Jumat, November 26

STRATEGI MENINGKATKAN EKSPOR PRODUK UMKM

 STRATEGI MENINGKATKAN EKSPOR PRODUK UMKM

 Oleh : Bayoe Aditya Dwi Prasetya (@S09-BAYOE)

PENDAHULUAN   

Sampai saat ini, sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan sektor ekonomi yang mampu bertahan dalam struktur ekonomi di Indonesia bahkan saat terjadinya krisis ekonomi seperti krisis ekonomi 1997/1998. Saat krisis ekonomi 1997/1998, sektor UMKM tetap berdiri kokoh, bahkan mampu menjadi lokomotif kebangkitan perekonomian Indonesia.1 Hal ini disebabkan oleh empat faktor. Pertama, sektor UMKM tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke sektor perbankan karena sektor UMKM dianggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempat, sektor UMKM berorientasi ekspor. Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KK-UKM) menunjukkan bahwa UMKM mendominasi usaha-usaha di Indonesia. UMKM di Indonesia mencapai 99,99 persen sedangkan sisanya adalah usaha besar (UB). Pertumbuhan yang terjadi pada sektor UMKM akan menimbulkan dampak positif terhadap peningkatan jumlah tenaga kerja, pengurangan tingkat kemiskinan, pemerataan distribusi pendapatan, dan pembangunan ekonomi di pedesaan. Di pedesaan, peran penting UMKM memberikan tambahan pendapatan, seedbed bagi pengembangan industri dan sebagai pelengkap produksi pertanian bagi penduduk miskin.5 Oleh karena itu, sektor UMKM merupakan sektor ekonomi yang bersifat pro-job dan pro-poor.

PEMBAHASAN

A. Peran UMKM dalam Perekonomian Nasional

UMKM, bagi Indonesia dan negara-negara lain di dunia, mempunyai peran penting dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, usaha-usahanya didominasi oleh UMKM. UMKM sangat diharapkan untuk bisa terus berperan optimal dalam upaya menanggulangi pengangguran. Dengan menyerap banyak tenaga kerja, UMKM mempunyai peran strategis dalam upaya pemerintah memerangi tingkat kemiskinan di Indonesia. Dilihat dari segmen pasarnya, UMKM di Indonesia ada yang berorientasi ke pasar domestik, berorientasi ekspor, atau kedua-duanya. Untuk UMKM yang berorientasi ekspor, setidaknya ada tiga ciri utama yang dimiliki. Pertama, sebagian besar pelaku UMKM tidak melakukan ekspor langsung ke negara tujuan ekspor. Melainkan melalui kemitraan dengan perusahaan-perusahaan eksportir besar, atau menjual secara lokal kepada turis asing. Biasanya pelaku-pelaku UMKM melakukan sistem subkontrak dengan UB. Pihak UB tersebut menentukan segalanya, mulai dari bentuk dan volume barang, standar kualitas, hingga bahan baku yang digunakan. Kedua, tidak semua UMKM di Indonesia yang terlibat dalam kegiatan ekspor sepenuhnya berorientasi ekspor. Banyak dari mereka hanya mengekspor sebagian kecil dari jumlah outputnya. Ketiga, umumnya UMKM yang terlibat kegiatan ekspor terkonsentrasi di lokasi yang sama untuk produk yang sama.

B.  Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ekspor Produk-Produk UMKM

Pertama, daya saing produk-produk UMKM tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. Kedua, kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar.31 Selain itu, kontribusi sektor UMKM terhadap total ekspor yang rendah juga disebabkan pelaku-pelaku UMKM tidak semuanya melakukan kegiatan ekspor secara langsung ke negara tujuan, melainkan melalui perantara. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, adanya hambatan kelembagaan dan bisnis yang tidak bisa dipecahkan oleh sektor UMKM, dan kedua, adanya masalah terkait keuangan/permodalan. ada beberapa kendala lainnya yang dihadapi oleh pengusaha-pengusaha UMKM dalam meningkatkan ekspor produk-produk UMKM nya. Kendala-kendala tersebut dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu kendala internal dan eksternal. Kendala internal meliputi (1) masih diterapkannya manajemen tradisional, (2) spesifikasi produk belum sesuai dengan permintaan pasar, (3) akses terhadap sumber daya produktif masih rendah, (4) kualitas produk masih rendah, (5) kesulitan dalam memenuhi persyaratan dan prosedur ekspor, (6) kesulitan dalam menghasilkan spesifikasi produk yang sesuai dengan perkembangan selera konsumen atau permintaan pasar, dan (7) kualitas SDM yang masih rendah. Kendala eksternal meliputi (1) melemahnya laju pertumbuhan ekonomi dunia yang berakibat pada melemahnya investasi dan ekspor produk-produk UMKM dari Kabupaten Sleman, dan (2) implementasi kebijakan pusat yang kadang tidak konsisten

 


C. Upaya-Upaya Untuk Mendorong Ekspor Produk-Produk UMKM

Untuk mengatasi beberapa permasalahan yang menghambat ekspor produk-produk UMKM ke luar negeri, pertama, menganjurkan produsen-produsen produk UMKM untuk mengurus SKA di Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Hal ini dimaksudkan agar ekspor produk-produk UMKM tercatat pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan baik provinsi maupun kabupaten. Kedua, memberikan bimbingan teknis keterampilan manajerial ekspor kepada para produsen produk-produk UMKM. Ketiga, meningkatkan peluang pasar perdagangan internasional melalui berbagai kegiatan. Dalam rangka mengenalkan produk-produk UMKM di luar negeri dan meningkatkan peluang pasar perdagangan internasional, melakukan beberapa kegiatan promosi. Diantaranya pameran Inacraft Life Style, dan pameran dan temu bisnis. Selain kebijakan-kebijakan tersebut, ada beberapa kebijakan yang sudah diimplementasikan untuk meningkatkan daya saing produk-produk UMKM. Pertama, pengamanan pasar domestik, yaitu melakukan optimalisasi penyerapan produksi dalam negeri. Melakukan pengamanan pasar domestik melalui peningkatan kualitas produk domestik dan promosi penggunaan produk dalam negeri. Kedua, peningkatan ekspor melalui peningkatan peran perwakilan Indonesia di luar negeri. Tujuannya untuk melakukan Economic Market Intelligence dan mempromosikan trade, tourisme and investment. Ketiga, peningkatan iklim usaha melalui peningkatan pelayanan publik, penyederhanaan peraturan dan mekanisme perizinan secara terintegrasi antara Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (DPMPPT).



Kesimpulan

Secara umum, para pengusaha produk-produk UMKM mempunyai beberapa kendala terkait ekspor produk-produknya. Kendala-kendala dapat dibagi menjadi kendala internal dan eksternal. Kendala internal meliputi (1) masih diterapkannya manajemen tradisional, (2) spesifikasi produk belum sesuai dengan permintaan pasar, (3) akses terhadap sumber daya produktif masih rendah, (4) kualitas produk masih rendah, (5) kesulitan dalam memenuhi persyaratan dan prosedur ekspor, (6) kesulitan dalam menghasilkan spesifikasi produk yang sesuai dengan perkembangan selera konsumen atau permintaan pasar, (7) kualitas SDM yang masih rendah. Beberapa kendala juga dihadapi oleh para pelaku UMKM terkait ekspor produk-produk UMKM ke luar negeri. Kendala-kendala tersebut diantaranya kurangnya informasi tentang prosedur ekspor, kurangnya akses ke lembaga keuangan terkait permodalan usaha, bahan baku yang sulit diperoleh, minimnya tenaga kerja terampil untuk melakukan kegiatan produksi, dan minimnya informasi tentang potensi pasar di luar negeri.

 

 

REFERENSI

Tambunan, T. (2012). Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia: Isu-isu Penting. Jakarta: LP3ES.

Rasbin & Ginting, A. M. (2011). Upaya Peningkatan Ekspor Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Melalui Peningkatan Daya Saing Produk. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik, Vol. 2, No. 1, Juni 2011

Pusat Penelitian Ekonomi LIPI. (2016). Komersialisasi Kredit Usaha Rakyat untuk Pemberdayaan UMKM di Indonesia. Jakarta: LIPI Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.