April 25, 2022

Bussines Model Canvas

Oleh : Yehezkiel Billy Tyo Surlia_41620110044

(@T13-Billy)

ABSTRACT


A.     Pendahuluan

Bisnis adalah suatu entitas ekonomi yang diselenggarakan dengan tujuan yang bersifat ekonomi dan sosial. Salah satu tujuan didirikannya bisnis adalah mencari laba/keuntungan, dalam arti seluruh aktivitas ditujukan untuk mencari keuntungan. Tujuan lain bersifat sosial untuk membantu masyarakat dalam menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Ada juga yang didirikan dengan tujuan untuk kedua-duanya, artinya disamping memperoleh keuntungan juga memberikan layanan sosial (Dewobroto, 2013). Perkembangan globalisasi yang semakin pesat sekarang ini memaksa para pelaku bisnis untuk melupakan tujuan lain dari bisnis itu sendiri, yaitu tujuan yang bersifat sosial.

didukung oleh semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung berjasa dalam meraih keuntungan bisnis secara layak. Sehingga, peran BMT dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sangat penting dengan produk pembiayaannya yang sangat menguntungkan bagi nasabah juga bagi pihak BMT.

B.      Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah menganalisa model bisnis BMT Kanindo Syariah Jatim dengan menggunakan Business Model Canvas?”

C.     Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep model bisnis BMT Kanindo Syariah dengan menggunakan Business Model Canvas.

I.          Landasan Teori

A.     Bisnis

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, Bisnis diartikan sebagai usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan, dan bidang usaha. Anoraga dan Soegiastuti (1996) berpendapat bahwa Bisnis memilki makna dasar sebagai “The buying and selling of goods and  service”. Sedangkan bisnis menurut Hughes dan Kapoor ialah suatu usaha kegiatan individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Sedangkan pengertian bisnis menurut Brown dan Petrello adalah suatu lembaga yang menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat (Alma dan Priansa, 2009: 115).

B.      Bisnis dalam Islam

Adapun dalam Islam, bisnis dapat dipahami sebagai serangkaian aktifitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan hartanya yaitu dengan adanya aturan halal dan haram (Widjajakusuma, 2000:18).

C.     Orientasi Bisnis Islam

Bisnis dalam Islam menurut Widjajakusuma (2002:18) mempunyai tujuan untuk mencapai empat hal utama:

1.       Target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri, artinya bahwa bisnis tidak hanya untuk mencari profit (qimah madiyah atau nilai materi) setinggi-setingginya, tetapi juga harus dapat memperoleh dan memberikan benefit (keuntungan atau manfaat) nonmateri.

2.       Pertumbuhan, jika profit materi dan profit nonmateri telah diraih, perusahaan harus berupaya menjaga pertumbuhan agar selalu meningkat.

3.       Keberlangsungan, target yag telah dicapai dengan pertumbuhan setiap tahunnya harus dijaga keberlangsungannya agar dapat exist dalam kurun waktu yang lama.

4.       Keberkahan, semua tujuan yang telah dicapai tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada keberkahan di dalamnya. Maka bisnis Islam menempatkan berkah sebagai tujuan inti.

D.     Model Bisnis

Mayoritas definisi model bisnis memasukkan penciptaan nilai pelanggan sebagai salah satu elemen inti. Penciptaan nilai pelanggan yang dibahas disebutkan dalam berbagai istilah seperti “desain penciptaan nilai” atau “menciptakan nilai”, tetapi makna utama dari istilah-istilah itu sama. Model bisnis harus menjelaskan bagaimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggannya (Zott dan Amit, 2003).

E.      Business Model Canvas

Business Model Canvas adalah sebuah model bisnis gambaran logis mengenai bagaimana sebuah organisasi menciptakan, menghantarkan dan menangkap sebuah nilai (Osterwalder & Pigneur, 2010). Canvas ini membagi business model menjadi 9 buah komponen utama, kemudian dipisahkan lagi menjadi komponen kanan (sisi kreatif) dan kiri (sisi logik). Persis seperti otak manusia, kesembilan komponen yang ada tersebut adalah sebagai berikut, (diurutkan dari kanan kekiri). Customer Segment, Customer Relationship, Customer Channel, Revenue Structure, Value Proposition, Key Activities, Key Resource, Cost Structure, dan Key Partners.

F.      9 Blocks Building of Business Model Canvas

1.       Value Propositions

Nilai tambah yang diberikan kepada para pelanggan) terdiri dari produk dan jasa yang dapat menambah nilai tambah kepada segmentasi yang spesifik. Barile dan Polese (2010:03) menjelaskan bahwa bagi pelanggan, value propositons terwujud dalam bentuk pemecahan masalah yang dihadapi atau terpenuhinya kebutuhan.

2.       Customer Segments

Secara umum, segmen pasar terdiri dari kelompok pelanggan yang memiliki seperangkat keinginan yang sama (Kotler, 2005:52). Dalam rangka memenuhi kepuasan pelanggan, perusahaan mengelompokkan pelanggan-pelanggan ke beberapa segmen yang berbeda berdasarkan kesamaan kebutuhan, kesamaan perilaku, dan lain-lain.

3.       Customer Relationships

Customer relationships adalah tipe hubungan yang ingin dijalin dengan para pelanggan dari segmen pasar yang spesifik. Perusahaan seharusnya memikirkan tipe hubungan yang akan dijalin dengan para pelanggan dari berbagai segmen. Tugas seorang pemasar (marketer) dalam dua kelompok besar, yakni akuisisi pelanggan (customer acquisition) dan retensi pelanggan (customer retention).

4.       Channels

Channels adalah saluran untuk berhubungan dengan para pelanggan. Komunikasi, distribusi, dan jaringan penjual atau salesmerupakan salah satu usaha perusahaan untuk berkomunikasi dengan pelanggan. Channels memainkan peranan yang penting dalam pengalaman pelanggan (Osterwalder & Pigneur, 2010:22). Mehta et.al (2010:05) mengemukakan bahwa menemukan channels yang tepat dalam memuaskan kebutuhan pelanggan adalah bagian krusial dalam memberikan value propositions bagi perusahaan.

5.       Revenue Streams

Revenue streams adalah pendapatan yang diterima perusahaan dari masing-masing segmen pasar atau dengan kata lain revenue streams adalah pemasukan yang biasanya diukur dalam bentuk uang yang diterima perusahaan dari pelanggannya. Revenue streams bukan mempresentasikan keuntungan yang didapat, karena secara umum diketahui bahwa keuntungan merupakan pendapatan bersih setelah dikurangi biaya-biaya usaha (Chem, 2012).

6.       Key Resources

Osterwalder & Pigneur (2010:29) key resourcesadalah sumber daya utama yang dibutuhkan oleh perusahaan supaya model bisnis dapat berjalan. Sumber daya utama ini membuat sebuah perusahaan dapat membentuk dan menawarkanvalue propositions,mendapatkan pasar, mengawasi hubungan dengan segmen-segmen pasar, dan mendapatkan penghasilan. Key resourcesdapat berupa benda fisik, finansial, intelektual, maupun manusia.Key resources dapat dimiliki oleh perusahaan maupun bekerjasama denganKey partners.

7.       Key Activities

Key activitiesadalah kegiatan-kegiatan utama apa saja yang perlu dilakukan oleh organisasi ataupun perusahaan agar dapat memberikan nilai tambah dengan baik. Setiap model bisnis memiliki aktivitas-aktivitas utama. Hal ini adalah aksi yang paling penting supaya perusahaan dapat mengoperasikan perusahaannya dengan sukses. Key activities dapat dikategorikan menjadi 3 hal yaitu, 1) Operasi Produk (desain, inovasi, pembuatan produk); 2) Operasi Jasa (Problem solving); 3) Platform dan Jaringan.

8.         Key Partners

Key partnership adalah mitra utama dalam bisnis, misalnya supplier, sehingga model bisnis dapat berjalan. Perusahaan menjalin kerjasama untuk beberapa alasan dan jalinan kerjasama menjadi landasan dari beberapa model bisnis. Perusahaan membuat aliansi untuk mengoptimasi model bisnisnya, mengurangi risiko, atau memperoleh sumber daya (Osterwalder & Pigneur, 2010:32).

9.       Cost Structure

Osterwalder & Pigneur (2010:34)menjelaskan, cost structureadalah komponen-komponen biaya yang digunakan supaya organisasi atau perusahaan bisa berjalan sesuai dengan model bisnisnya. Membuat dan meningkatkan nilai tambah, berhubungan dengan pelanggan, dan mendapatkan penghasilan semuanya termasuk dalam komponen biaya.

G.   Visi dan Misi

Wibisono (2006:43) mengemukakan, visi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau impian sebuah organisasi atau perusahaan yang ingin dicapai di masa depan. Dapat dikatakan pula bahwa visi merupakan pernyataan want to be dari organisasi atau perusahaan. Visi adalah cara pandang jauh ke depan kemana organisasi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan oleh organisasi.

 

 III.   Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, Moleong (1988:6) mengungkapkan bahwa pendekatan kualitatif adalah suatu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya: perilaku, persepsi, motivasi, tindakan secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Pendekatan penelitian kualitatif deskriptif merupakan pendekatan yang paling ideal untuk digunakan dalam kajian ini, Nazir (2003 : 73) mengatakan bahwa penelitian dengan metode deskriptif adalah penelitian ex post de facto,  yaitu peneliti tidak memiliki kontrol langsung terhadap obyek penelitian karena fenomena sukar dimanipulasikan.

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang berupa pengolahan data yang diperoleh peneliti selama di lapangan serta mengolah hasil wawancara dan dokumentasi. Teknik yang digunakan untuk menganalisa data menurut Spradley dalam Sugiyono (2010:255) ada tiga yaitu analisis domain, taksonomi, dan komponensial. Namun dalam penelitian ini analisis yang digunakan hanya dua yaitu analisis domain dan taksonomi

 IV.   Hasil dan Pembahasan

A.    Analisis Konsep Model Bisnis Berdasarkan Analisis Domain dan Taksonomi Dengan Business Model Canvas

Uraian data penelitian ini meliputi tentang penjabaran data penelitian yang didapatkan dari hasil wawancara penelitian yang dilakukan kepada pihak BMT Kanindo Syariah. Berikut uraian analisis domain konsep model bisnis pada BMT Kanindo Syariah berdasarkan Business Model Canvas.

Tabel 1.1

Analisis domain dan Taksonomi

No

Analisis Domain

Analisis Taksonomi

1

Value Propositions

Value propositions bagi BMT Kanindo adalah apa yang seharusnya diberikan kepada nasabah, apa yang dibutuhkan oleh nasabah, sehingga sebenarnya value di BMT Kanindo dapat berubah-ubah sesuai segmen pasar dan kebutuhan individual nasabah masing-masing. Value yang terdapat di BMT Kanindo adalah keberagaman produk, kemudahan persyaratan dan bebas biaya administrasi, layanan antar jemput, dan besarnya nisbah yang ditawarkan.

2

Customer Segments

Segmentasi pasar ditinjau dari kewilayahan yang berkaitan langsung dengan tujuan utama dari BMT Kanindo yaitu berpusat pada  usaha agro niaga. Usaha agro niaga yang termasuk dalam segmen pasar BMT Kanindo ialah segala jenis usaha agro niaga (buah, sayur, padi, dsb). Yang kedua, karena BMT Kanindo berbasis koperasi (BMT) maka segmentasi pasar selanjutnya ialah para pengusaha mikro kecil (UKM). Ketiga pada segmentasi pengetahuan yaitu dengan melihat bagaimana tingkat pemahaman masyarakat tentang produk yang akan ditawarkan, sehingga terdapat ketimpangan di BMT Kanindo cabang kota dan cabang desa tentang pendistribusian produk. Terakhir, segmentasi perilaku juga diberlakukan dengan melihat pengalaman tentang perilaku nasabah di beberapa wilayah.

3

Customer Relationships

hubungan pelanggan di BMT Kanindo didukung oleh 3 program yaitu, 1) silaturahmi; 2) pemberian beasiswa; 3) penyuluhan ekonomi syariah bagi masyarakat.

4

Channels

Dalam mendistribusikan produk, BMT Kanindo mendistribusikan produknya secara langsung kepada masyarakat/nasabah tanpa perantara. Dengan cara membuka kantor cabang, dan melakukan survey.

5

Revenue Streams

Aliran revenue di BMT Kanindo berasal dari 2 produk utama yaitu, murabahah dan mudharabah. Revenue juga didapat dari produk musyarakah namun dalam memberikan proporsi profit terbesar, produk murabahah menjadi penyumbang terbesar dengan 75% dari total profit.

6

Key Resources

Dalam menggerakkan roda bisnis yang sedemikian rupa, tentu BMT Kanindo memiliki SDM yang mampu mendukung hal tersebut, SDM tersebut didukung oleh fasilitas dan teknologi.

7

Key Activities

Aktivitas utama BMT Kanindo meliputi promosi, edukasi, dan negoisasi akad. Promosi dengan berbagai cara meliputi penggunaan media seperti radio, iklan, dsb. Dalam aktivitas edukasi yaitu tentang bagaimana peran BMT Kanindo dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sudah tertera dalam misinya. Pada negoisasi akad yang juga menjadi kelebihan BMT Kanindo, BMT Kanindo menawarkan nisbah yang lebih menguntungkan bagi nasabah.

8

Key Partners

Kemitraan yang dijalin dengan lembaga keuangan (Bank Muamalat, Mandiri Syariah, Panin Syariah, Jatim Syariah jenis perbankan dan KopSyar adalah dengan menggunakan akad murabahah. Namun dengan LPDB menjalin perjanjian akad mudharabah karena BMT Kanindo membutuhkan modal tambahan untuk mengatasi permintaan pembiayaan.

9

Cost Structures

Biaya yang terdapat adalam cost structure terdiri dari biaya administrasi, biaya gaji (operasional), biaya pajak, biaya perlengkapan, dan variable cost. Namun biaya yang membentuk value propositions adalah biaya administrasi dimana nasabah tidak dibebankan biaya administrasi.

Sumber: Hasil Penelitian, diolah.

Hasil Temuan Penelitian

Berdasarkan literatur mengenai key activities(Osterwalder & Pigneur, 2010:31) menyebutkan key activitiesadalah kegiatan-kegiatan utama apa saja yang perlu dilakukan oleh organisasi ataupun perusahaan agar dapat memberikan nilai tambah dengan baik. Ada tiga kategori dalam key activities yaitu operasi produk,

operasi jasa, dan jaringan. Dalam kategori operasi produk dijelaskan bahwa aktivitas tersebut bertujuan untuk mendesain, membuat, dan mengantarkan produk dalam jumlah tertentu dan atau kualitas baik. Inovasi dalam operasi produk dibutuhkan perusahaan untuk memberikan nilai tambah dengan baik.

A.     Simpulan

Setelah melakukan penelitian analisa konsep model bisnis BMT Kanindo Syariah dengan Business Model Canvas, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1.                   Value Propositions

Dalam penelitian ini, kelebihan yang ditawarkan berdasarkan apa yang diinginkan pangsa pasar atau apa permasalahan yang ada di pangsa pasar. Namun perlu diketahui, bahwa sebenarnya value propositions dapat berubah-ubah tergantung bagaimana sudut pandang konsumen tersebut.

2.                   Customer Segments

Dalam penelitian ini, area pemasarandanpenjualan yang dilakukan dibatasi oleh pihak BMT Kanindo, yaitu dengan memperhatikan segmentasi wilayah, profesi, pengetahuan, dan perilaku. Contohnya dalam segmentasi wilayah adalah kawasan pertanian dan perkebunan, dengan profesi petani dan peternak, segmen pengetahuan seperti masyarakat yang berpendidikan, dan juga dari perilaku masyarakat. Dari segmentasi-segmentasi tersebut BMT Kanindo dapat memproyeksikan dengan cara apa segmen pasar tersebut dapat dicapai.

3.              Customer Relationships

Dalam penelitian ini, berkaitan dengan cara menjaga relasi konsumen atau customer retention untuk tetap setia dengan BMT Kanindo adalah dengan bersilaturahmi, pemberian beasiswa, dan menyeleggarakan seminar ekonomi syariah

4.                   Channels

Dalam penelitian ini, channels adalah sebuah cara untuk mendistribusikan produk hingga sampai kepada masyarakat. Seperti yang diketahui dalam segmen pasar bahwa BMT Kanindo memfokuskan perhatian kepada wilayah desa dan profesi di bidang agro niaga. Sehingga saluran distribusi yang dipilih adalah saluran distribusi langsung. Saluran distribusi langsung adalah produk disalurkan langsung kepada konsumen akhir tanpa melalui perantara.

5.                   Revenue Streams

Revenue streams utama dari BMT Kanindo ialah pada penjualan produk ba’i murabahah dan keuntungan nisbah bagi hasil produk mudharabah dan musyarakah. Namun Osterwalder dan Pigneur (2010) menjelaskan revenue streams terbentuk dari sisi kanan pada kanvas model bisnis yaitu dari aktivitas customer segments, channels, dan customer relationships.

6.              Key Resources

Dalam penelitian ini, sumber daya adalah roda penggerak suatu perusahaan dan model bisnis. Sehingga sumber daya yang ada pada BMT Kanindo adalah terdiri dariunit kendaraan, peralatan kantor dan gedung, karyawan, modal utama dan dana pihak ketiga,unit komputer, handphone, dan website.

7.                   Key Activities

BMT Kanindo memiliki key activities berupa promosi dan edukasi untuk mendapatkan pasar. Dalam hal inovasi, inovasi yang dimaksud bukan dalam inovasi produk, namun BMT Kanindo telah melakukan inovasi dalam tiap melakukan negoisasi akad dengan nasabah.

8.                   Key Partners

Jalinan kemitraan yang dibangun BMT Kanindo dengan lembaga keuangan syariah lain adalah bertujuan untuk mendapatkan dana tambahan dalam menyediakan kebutuhan dana pinjaman yang akan diberikan kepada masyarakat. Lembaga keuangan lain yang menjalin kemitraan dengan BMT Kanindo antara lain, Bank Jatim Syariah, Bank Mandiri Syariah, Bank Muamalat, Koperasi Syariah, dan LPDB. Namun nasabah dalam arti sebenarnya di Koperasi adalah seorang anggota yang tidak lain adalah mitra sehingga nasabah di BMT Kanindo adalah juga mitra usaha mereka.

9.                   Cost Structures

Biaya-biaya yang diperlukan untuk menciptakan value untuk konsumen adalah biaya administrasi, biaya gaji, biaya pajak, biaya penyusutan perlengkapan, dan variable cost (air, listrik, dll).

 

DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buchari dan Donni Priansa. 2009. Manajemen Bisnis Syariah. Bandung: Alfabeta

Anoraga dan Soegiastuti. 1996. Pengantar Bisnis Modern-kajian dasar manajemen perusahaan, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Dewobroto, Wisnu Sakti. 2013. Penggunaan Business Model Canvas Sebagai Dasar Untuk Menciptakan Alternatif Strategi Bisnis dan Kelayakan Usaha.

Moleong, Lexy. 2005. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Muslich, Muhammad. 2007. Bisnis Syariah Perspektif Mu’amalah dan Manajemen. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Osterwalder, Alexander, and Yves, Pigneur. 2010. Business Model Generation, New Jersey: John Wiley & Son.

Rajiv Mehta et.al. 2010. Managing International Distribution Channel Partners: A Cross Cultural Approach.

Sudarsono, Heri. 2008. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi. Yogyakarta: Ekonisia.

Widjajakusuma, Muhammad Karebet dan Muhammad Ismail Yusanto. 2002. Menggagas Bisnis Islami, Jakarta: Gema Insani Press.

Zott, Christoph and Raphael Amit. 2009. Business Model Design: An Activity System Perspective. Long Run Planning (LRP).

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.