Jumat, Maret 27

Start Empathy Business

Dwi Setia Budi
41618110096
@R22-DWI

Design thinking adalah proses yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan masalah melalui produk, layanan atau alat pembantu lainnya. Dalam prosesnya desainer, berupaya untuk mengumpulkan informasi, menggagas ide dan akhirnya menguji produk. Kendati demikian, rentetan langkah tersebut tidak harus  dilaksanakan secaara linear atau berurutan.
Perusahaan, baik startup maupun korporasi, tengah menghadapi masalah multisektoral yang merupakan imbas dari model bisnis yang semakin kompleks, ekspansi yang terus-menerus, serta ekosistem bisnis yang semakin besar. Hal itu menuntut solusi multidimensi dan memerlukan lebih dari sekadar produk dan jasa yang ada saat ini.
Di sinilah design thinking memiliki peran. Dengan menerapkan kerangka kerja itu, organisasi tidak hanya dapat mengatasi masalah-masalah bisnis sehari-hari, melainkan juga memperoleh keunggulan kompetitif. Bagaimana pun juga, perusahaan harus terus berinovasi untuk tetap tumbuh dan profit.
Ada 5 bagian dalam design thinking

1. Empati adalah fondasi awal dari proses design thinking. Menempatkan diri dalam pikiran khalayak dan memahami hal itu secara sepenuhnya akan membantu desainer untuk membuat produk yang secara akurat dapat mengatasi permasalahan mereka.
Melalui empati, desainer dapat mengumpulkan informasi sebelum menciptakan produk. Dengan demikian, desainer dapat mengidentifikasi permasalahan yang ia coba selesaikan melalui desain yang berpusat pada kebutuhan pelanggan dan mengesampingkan asumsi dirinya atau perusahaan yang ia wakili.
Dalam empati ini kita bisa melakukan 3 bagian empaty
-Observe
 Adalah cara dalam mengamati perilaku user dan cara mereka berinteraksi dengan lingkungannya agar dapat memahami hal apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh mereka.
-Engage
adalah cara untuk terlibat secara langsung dengan user, seperti turut serta dalam membantu mengungkapkan cara berpikir dan nilai yang mereka pegang.
-Immerse
 merupakan cara untuk merasakan situasi yang user rasakan. Dalam empathize, penting untuk memahami diri user dan hal apa yang penting bagi mereka.

2. Define
Informasi yang telah dikumpulkan pada fase empathize kemudian dianalisa untuk menentukan akar masalah dari khalayak yang ditargetkan. Desainer dan timnya akan menentukan elemen dari produk yang akan digunakan untuk meningkatkan efektivitasnya.
Fitur, fungsi dan komponen produk lainnya akan ditentukan pada fase ini. Proses ini penting dikarenakan desainer harus menentukan kesulitan apa yang akan diselesaikan oleh produk yang ditawarkan

3. Ideate
Pada fase ketiga ini, desainer telah memulai untuk menggagas dan membangun ide. Desainer telah mengerti apa yang diinginkan oleh khalayak dan menjadikannya landasan untuk mulai mendesain. Akar masalah yang telah secara mutlak ditetapkan memungkinkan desainer dan timnya untuk berpikir dengan leluasa dan bereksperimen.
Aktivitas pengumpulan dan pematangan ide seperti brainstorming, mindmapping dan sketching akan sering dilakukan pada fase ini. Desainer harus mengumpulkan ide sebanyak mungkin di awal fase dan kemudian mengujinya untuk mengetahui cara penyelesaian masalah yang paling efektif.

4. Prototype
Desain versi produk yang lebih murah dan sederhana dihasilkan pada fase ini. Prototype produk berguna untuk mengetahui bagaimana konsumen merespon produk, menemukan solusi baru untuk menyelesaikan masalah dan apakah metode penyelesaian masalah yang digunakan telah berhasil.
Cara yang sering digunakan untuk mengetahui bahwa produk yang diciptakan sudah mampu untuk menyelesaikan masalah yang dimiliki oleh konsumen adalah mengujinya kepada para konsumen. Desainer tidak harus menyediakan produk final untuk diuji kepada konsumen, namun mereka hanya perlu menggunakan versi yang lebih simpel.  Kendati demikian, produk prototype tersebut harus dapat menimbulkan reaksi yang bisa menjadi patokan untuk produk final yang akan dipasarkan.

5. Test
Meskipun test seringkali dianggap sebagai fase akhir dari proses design thinking, namun patut diingat aktivitas ini tidak harus dilaksanakan secara linear. Test bisa dilakukan kapan saja dalam proses design thinking, bahkan sejak tahap empathize. Hal ini mungkin akan membingungkan bagi desainer pemula yang belum terbiasa, namun tujuan yang jelas dari sebuah desain akan membantu untuk memberikan arahan dalam bekerja.
Melakukan pengujian produk tidak sesederhana melihat sekumpulan orang menggunakan produk. Terdapat bebarapa variabel dalam menentukan tingkat kesuksesan sebuah produk diantaranya kualitas prototype atau produk final, tingkat pengertian pengguna dalam pengoperasian produk, interaksi spontan antara pengguna dan produk dan bagaimana desainer mengambil umpan balik dari penggunaan produk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar