Kamis, Oktober 17

PENGEMBANGAN PRODUK PESAWAT DALAM NEGERI CN235 PT-DI (DIRGANTARA INDONESIA)


PENGEMBANGAN PRODUK PESAWAT DALAM NEGERI
CN235 PT-DI (DIRGANTARA INDONESIA)
Oleh 
LUKMAN WIBISONO (@P38-LUKMAN) 

Indonesia adalah Negara kepulauan yang sangat besar dan luas, dan termasuk Negara Kepulauan Terbesar di Dunia. Di dalam Negara Kepulauan yang besar ini juga banyak SDM yang sangat bagus untuk Industri KeDirgantaraan Nasional. Indonesia adalah Negara satu-satunya di Asia Tenggara yang mampu memproduksi Pesawat Terbang.
Awal mula keterlibatan Bangsa Indonesia dalam Industri Dirgantara adalah saat Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda. Pada era pemerintah kolonial Belanda, tidak ada program desain pesawat terbang, melainkan mereka melakukan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pembuatan lisensi, evaluasi teknis dan keselamatan untuk semua pesawat yang beroperasi di seluruh Indonesia. Pada tahun 1914, Bagian Uji Terbang (Bagian Uji Terbang) didirikan di Surabaya dengan tugas untuk mempelajari kinerja penerbangan pesawat di wilayah tropis.
Kemudian pada tahun 1930, diikuti oleh pembentukan Bagian Produksi Pesawat (Bagian Pembuatan Pesawat Udara) yang menghasilkan pesawat AVRO-AL Kanada, dimana badan pesawat yang dimodifikasi terbuat dari kayu lokal. Fasilitas manufaktur ini kemudian dipindahkan ke Lapangan Udara Andir atau Lapangan Terbang Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara).



Pada tahun 1937, delapan tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, dari permintaan pengusaha lokal dan beberapa pemuda Indonesia, yang dipimpin oleh Tossin membangun pesawat terbang di sebuah bengkel yang berlokasi di Jl. Pasirkaliki, Bandung. Mereka menamakannya pesawat PK. KKH. Pesawat ini pernah mengejutkan dunia penerbangan saat itu karena kemampuannya yang dapat terbang ke Belanda, Tiongkok dan sebaliknya. Sebelum ini, sekitar tahun 1922, Indonesia bahkan telah terlibat dalam modifikasi pesawat di rumah pribadi di Jl. Cikapundung, Bandung.
Pada tahun 1938, atas permintaan LW. Walraven dan MV. Patist - desainer PK. KKH - pesawat kecil dibangun di bengkel di Jl. Kebon Kawung, Bandung.
ERA KEMERDEKAAN
Pada tahun 1946, Biro Perencanaan & Konstruksi didirikan di TRI-Udara atau Angkatan Udara Indonesia (sekarang disebut TNI-AU). Disponsori oleh Wiweko Supono, Nurtanio Pringgoadisurjo, dan Sumarsono, sebuah lokakarya yang khusus didirikan di Magetan, dekat Madiun, Jawa Timur. Dari bahan sederhana sejumlah Zogling, pesawat ringan NWG-1 pun dibuat. Kemudian pada tahun 1948 mereka berhasil membuat mesin pesawat pertama, ditenagai oleh mesin Harley Davidson, yang disebut WEL-X. Dirancang oleh Wiweko Supono, pesawat itu kemudian dikenal sebagai RI-X
. 
Era ini ditandai dengan munculnya sejumlah klub aeromodelling yang menyebabkan lahirnya pelopor teknologi penerbangan, bernama Nurtanio Pringgoadisuryo. Tetapi mereka harus menghentikan kegiatan ini karena Pemberontakan Madiun komunis dan agresi Belanda.
Pada periode ini kegiatan penerbangan dilakukan sebagai bagian dari revolusi fisik untuk kebebasan nasional. Pesawat yang tersedia disini dimodifikasi untuk misi tempur. Agustinus Adisutjipto adalah sosok yang paling luar biasa dalam periode ini, yang merancang dan menguji terbang sebuah pesawat serta menerbangkannya dalam pertempuran udara. Pada tahun 1953 kegiatan ini dilembagakan menjadi Seksi Percobaan (Bagian Percobaan). Dikelola oleh 15 anggota, yang berada di bawah pengawasan Komando Depot Perawatan Teknik Udara, dipimpin oleh Mayor Udara Nurtanio Pringgoadisurjo.
Berdasarkan desain Nurtanio, pada 1 Agustus 1954, bagian tersebut berhasil menerbangkan prototipe 'Si Kumbang', sebuah pesawat yang terbuat dari full logam dengan satu tempat duduk dan dibuat sebanyak tiga unit.

UPAYA MEMBANGUN INDUSTRI PESAWAT
Lima faktor utama yang mengarah pada pendirian IPTN adalah: Ada beberapa orang Indonesia yang sejak lama bermimpi untuk membangun pesawat terbang dan mendirikan industri pesawat terbang di Indonesia; beberapa orang Indonesia yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun pesawat terbang dan industri pesawat terbang; beberapa orang Indonesia selain menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan, mereka juga sangat berdedikasi untuk memanfaatkan keahlian mereka untuk pendirian industri pesawat terbang; beberapa orang Indonesia yang ahli dalam pemasaran dan penjualan pesawat terbang untuk lingkup nasional dan internasional; kemauan politik dari Pemerintah yang berkuasa.
Semuanya dimulai oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, seorang pria yang lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia lulus dari Aachen Technical High Learning, Departemen Konstruksi Pesawat, dan kemudian bekerja di MBB (Masserschmitt Bolkow Blohm), sebuah industri pesawat terbang di Jerman sejak 1965. Segera Habibie membentuk tim sukarela. Dan pada awal 1970 tim dikirim ke Jerman untuk mulai bekerja dan mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang penerbangan di HFB / MBB, tempat Habibie bekerja, untuk melaksanakan perencanaan awal mereka.

Ketika ia akan mendapatkan gelar doktornya pada tahun 1964, ia memiliki keinginan kuat untuk kembali ke negaranya untuk berpartisipasi dalam program pembangunan Indonesia di bidang industri penerbangan. Pada bulan September 1974, ATTP menandatangani perjanjian dasar untuk kerjasama lisensi dengan MBB, Jerman dan CASA, Spanyol untuk produksi helikopter BO-105 dan pesawat sayap tetap NC-212.

Selama 24 tahun terakhir pendiriannya, IPTN telah berhasil mentransfer teknologi penerbangan yang canggih dan mutakhir, sebagian besar dari belahan bumi barat, ke Indonesia. IPTN telah menguasai desain pesawat, pengembangan, dan manufaktur komuter regional kecil hingga menengah.




CN-235 PRODUCT DEVELOPMENT

·         Strategi Pengembangan Produk Baru
Pengembangan produk baru CN235 ini adalah Joint-Venture dengan perusahan dirgantara asal Spanyol CASA. Research & Development dilakukan bersama sama PT-DI & CASA dengan kesepakatan Transfer Teknologi.

·         Penciptaan Ide
Ide penciptaan produk ini awalnya adalah keperluan Angkut Militer. Namun banyaknya peminat pesawat ini menginginkan fungsinya menjadi Pesawat Komersial.

·         Pengembangan dan Pengujian Konsep
Pengembangan Desain produk ini dimulai pada tahun 1980. Prototype pertama pesawat ini diproduksi oleh CASA dengan nama “Elena” terbang pada November 1983. Dan prototype kedua bernama “Tetuko” yang di produksi oleh IPTN (Sekarang PT-DI) terbang pada Desember 1983.

·         Pengembangan Strategi Pemasaran
Produksi massal pada tahun 1986, untuk 10-100 versi. PT-DI sudah memproduksi lebih dari 220 versi untuk di Impor ke luar negeri. Sedangkan CASA sudah memproduksi lebih dari 330 versi. Pemasaran Produk ini kebanyakan ke Negara Asia & Afrika. Karena di Eropa sudah ada CASA.

·         Pengembangan Produk
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya PT-DI sudah memproduksi lebih dari 220 versi untuk di Impor ke luar negeri. Produk utamanya adalah :
o   CN235-220 untuk Sipil
o   CN235-220 untuk Militer Transport
o   CN235-220 untuk Misi Spesial
Belakangan ini juga ada rumor PT-DI akan menambahkan fiture gunships untuk CN235.


DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar