Rabu, November 24

PERENCANAAN EKSPOR PRODUK MAKANAN YANG EFEKTIF BAGI UKM OLEH PUTRI AULIYA (@S18-PUTRI)

PERENCANAAN EKSPOR PRODUK MAKANAN YANG EFEKTIF BAGI UKM OLEH PUTRI AULIYA (@S18-PUTRI)

I.  PENDAHULUAN

Sekitar 50% industri UKM di Indonesia adalah di bidang makanan (termasuk minuman). Namun sangat disayangkan bahwa pada 10 produk ekspor non-migas terbesar Indonesia dari 2014-2018, tidak ada satupun produk makanan. Mengapa ini bisa terjadi? Mungkin inilah yang menyebabkan rendahnya kontribusi ekspor UKM Indonesia. Fakta di atas menunjukkan banyaknya kegagalan yang dialami eksportir produk makanan Indonesia. Aneh sekali, padahal negara kita itu sungguh kaya pada bidang pertanian dan perikanan. Oleh karena itu, dibutuhkan perencanaan ekspor yang matang sehingga UKM mampu mengembangkan strategi dengan tepat. Terdapat empat langkah yang bisa dilakukan untuk merencanakan ekspor produk makanan. Metode ini dikemukakan oleh penulis berdasarkan studi literatur dan best practice beserta hasil riset bersama para diaspora dan eksportir Indonesia di bidang usaha makanan. Berikut ini adalah langkah-langkah perencanaan ekspor produk makanan yang sebaiknya dilakukan.


II.  PEMBAHASAN




1.  Pemilihan Produk Ekspor

Pertama-tama, sahabat UKM sebaiknya memilih produk makanan yang tepat untuk diekspor. Terdapat berbagai faktor yang dapat membantu dalam pemilihan produk. Faktor ini harus dipertimbangkan dari sisi eksternal (kondisi pasar) maupun internal (kondisi produksi). Sebetulnya Indonesia memiliki banyak sekali produk makanan yang populer, tapi sayangnya banyak yang belum dikenal oleh pasar ekspor. Kemampuan traceability (sistem lacak asal) produk Indonesia yang rendah juga mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap produk.


A.  Evaluasi Persepsi terhadap Produk

Ini penting untuk diketahui bagaimana persepsi masyarakat global terhadap produk makanan kita. Apakah produk makanan kita cukup populer? Lalu apakah produk makanan kita dipercaya?

 

B. Evaluasi Permintaan dan Kebutuhan Pasar Ekspor

Sahabat UKM perlu untuk mengetahui bagaimana tingkat permintaan dan kebutuhan saat ini terhadap produk makanan kita di pasar ekspor. Penting untuk kita memilih produk yang banyak dikonsumsi oleh pasar ekspor, dan bukan yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Contohnya, banyak yang menganggap sambal adalah produk yang potensial untuk diekspor. Namun sayangnya kebanyakan produk sambal Indonesia hanyalah dikonsumsi oleh masyarakat diaspora Indonesia di pasar ekspor.

 

C. Evaluasi Hambatan Ekspor

Lalu, penting juga untuk melihat tingkat substitusi dari produk makanan kita. Pilihlah produk makanan yang hanya tidak banyak pesaing dengan jenis yang sama serta hanya bisa diproduksi di Indonesia. Jika memang banyak yang sama, alternatifnya kita harus lihat dari kualitas rasa. Banyak produk makanan Indonesia yang diakui kualitas rasanya tidak mampu dikalahkan oleh produksi negara pesaing. Sudah jelas bahwa tarif ekspor bisa sangat menghambat ekspor, sehingga pilihlah produk yang disubsidi tarifnya dari perjanjian perdagangan bebas. Untuk yang selain tarif, sebetulnya banyak sekali faktor yang bisa menghambat. Ditemukan bahwa ketersediaan perantara untuk produk yang dipilih cukup untuk dapat menjangkau pasar ekspor, misalnya dengan ketersediaan distributor. Selain itu, produk makanan sangatlah rentan untuk rusak dan basi. Sehingga pilihlah jenis produk makanan yang bisa tahan lama, apalagi jika negara tujuan ekspornya jauh. Misalnya, kita bisa mengolah produknya dalam kaleng atau diproses kering.

 

D.  Evaluasi Kapasitas Produksi

Volume produksi ditemukan menjadi faktor penting untuk memilih produk. Dengan berlimpahnya volume produksi, maka ini akan meningkatkan daya saing produk di pasar ekspor. Banyak produk makanan yang diproduksi oleh Indonesia dalam jumlah tergolong terbesar di dunia. Akan tetapi, kita juga haruslah melihat tingkat konsumsi di Indonesia. Tidaklah tepat jika kita memilih produk yang konsumsinya begitu besar di dalam negeri. Misalnya adalah beras. Meskipun Indonesia adalah negara ketiga terbesar produsen beras, produksi beras kita masih besar tidak mampu memenuhi konsumsi dalam negeri. Setiap produk makanan memiliki berbagai jenis dan proses pengolahan. Contohnya ada kopi yang jenisnya Robusta dan Arabika. Lalu juga ada yang biji kopi mentah, biji kopi digongseng, atau diolah jadi bubuk kopi atau lainnya. Jadi pilih produk makanan dengan spesifik yang berpotensi di pasar ekspor, karena hal ini memudahkan dalam mencari HS Code produk ekspor tersebut, yang menentukan tarif dan kebijakan lainnya.

 

2.  Analisis Negara Tujuan Ekspor

Setelah memilih produk ekspor, pelaku usaha sebaiknya menganalisis negara tujuan ekspor. Ini dilakukan agar kita tidak salah dalam memilih target pasar dan dapat menentukan strategi dengan baik. Berikut hal-hal penting dalam melakukan analisis negara tujuan ekspor.

A. Analisis Potensi Pasar

Potensi pasar sangat penting dianalisis untuk dapat memprediksi tingkat permintaan terhadap produk ekspor kita. Terdapat beberapa faktor yang signifikan ditemukan untuk menganalisis potensi pasar,

  • Konsumsi: Kita harus mengetahui berapa besar tingkat konsumsi penduduk negara tujuan terhadap produk kita. Data ini bisa didapat dari beberapa riset pasar dari internet.
  • Re-Ekspor: Selain konsumsi, jangan lupa kita juga harus melihat bahwa beberapa negara mengimpor produk makanan untuk diekspor kembali (re-ekspor), seperti halnya Singapura dan Jerman. Jadi coba lihat potensi ini dari tingkat re-ekspor.
  • Tren Produk: Penting untuk melihat bagaimana tren yang terjadi terkait produk makanan kita. Misalnya, tren yang saat ini sedang berkembang adalah permintaan tinggi untuk produk organik di negara-negara maju. Kita bisa juga beradaptasi atau memodifikasi produk kita ini terhadap tren ini.
  • Popularitas: Dengan banyaknya pilihan produk makanan, akan lebih mudah jika jenis produk kita sudah diterima dengan baik di negara tujuan tersebut. Apalagi, jika masyarakatnya sudah percaya dengan kualitas rasa produk makanan dari Indonesia.
  • Transaksi Ekspor Aktual: Besarnya potensi pasar belum tentu baik untuk produk kita. Kita juga harus melihat berapa besar transaksi ekspor yang sudah dilakukan untuk jenis produk kita ke negara tujuan. Ini bisa dilihat dari data transaksi impor negara tujuan pada ITC Trade Map. Dengan ini, kita bisa menentukan berapa besar potensi pasar yang belum terealisasi pada negara tujuan.

Dengan menganalisis faktor-faktor ini maka kita bisa dengan mudah mengetahui berapa besar potensi pasar untuk ekspor produk kita ke negara tujuan, yang dikuantitatifkan dalam USD atau mata uang negara tujuan. Jika memang potensi pasar besar untuk produk kita, negara tujuan ini tepat untuk dipilih. Jika rekan-rekan bingung dalam mencari data-datanya, cara paling mudah adalah dengan menggunakan platform ITC Export Potential Map. Akan tetapi, sayangnya platform tersebut hanya bisa melihat potensi pasar hanya untuk sektor/kategori produk, tapi tidak untuk produk dengan spesifik. Jadi, analisis potensi pasar secara manual juga dibutuhkan jika memungkinkan untuk dilakukan.

 

B.  Analisis Daya Saing Pasar

Sangat ketatnya persaingan dalam ekspor produk makanan membutuhkan kita untuk berhati-hati. Ditemukan beberapa faktor yang penting untuk analisis daya saing pasar dalam ekspor produk makanan. Bandingkan faktor-faktor ini dengan para pesaing.

  • Kinerja Supply: Kebanyakan importir/pembeli produk makanan menekankan pentingnya kinerja supply dalam mencari eksportir. Ini bukan hanya mengenai volume produksi, tapi juga mengenai konsistensi dan kontinuitas. Karenanya, penting juga untuk kita memastikan kinerja produksi atau melakukan konsolidasi, lalu bandingkan dengan pesaing.
  • Keberagaman Jenis Produk: Banyak konsumen ingin mencoba jenis produk makanan yang baru. Indonesia sungguh kaya dalam pertanian dan pengolahan makanan. Jadi, ini bisa digunakan untuk meningkatkan daya saing pasar dengan membandingkan keberagaman jenis produk dengan pesaing.
  • Kualitas: Setiap konsumen produk makanan dimanapun selalu memprioritaskan kualitas, baik itu dari rasa, keamanan, konsistensi, maupun lainnya. Ini mengapa produk makanan Indonesia sering kalah persaingan di ekspor, karena kurang dalam hal manajemen kualitas. Maka dari itu, bandingkan kualitas pesaing.
  • Harga Ekspor: Produk makanan sangat sensitif dengan harga. Dengan banyaknya pesaing dengan produk yang sama, maka importir/pembeli akan selalu mencari harga yang lebih murah dari eksportir. Jadi, analisis apakah harga yang kita tawarkan lebih murah daripada pesaing.
  • Harga Ritel: Sebaiknya kita juga harus melihat perbandingan harga di level ritel, tidak hanya di level ekspor. Alasannya adalah karena banyak konsumen akhir yang tidak sensitif dengan harga, terutama untuk produk di segmen premium seperti produk specialty dan sustainable. Jika kita melihat tidak sensitifnya harga di level ritel untuk jenis produk kita dibandingkan pesaing, maka kita bisa memiliki daya saing untuk menawarkan harga lebih tinggi ke pembeli/importir. Dengan membandingkan faktor-faktor di atas dengan para pesaing, kita bisa mengetahui apakah produk makanan kita memiliki daya saing kuat di negara tujuan. Jika memang yakin bahwa memiliki daya saing tinggi, maka kita bisa memilih negara tujuan ekspor tersebut.

 

 

E.  Analisis Akses Pasar

Transaksi ekspor produk makanan membutuhkan ketersediaan jalur distribusi dan value chain yang sangat baik untuk memudahkan kita dalam mengakses pasar negara tujuan. Ditemukan beberapa faktor yang penting untuk menganalisis akses pasar.

  • Segmen Pasar Spesifik (Niche): Kita harus kenali karakteristik konsumen se-spesifik mungkin. Tidak hanya dari umur, pendapatan, geografis, tapi juga dari perilaku dan karakteristik spesifik lainnya yang terkait dengan konsumsi produk kita. Setelah mengenali ini dengan dalam, maka kita harus analisis apakah ditemukan profil segmen pasar spesifik ini dalam penduduk negara tujuan.
  • Importir Khusus (Specialized): Sulitnya untuk mendapatkan kerjasama dengan distributor konvensional dalam mengekspor produk makanan, mengharuskan kita untuk mencoba kerjasama dengan jenis importir lain. Ditemukan bahwa lebih mudah bagi UKM untuk mendapatkan kerjasama dengan distributor khusus atau industri khusus kecil asalkan produknya sesuai dengan spesifikasi khusus yang mereka butuhkan. Sehingga, penting untuk kita analisis kesesuaian produk kita dengan ketersediaan importir khusus di negara tujuan.
  • Pameran Dagang: Ditemukan bahwa pameran dagang masih menjadi jalur distribusi paling efektif dalam menembus pasar negara tujuan. Karenanya, kita sebaiknya menganalisis apakah kita memungkinkan untuk berpartisipasi dalam pameran dagang di negara tujuan.
  • Institusi Promosi Perdagangan: Dengan disediakannya ITPC dan Atase Perdagangan oleh pemerintah RI, diketahui bisa membantu secara signifikan eksportir dalam menembus pasar negara tujuan. Oleh karena itu, penting untuk kita cek apakah ada ITPC dan Atase Perdagangan di negara yang kita tuju. Selain itu, kita juga perlu melihat bahwa terdapat institusi promosi perdagangan yang disediakan oleh pemerintah negara tujuan untuk membantu ekspor negara-negara berkembang. Contohnya adalah CBI dari Belanda, SIPPO dari Swiss, IPD dari Jerman, TFO dari Kanada, dan banyak lainnya.
  • Asosiasi Bisnis: Ditemukan bahwa asosiasi bisnis mampu membantu menembus target pasar. Oleh karena itu, kita perlu cek apakah ada koneksi yang dimiliki oleh asosiasi bisnis yang dapat membantu kita untuk melakukan ekspor ke negara tujuan.
  • Diaspora: Koneksi diaspora ditemukan membantu eksportir dalam melakukan ekspor produk makanan. Diaspora mampu mempromosikan budaya makanan Indonesia ke negara luar. Karenanya, cek apakah di negara tujuan memiliki banyak diaspora. Sebaiknya juga targetkan wilayah/daerah yang konsentrasi diasporanya padat di target negara.
  • Platform Marketplace: Saat ini platform digital sudah terbukti mampu untuk membantu menemukan pembeli di negara tujuan ekspor tanpa harus mengikuti pameran dagang. Maka dari itu, perlu dianalisis apakah terdapat platform marketplace yang mampu mengakses pasar di negara tujuan. Contoh platform marketplace yang sangat populer adalah Alibaba dan Amazon.

 

3.  Penilaian Kesiapan Ekspor

Setelah kita sudah menganalisis negara tujuan ekspor dan sudah yakin untuk merencanakannya, sebaiknya sahabat UKM perlu menilai kesiapan ekspor ke negara tersebut. Penilaian ini terbagi dalam dua elemen, yaitu kesiapan standar produk dan kesiapan perusahaan.

 

A.  Penilaian Kesiapan Standar Produk

Standar produk merupakan hal terpenting dalam mengekspor. Meskipun produk kita memiliki nilai keunggulan tapi standarnya tidak memenuhi permintaan pembeli/importir, maka akan sulit untuk mendapatkan kerjasama ekspor. Kita sudah membahas sebelumnya bahwa standar ekspor dapat terbagi tiga, yaitu Standar Wajib Ekspor (Primer), Standar Umum Ekspor (Sekunder), dan Standar Khusus Ekspor (Tersier). Baca lagi yuk artikel-artikelnya jika belum paham. Nah disini juga ditemukan beberapa faktor terpenting dalam penilaian kesiapan standar produk, yang akan kita bahas pada produk makanan.

a.  Analisis Kontaminasi (termasuk Batas Pestisida): Eksportir haruslah melakukan Uji Laboratorium atau Sertifikat Analisis (COA) untuk dapat menunjukkan kesiapan dalam memenuhi ini. Terutama di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, standar ini sangatlah ketat. Jika produknya terkontaminasi tinggi, sahabat UKM harus merencanakan solusi untuk mengurangi tingkat kontaminasi kedepannya.

b. Kemasan dan Pelabelan: Setiap negara memiliki regulasi tersendiri pada kemasan dan pelabelan produk makanan baik itu untuk skala bulk atau ritel, untuk dapat lolos bea cukai. Jika kemasan dan pelabelannya belum mampu memenuhi standar, teman-teman harus merencanakan perbaikan kemasan dan pelabelan tersebut kedepannya.

c.  Sertifikasi Keamanan Makanan: Saat ini sertifikasi ini (seperti GMP, HACCP, ISO 22000, FFSC 22000, BRC Global Standards) bukan hanya bersifat standar umum bagi pembeli/importir. Beberapa negara bahkan sudah mewajibkan adanya sertifikasi HACCP bagi produk makananApakah sahabat UKM memiliki sertifikasi ini? Jika tidak, sahabat UKM masih berpotensi untuk memenuhi kedepannya jika sudah memiliki sertifikasi kehigienisan makanan lokal seperti CPPOB dan PIRT.

d.  Spesifikasi Umum Produk: Terdapat spesifikasi produk yang kebanyakan diminta dalam pasar ekspor (seperti ukuran, warna, kecacatan, kandungan, dll). Cek dari asosiasi bisnis atau dari eksportir yang berpengalaman untuk dapat mengetahuinya. Sebaiknya ada bukti dengan hasil uji lab atau mengirim sampel sehingga meyakinkan calon pembeli. Jika belum sesuai dengan spesifikasi ekspor, maka rencanakan untuk meningkatkan kualitas produk.

e.  Sertifikasi Sistem Manajemen: Terdapat beberapa sertifikasi sistem manajemen yang umumnya dibutuhkan oleh pembeli/importir produk makanan, seperti Manajemen Kualitas (ISO 9001) dan Manajemen Lingkungan (ISO 14001). Jika tidak memiliki sertifikasi ini, maka masih berpotensi jika mengaplikasikannya dan mengkomunikasikannya (bisa dalam company profile).

f.  Sertifikasi Khusus: Ini penting dimiliki untuk menjangkau segmen tertentu, seperti Organik, Fairtrade, Gluten Free, Vegan, dan lainnya. Jika tidak memiliki sertifikasi ini, maka masih berpotensi jika mengaplikasikannya dan mengkomunikasikannya (bisa dalam company profile).

g.  Spesifikasi Khusus Produk: Ini dibutuhkan ketika kita menjangkau segmen premium yang menginginkan produk makanan dengan kualitas dan keunikan tertinggi. Contohnya pada kopi specialty, teh specialty, rempah-rempah eksotik, buah super (superfruit), dan lainnya. Biasanya ini membutuhkan hasil penilaian dari penilai yang tersertifikasi untuk membuktikan spesifikasinya. Tanyakan langsung ke calon pembeli/importir untuk mengetahui lebih lanjut spesifikasi ini.


4. Penilaian Kesiapan Perusahaan

Kesiapan perusahaan menentukan apakah pelaku UKM bisa dalam melakukan ekspor langsung atau tidak. Jika kesiapan perusahaan kurang memadai, perusahaan tetap bisa melakukan ekspor namun secara tidak langsung, asalkan standar produknya siap. Berikut adalah faktor-faktor yang ditemukan penting untuk menilai kesiapan perusahaan.

A.  Motivasi & Komitmen: Dibutuhkan upaya keras untuk dapat menembus pasar negara tujuan ekspor, sehingga dibutuhkan 100% motivasi dan komitmen. Namun, apakah motivasi tersebut didasari dengan nilai keunggulan? Itu juga perlu diperhatikan. Jangan sampai motivasi yang dilakukan salah.

B.   Pengalaman dan Pengetahuan Ekspor: Untuk dapat melakukan ekspor langsung ke negara tujuan, diperlukan proses pembelajaran yang panjang. Setiap negara tujuan ekspor pasti memiliki regulasi dan birokrasi yang berbeda-beda. Jika hal ini belum siap, maka bisa direncanakan untuk mengikuti training ekspor ke wilayah negara tujuan yang dipilih.

C.   Bahasa dan Budaya: Setiap negara tujuan pun memiliki bahasa dan budaya yang beragam. Bahkan kebiasaan dan etika dalam berbisnis pun berbeda-beda. Jadi apakah sahabat UKM fasih dalam berbahasa yang dipakai di negara tujuan? Apakah sudah memahami budayanya? Jika tidak, manfaatkan rekan diaspora yang sudah memahami bahasa dan budaya untuk dapat mempelajarinya atau membantu dalam mengekspor.

D.   Koneksi (Networking): Kepercayaan biasanya sulit didapatkan dari pembeli/importir untuk produk makanan. Maka dari itu, koneksi penting untuk mempercepat kepercayaan untuk bekerjasama dengan pembeli/importir. Teman-teman masih berpotensi dengan mengikuti asosiasi atau komunitas terkait di negara tujuan. Tidak memiliki koneksi? Teman-teman masih berpotensi dengan mengikuti asosiasi atau komunitas terkait di negara tujuan. Alternatifnya, seringlah berpartisipasi dalam pameran dagang dan festival terkait untuk mengumpulkan koneksi yang dibutuhkan.

E.  Kapasitas Supply: Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, kinerja supply mempengaruhi daya saing dalam ekspor produk makanan. Pertama-tama, kita harus cek apakah ada kelebihan supply untuk dialokasikan ke negara tujuan ekspor. Selanjutnya, tanyakan kepada calon pembeli/importir berapa besar supply yang dibutuhkan. Pastikan bagi UKM untuk tidak menargetkan distributor yang berskala besar.

F.   Kontinuitas Supply: Tidak hanya masalah kapasitas, tapi pembeli/importir membutuhkan kepastian dalam supply kedepannya. Apakah bisa supply dengan jumlah yang konsisten? Apakah supply bisa dipenuhi jika kedepannya terdapat permintaan dalam jumlah lebih besar? Kesiapan ini perlu dipastikan dengan calon pembeli/importir.

G.   Kemampuan Keuangan: Operasional ekspor biasanya membutuhkan modal kerja yang cukup tinggi (tergantung dari kesepakatan incoterms). Sebaiknya disini dilakukan penghitungan matang mengenai modal kerja yang dibutuhkan, Bagi para pelaku usaha kecil yang tidak memiliki kemampuan keuangan yang besar, jangan khawatir. Cek apakah bisa untuk mendapatkan pembiayaan ekspor untuk selalu memenuhi operasional ekspor di negara tujuan.

 

Setelah kita menilai berbagai faktor di atas, kenalilah apakah ekspor langsung atau ekspor tidak langsung yang cocok untuk dilakukan sahabat UKM. Jika memang yakin untuk melakukan ekspor langsung, rencanakanlah sumber daya perusahaan untuk dapat melakukannya. Buatlah juga rencana aksi pada masing-masing sumber daya kedepannya.




Terdapat 8 elemen di BMC ini yang bisa diisi dari yang kita lakukan pada tiga langkah sebelumnya. Berikut adalah penjelasan elemennya:

a.  Negara Tujuan Ekspor: Untuk merencanakan negara mana saja untuk dapat dituju berdasarkan hasil analisis. Pastikan negara-negara tujuan yang dipilih memiliki karakteristik yang mirip.

b.  Segmentasi Konsumen Akhir: Untuk merencanakan segmentasi konsumen akhir (final consumers) berdasarkan umur, pendapatan, wilayah, perilaku, serta berbagai karakteristik spesifik lainnya.

c.  Segmentasi Importir: Untuk merencanakan jenis importir yang ditargetkan beserta penjelasan karakteristik spesifiknya.

d.  Jalur Distribusi Konsumen Akhir: Untuk merencanakan jalur distribusi yang mampu mempromosikan produk kita ke konsumen akhir seperti sosial media, edukasi, festival, pameran, dan lainnya.

e.  Jalur Distribusi Importir: Untuk merencanakan jalur distribusi yang mampu mendapatkan calon pembeli/importir misalnya pameran dagang, institusi promosi perdagangan, asosiasi bisnis, diaspora, platform marketplace, dan lainnya.

f.   Value Propositions: Untuk merencanakan nilai keunggulan yang mampu meningkatkan daya saing produk kita. Ini penting sekali ditentukan dengan persaingan ketat di pasar ekspor makanan. Terdapat berbagai alat bantu dalam menentukan value propositions, contohnya Value Proposition Canvas, Customer Personas, Resource Analysis, SWOT Analysis, dan Porter’s Competitive Analysis. Kita akan membahasnya di artikel berikutnya.

g.  Standar Produk: Untuk merencanakan apa saja standar produk yang akan dipenuhi untuk berhasil menembus negara tujuan ekspor.

h. Sumber Daya Perusahaan: Untuk merencanakan apa saja sumber daya yang perusahaan harus miliki untuk bisa melakukan ekspor langsung ke negara tujuan ekspor (kecuali memilih ekspor tidak langsung).

 

III.  KESIMPULAN

Penyusunan bisnis model ekspor adalah langkah terakhir sekaligus menjadi fondasi dalam kita merencanakan strategi ekspor. Sebetulnya ada satu hal lagi yang sebaiknya dilakukan, yaitu menulis rencana bisnis ekspor, termasuk yang penting adalah perhitungan proyeksi keuangan bisnis ekspor. Namun hal tersebut tidak dibahas dalam artikel ini, nantikan pada artikel berikutnya. Besar harapan bahwa artikel ini mampu menginspirasi para pelaku usaha makanan di Indonesia untuk mau merencanakan ekspor lebih matang. Jika makin banyak pelaku usaha makanan sukses di pasar ekspor, maka akan semakin meningkat kontribusi ekspor UKM Indonesia.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://www.ukmindonesia.id/baca-artikel/316

Rinaldi (2019): Export Plan Development for Market Entry of Indonesian Agri-Food SMEs to Germany

https://media.neliti.com/media/publications/260701-pengaruh-ekspor-terhadap-pertumbuhan-eko-fda4dca9.pdf

https://journal.umy.ac.id/index.php/esp/article/download/3836/3566

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.