Rabu, Mei 8

PENGARUH POLA PIKIR, PEMAHAMAN DAN NETWORK TERHADAP MINAT MAHASISWA UNTUK BERWIRAUSAHA







ABSTRAK

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi kausalitas. Sampel penelitian ini sebanyak 30 orang mahasiswa FEB Universitas Telkom. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling dengan menggunakan teknik sampling isidental. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuesioner data karakteristik responden, pola pikir, pemahaman, network dan minat berwirausaha.

Hasil uji statistik pada mahasiswa FEB berdasarkan uji R menunjukkan hubungan yang kuat dan positif antara pola pikir, pemahaman dan network terhadap minat

berwirausaha. Sementara hasil uji annova pada mahasiswa FEB diketahui bahwa F hitung lebih besar dari Ftabel dan sig F menunjukkan signifikan sehingga Ho ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti bahwa secara simultan pola pikir, pemahaman dan network

berpengaruh terhadap minat berwirausaha. Berdasarkan uji t pada mahasiswa FEB, secara parsial implementasi tidak berpengaruh secara signifikan

Disarankan untuk program MOVE YPT agar lebih memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pola pikir, pemahaman dan network sehingga minat berwirausaha dapat ditingkatkan.


Kata kunci: pola pikir, pemahaman, network, minat berwirausaha


1. Pendahuluan

Wacana mengenai wirausaha sempat menggeliat pada tahun 90an dengan usungan program pemerintah yang bernama Gerakan Nasional Memasyarakatkan Kewirausahaan (GMNK). Setelah itu, pemerintah mulai giat juga mendorong pertumbuhan kewirausahaan khususnya melalui program-program yang dibuat oleh kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Belakangan ini, pembahasan mengenai kewirausahaan makin marak terutama karena banyak wirausaha-wirausaha sukses ikut berusaha untuk berpartisipasi dalam bentuk pendidikan maupun mentoring langsung ke calon wirausaha. Bisa diperhatikan kiprah dari Ciputra, Bob Sadino, Sandiaga Uno, dan lainnya yang memang sudah terkenal dalam keberhasilannya membangun bisnis (Wirausaha, 2011).

Hingga kini jumlah wirausaha di Indonesia hanya 570.339 orang atau 0,24 persen dari jumlah penduduk yang sebanyak 237,64 juta orang. Padahal untuk jadi bangsa maju, dibutuhkan wirausaha minimal 2 % dari jumlah penduduk. Untuk itu pemerintah meminta 214 perusahaan multinasional yang berasal dari negara–negara anggota Asia Pacific Economic Coorporation (APEC) untuk berpartisipasi dalam pengembangan wirausaha kreatif dan Usaha Kecil Menengah (UKM) dari dana Corporate social Responsibillity (CSR). Deputi Menko Perekonomian Bidang Peniagaan dan kewirausahaan mengatakan 214 perusahaan yang diminta bergabung dalam mengembangkan wirausaha kreatif dan UKM adalah perusahaan yang berskala internasional yang telah beroperasi di Indonesia (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, 2013).

Sejak tahun 2009 Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah meluncurkan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) untuk dilaksanakan dan dikembangkan oleh perguruan tinggi. Program tersebut dilaksanakan di seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan di beberapa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) hasil diseleksi Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) dengan alokasi dana yang berbeda-beda. PMW bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap atau jiwa wirausaha (entrepreneurship) berbasis Ipteks kepada para mahasiswa agar dapat mengubah pola pikir (mindset) dari pencari kerja (job seeker) menjadi pencipta lapangan pekerjaan (job creator) serta menjadi pengusaha yang tangguh dan sukses menghadapi persaingan global. Dalam rangka keberlanjutan, program ini juga bertujuan mendorong kelembagaan pada perguruan tinggi yang dapat mendukung pengembangan program-program kewirausahaan. Sebagai hasil akhir, diharapkan terjadinya penurunan angka pengangguran lulusan pendidikan tinggi (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

Pola pikir sebagai pencari kerja mau tidak mau harus segera diakhiri dan mengubahnya menjadi penyedia lapangan pekerjaan. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Perubahan pola pikir harus di mulai dari bangku pendidikan. Sudah saatnya kewirausahaan harus menjadi pilihan karir bagi setiap mahasiswa. Hal ini perlu ditanamkan selama mereka mengikuti pendidikan di perguruan tinggi. Pola pikir untuk menjadi karyawan harus segera dikurangi dan digantikan dengan bagaimana mereka dapat memulai membuka usaha setelah menyelesaikan kuliah. Hal ini perlu mendapat respon dari berbagai pihak. Tidak mudah mengubah pola pikir hanya dalam jangka waktu singkat yaitu selama mereka menjalankan pendidikan saja. Disamping itu, perubahan pola pikir ini bukan saja menjadi tanggung jawab pendidikan tinggi semata. Pihak lain juga ikut terlibat agar hal ini dapat berhasil seperti peran pemerintah, para pengusaha, orang tua dan pihak-pihak terkait lainnya (Universitas Muria Kudus, 2012)

Banyak anggapan bahwa berwirausaha adalah accident, tidak dapat dipelajari dalam sebuah institusi formal. Anggapan tersebut kurang tepat mengingat pendidikan formal merupakan tempat di mana manusia dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya secara maksimal karena lingkungan mendukung hal tersebut. Dalam hal ini universitas berperan penting, dalam memajukan kewirausahaan di Indonesia karena disitulah tempat membangun karakter wirausaha (Mien R. Uno Foundation, 2011).

Pihak perguruan tinggi perlu menerapkan pola pembelajaran kewirausahaan yang kongkrit berdasar masukan empiris untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan yang bermakna agar dapat mendorong semangat mahasiswa untuk berwirausaha. Hal ini dapat memicu para mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi tersebut menularkan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah dan seremoni kesuksesan yang telah terjadi para mereka kepada masyarakat sekitarnya (Universitas Sumatera Utara, 2013)

Menteri Koperasi Usaha Kecil Menengah (UKM) Republik Indonesia menyatakan bahwa kesadaran mahasiswa untuk berwirausaha sangat penting, sebab kesadaran itu akan berimbas baik terhadap kemajuan perekonomian Indonesia. Hal yang paling terpenting bagi mahasiswa adalah harus bisa merubah mindset dari mencari pekerjaaan menjadi pencipta lapangan pekerjaan (Fakultas Syariah Iain Walisongo Semarang, 2013).

Oleh karena itu Universitas Telkom yang salah satu fakultasnya bergerak di bidang manajemen, dimana memiliki tujuan menghasilkan lulusan yang memiliki jiwa serta bekal yang mumpuni untuk menjadi seorang wirausaha, mengadakan program MOVE (Modal Ventura) yang


bertujuan untuk memberikan bantuan modal bagi mahasiswa yang ingin memulai berwirausaha atau mengembangkan bisnis yang sudah dijalankan sebelumnya dan juga untuk menimbulkan kemauan di benak mahasiswa agar mempunyai keberanian untuk memulai suatu bisnis. Program ini telah menyelesaikan gelombang pertama dan menghasilkan tujuh unit rintisan bisnis dari mahasiswa FEB yang sekarang ini telah bergabung dan diberikan modal untuk menjalankan bisnis mereka. Tujuh unit rintisan bisnis yang telah terpilih pada gelombang pertama ini antara lain Street Pasta, Badrun Junior, Mama Clean, Efdi Denim, D’gojis, Mr. Tako, 13th Shoes. Mereka telah melewati seleksi dan survei sehingga mereka dapat terpilih.

Mereka yang terpilih tentu mereka yang telah memiliki konsep, model bisnis, dan pengelolaan bisnis yang baik. Untuk menjadi seorang entrepreneur yang baik dan sukses tentu tidak hanya membutuhkan kemampuan dan kreatifitas saja, seorang entrepreneur dituntut untuk memiliki wawasan yang luas dan kemampuan dalam hal tata kelola yang baik yang akan membantu dikemudian hari dalam membangun bisnis baru atau pengembangan bisnis yang telah dijalankannya. Salah satu kemampuan tata kelola yang harus dimiliki oleh seorang entrepereneur adalah kemampuan dalam hal penerapan model bisnis yang tentu saja menjadi konsep dasar dalam pengembangan suatu bisnis. Demikian profil dari tujuh unit bisnis yang tergabung dalam program MOVE (Modal Ventura) FEB yang akan menjadi responden dalam penelitian ini.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a.       Bagaimana program MOVE YPT mempengaruhi pola pikir dan pemahaman mahasiswa berwirausaha?
b.      Bagaimana network yang dibentuk mahasiswa?
c.       Seberapa besar pengaruh pola pikir, pemahaman dan network secara simultan terhadap menarik minat mahasiswa untuk berwirausaha?
d.      Seberapa besar pengaruh pola pikir, pemahaman dan network secara parsial terhadap menarik minat mahasiswa untuk berwirausaha?
e.                   Faktor apakah yang paling dominan mempengaruhi minat mahasiswa untuk berwirausaha?
Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.         Untuk mengetahui bagaimana program MOVE YPT mempengaruhi secara pola pikir dan pemahaman mahasiswa berwirausaha.
b.      Untuk mengetahui network yang dibentuk mahasiswa.
c.       Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pola pikir, pemahaman dan network secara simultan terhadap menarik minat mahasiswa untuk berwirausaha.
d.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pola pikir, pemahaman dan network secara parsial terhadap menarik minat mahasiswa untuk berwirausaha.
e.       Untuk mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi minat mahasiswa untuk berwirausaha.

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Konsep Dasar Wirausaha
Istilah kewirausahaan merupakan padanan kata dari entrepreneurship dalam bahasa inggris. Kata entrepreneurship sendiri sebenarnya berawal dari bahasa Prancis yaitu ‘entreprende’ yang berarti petualang, pencipta, dan pengelola usaha. Istilah ini diperkenalkan oleh Rihard Cantillon pertama kali pada tahun 1755. (Ernie, 2010:12)

Begitu banyak para ahli mendefinisikan wirausaha dalam beragam arti, salah satunya menurut Hamdani (2010:43) wirausaha adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usaha atau bisnisnya serta dia bebas merancang, menentukan, mengelola, dan mengendalikan semua usahanya. Sedangkan menurut Wahyudi (2012:25) semua definisi tentang entrepreneur memiliki persamaan yaitu entrepreneur selalu memiliki cara kreatif untuk memanfaatkan sumber daya yang terbatas untuk hasil yang maksimal.

Menurut Schumpeter (Suryana, 2008:13) wirausaha tidak selalu berdagang atau manajer, tetapi seorang unik yang memiliki keberanian dalam mengambil risiko dan memperkenalkan produk-produk inovatif serta teknologi baru ke dalam perekonomian.

Maka dari semua teori diatas dapat disimpulkan bahwa wirausaha ada orang yang memiliki ide unik dan kreatif dengan memanfaatkan segala sumber daya yang terbatas, lalu berani mengambil risiko untuk mencoba memperkenalkan ciptaan atau produk baru tersebut untuk masuk ke dalam perekonomian dengan harapan mendapat hasil yang maksimal.


2.2 Kewirausahaan

Kewirausahaan (entrepreneurship) adalah suatu sikap, jiwa, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, bernilai, dan berguna bagi dirinya dan orang lain (Hamdani 2010:43). Menurut Suryana (2008:2) definisi dari kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses.

Dan sejalan dengan perkembangan konsep kewirausahaan definisi kewirausahaan menjadi lebih luas, hal ini dikemukakan oleh Hisrich (Suryana, 2008:13) yang mengatakan bahwa kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda untuk menghasilkan nilai dengan mencurahkan waktu dan usaha, diikuti penggunaan uang, fisik, risiko, dan kemudian menghasilkan balas jasa berupa uang serta kepuasan dan kebebasan pribadi.

Dari semua teori yang telah dijabarkan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bernilai, dari ide kreatif serta sumber daya baik waktu dan uang, diikuti dengan risiko untuk mencapai kepuasan dan kebebasan.

2.3 Karakteristik Wirausahawan
Para ahli mengemukakan karakteristik wirausahawan dengan konsep yang berbeda-beda. Scarborough dan Zimmerer (Suryana, 2008:24), mengemukakan delapan karakteristik wirausaha sebagai berikut :

a.       Desire for responsibility, yaitu rasa memiliki tanggung jawab usaha-usaha yang dilakukannya. Seseorang yang memiliki rasa tanggung jawab akan selalu mawas diri.

b.      Preference for moderate risk, yaitu lebih memilih risiko yang moderat, artinya selalu menghindari risiko, baik yang terlalu rendah maupun yang terlalu tinggi.
c.       Confidence in their ability to succes, yaitu memiliki kepercayaan diri untuk meraih kesuksesan.
d.      Desire for immediate feedback, yaitu selalu menghendaki umpan balik dengan segera.
e.       High level of energy, yaitu memiliki semangat dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.
f.        Future orientation, yaitu berorientasi serta memiliki perspektif dan wawasan jauh ke depan.
g.      Skill of organizing, yaitu memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan seumber daya untuk menghasilkan nilai tambah.

h.      Value of achievement over money, yaitu lebih menghargai prestasi daripada uang.

Sedangkan Frederick (Wijatno, 2009:22) mengatakan terdapat 17 karakteristik yang melekat pada diri wirausahawan. Karakteristik tersebut sebagai berikut :

a.       Komitmen total, determinasi dan keuletan hati: Mereka yang memiliki komitmen total dan determinasi untuk maju sehingga dapat mengatasi berbagai hambatan.
b.      Dorongan kuat untuk berprestasi: Orang yang berani memulai sendiri, tidak bergantung pada orang lain, yang digerakkan oleh keinginan kuat untuk berkompetisi, melampaui standar yang ada dan mencapai sasaran.

c.       Berorientasi pada kesempatan dan tujuan: Memulai usaha dari peluang, memanfaatkan sumber daya yang ada serta menerapkan struktur dan strategi secara tepat.
d.      Inisiatif dan tanggung jawab: Pribadi yang independen, bergantung pada dirinya sendiri dan secara aktif mengambil inisiatif.

e.       Pengambilan keputusan yang persisten: Tidak mudah terintimidasi oleh situasi yang sulit.
f.        Mencari umpan balik: Mereka memiliki keinginan kuat untuk mengetahui bagaimana mereka bertindak dengan benar dan memperbaiki kinerjanya.
g.      Internal locus of control: Mereka tidak percaya bahwa keberhasilan dan kegagalan dipengaruhi oleh takdir, keberuntungan dan kekuatan serupa lainnya. Mereka percaya bahwa pencapaian yang diperoleh merupakan hasil pengendalian dan pengaruh diri.

h.      Toleransi terhadap ambiguitas: Entrepreneur selalu menghadapi kondisi ketidakpastian. Dan entrepreneur dengan toleransi yang tinggi terhadap ambiguitas akan menanggapi kondisi tersebut dengan upaya-upaya terbaik untuk mengatasinya.

i.        Pengambilan risiko yang terkalkulasi: Ketika terlibat dalam suatu bisnis, mereka telah memperhitungkan dengan pemikiran yang matang.

j.        Integritas dan reliabilitas: Karakteristik ini merupakan kunci kesuksesan relasi anatara pribadi dan bisnis yang membuat entrepreneur dapat bertahan lama.

k.      Toleransi terhadap kegagalan: mereka terus menccari kesempatan karena mereka menyadari bahwa banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kegagalan daripada keberhasilan.
l.        Energi tingkat tinggi: Entrepreneur sering menghadapi beban kerja yang berat dan tingkat stres yang tinggi. Entrepreneur selalu memiliki energi tinggi untuk menghadapinya.
m.    Kreatif dan inovatif: Kreatifitas dapat dan dilatih serta merupakan kunci sukses dalam struktur ekonomi masa kini.


n.      Visi: Mengetahui arah bisnis yang akan dijalani.

o.      Independen: Meninginkan kebebasan dalam mengembangkan bisnis.
p.      Percaya diri dan optimis: Selalu percaya diri dan optimis bahwa mereka dapat mengatasi berbagai kesulitan yang menghadang.
q.      Membangun tim: entrepreneur yang sukses membutuhkan tim yang handal yang dapat menangani pertumbuhan dan perkembangan usaha.

Demikian  banyak  karakteristik  kewirausahaan  yang  perlu  dimiliki seorang wirausahawan.

Namun, untuk menjadi seorang wirausahawan tidaklah harus memiliki seluruhnya, dengan memiliki sebagian dari karakteristik tersebut pun cukup.

2.4 Proses Kewirausahawan
Menurut Hisrich (Wijatno, 2009: 11) seorang entrepreneur harus mencari, mengevaluasi, dan mengembangkan peluang dengan mengatasi kekuatan-kekuatan yang menghalangi proses kreasi sesuatu yang baru. Proses tersebut mencakup empat fase, seperti yang akan disajikan pada Gambar 2.1






Identifikasi dan evaluasi

peluang



Pengembangan rencana

bisnis



Penentuan sumber daya

yang dibutuhkan



Pengelolaan perusahaan

yang dibentuk

Gambar 2.1

Proses Entrepreneurial

Sumber: Hisrich (Wijatno, 12:2009)

Fase pertama adalah identifikasi dan evaluasi peluang. Fase ini merupakan fase yang tersulit karena peluang bisnis yang bagus tidak muncul begitu saja namun merupakan kejelian entrepreneur terhadap lingkungannya. Peluang ini kemudian perlu dievaluasi. Kegiatan evaluasi merupakan elemen paling kritis dalam proses entrepreneurial karena melalui kegiatan ini entrepreneur dapat menilai apakah produk tertentu akan memberikan hasil yang memadai dibandingkan dengan seumber daya yang diperlukan. Peluang ini juga harus sesuai dengan keterampilan personal dan tujuan seorang entrepreneur.

Fase kedua adalah mengembangkan rencana bisnis dalam rangka memanfaatkan peluang dan menetapkan sumber daya yang diperlukan, dan mengelola dengan baik usaha yang terbentuk.

Fase ketiga adalah menentukan sumber daya yang diperlukan dalam rangka memanfaatkan peluang yang ada, kemudian berusaha memperoleh sumber daya yang diperlukan.

Fase keempat adalah mengevaluasi usaha yang terbentuk. Setelah memperoleh sumber daya, entrepreneur menggunakan sumber daya ini untuk mengeimplementasikan rencana bisnisnya.

2.5 Pola Pikir Kewirausahaan
Pola pikir kewirausahaan menggambarkan cara berpikir inovatif dan energik yang memanfaatkan peluang dan bertindak untuk mewujudkan peluang tersebut (Romli, 2013).

Seperti diungkapkan       oleh              Ahimsa-Putra       (Fernandez, 2008)        dalam, pola     pikir            adalah


pengetahuan suatu masyarakat yang isinya antara lain klasifikasiklasifikasi, aturan-aturan, prinsip-prinsip yang sebagaimana dinyatakan melalui bahasa.

Seorang wirausaha dicirikan oleh jiwa yang dimilikinya yang dikembangkan melalui kegiatan praktis berwirausaha dan kemauan keras untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui berbagai kegiatan. Dalam memulai usaha dibutuhkan dua faktor penting, yang pertama skill dan yang kedua adalah mindset entrepreneur (Sari, 2013).
Menurut Sihombing (2012) jiwa kewirausahaan adalah mendorong suksesnya seseorang terutama pada era globalisasi dan informasi karena kriteria yang dibutuhkan oleh pasar adalah para lulusan perguruan tinggi yang memiliki jiwa kewirausahaan.Krisis ekonomi menyebabkan jumlah lapangan kerja tidak tumbuh bahkan berkurang karena gulung tikar.

Hal ini menuntut para lulusan perguruan tinggi tidak hanya mampu berperan sebagai pencari kerja tetapi juga harus mampu berperan sebagai pencipta lapangan pekerjaan, Pengusaha memiliki banyak kesamaan dengan sifat karakter pemimpin dan seringkali dikontraskan dengan manajer dan administrator yang lebih methodical dan kurang mengambil resiko. Kemampuan seorang Pengusaha memiliki kepribadian untuk menanggung resiko, mengambil inisiatif, menciptakan visi, dan mengerahkan orang lain untuk mengikuti arahan tidak mudah dipelajari ataupun mendapatkannya untuk mendapatkan kemampuan– kemampuan tersebut seorang pengusaha harus memiliki jiwa kewirausahaan

Pada dasarnya pembentukan jiwa kewirausaha-an dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Beberapa faktor internal yang berasal dari dalam diri wirausahawan menurut Suranto (2012: 4):

a.       Memiliki kemampuan menulis dengan baik
b.      Kesadaran wirausaha
c.       Semangat berwirausaha
d.      Menggali kelebihan dan menutupi kekurangan dirinya
e.       Memiliki jaringan usaha dan membangun akses pada pihak lain
f.        Memiliki mental mandiri
g.      Kreatif dan inovatif
h.      Percaya diri
i.        Ulet dan tekun
j.        Tidak mudah menyerah
Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri pelaku entrepreneur menurut Priyanto (Suharti & Sirine, 2011) dapat berupa:

a.       Lingkungan keluarga.
b.      Lingkungan dunia usaha.
c.       Lingkungan fisik.
d.      Lingkungan sosial ekonomi.
2.6 Pemahaman Kewirausahaan
Menurut Mcnight (Wahyuningsih dan Qamari, 2011) seseorang dikatakan mampu, karena mempunyai dua konsep dasar, yaitu memiliki pengetahuan (knowledge) dan kecakapan (skill). Arti dari pengetahuan adalah pemahaman sampai pada kesadaran pikiran manusia terhadap objek tertentu. Sedangkan kecakapan adalah kemampuan seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain dalam sebuah struktur organisasi yang sama. Artinya, kecakapan adalah perwujudan dari konsep pengetahuan yang dimilikinya dan merupakan tampilan proses dalam bentuk pelaksanaan.

Secara teori diyakini bahwa pembekalan pendidikan dan pengalaman kewirausahaan pada seseorang sejak usia dini dapat meningkatkan potensi seseorang untuk menjadi wirausahawan.
Beberapa faktor internal kewirausahaan yang dipengaruhi oleh pendidikan dalam pemberian mata kuliah entrepreneurship dalam bentuk kuliah umum, ataupun dalam bentuk konsentrasi program studi antara lain Hisrich (Alma, 2007: 8):

a.       Mengerti apa peranan perusahaan dalam sistem perekonomian.
b.      Keuntungan dan kelemahan berbagai bentuk perusahaan.
c.       Mengetahui karakteristik dan proses kewirausahaan.
d.      Mengerti perencanaan produk dan proses pengembangan produk.
e.       Mampu mengidentifikasi peluang bisnis dan menciptakan kreativitas serta membentuk organisasi kerjasama.
f.        Mampu mengidentifikasi dan mencari sumber-sumber.
g.      Mengerti dasar-dasar: marketing, financial, organisai, produksi.
h.      Mampu memimpin bisnis, menghadapi tantangan masa depan.


Pendidikan formal dan pengalaman bisnis kecil-kecilan yang dimiliki seseorang dapat menjadi potensi utama untuk menjadi wirausaha yang berhasil (Alma, 2007: 7).

2.7 Network (Jejaring) Kewirausahaan
Kemampuan ikatan jejaring (network ties) menghubungkan para pelaku dengan berbagai usaha misal partner usaha, teman, agen, mentor untuk mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan misalnya informasi, uang, dukungan moral para pelaku jejaring (Susilowati & Taufan, 2013)
Beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi jejaring wirausaha:
a.       Jejaring sosial atau hubungan baik dengan famili, teman, kenalan sehingga mendapatkan informasi dan dukungan.
b.      Jejaring pendukung misal agen-agen, perbankan, pemerintah, perguruan tinggi, litmas.
c.       Jejaring antar perusahaan.

Minat merupakan aspek psikologis untuk menaruh perhatian yang tinggi terhadap kegiatan tertentu dan menjadi faktor pendorong untuk mencapai tujuan.

Minat berwirausaha adalah kecenderungan untuk tertarik dan menyenangi terhadap aktivitas yang dipilihnya sehingga invidu akan menaruh perhatian yang lebih besar dan akan lebih giat melakukan aktivitas yang dipilihnya tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada dengan bekal kemandirian, kreatif, inovatif, keuletan, dan keberanian.
Beberapa faktor internal, yaitu faktor yang bersumber dari dalam individu itu sendiri menurut
Adi Susanto (Mahesa & Rahardja, 2012), yang meliputi:
a.       Keinginan merasakan pekerjaan bebas
b.      Keberhasilan diri yang dicapai
c.       Toleransi akan adanya risiko.
Sedangkan faktor-faktor eksternal menurut Crow & Crow (Pamungkas, 2007),, yaitu faktor yang bersumber dari luar individu meliputi:

a.       Jenis kelamin
b.      Usia
c.       Tingkat pendidikan

Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 dalam Kasmir (2012:281) mendefinikan Perusahaan Modal Ventura sebagai “Badan usaha yang melakukan suatu pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan.”

Kasmir (2012:280) menyatakan bahwa modal ventura adalah “perusahaan modal ventura yang berani melakukan investasi di mana investasi tersebut mengandung suatu risiko tinggi.” Risiko tinggi dalam melakukan investasi ini di putuskan dengan berbagai pertimbangan, hal ini sesuai dengan maksud dan tujuan didirikannya perusahaan modal ventura yaitu untuk melakukan penyertaan modal dalam suatu usaha yang mengandung risiko tinggi. Meskipun risiko yang dihadapi tinggi, perusahaan ventura mengharapkan keuntungan yang tinggi juga dari kegiataan penyertaan modal ini berupa capital gain atau deviden dari perusahaan pasangan usaha (PPU) atau investee company.

Modal ventura merupakan lembaga keuangan lain yang berbeda dengan lembaga keuangan bank. Perbedaan tersebut terlihat dari cara penyertaan dalam pembiayaan suatu usaha atau perusahaan. Jika bank hanya melakukan pembiayaan tanpa terlibat langsung dan masuk ke dalam usaha atau perusahaan yang dibiayai, sedangkan modal ventura memberikan pembiayaan dengan penyertaan langsung ke dalam usaha atau perusahaan yang dibiayai. Selain perbedaan mendasar tersebut. Kasmir (2012:281) menjelaskan bahwa kegaitan modal ventura memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:

1.         Kegiatan yang dilakukan bersifat penyertaan langsung ke suatu perusahaan.
2.         Penyertaan dalam perusahaan bersifat jangka panjang dan biasanya diatas tiga tahun.
3.         Bisnis yang dimasuki merupakan bisnis yang memiliki risiko tinggi.
4.         Keuntungan yang diperoleh berasal dari capital gain, deviden atau bagi hasil tergantung dari penyertaan modalnya di bidang jenis yang diinginkan.
5.         Kegiatannya lebih banyak dilakukan dalam usaha pembentukan usaha baru atau pengembangan suatu usaha.

Keputusan untuk berinvestasi dan melakukan penyertaan dalam suatu usaha yang memiliki
risiko tinggi dilakukan oleh perusahaan modal ventura dengan penuh pertimbangan, meski dalam suatu investasi yang mengandung risiko tinggi, akan mengakibatkan tingginya tingkat kerugian yang akan dialami. Tetapi hal ini sejalan dengan tujuan utama didirikannya perusahaan modal ventura, yaitu untuk membiayai suatu usaha yang mengandung risiko tinggi (Kasmir 2012:283).

Secara garis besar maksud dan tujuan pendirian modal ventura antara lain sebagai berikut:
a.         Pengembangan suatu proyek, contohnya proyek penenlitian yang lebih bersifat untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tanpa memikirkan adaya keuntungan.
b.         Pengembangan suatu teknologi atau produk baru. Pembiayaan untuk usaha ini akan memperoleh keuntungan dalam jangka panjang.
c.         Pengambilalihan kepemilikan suatu perusahaan yang lebih banyak diarahkan untuk mencari keuntungan.

d.         Kemitraan yang bertujuan unutk membantu para pengusaha yang lemah modal dan kesulitan dalam memperoleh pinjaman karena tidak adanya jaminan materil.

e.         Pengalihan teknologi dari yang lama ke teknologi baru yang akan meningkatkan kapasitas produksi dan mutu produk suatu perusahaan.
f.          membantu perusahaan yang mengalami kekurangan likuiditas
g.         Membantu pendirian perusahaan baru, dimana tingkat risiko kerugiannya sangat tinggi.
Dalam kegiatan kerjasama penyertaan modal berisiko tinggi ini, baik perusahaan modal ventura maupun perusahaan pasangan usaha (PPU) sama- sama menginginkan adanya keuntungan dan berbagai manfaat. Kasmir (2012:284) menjelaskan keuntungan yang akan diperoleh oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam kegiatan modal ventura adalah sebagai berikut.

1.         Bagi perusahaan modal ventura
a.    Memperoleh keuntungan berupa deviden dari penyertaan modal dalam bentuk saham.
b.   Memperoleh keuntungan berupa capital gain dari selisih antara transaksi penjualan dan pembelian surat-surat berharga (saham).

c.    Memperoleh keuntungan berupa bagi hasil untuk usaha tertentu sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
2.         Bagi perusahaan pasangan usaha (PPU)
a.    Membantu penambahan modal bagi usaha yang mengalami kekurangan modal.
b.   Pengalihan teknologi dari yang lama ke teknoogi baru sehingga dapat membantu dalam peningkatan kapastas produksi dan mutu produk.
c.    Membantu pengembangan usaha melalui perluasan pasar dan diversivikasi usaha.
d.                  Mengurangi risiko kerugian karena risiko ditanggung bersama

Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran digunakan untuk menggambarkan gejala secara abstrak, contohnya seperti kejadian, keadaan, dan kelompok sehingga diharapkan peneliti mampu memformulasikan pemikirannya kedalam konsep secara jelas dalam kaitannya dengan penyederhanaan beberapa masalah yang berkaitan satu dengan yang lainnya (Sarwono, 2006: 9).

Dalam membuat suatu penelitian tentunya kita harus mengetahui kerangka pemikiran yang menggambarkan secara jelas pemikiran yang telah digambarkan ke dalam konsep yang lebih sederhana untuk lebih memahami inti dari masalah dalam penelitian. Berikut adalah kerangka pemikiran dari penelitian ini :




















3. Pembahasan

4. Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan pada responden terdiri dari 100 responden yang merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Telkom. Hasil pengolahan data yang telah dilakukan dapat menjawab empat rumusan masalah yang telah ditetapkan dalam penelitian ini sehingga mampu menghasilkan kesimpulan :

1.      Program MOVE mempengaruhi pola pikir mahasiswa berwirausaha melalui wawasan yang lebih terbuka setelah mengenal program MOVE. Hal ini menjadi faktor yang terbesar dan memiliki kontribusi terbesar dalam membentuk pola pikir mahasiswa berwirausaha yang baik. Sementara itu, Program MOVE mempengaruhi pemahaman mahasiswa berwirausaha melalui mengetahui proses menjalankan wirausaha. Hal ini menjadi faktor yang terbesar dan memiliki kontribusi terbesar dalam membentuk pemahaman mahasiswa berwirausaha yang baik.

2.      Network mahasiswa dalam berwirausaha dibentuk melalui hubungan sosial dengan teman diluar kampus. Menjalin hubungan sosial dengan teman diluar kampus dapat menunjang usaha yang akan dijalankan mahasiswa.
3.      Pola pikir, pemahaman dan network secara simultan berpengaruh untuk menarik minat mahasiswa berwirausaha. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis jalur yang menunjukkan bahwa pengaruh total terhadap Minat Wirausaha yang meliputi variabel Pola Pikir, Pemahaman, dan Network adalah sebesar 48.96%.

4.      Pola pikir, pemahaman dan network secara parsial berpengaruh untuk menarik minat mahasiswa berwirausaha. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis jalur yang menunjukkan bahwa pengaruh total variabel Pola Pikir terhadap Minat Wirausaha adalah sebesar 20.44%, pengaruh total variabel Pemahaman terhadap Minat Wirausaha adalah sebesar 19.05%, dan pengaruh total variabel Network terhadap Minat Wirausaha adalah sebesar 9.47%.

5.      Faktor yang paling dominan mempengaruhi minat mahasiswa untuk berwirausaha adalah pola pikir mahasiswa dalam berwirausaha. Hal ini dibuktikan dengan kontribusi Pola Pikir terhadap Minat Wirausaha adalah sebesar 20.44% dari 48.96% total pengaruh yang ada terhadap variabel


1)      Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pikir, pemahaman dan network memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat berwirausaha, hal ini berarti pola pikir, pemahaman dan network dapat menurunkan juga meningkatkan minat berwirausaha. Jadi penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi program MOVE YPT untuk lebih memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pola pikir, pemahaman dan network sehingga minat berwirausaha dapat ditingkatkan.

2)      Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis memberi beberapa saran perbaikan untuk meningkatkan minat berwirausaha guna menjadikan program MOVE YPT menjadi lebih baik lagi

a.       Untuk meningkatkan pola pikir
Program MOVE YPT dapat meningkatkan pola pikir untuk minat berwirausaha dengan memasukkan informasi akan program MOVE melalui mata kuliah Entrepreneurship, sehingga mahasiswa pun akan lebih mengetahui akan adanya program yang menunjang minat mahasiswa di kampus mereka dimana program tersebut dapat memberikan gambaran yang dapat meningkatkan pola pikir mereka akan dunia entrepreneur.

b.      Untuk meningkatkan pemahaman


Program MOVE YPT dapat meningkatkan pemahaman untuk minat berwirausaha dengan cara menambah program baru pada MOVE YPT yaitu bukan lagi untuk pengembangan bisnis, melainkan mengajak mahasiswa yang bahkan belum memiliki bisnis apapun, cukup sebuah ide bisnis, dengan diberi arahan melalui kegiatan praktek usaha , sehingga akan meningkatkan pula peluang tumbuhnya entrepreneur baru.
c.       Untuk meningkatkan network

Program MOVE YPT dapat meningkatkan network untuk minat berwirausaha dengan mengadakan gathering dengan program-program bantuan permodalan lain yang ada di kota Bandung, guna bertukar pikiran, ide dan network pun lebih terbentuk luas.


                                                  
                                                     Daftar Pustaka
Alma, Buchari. (2008). Kewirausahaan untuk Mahasiswa dan Umum. Bandung: Alfabeta. Fakultas Syariah Iain Walisongo Semarang. (2013). Menteri Koperasi Motivasi Mahasiswa Berwirausaha. [Online]. Tersedia: http://fsei.walisongo.ac.id/?p=355 [24 September 2013]

Hamdani . (2010). Entrepreneurship: Kiat Melihat & Memberdayakan Potensi Bisnis. Yogyakarta:

Starbooks.

Inggarwati, Komala dan Kaudin, Arnold. (2010). Peranan Faktor-Faktor Individual Dalam Mengembangkan Usaha, 3(2), 185-202. Diambil dari Jurnal Manajemen Bisnis.

Kasmir. (2012). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya (Edisi Revisi, Cetakan Ke-11). Jakarta:

Rajawali Pers.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Pedoman Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) Tahun 2013. [Online]. Tersedia: http://www.dikti.go.id/?p=8303 [26 Februari 2013]

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2013). Kembangkan Wirausaha,

214      Perusahaan    Multinasional    Diminta     Berpartisipasi.    [Online].      Tersedia:

http://www.ekon.go.id/berita/view/kembangkan-wirausaha-214.220.html#.Uuogv81Y73E [16 September 2013]

Mien R. Uno Foundation. (2011). Menciptakan Lingkungan Kewirausahaan di Kampus. [Online]. Tersedia: http://mruf.org/menciptakan-lingkungan-kewirausahaan-di-kampus/ [28 Oktober 2011]

Narbuko, Cholid dan Achmadi, Abu (2009). Metodologi Penelitian (Cetakan Ke-10). Jakarta: Bumi Aksara.

Sarwono, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sekaran, Uma. (2006). Metodologi Penelitian Untuk Bisnis 1 (4th Ed). Jakarta: Salemba Empat. Sekaran, Uma. (2011). Research Methods for Business (Metode Penelitian Untuk Bisnis) Buku 1 Edisi 4. Jakarta: Salemba Empat.

Shell Indonesia. (2013). Shell LiveWIRE Business Start-up Awards 2013. [Online]. Tersedia: http://www.shell.co.id/id/aboutshell/media-centre/news-and-media-releases/2013/shell-livewire-bsa-2013.html [5 Desember 2013]

Sinarasri dan Hanum. (2012). Pengaruh Mata Kuliah Entrepreneurship Terhadap Motivasi Berwirausaha.

Sugiyono.           (2007). Metode    Penelitian  Pendidikan:                Pendekatan   Kuantitatif,  Kualitatif               dan      R&D.

Bandung: Afabeta.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.

Suryana. (2008). Kewirausahaan, Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses (Edisi 3). Jakarta:

Salemba Empat.

Wahyudi, Sandy. (2012). Entrepreneurial Branding dan Selling; Road Map Menjadi Entrepreneur

Sejati. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wijatno, Serian. (2009). Pengantar Entrepreneurship. Wirusaha-net. (2011). Perkembangan Kewirausahaan di Indonesia. [Online]. http://wirausaha.net/startup/3027-perkembangan-kewirausahaan-di-indonesia.html [24 Maret 2011] Wirausaha Mandiri. (2007). Latar Belakang. [Online]. Tersedia: http://wirausahamandiri.co.id/tentang-latar-belakang-13.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar