Rabu, Oktober 20

BUSINESS MODEL CANVAS BAGI WIRAUSAHA SOSIAL DI SEKTOR UKM

Oleh : Bayoe Aditya Dwi Prasetya (@S09-BAYOE)

PENDAHULUAN   

Untuk mendukung kegiatan Social entrepreneurship dibutuhkan tools yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan aktifitas operasional usahanya. Business Model Canvas (BMC). Business Model Canvas sebagai alat untuk membantu melihat lebih akurat bagaimana bentuk usaha yang sedang atau akan dijalani.

Atau dengan kata lain BMC adalah bentuk gambaran yang sederhana dan mudah dimengerti untuk menggambarkan sebuah bisnis secara menyeluruh. Sektor usaha yang banyak dilakukan UKM diantaranya usaha kuliner, fashion (pakaian, kain), furniture dan usaha perdagangan kecil (warung tradisional). Jumlah tenaga kerja yang digunakan masih relatif kecil tetapi hal ini harus menjadi tantangan bagi stakeholder khususnya Social entrepreneurship untuk membantu keberlangsungan UKM. Di sisi lain jumlah  Social entrepreneurship relatif masih minim dan keberadaan yang mudah ditemui adalah Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Kondisi ini menunjukkan perlu dilakukan pembinaan dan pendampingan agar UKM dapat berkembang dan menjadi pelaku Social entrepreneurship. Perumusan masalah adalah bagaimana social entrepreneur dapat mendukung ekonomi kreatif bagi UKM melalui business model canvas.                                                      

PEMBAHASAN

A. Busineness Model Canvas

Salah satu perangkat analisis yang bisa membantu kita menemukan model bisnis yang tepat adalah model bisnis kanvas. Model bisnis yang satu ini pertama kali diperkenalkan oleh Alexander Osterwalder dalam bukunya yang berjudul Business Model Generation (Alexander Osterwalder, Yves Pigneur, 2010). Dalam buku tersebut, Alexander mencoba menjelaskan sebuah framework sederhana untuk mempresentasikan elemen-elemen penting yang terdapat dalam sebuah model bisnis.

Bisnis Model Kanvas adalah salah satu alat untuk membantu melihat lebih akurat bagaimana rupa usaha yang sedang atau akan dijalankan. Berikut ini adalah komponen dari Business Model Canvas (BMC).

a)      Customer Segments (segmen pelanggan) yaitu menjelaskan siapa saja target-target pelanggan. Apakah memang untuk pasar masal, pasar tertentu yang tersegmentasi, pasar yang bersifat lebih khusus, atau yang seperti apa? Segmentasi dapat ditujukan kepada lebih dari satu pelanggan. Mendeskripsikan segmen pelanggan akan menentukan apa produk dan jasa yang nantinya akan diberikan kepada pelanggan. 

b)      Value proposition (nilai yang ditawarkan) yaitu keseluruhan gambaran produk atau jasa yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan para customer, manfaat yang ditawarkan kepada segmen pasar yang dilayani. Nilai-nilai tambah apa saja yang bisa diberikan terkait untuk membantu pelanggan memenuhi kebutuhannya.

c)      Channels (saluran) yaitu  bagaimana cara agar produk, jasa, dan nilai tambah yang kita ciptakan ini disadari, dibeli, dan sampai ke tangan customer sesuai dengan apa yang kita janjikan. Channels merupakan sarana bagi organisasi untuk menyampaikan value proposition kepada customer segment yang dilayani. Channels berfungsi dalam beberapa tahapan mulai dari kesadaran pelanggan sampai ke pelayanan purna jual.

d)  Revenue stream (aliran pendapatan) yaitu penjelasan tentang apa saja hal-hal yang membuat bisnis mendapatkan pemasukan dari para pelanggannya.

e)      Customer Relationship (hubungan dengan pelanggan) yaitu menjaga hubungan atau menjalin ikatan dengan pelanggan agar pelanggan merasa nyaman dan dekat.

f)       Key Activities (aktivitas utama) yaitu aktivitas atau proses kunci yang ada di bisnis tersebut. Merupakan kegiatan utama untuk dapat menjalankan atau menciptakan value proposition.

g)      Key Resources (sumber daya utama) yaitu sumber daya kunci atau utama yang diperlukan dalam menciptakan nilai tambah bagi para pelanggan, sumber daya yang miliki yang digunakan untuk mewujudkan value proposition. Sumber daya umumnya berwujud manusia, teknologi, peralatan,channel maupun brand. 

h)      Key Partners (partner utama) yaitu berhubungan dengan supplier,distributor, atau partner dalam hal lain.

i)        Cost structure (struktur pembiayaan) yaitu penjelasan mengenai struktur-struktur biaya yang terlibat dan dikeluarkan dalam bisnis, baik itu fixed andvariable cost, maintenance cost, operational cost dan sebagainya. Komposisi biaya untuk mengoperasikan organisasi mewujudkan value proposition yang diberikan kepada pelanggan. Struktur biaya yang efisien, menjadi kunci besarnya laba yang diperoleh.

B.Kewirausahaan sosial (Social Entrepreneurship)

Berdasarkan pengertiannya, kewirausahaan sosial (Social Entrepreneurship) merupakan sebuah istilah turunan dari kewirausahaan. Gabungan dari kedua kata, yaitu social yang artinya kemasyarakatan dan entrepreneurship yang artinya kewirausahaan. Pengertian kewirausahaan sosial menurut (Gerald G. Smale, Graham Tuson, Daphne Statham, Jo Campling, 2000) :“Social entrepreneurship is ability to initiate, lead and carry though problem-solving and an understanding that all resource all locations are really stewardship investment”.(dalam handout Dialog Interaktif Membangun Ekonomi Rakyat Melalui Inovasi Kewirausahaan Sosial, 2008). Artinya kewirausahaan sosial adalah kemampuan untuk menggagas, memimpin dan melaksanakan strategi pemecahan masalah, melalui kerja sama dengan orang lain dalam semua jenis jaringan sosial. 

C.    Persaingan Bisnis UKM

Sektor UKM tidak luput dari persaingan bisnis yang kompetitif, cepat berubah, dan kondisi ini semakin sulit untuk perusahaan terutama untuk membuat keputusan bisnis. Sektor bisnis UKM akan berhadapan dengan informasi baru tentang teknologi informasi, siklus hidup produk yang lebih pendek, pasar global, dan persaingan ketat. Sektor bisnis UKM juga harus mengelola lingkungan, saluran distribusi, rantai pasok, implementasi TI yang mahal, kemitraan strategis, dan fleksibel untuk berkreasi dengan perubahan pasar.  Untuk mendukung persaingan tersebut, Sektor usaha UKM dapat menerapkan model bisnis berbasis sosial. Ada beberapa manfaat dengan menerapkan model bisnis berbasis sosial. Pertama, terkait dengan komponen-komponen yang ada pada model bisnis kanvas, model bisnis kanvas memudahkan para perencana dan pengambil keputusan untuk melihat hubungan logis antara komponen-komponen dalam bisnis sosialnya, sehingga akan memberikan nilai bagi pelanggan dan perusahaan. Kedua, model bisnis kanvas dapat digunakan untuk menguji konsistensi hubungan antar komponen. Ketiga, model bisnis kanvas dapat digunakan untuk mengevaluasi semua elemen yang terlibat didalamnya. Keempat, model bisnis kanvas bersifat fleksibel bilamana terjadi perubahan-perubahan baik dari sisi internal maupun eksternal. 


D. Pengembangan Wirausaha sosial

Untuk memotivasi sektor bisnis UKM, perlu dilakukan kompetisi agar menjadi mandiri dan terus memiliki ide kreatif. Kewirausahan sosial sebagai pihak yang memiliki kompetensi serta pengalaman dibidang usaha sosial dapat menjadi pelopor dalam mengadakan kompetisi usaha sosial. Tujuan dari kompetisi ini adalah mengidentifikasi dan mendukung wirausahawan sosial potensial yang memiliki ide cemerlang untuk membantu mengembangkan potensi masyarakat. Bisnis usaha UKM yang memiliki ide-ide brilian untuk membuat dan mengelola wirausaha sosial perlu dibantu dan didampingi agar tetap berkreasi. Wirausaha sosial diidentifikasi melalui proses seleksi kompetisi akan mendapat kesempatan peningkatan kapasitas dan jaringan, termasuk kesempatan untuk memenangkan dana awal untuk mendukung pembentukan dan pertumbuhan usaha sosial mereka.  Kompetisi ini dirancang untuk mengidentifikasi dan mendukung wirausahawan sosial untuk menginspirasi generasi pembuat perubahan yang potensial. Selain diadakan kompetisi, perlu juga dilakukan peningkatan keterampilan untuk wirausahan sosial (Skills for social entrepreneurs/SSE). Pembelajaran dilakukan dengan menyediakan pelatihan keterampilan dan pendampingan profesional bagi  para calon dan praktisi wirausaha, termasuk akses terhadap keahlian dari lembaga yang memiliki pengalaman dibidang kewirausahaan sosial. social entrepreneurs  juga diikutsertakan dalam jaringan rekan global, dan peluang pendanaan yang memungkinkan mereka untuk membangun usaha sosial yang sukses. Tujuan diberikan keterampilan untuk Wirausahawan Sosial (SSE) adalah mendukung organisasi dalam bidang wirausaha sosial dengan menggunakan pendekatan bisnis untuk memenuhi kebutuhan sosial dan lingkungan dengan demikian memberikan dampak positif di komunitas mereka.


Kesimpulan

Dari hasil uraian diatas dapat disimpulkan sektor bisnis UKM di kota Palembang memiliki peluang untuk menjadi social entrepreneur, hal terlihat adanya dukungan social entrepreneuship terhadap keberadaan UKM. Ekonomi kreatif dapat menjadi pilihan bagi UKM dalam mengembangkan usahanya menuju social entrepreneuship. Pengembangan sektor UKM akan menjadi lebih optimal bilamana UKM dibekali bagaimana membuat Business Model Canvas, sebagai landasan dalam menjalankan usahanya. Saran yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas social entrepreneuship, dapat dilakukan kompetisi untuk memperoleh bantuan pendanaan serta diberikan pelatihan dan pendampingan secara berkesinambungan. Kemitraan dengan masyarakat sangat penting sebagai indikator keberhasilan dalam menumbuhkan kemandirian dimasyarakat serta mengurangi tingkat ketergantungan terhadap pemerintah. 

 

 

REFERENSI

Sartono, A. (2008). Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Yogyakarta: BPFE

Dees, J. G. (2001). The Meaning of "Social Entrepreneurship. North Carolina, United States: Duke University’s Fuqua School of Business.

Gerald G. Smale, Graham Tuson, Daphne Statham, Jo Campling. (2000). Social Work and Social Problems: Working Towards Social Inclusion and Social Change. Basingstoke, Great Britain: Palgrave Macmillan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.