional ialah sebuah proses merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan kegiatan anggota serta sumberdaya yang lain dengan melakukan peninjauan berdasarkan fungsi yang ada untuk mencapai tujuan dari organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.

Prinsip Manajemen Klasik

Adapun beberapa prinsip manajemen klasik yang penting di antaranya adalah seperti yang diuraikan berikut ini.

• Departementalisasi dan Spesialisasi
Seperti telah disinggung, latar belakang pemikiran manajemen klasik adalah keinginan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam suatu usaha. Salah satu upaya untuk maksud tersebut adalah dengan membagi atau mengelompokkan kegiatan sejenis ke dalam satu wadah atau departemen. Oleh karenanya, struktur organisasi dalam manajemen klasik disusun sesuai tujuan tersebut.
• Struktur Piramida
Organisasi disusun menurut struktur piramida vertikal yang berfungsi sebagai kesatuan yang terpadu. Struktur ini mengandung pengertian bahwa ukuran besar kecilnya kompetensi sebanding dengan tinggi rendahnya tingkatan di lapisan yang berjenjang dari organisasi tersebut. Dengan demikian, keputusan-keputusan dan arus kegiatan perusahaan mengalir turunnaiksesuai hierarki. Tanggungjawab serta wewenang untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya diberikan kepada mereka sesuai dengan posisi di jenjang hierarki.
• Otoritas dan Rantai Komando
Pola otoritas (wewenang) mengikuti komando vertikal, mengalir dari jenjang teratas sampai urutan terbawah. Bawahan menerima perintah dari dan melapor kepada hanya satu atasan. Bila bawahan harus melapor kelebih dari satu atasan, maka akan timbul kebingungan.
• Pengambilan Keputusan dan Disiplin
Dalam hal pengambilan keputusan, titik berat diarahkan untuk membina pejabat eksekutif agar dapat diserahi tanggung jawab dalam mengambil keputusan. Pembinaan tersebut dilakukan melalui seleksi yang ketat, pendidikan dan pelatihan, termasuk penugasan diberbagai bidang agar mengetahui operasi dan macam-macam masalah yang dihadapi di dalam perusahaan secara menyeluruh. Semua pihak dalam organisasi berkewajiban menghormati peraturan yang telah dibuat. Disiplin akan tumbuh dari hasil kepemimpinan yang baik, termasuk perhatian atas keinginan subordinat dan adanya penalti bila terjadi pelanggaran.
• Lini dan Staf
Struktur organisasi manajemen klasik membedakan lini dan staf. Pejabat lini membuat keputusan-keputusan sesuai dengan wewenangnya, sedangkan anggota staf memberikan nasihat hasil dari pemikiran dan pengalamannya. Anggota staf tidak mempunyai wewenang mengeluarkan perintah kepada pejabat lini. Umumnya anggota staf berurusan dengan kegiatan yang bersifat keahlian atau spesialis.
• Hubungan Atasan-Bawahan
Dengan pembagian otoritas yang berjenjang dan jalur pelaporan satu arah, maka hal ini berarti keberhasilan kegiatan tergantung pada hubungan antara atasan dengan bawahan. Bila hubungan formal tersebut terjalin secara sehat, maka potensi tercapainya sasaran perusahaan menjadi besar. Keleluasaan ruang gerak bagi bawahan untuk mengembangkan inisiatif dan menciptakan suasana tumbuhnya semangat kerja sama perlu mendapatkan perhatian dari pimpinan.
• Arus Kegiatan Horisontal
Hubungan yang membuka arus kegiatan horisontal dalam manajemen klasik terselenggara dalam berbagai bentuk, seperti rapat koordinasi antar departemen, pembentukan komite, dan panitia untuk membicarakan dan membagi pekerjaan yang sifatnya memerlukan koordinasi yang intensif. Jadi, dalam hal ini tidak dalam bentuk institusi resmi dalam struktur organisasi.
• Kriteria Keberhasilan dan Tujuan Tunggal
Manajemen klasik cenderung memberikan tekanan pada tujuan tunggal, misalnya keuntungan perusahaan. Perkembangan dunia usaha dewasa ini menuntut agar disamping tujuan mencapai keuntungan, perlu diperhatikan pula faktor-faktor lain.



Studi Kasus

PT Teijin Indonesia Fiber Corporation Tbk


Salah satu contoh dari organisasi fungsional adalah PT TIFICO Tbk. PT Teijin Indonesia Fiber Corporation Tbk adalah perusahaan dengan status PMA (penanaman modal asing), yaitu gabungan antara perusahaan suwasta Jepang (Teijin Limited) dengan perusahaan swasta nasional. Dengan melakukan pemilihan serta penentuan struktur organisasi yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi dalam perusahaan maka pencapian tujuan perusahan akan lebih terarah. Selain itu denga struktur organisasi yang jelas dan baik maka akan dapat diketahui sampai dimana wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki oleh seseorang dalam menjalankan tugasnya. Dalam menjalankan aktivitas usahanya, P.T. TIFICO Tbk menerapkan struktur organisasi fungsional dimana organisasi menrut fungsi menyatukan semua orang yang terlibat dalam satu aktivitas yang disebut fungsi dalam satu group. P.T. TIFICIO Tbk mempunyai empat group yaitu group administrasi ( Administrasi Group ), group produksi ( Production Group ), group machinery ( Machinery Group ), ISO 9002 & 14000 Project.

Daftar Pustaka

- Iqbal, 2010. Peranan Manajemen Fungsional dalam Implementasi Strategi. Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako Palu. Sulawesi Tengah.
- Gaos, 2011. Proyek Dan Manajemen Fungsional. Bahan Ajar 2. Mata Kuliah Manajemen Proyek. UIKA Bogor.
Didalam : https://www.slideshare.net/shifa1995/2-bama2proyekdanmanajemenfungsionalokt09
https://maxdy1412.wordpress.com/2010/04/16/contoh-struktur-organisasi-p-t-tifico-tbk/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar